
Dan inilah, waktunya sang bidadari memijakkan kakinya ke tanah.
Victor memberikan tangannya ke hadapan Rose untuk dijadikan pegangan. Sebagai seseorang yang bertugas untuk menjadi pengantar calon pengantin wanita ke altar. Bisa digunakan juga untuk pegangan Rose ketika berjalan.
“Apa ayah akan datang?” tanya bidadari cantik itu pada kakaknya.
Keduanya kini sudah berjalan menyusuri loby ke arah panggung panjang yang menjadi jalan menuju calon pengantin pria.
Berly dengan versi mini Rose, berada di depan sambil membawa keranjang berisikan kelopak bunga. Berdampingan dengan si tampan Bervan di sisi kiri.
Dua anak kecil itu bak dua cupid yang siap mengantarkan jodoh untuk seorang lelaki di depan sana.
Hati Rose berdebar dan sedih. Meski hubungannya dengan sang ayah meninggalkan kesan tidak baik. Namun, dalam momen penting dan bersejarah ini, tetap saja, hati kecilnya menginginkan sang ayah yang berada di sisinya. Sekarang.
Bukan juga karena ia tak mau kakaknya yang menjadi pendampingnya. Tidak, bukan begitu!
Ini hanya naluri dan perasaan sensitif seorang anak perempuan yang hendak menikah.
“Dia bilang akan datang. Tapi agak terlambat karena harus membereskan masalah yang adikmu buat.” Victor sedikit berguyon di akhir penjelasan.
“Adik?” Alis Rose yang mengernyit langsung terurai ketika sadar makhluk mana yang mereka maksud. “Itu adik Kakak, bukan adikku!” Rose pun melempar balik candaan tersebut.
Keduanya pun saling tertawa.
Victor lega dalam hati, sebab suasana yang tadinya terasa sedih dan suram sudah bisa dicairkan.
Tentu saja, Rose langsung paham siapa yang Victor maksud!
Sudah pasti! Tidak lain tidak bukan! Adik yang mereka maksud, pasti adalah makhluk bernama Mirabel dan ibunya Mira.
Adalah sepasang ibu dan anak perempuan yang sama liciknya, tetapi bodoh dan norak. Adalah ibu dan adik tiri Rose dan Victor yang hidup seperti benalu dalam keluarga mereka.
“Kapan dia berhenti membuat masalah?! Harusnya, ayah menceraikannya saja. Untuk apa masih dipertahankan kalau hanya menyusahkan!” Rose menambahkan komentarnya.
Victor sebenarnya setuju dengan argument adiknya itu. Tetapi, ketika sudah menikah, kini ia paham bahwa hubungan yang sudah dibangun dengan komitmen, tidak semudah itu diputuskan.
“Biarlah ayah yang memutuskan sendiri!”
Yah! Sekali lagi, meskipun hubungan mereka tidak baik. Lelaki itu berusaha memahami isi kepala sang ayah. Pasti banyak yang dipertimbangkan.
Akhirnya, mereka melangkah keluar loby hotel. Dan mulai memijak beberapa undakan untuk menyusuri jalanan yang menuju altar.
Di mana di sana, calon pengantin pria sudah menunggu dengan begitu tampan.
Sementara, Berly dan Bervan mulai menaburkan kelopak-kelopak bunga dari keranjang. Membuat efek indah dan romantis ketika pengantin wanita melalui jalan tersebut.
“Kau lihat calon suamimu?” tanya sang kakak pada adiknya yang semakin mengeratkan pegangannya pada lengan. Lelaki itu juga tersenyum kecil. Tahu apa yang terjadi.
“Dia tampan sekali, Kak! Tapi…, ada apa dengan wajahnya? Kenapa…, dia terlihat kesal?”
Pertanyaan Rose tak sempat Victor jawab, sebab sorak sorai para tamu yang datang langsung mengisi venue outdoor yang dipilih oleh keduanya.
Begitu ramai dan berisik, sehingga memekakkan gendang telinga. Meskipun begitu, senyum indah merekah dengan cantiknya di bibir calon mempelai wanita.
Hari bahagianya telah tiba. Momen yang sudah ia tunggu-tunggu sudah di depan mata. Plus, dilakukan di tempat terakhir ia mengirkarkan sebuah janji pada sang kekasih. Bertahun-tahun silam.
Benar!
Tempat yang dipilih oleh Ben dan Rose adalah lokasi di mana Ben pernah melamar Rose 6 tahun yang lalu. Yang nahasnya, saat itu Rose malah menolak lamaran Ben.
Mereka saling mencintai, saling berkomitmen dan saling menjaga selama ini. Itu sudah cukup, sambil membangun kedewasaan dan kasih sayang yang tidak putus di dalam hubungan keduanya.
Maka, mereka memilih tempat ini sebagai tempat bersejarah. Juga, sebagai saksi, bahwa janji Rose saat itu telah ia tepati sekarang.
Bahwa, ketika ia sudah hebat dan bisa diandalkan, Rose bersedia untuk menikah dan membangun rumah tangga dengan Ben, kekasihnya. Si mafia bertopi koboi.
Antusiasme dari para kerabat yang datang, menciptakan atmosfer hangat luar biasa yang menggembirakan. Sehingga, senyum kian merekah di bibir sang mempelai perempuan.
Padahal, tamu yang datang tidak banyak.
Sebab, secara kebetulan, Rose memang tidak memiliki banyak teman. Sedangkan Ben, terlalu banyak musuh mengintai jikalau ia menghelat acara pernikahannya secara akbar.
Keduanya sepakat, apabila hanya kerabat dekat mereka saja yang menghadiri acara tersebut. Supaya momen tersebut terasa lebih sakral dan khidmat.
Dari sisi Ben, tentu saja hadir Tuan Felipe selaku ayah kandungnya. Meski hubungan mereka masih terasa kaku, karena baru berapa lama ini bertemu.
Ben pun masih menyesuaikan dan berusaha menerima kehadiran ayah kandung yang selama hidup tak pernah ditemui.
Della ikut serta, bersama Emilio. Sosok pria yang selalu setia di sampingnya, selama ini. Bedanya dengan dulu, hubungan mereka bukan lagi atasan dan bawahan, di mana Emilio adalah bodyguard wanita itu.
Akan tetapi, keduanya kini telah menjadi pasangan suami istri. Menyalip Ben dan Rose satu langkah. Dikarenakan, Della ternyata telah mengandung kala itu.
Tak sadarkan dirinya Della ketika menerima hukuman dari Rose di rumah sakit, ternyata dikarenakan efek kehamilannya di trimester pertama.
Emilio bersedia bertanggung jawab, walau belum pasti siapa ayah dari janin dalam kandungan. Namun, karena cintanya begitu besar kepada Della, pria itu rela asal bisa menjaga dan melindungi ibu dan calon bayi itu, selamanya.
Yah! Meskipun belum tumbuh juga cinta dalam diri wanita yang dulunya kejam itu.
Di belakang barisan itu, ada Relly dan Anggie yang duduk saling berdampingan. Lalu, di sisi lainnya, terdapat sebuah keluarga yang agak asing di mata Rose.
Dua orang pria tampan bersama istri dan anak-anak mereka. Dari penampilannya, mereka terlihat seperti berasal dari kalangan terhormat.
Terdapat sepasang yang lebih bersinar di antara kedua pasangan tersebut. Prianya begitu gagah dan berwibawa, sedang istrinya tampak menawan bercahaya.
Alis Rose mengernyit sebentar, mencoba mengingat fitur wajah yang agak asing baginya itu. Sepertinya, ia pernah melihat wajah wanita itu.
Di tebing nestapa, lokasi Ben menghilang dulu, Rose pernah melihat seorang wanita menangis histeris di pelukan suaminya. Ketika ia masih berharap kekasihnya itu masih bisa ditemukan.
Saat itu, Rose tidak sempat menyapa sebab dirinya terlalu sibuk dengan perasaannya yang kalut dan termakan sedih.
Ya! Sekarang Rose yakin, mereka adalah pasangan suami istri itu. Dan jika diingat lagi, wanita itu, wanita cantik itu, adalah cinta pertama kekasihnya.
Dulu, Ben pernah mengisahkan masa lalunya. Di mana cinta pertamanya tidak berhasil, tetapi mereka tetap dekat sebagai keluarga. Sebab ayah dari wanita itulah yang telah membawa Ben dan mengangkat derajatnya dari jalanan.
Rose juga ingat, ia pernah cemburu pada si wanita cantik. Oh, betapa lucunya jika mengingat momen itu!
“Ekhh!” Rose kaget karena wanita itu menatap ke arahnya dan tersenyum.
Ia pun buru-buru membalas senyuman ramah nan manis itu.
“Cantik sekali!” gumamnya sembari melepas pandangannya pada si wanita.
“Siapa?” Victor yang mendengarnya pun berbisik. Mereka sudah sampai di pertengahan jalan menuju altar.
“Itu-!” Ditunjuk Rose si wanita cantik dengan pandangan mata.
Bersambung...