Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Della Berlutut



Ben merasakan aliran darah di dadanya mengalir begitu deras, sehingga menyebabkan detak jantungnya bergerak lebih cepat dibanding biasanya.


Melihat sosok cantik dan menawan dalam balutan dress putih dan penutup kepala transaparan, tangan Ben mendadak gemetar.


Sejenak, pria dengan setelah pasien rumah sakit itu memandang ke arah Felipe yang sedang menduduk dengan tenang. Lantas, melihat pada lembar foto yang masih berada di tangan.


Jika, wajah dirinya adalah wujud masa muda Felipe. Maka, wajah Della saat ini adalah wujud dari wanita di dalam foto itu, Ketika meraka seumuran.


“Namanya, Iris!” ungkap Felipe tiba-tiba. DI saat Ben tengah terhenyak dalam lamunannya. “Ya! Dia adalah ibumu dan Della! Istriku yang bernama Iris,” imbuh laki-laki itu lagi.


“Maaf, saat itu aku belum sempat memberimu nama. Sebab, kau sudah lebih dulu menghilang sebelum aku memiliki kesempatan. Tapi, nama yang kau dapat pun aku menyukainya. Benny Callary.”


Napas berat, Ben denguskan melalui hidung. Menghela napas dengan cepat dan kasar seraya menyerahkan kembali foto yang ia dapat pada Rose.


Sambil tetap menatap lurus pada Felipe, lelaki itu pun bertanya. “Lalu, kau tahu di mana keberadaannya?”


“Bertahun-tahun dia bersembunyi dengan sangat baik, sampai akhirnya aku menyerah karena tidak mampu untuk menemukannya.


“Ku pikir, tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Buktinya, aku bisa bertemu lagi dengan putraku yang selama ini tak pernah ku temui semenjak dia lahir. Jadi…, aku akan kembali mencarinya.”


Senyum cerah, napas lega, wajah bersinar Felipe, kini sedang ditatap Ben dengan saksama. Pria yang menyebut dirinya sebagai ayahnya itu, Nampak terus memandang Ben dengan air muka kerinduan.


Akan tetapi, tidak semudah itu bagi Ben untuk mempercayai semuanya. Ia telah hidup di dunia yang begitu keras dan kejam. Di mana terlalu banyak intrik dan manipulasi di dalamnya.


Maka dari itu, tidak gampang pula untuk Ben memutuskan untuk mengiyakan ucapan lelaki itu.


“Biarkan aku yang menilai, semua yang Anda ucapkan adalah sebuah kenyataan…, atau cerita karangan lainnya. Yang selama ini sering aku dengar.”


Sesungguhnya, ucapannya merupakan sebuah sindiran. Bukan hanya untuk Felipe saja, tapi juga untuk putrinya.


Ben layangkan tatapan tajamnya sebentar, pada Della yang memang sedang memandang ke arah dirinya. Saking down-nya wanita itu, Della sampai memalingkan wajah, melarikan pandangan karena tidak kuat menghadapi tatapan Ben yang begitu menusuknya.


Della pun sadar diri, bahwa kalimat yang Ben sampaikan, memang sengaja ditujukan pada dirinya. Dia yang telah memanipulasi hidup Ben selama lima tahun belakangan.


“Baiklah! Aku tidak akan memaksamu. Kau bisa dan bebas mencari tahunya sendiri.” Felipe berucap dengan santai dan tanpa beban.


Bibirnya mudah sekali mengembangkan senyum. Karena memang tidak ada yang dibuat-buat atau dikarang, seperti yang Ben katakana.


Semua yang terucap dari mulut, adalah murni kenyataan dan pengalaman hidup yang tak semua orang tahu.


“Oke! Ku pikir masalah pertama sudah selesai. Lalu lanjut pada masalah berikutnya.” Laki-laki yang menduduk pada kursi yang disediakan oleh Berly pun menoleh sedikit. Memberi isyarat pada seseorang di belakang.


Della sempat tersentak mendengar dan melihat tindakan sang ayah. Namun, hal ini pun sudah mereka sepakati. Selain karena wanita itu sudah mengetahui kebenarannya, ia juga sudah sadar akan kesalahan besar, sangat besar, yang sudah ia buat.


Dengan berat, wanita itu membawa kakinya melangkah. Berdiri di tempat kosong, di tengah-tengah, antara posisi Felipe duduk, dengan ranjang rumah sakit di mana satu keluarga berada di sana.


Ia menoleh dengan ragu. Melirik pada ayahnya sebentar, yang sedang duduk dengan kaki menyilang. Memohon, meratap dalam tatap.


Sayangnya, Felipe tidak bergeming. Pria tua itu malah menatap putrinya dengan tajam.


Bagaimanapun juga, kau harus melakukannya! Itu, adalah janji yang sudah mereka buat, sebelum memutuskan mendatangi Ben dan Rose.


Ben dan Rose saling memandang dalam tanya, kembali. Apa lagi sekarang? Apa yang mau wanita kejam itu lakukan?


Dan betapa terkejutnya dua sejoli itu, ketika melihat Della mendadak menjatuhkan diri ke lantai. Meruntuhkan keangkuhan dirinya dengan bersimpuh di hadapan mereka. Dengan kepala tertuduk dalam.


“Maaf!” lirih wanita itu.


“Bicara yang keras, Della! Bicaralah dengan lantang, seperti saat kau dengan keras pada orang-orang yang kau caci dan kau tantang!” seru Felipe di belakangnya. Dengan nada tajam, kejam dan menohok. Padahal itu adalah putrinya sendiri.


Pasangan kekasih beserta buah hati mereka, hanya diam memperhatikan. Masih menilai dan menilik apa yang hendak wanita itu lakukan. Juga, sandiwara atau scenario apa yang sedang mereka rancang.


Tetap saja, tidak mudah untuk begitu saja mempercayai orang-orang yang sebelumnya penuh dengan kebohongan dan kepalsuan.


“MAAF!” Anak perempuan Felipe itu pun segera mengeluarkan suaranya yang keras. Sambil mengejan dan memejamkan mata.


Menatap pasangan kekasih di depannya, lalu menundukkan kepalanya lagi. “Tolong maafkan, semua kesalahan yang sudah aku perbuat!” ucapnya dengan tulus.


Setelah mengambil napas dalam, wanita itu memberanikan diri untuk menatap keduanya. Ben dan Rose.


“Aku tak sanggup, jika harus menyebutkan semua kesalahanku satu persatu pada kalian. Ada terlalu banyak, sampai aku malu untuk mengatakannya. Yang jelas-.”


“Apa sekarang, kau sedang berakting?” Rose segera menanggapi dengan sindiran pedas.


“Rose!” protes Della sebab sindiran pedas wanita itu.


“Kau tahu bahwa kita tidak akrab, sehingga kau bisa santai menyebutkan namaku seperti itu!” tegas Rose seraya menegkkan posisi berdirinya.


Della tahu, pada posisinya saat ini, ia tidak berhak untuk melayangkan protes lebih dari yang tadi. Apa yang sudah diperbuatnya di masa lampau hingga kini, sudah sangat parah, terlalu parah. Sehingga ia tahu, bahwa tidak akan mudah bagi seseorang untuk mengampuninya.


Wanita itu pun memalingkan wajahnya ke samping seraya menghela napas, melalui mulut. Sambil mencoba untuk sabar.


Bak~!


Tidak hanya membungkuk, tapi wanita itu kini benar-benar berlutut di lantai. Tidak hanya kaki dan lututnya saja yang menyentuh lantai. Namun, kedua telapak tangan juga menopang pada lantai dingin kamar rawat itu. Dengan kepala tertunduk dan pandangan yang menatap lurus ke bawah.


“Aku sudah menyadari semua dosa-dosaku pada kalian. Jadi ku mohon, ampuni dan maafkanlah aku! Terserah kalian mau menghukumku bagaimana, aku pasti akan menerimanya.”


Mulutnya gemetar hebat, saat mengungkapkan hal itu. Ben dan Rose sungguh tidak menyangka, bahwa dia akan dengan begitu berani mengungkapkan sisi lemahnya di hadapan orang lain.


Meskipun, Della tidak secara gamblang menyebutkan kesalahan apa saja yang sudah diperbuatnya di masa lalu. Namun, dari gesture tubuhnya siapapun dapat menilai bahwa pada kesempatan kali ini, adalah titik terendah Della, dengan menginjak harga dirinya sampai ke tingkat yang paling dasar.


“Tolong maafkan aku!” lirihnya lagi.


Tap~!


Mendadak Rose maju satu langkah, dengan tatapan tajam dan wajah bengis. Yang tak pernah Ben lihat sekali pun selama mengenalnya.


Akan tetapi, pria itu tidak mencegahnya sama sekali. Karena menurutnya, Rose adalah orang yang paling dirugikan dan yang paling menderita karena kelakuan Della.


“Lalu…, hukuman apa yang ingin kau terima?” tanya wanita berambut pirang itu sambal bersidekap dada.


Bersambung…