Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Kabar baik



“Selamat, Nona! Anda akan segera menjadi seorang ibu!” ucap dokter yang biasa memeriksa di markas itu.


“Y- ya,” jawab Rose sekenanya. Sementara ia masih dilanda rasa kaget yang hebat.


“Rose!” Seseorang di sebelahnya, menepuk dan mencoba menyadarkannya kembali. Kala ia malah melamun dan pikirannya mengawang kemana-mana.


Sedangkan dokter tersebut tengah menjelaskan obat dan vitamin yang harus Rose minum setiap hari.


“Kurangi aktivitisa berat terlebih dahulu! Karena masa-masa di awal kehamilan, sangat rawan. Dan…” Dokter itu menatap Rose sebentar, lalu tersenyum. “Jika bisa, jangan berhubungan terlebih dahulu. Atau, kalian bisa melakukannya dengan sangat hati-hati.”


Anggie! Ya, orang yang berada di sisinya saat ini adalah Anggie! Sebab Ben, tak dapat menunda waktunya lagi. Sehingga, begitu selesai bersiap, ia langsung berangkat.


Maka, ia segera memanggil Anggie untuk menemani dan menjaga Rose, selagi dirinya tidak ada. Di sisi lain, Ben juga khawatir, karena saat ia meninggalkan kekasihnya itu, wajah Rose nampak begitu pucat dan lesu.


Mendengar penjelasan akhir dokter, sebisa mungkin Anggie mencoba menahan senyum. Mengulum bibirnya rapat-rapat, agar tak lolos kekehan kurang ajar. Yang mungkin saja, akan membuat Rose tersinggung.


Karena, ia pun cukup terkejut mendengar kabar berita ini. Apalagi Rose, kan?! Makanya, ia belum dapat menebak apa yang Rose pikirkan mengenai kehamilannya ini.


“Terima kasih, Dokter!” Sementara Rose masih duduk termangu di atas tempat tidurnya. Maka, Anggie yang mengantar dokter tersebut sampai ke pintu kamar Rose.


Wanita berambut pirang itu, masih termenung sambil sesekali menatapi dua buah tespack di tangannya. Benarkah semua ini, adalah nyata?


“Tunggu!” seruan Rose lantas menghentikan langkah dokter itu, yang berniat pergi dari sana. Anggie pun ikut menoleh dengan tatapan heran.


“Jangan katakan pada siapa pun! Terutama pada Ben…” ucap Rose dengan wajah serius.


Dokter itu lalu menatapnya bingung, dengan alis yang bertaut dalam. Ingin bertanya mengapa, namun tidak ia utarakan langsung dengan mulutnya.


Bukankah ini adalah sebuah kabar baik? Markas ini, akan kehadiran seorang penerus!


Namun, dokter itu tahu bahwa ia tidak berhak mempertanyakan sama sekali sebab musabab perkara pasiennya itu.


“Biarkan aku, yang mengatakan sendiri padanya!”


Heh! Dokter tersebut pun dapat bernapas lega. Sebab terlintas di kepalanya, jika Nona Rose tidak menginginkan anak itu.


Melihat dari bagaimana reaksinya saat ini. Karena, tidak ada euphoria berarti yang Rose tunjukkan ketika mendengar kabar ini.


“Tenang saja, Nona! Anda dapat memegang kata-kata saya!” Dokter itu lantas tersenyum. “Baiklah, saya permisi!” angguknya pada Rose lalu pada Anggie kemudian.


Sementara dokter itu percaya. Lain halnya dengan Anggie. Dia tidak begitu saja percaya dengan apa yang Rose ucapakan kepada dokter tadi.


Ekspresi Rose saat ini terlalu misterius dan mencurigakan baginya. Semakin membuatnya tidak dapat menerka, apa yang wanita itu pikirkan dan inginkan.


Clek~!


Setelah menutup pintu, Anggie lantas menghampirinya.


Duduk di sebelahnya, bahkan memiringkan tubuhnya, supaya benar-benar menghadap ke arah Rose. Tempat tidur itu pun sampai bergoyang, karena kelakuan Anggie yang begitu bersemangat.


“Rose!”


“Ehm…” Hanya dengan bergumam wanita itu meresponnya.


“Bolehkah aku bertanya?” Menyentak tangannya sendiri ke paha, sampai tempat tidur itu terasa bergelombang kembali. Ia begitu gemas dengan ekspresi Rose yang terlalu misterius.


Sebenarnya apa yang wanita itu pikirkan?


“Mm, ya! Tanya saja!” Lagi-lagi, jawaban Rose semakin membuatnya hampir gila karena penasaran.


Sampai pikiran negative pun mulai menerjang dan menguasai sebagian isi kepalanya. Mungkinkah, Rose tidak menginginkannya? Ini sama seperti apa yang dokter tadi pikirkan.


“Apakah, kalian tidak memakai pengaman selama ini?” tanya Anggie cepat sembari menggelengkan kepala.


“Tidak!” jawab Rose singkat. Lalu ia menoleh, menatap Anggie. “Aku tidak begitu mengerti tentang hal seperti itu. Tapi sepertinya… kami hanya akan langsung melakukannya, tanpa mempersiapkan apa pun!”


Rose menjawab apa adanya. Tanpa malu-malu, karena hanya dengan wanita ini, dia dapat mengatakan apapun. Tanpa harus ditutup-tutupi.


Termasuk dengan hal tabu seperti ini. Toh, mereka telah sama-sama dewasa. Dan sama-sama tahu, tentang hal seperti ini.


“Oh! Ya, ampun!” Dipijit Anggie, kepalanya yang mendadak terasa pusing.


Apakah mereka begitu tidak tahan, sampai melakukannya terburu-buru begitu dan tanpa persiapan?!


Oh, astaga! Apakah pasangan yang dimabuk kepayang  seperti itu kelakuannya?


Jujur saja, Anggie tidak paham mengenai hal ini. Mungkin lupa, karena itu… sudah bertahun-tahun lamanya. Ia tidak mengenal sosok lelaki lagi. Berikut cinta dan hawa nafsu terhadap kaum mereka.


Hingga… kemarin, saat ia merasakan interaksi yang begitu dekat dan begitu intim, dengan Relly.


Tanpa sadar, sukmanya berteriak… menginginkan lebih.


Tuk~!


Ia pun memukul kepalanya pelan. Mengguncang benaknya dari isi kepala yang tidak-tidak. Dan kembali, ke duduk permasalahan saat ini.


“Lalu, kau menyesal?” tanya Anggie lagi. Mencoba mengulik maksud dari ekspresi Rose yang aneh itu.


“Menyesal? Apa maksudmu?” tanya Rose balik dengan alis yang menukik. Matanya pun memicing.


“Yah…” Dan Anggie hanya mengedikkan bahu. Lidahnya terlalu kelu untuk mengatakan dengan jelas, apakah temannya itu menyesal setelah mengetahui kabar ini.


Tuk~!


Karena gemas, Rose menjitak kepala wanita seksi itu.


“Buang pikiran burukmu itu!” omel Rose.


Kemudian mengalihkan pandangan ke arah tespack di tangannya lagi.


“Stshss…,” ringis Anggie sambil menggosok bekas jitakan Rose padanya.


Wanita itu lantas tersenyum sendiri sambil mengusap perutnya. Perut rata yang sudah tumbuh benih, buah dari hasil cinta dia dan kekasihnya.


“Bagaimana aku tidak berpikir begitu?! Habis, dari tadi kau diam saja. Wajahmu terlalu misterius, untuk seseorang yang sedang sangat senang mendengar kabar baik ini!”


“Aku hanya sedang berpikir…”


“Apa yang kau pikirkan?” Anggie nampak antusias, melihat keseriusan di wajah temannya. Bahkan Rose pun sampai menggosok dagunya, seperti tengah berpikir keras.


“Aku pikir, Ben pasti mengetahui tentang hal ini.”


“Apa maksudnya?” Belum mengerti kemana arah Rose bicara.


“Dia pasti sengaja tidak memakai pengaman!” seru wanita berambut pirang itu dengan penuh keyakinan. Sementara Anggie semakin menautkan kedua alisnya.


“Ben pasti sengaja melakukannya. Selagi aku tidak bertanya apa pun,” tambahnya lagi.


“Aku belum paham!” Digelengkan Anggie kepalanya dengan cepat.


“Aku sangat tahu! Pria itu selalu penuh dengan perencanaan. Ben pasti sengaja membuatku cepat hamil. Agar bisa segera menikahiku!” Rose tampak puas dengan spekulasi yang baru saja ia buat.


“Baha… ha… ha...,” tawa Anggie pecah. Riak yang begitu riang keluar dari mulutnya, sampai di ujung pelupuk mengeluarkan air mata. “Ku pikir apa!”


“Kalau begitu, aku setuju dengan rencana yang Tuan buat!” seru Anggie lagi di tengah tawanya.


“Kau… hemh!” dengus Rose kesal.


Ia pikir, karena mereka berteman, maka Anggie akan berpihak kepadanya. Tapi tenyata, wanita seksi itu, tetap loyal terhadap pemimpinnya.


Waktu yang mereka habiskan bersama ternyata cukup berpengaruh, pikir Rose begitu.


Tapi… bukan itu yang Anggie pikirkan.


“Aku pun sudah sangat menantikan pernikahan kalian, Rose!” Tawanya ia hentikan. Kemudian menatap wanita di hadapannya, dengan tatapan serius dan juga dalam.


Anggie mengambil kedua tangan Rose untuk ia genggam. “Sedikit banyaknya, aku mengetahui apa saja yang sudah dilalui oleh Tuan Ben. Jadi aku sangat mengharapkan, Tuan menemukan kebahagiaannya. Dan sumber kebahagiaan Tuan, adalah dirimu, Rose!”


“Lalu, kau tidak memikirkan kebahagiaanku sama sekali, hem? Bukankah kita teman?!” tatap Rose seraya memicing.


“Haha… kau ini apa-apaan, Rose! Tentu saja aku memikirkan dirimu!” Lalu merangkul bahu wanita itu. “Aku tahu, kau pun begitu, kan! Sumber kebahagiaanmu ada pada Tuan Ben. Alasanmu ikut ke sini dan banyak berlatih, adalah karena Tuan, kan?!


Rose mengangguk, merasa benar dengan apa yang temannya itu ucapkan.


“Lalu, goal apalagi yang ingin kalian capai? Tentu saja menikah, bukan?” angguk Rose lagi, setuju.


“Terutama bagi Tuan yang sejak lahir merupakan seorang yatim piatu, pasti dia bermimpi untuk mempunyai keluarganya sendiri. Denganmu dan juga anak-anak kalian!”


Lantas, Rose memandang jauh ke depan. Ia jadi memikirkan semua hal yang dikatakan oleh Anggie. Semuanya benar.


Benar memang! Jika di dalam hubungan mereka ini, yang belum tercapai adalah menikah dan membangun sebuah keluarga.


Tapi…


“Rose!” Anggie membalikkan tubuh wanita itu agar mereka saling berhadapan. “Perkara kau ingin menjadi kuat atau terlihat hebat di sisi Tuan, hal itu bisa kau lakukan sambil berjalan. Dan lagi, semua orang sudah mengakui, bahwa hanya kau yang pantas berada di sisi Tuan Ben. Hanya kau yang dapat menaklukannya.”


Pikiran mereka sepertinya sama. Maka dari itu mereka tertawa bersama setelah itu. Mereka jadi sama-sama mengingat bagaimana Ben mengamuk dan hilang kendali. Itu benar-benar kacau!


Lalu, hanya Rose yang dapat menghentikan serta menenangkan monster yang sedang mengamuk itu.


“Baiklah!” Hela napas Rose nampak lega. “Kalau begitu, aku ingin kau menjadi pengiringku nanti!”


“Tenang saja! Apa pun untukmu, Nona!”


Lantas mereka tertawa bersama. Lalu melanjutkan obrolan, sambil membayangkan bagaimana pernikahan Rose dan Ben, nanti.


***


Ketika senja datang, Ben pun kembali pulang. Rose yang sekarang sudah nampak cerah dan ceria, tidak sepucat tadi pagi, saat ia meninggalkannya.


Wanita itu menyambutnya kembali sejak dari halaman parkir. Meski, masih tetap nampak aneh, karena Rose masih tidak mau dekat-dekat dengannya.


Wanita itu masih mengatakan jika dirinya, bau.


Terserahlah! Yang terpenting, ia sudah dapat melihat wanitanya itu tersenyum kembali.


“Ben, ada yang ingin aku bicarakan denganmu!”


“Ada ap-“


Ting~!


Sebuah pesan lantas masuk pada ponsel milik Ben, sehingga menghentikannya untuk berbicara.


Pesan dari Zayn :


Aku ingin membuat pengakuan! Temui aku besok, di villa pinggir pantai.


Rose mengintip isi pesan tersebut, dengan memanjangkan lehernya. Ia penasaran karena melihat wajah Ben yang menjadi sangat serius, disertai alis yang menukik dalam.


“Ben, ini-“


Mereka lantas saling berpandangan.


“Apakah kau akan menemuinya?” tanya Rose kemudian.


“Aku harus menemuinya!” jawab Ben beserta anggukan yakin.


“Baiklah! Kalau begitu aku ikut denganmu!” Dan sepertinya, ia harus menunda memberitahukan kekasihnya itu, mengenai kehamilannya ini.


Bersambung…