Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Tidak bisa kuat selamanya



Kriet~!


Derit pintu yang ia tutup, tak menutupi bunyi detak jantungnya sama sekali. Di dalam sana, organ dalam itu tengah memompa dengan sangat cepat.


Rose menyentuh bagian dadanya yang berdenyut. Lalu, ia dapat merasakan telapak tangannya ikut naik turun. Mengikuti irama degub jantung yang memacu dengan begitu bersemangat.


“Hh…!” Wanita itu mengembuskan napas resahnya. Ia pun menaikkan pandangan, menatap lurus pada pintu kayu berwarna cokelat tua di depannya.


Menatap dalam, pada balok kayu yang padat dan hampa, kemudian menghela napas lagi, dengan berat.


Rose maju selangkah. Merapatkan diri ke daun pintu yang diam.


Dug~!


Ditempelkan Rose seluruh bagian tubuhnya, kemudian merentangkan kedua tangannya ke samping. Lalu dia menempel seperti cicak di dinding.


“Oh, Tuhan! Bisakah aku keluar lagi saja!?!” Ia mengeluh dan merintih dengan lengkung bibir ke bawah.


Ia menoleh sebentar ke arah ranjang. Melihati pria yang tengah berbaring dan menggeliat gelisah. Dan kegelisahan itu pun seperti menular kepadanya.


Ya, ampun! Apakah dia harus menghampirinya atau tidak? Resah dan gelisahnya membuat Rose jadi menangis tanpa air mata. Pun, masih sambil menempel pada daun itu pula.


“Rose! Rose…” lirih suara itu memanggil. Membuat Rose menegakkan tubuhnya kembali sembari menoleh ke arah sana.


“Panas sekali… hah… tubuhku panas sekali!” Pria itu merintih. Wajahnya mengerut dengan ekspresi kesakitan dan tidak nyaman.


“Hh…” Satu kali tarikan napas, Rose lakukan dengan begitu dalam. Sampai bahunya terangkat naik, lalu turun kala napas berat itu terbuang.


Rasanya ia ingin keluar dari kamar ini. Lantaran belum sepenuhnya siap dengan situasi yang akan terjadi nantinya. Namun di sisi lain, ia juga tidak bisa membiarkan kekasihnya terus merintih kesakitan seperti itu.


Rose pernah membaca beberapa novel, pun juga beberapa film pernah ditontonnya. Jika efek obat seperti ini sangat hebat, maka nyawa pun bisa menjadi taruhannya.


Hal itu bisa saja terjadi, apabila korban yang mengonsumsinya tidak segera diberi pertolongan. Dengan cara melepaskan gejolak yang membara itu, secara langsung.


Memikirkan hal ini, wanita itu jadi meringis sendiri. Tentu saja, ia tidak mau kalau kemungkinan paling buruk itu sampai terjadi pada Ben.


Dan beruntunglah, kekasihnya itu memilih bertahan. Dalam kesakitan dan tidak nyaman yang Ben rasakan, pria itu tidak berpikir untuk mencari pelampiasan lain. Tapi malah menyiksa diri sendiri, dengan menahan panas yang seolah membakar jiwanya sekaligus.


Tap~! Tap~! Tap~!


Jadi, bagaimana mungkin Rose bisa tutup mata akan hal ini?! Maka dari itu, ia menyeret langkahnya dengan pelan ke arah tempat tidur luas dan lapang itu.


Rose sangat tahu, bagaimana kekasihnya itu sudah sangat setia selama ini. Padahal masa lalunya begitu kelam. Sebab Ben dapat dengan mudah memilih wanita manapun untuk melampiaskan kebutuhan biologisnya.


Sedang setelah bersama Rose… pria itu mau menerima keputusannya. Ben mau menunggunya sampai siap. Sementara itu, Ben tidak pernah menyentuh wanita manapun lagi. Selain dirinya!


Pada kenyataan ini Rose tidak dapat tutup mata! Lagipula cintanya begitu besar, mengembang bak balon udara. Ada semilir angin sejuk yang membelai seluruh raganya. Namun terdapat panas api di dalam jiwa Rose, yang sebenarnya pun minta disulut menjadi lebih besar.


Dia juga wanita dewasa. Bohong! Jika Rose tidak menginginkan hal itu. Ia pun ingin tahu, bagaimana nikmatnya surga dunia yang bisa membuat orang sampai merasa terbang ke nirwana.


Tempat tidur itu terasa berayun, karena Rose barusan mendudukinya. Ia duduk di pinggir ranjang, di sisi Ben. Pelan, ia mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah yang sudah basah oleh peluh.


Jangan ditanya ia gugup atau tidak!


Itu pasti! Rose sangat gugup saat ini.


Lihat saja, tangannya yang gemetar ketika akan sudah berada di atas wajah Ben yang meresah!


Glup~!


Rose menelan ludahnya kala kulit telapak tangannya sudah berhasil menyentuh pipi Ben yang panas dan basah karena keringat. Lalu, dipanggilnya pria itu, dengan nada rendah yang bergetar. “Ben~!”


Ia mengusapnya sekali, wajah basah dan resah itu. Karena ujung jarinya mendadak merasakan sengatan listrik yang tidak biasa. Bahkan langsung terasa sampai ke inti tubuhnya. Buru-buru ia mengangkat tangannya lagi.


Rose memalingkan wajahnya ke depan, sambil menarik tangannya yang kini terkepal. Ia letakkan simbol dari perasaan gugupnya itu di atas paha.


Punggungnya yang baru saja terkena sengatan listrik pun menegang. Rose duduk tegak, sambil menekan kepalan tangannya ke paha, seolah itu penopang tubuhnya yang mulai rapuh karena gairah.


Saat merasakan masa itu semakin dekat di depan mata. Tubuhnya seperti memiliki pemicu sendiri, sehingga ia pun mulai merasa gerah.


Angin pantai yang bertiup kencang dari arah pintu kaca, yang sengaja ia buka pun, ia rasa tidak mendinginkannya sama sekali.


Dug~! Dug~! Dug~!


Detak jantungnya pun semakin meningkat pesat, dan membuat dirinya semakin merasa gelisah.


Rose mengembungkan pipinya, mengerutkan bibir, sambil menarik napas sedalam mungkin. Ia mencoba menenangkan diri. Kemudian beralih pada Ben lagi.


“Rose! Kaukah, itu?” Tangan Ben perlahan naik. Ia ingin menyentuh dan memastikan jika wanita yang berada di depannya ini tidak salah. Seperti tadi.


Ini nyata bahwa dia adalah Rose-nya. Ben ingin memastikan hal itu!


“Iya, Ben! Ini aku!” Wanita itu pun menangkap tangan Ben yang sudah terulur. Ia menggenggamnya erat dengan kedua tangan.


“Hh…” Napas lega pun pria itu tiupkan melalui bibirnya yang tersenyum.


Benar! Ben hapal, Ben tahu bahwa ini memang adalah kekasihnya. Wanita yang ia cintai.


Ben yakin hanya dengan menyentuh sedikit kulitnya, mencium aroma khas strawberry yang Rose miliki, juga suara merdu yang kadang bisa menyakiti telinganya.


“Egh…” Ia mencoba untuk bangun dari posisinya yang merebahkan diri. Rose dengan sigap membantunya menduduk di ujung ranjang itu. Dan posisi mereka pun semakin merapat saat ini.


Keduanya duduk saling berhadapan sekarang.


“Apakah kau masih merasa tidak nyaman?” tanya Rose perhatian.


Pria itu tersenyum sendu dengan tatapan nanar. Ia tak ingin membuat Rose kepikiran dan khawatir, namun ada sakit dan gairah yang mesti ia tahan.


“Ehm, ya! Ini sudah lebih baik,” jawab Ben seraya menangkup sebelah sisi wajah kekasihnya.


Ben jadi mengingat bagaimana tadi dia sudah menyangka seseorang sebagai Rose. Dan kesalnya, wanita itu malah mengaku-ngaku dan mengiyakan hal itu, begitu saja.


Namun, rasa bersalahnya tidak bisa hilang hanya karena dia kesal. Ben berjanji, dia tidak akan mengulanginya lagi. Dia tidak akan salah melihat Rose lagi.


Dalam pandangan matanya, hanya ada Rose seorang. Dan Ben harus mengingat betul setiap detail, lagi, mengenai kekasihnya itu. Sebab janjinya itu pun berlaku untuk seluruh jiwa raganya, yang hanya akan menerima seorang wanita di dalam hidupnya. Yaitu, Rose seorang.


“Kau yakin?” Wajah khawatir itu ingin memastikan. Karena Rose masih dapat melihat keringat Ben terus bercucuran.


“Tapi aku harus baik-baik saja, Rose! Aku tahu apa yang terjadi pada tubuhku saat ini. Tenang saja, oke!”


Ben tahu kekasihnya itu belum siap. Dan ia pun tidak akan membiarkan Rose melakukannya, apalagi dalam keadaan dirinya yang tidak sepenuhnya sadar, seperti sekarang ini.


Pria itu tidak mau menyakiti kekasihnya! Sebab Ben tahu, betapa dia akan menggila nanti, akibat efek dari obat ini. Mungkin, dia hanya perlu bermeditasi selama beberapa waktu nanti.


“Ben!” Rose mengambil, menggenggam telapak tangan yang terasa panas di pipinya.


“Aku tahu! Selama hidupku, aku adalah pria paling kuat, paling berani yang pernah aku kenal.” Wanita itu memangku genggaman tangannya pada sebelah tangan Ben di atas paha.


Sepasang manusia itu saat ini sedang saling berpandangan. Keduanya saling menyelami apa yang ada pada netra satu sama lain. Meskipun mata Ben saat ini nampak sayu.


“Tapi kau tidak bisa selamanya kuat, Ben! Ada saatnya, ketika kau lemah, kau pun membutuhkan seseorang untuk membantumu.”


Ben mengernyit, mengerutkan alis dan bibirnya. Kemudian melepaskannya lagi, namun ekspresinya masih kebingungan. Ia tidak mengerti dengan apa yang Rose katakan.


Ditambah, wajah wanita itu nampak serius. Ben pun semakin bingung di buatnya.


Kemana arahnya? Apa maksud dari ucapan kekasihnya?


“Aku ada di sini sekarang! Jika kau membutuhkan aku, katakan saja! Sebisaku, aku akan membantumu sebisaku!”


Punggung Ben menegang, tengkuknya pun medadak kaku saat Rose meletakkan telapak tangannya di depan dada kekasihnya itu.


Tangan yang masih ia genggam itu, Rose tahan pada bagian depan tubuhnya yang menonjol ke depan. Setelah itu, ia membiarkan telapak besar dan panas Ben, mendarat nyaman di sana. Rose lantas menurunkan tangannya sendiri.


“Lakukanlah! Aku mencintaimu, Ben!” desah wanita itu saat memberikan perizinannya.


Bersambung…


Tarik napas dulu gengs… trus buang lewat mulut ya, jangan lewat belakang, nanti kentut,, xixixi


Adegan so sweet mereka nanti siangan ya,, hehe aku aja udah ga sabar sendiri buat nulisnya


Maap kemarin ga update, ibu dan adikku datang, jadi perhatianku khusus aku berikan buat meraka,, dan aku sudah menghabiskan jatah liburku bulan ini,, huhu sedihnya


Jadi mulai besok sampai akhir bulan, ga ada bolong update lagi.


Doain aku ya biar semangat terus.. sambil nyusun ide buat bikin cerita anak-anaknya Ken Ana dkk


Selamat beraktivitas semuanya


Keep strong and healthy ya semua