
Semua orang yang berada di sana menahan napas. Termasuk
Relly dan Anggie, juga Bella yang setia berdiri dengan tenang di belakang.
Mungkin hanya Rose yang terlihat lebih tenang ketimbang yang lain. Tapi…
matanya tidak dapat berbohong bahwa dia juga khawatir.
Semua orang sedang memikirkan hal terburuk apa yang akan
terjadi jika dua orang kuat itu saling bersiteru. Apakah markas ini akan jadi
kacau lagi seperti tadi malam.
Padahal, kan, baru saja semuanya selesai diperbaiki! Apa
mungkin akan terjadi kekacauan yang lebih besar lagi? Karena sekarang
melibatkan dua orang?
Wajar memang, jika Victor marah dan tidak terima karena adik
yang paling ia jaga dan ia sayangi, sampai diperlakukan tidak adil seperti ini!
Wajar sekali jika seorang kakak memiliki naluri yang besar untuk melindungi
adiknya sendiri.
Tapi… sungguh…benar-benar… mereka tidak bisa membayangkan
apa yang terjadi nanti!
Pihak pendukung Rose, dengan kompaknya menusuk mereka yang
semula kontra terhadap nona mereka. Sungguh, jika bukan karena tindakan bodoh,
super-super bodoh mereka, semuanya tidak akan menjadi sekacau ini.
Tidak ada yang mengira, bukan? Jika ternyata Rose bukan
wanita sembarangan! Terlebih, adalah adik dari orang yang pernah berpengaruh
dalam markas ini!
Apa rekan-rekan mereka itu tidak berpikir? Bahwa sudah cukup
dengan masalah yang mereka miliki, dan belum menemukan solusi, bahkan! Tidak
perlu sampai mengembangkan isu belaka menjadi malapetaka seperti ini!
Masing-masing mengepal udara di samping. Berpegangan dengan
rasa was-was yang mereka miliki. Pasalnya, tatapan di antara dua pria tangguh
itu benar-benar mengalirkan energi listrik yang melemahkan mereka semua.
Tatapan itu! Seperti keduanya hendak berperang, di sini, di
tempat ini, saat ini juga!
“Kak-“ Rose ingin menegur Victor, namun Ben sudah
mengeluarkan suaranya terlebih dahulu dan memotongnya.
“Kalau begitu… kau kembali ke sini dan bantu aku mengurus
mereka!” ujar Ben santai dibarengi helaan napas malas dan lelah.
Begitu pun dengan yang lain. Mereka semua yang tadi tegang, sekarang
sudah bisa menurunkan sudut bahu yang semula menegang dan kaku. Dikeluarkan
pula kekhawatiran yang membahana melalui udara yang mereka tiupkan melalui
mulut.
Victor menanggapi dengan memutar bola matanya sembari
menghela napas tidak percaya. Masa iya, dia perlu kembali?! Hidupnya sudah
terlalu tenang untuk ia usik dengan masalah-masalah duniawi yang tiada
habisnya.
Pria itu, kini lebih memprioritaskan keluarga di atas
segalanya. Masa-masa yang sudah hilang selama bertahun-tahun lamanya. Sebuah
kehangatan keluarga yang selalu ia rindukan di dalam keluarganya sendiri.
Victor berharap, ingin menjalani kehidupan pria normal yang
sudah berkeluarga. Tanpa ***** bengek masalah yang membuat hidupnya semakin
rumit, ia rasa nanti.
Pria itu kembali melangkah ke belakang. Ia bergabung dengan
istri dan putranya, Bella dan Bervan. Dirangkulnya bahu istri tercintanya itu.
Dan Bervan, berdiri di tengah,di antara ibu dan ayahnya.
“Aku terlalu malas untuk mengurusi masalah-masalah rumit
seperti ini lagi! Jika bukan karena masalah ini berhubungan dengan adikku,
mungkin aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku ke sini lagi!” Mempererat
pegangannya di bahu Bella.
Victor menunjukkan bahwa saat ini, keluarga adalah yang
paling penting baginya.
“Ch! Sombong sekali!” decak Ben seraya membuang pandangan ke
samping.
Nanti… nanti dia juga akan membuat keluarga kecil bersama
Rose. Sama seperti yang orang itu miliki. Dasar tukang pamer!
“Lebih baik kau urus anak buahmu itu! Aku masih memandangmu
di sini, makanya aku tidak turun tangan langsung!” Wajah Victor yang tadi sudah
bisa santai dan tenang, kini menjadi serius lagi.
Bahkan orang itu pun tak elak menjadi sasaran tatapan tajam
netra abunya. Yang mirip dengan yang Rose miliki.
Jangan kira karena dia belum bugar seratus persen, maka dia
tidak bisa melakukan apa pun pada orang itu! Victor tidak selemah itu!
Jika bogemnya kurang ampuh untuk membuat orang itu
tersungkur. Skill menembaknya masih bisa diuji dalam momen ini. Apakah tingkat
keakuratannya sudah berkurang atau masih sama seperti dulu!
“Hanya untuk kali ini. Ini adalah kesempatan terakhir yang
aku berikan… kepada siapa pun yang berani menyakiti adikku… termasuk kau!”
Setelah mengedarkan pandangan, Victor mengakhiri ucapannya sembari menunjuk
wajah Ben dengan tegas dan berani.
Tidak peduli jika pria itu adalah seorang ketua geng mafia.
Bagi Victor, Ben tetaplah seorang pria biasa, jika sudah memilih Rose sebagai
kekasihnya.
Semua orang yang berada di sana langsung membuka mata mereka
lebar-lebar. Ternyata… masih ada lagi yang berani melawan bos besar mereka,
Di sini, di tempat ini, mana ada yang berani melakukan hal
itu! Paling-paling Relly yang sering kali bertindak konyol. Itu pun pasti akan
langsung mendapatkan akibatnya. Mereka jadi memikirkan betapa kuat dan hebatnya
Victor sampai berani mengancam Ben seperti itu.
“Heh! Lalu kau pikir… aku akan melakukannya?!” Pria bertopi
koboi itu mencibirkan setengah bibirnya. Menatap sinis dan menantang balik
kakak ipar masa depannya itu.
Tentu saja! Mana mungkin dia akan menyakiti Rose! Jika dalam
hati saja, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk terus
membahagiakannya. Meski jalan yang mereka tempuh tidak akan semulus yang
dibayangkan. Ben tahu itu!
Namun pria itu sudah bertekad, sangat kuat, bahwa mereka
hanya akan tenggelam dalam kebahagiaan. Meski hidup mereka nanti selalu
diterjang banyak cobaan.
“Heh!” Victor balas mencibir pria itu. Bahkan dia juga
mendengus dengan berani.
“Sudahlah, Ben!” lerai Rose sambil mengusap dada prianya.
Yang terlihat naik turun dengan menggebu-gebu. Nantinya, Rose juga tidak tahu
akan membela siapa. Jika kakak dan kekasihnya benar-benar berseteru.
“Apa karena dia sudah sembuh, bicaranya jadi sombong
begitu?!” keluh Ben setengah berbisik pada Rose.
“Aku juga tidak tahu!” Digelengkan Rose kepalanya pelan.
Tidak ingin menjawab apa pun yang membuat kekasihnya semakin terprovokasi.
Karena wanita itu berpikir, masalahnya menjadi serius di antara kakak dan
kekasihnya itu.
“Kalau begitu, harusnya dia tidak usah sembuh saja!” cetus
Ben dengan perubahan nada yang Rose terka. Agaknya konyol seolah sedang
memancingnya untuk marah.
“Ben!” protesnya tidak terima.
Rose tahu, pria itu hanya sedang bergurau. Maka dari itu, ia
hanya memukul pelan dada bidangnya sambil menahan senyum kesal.
“Uggh….” Ben menerimanya saja. Lalu melenguh, pura-pura
sakit. Rose tahu hal itu, lalu mereka pun tertawa bersama.
Hey! Pemandangan apa lagi ini! Tidak ada satu detail adegan
pun yang luput dari mata semua orang. Senyum lembut dan hangat itu kembali
mereka lihat, hadir di bibir bos besar mereka yang biasanya jarang berbicara. Sungguh
pun ini adalah pemandangan yang langka!
Mungkin, di antara mereka semua, Relly yang paling biasa
melihat adegan seperti ini. Adegan romantis, berpadu manis cinta di antara dua
insan. Terlalu biasa, sampai ia muak rasanya.
Bisa tidak… tidak perlu pamer kemesraan di depan umum
seperti ini! Sungguh pun, rasanya Relly ingin mengomeli mereka berdua!
Tapi apa itu mungkin? Tentu saja tidak, kan!
Mendadak pandangan matanya pun jatuh pada rekan seksinya,
Anggie. Dan… yang ia dapati adalah… mata wanita itu yang melotot dan menatapnya seram.
“Hah!” Mendesah lemas pria itu pada akhirnya. Sepertinya dia memang ditakdirkan untuk sendiri.
Di belakang,
Bella pun berbisik pada suaminya. “Memangnya kau berani
melawannya?” Melirik ke arah Ben sebagai pertanda.
“Yang benar saja, Sayang!” Victor lalu menempatkan telapak
tangannya di dekat telinga Bella. Ada sesuatu yang mesti ia bisikkan, dan
jangan sampai terdengar oleh kekasih adiknya itu.
“Dia itu monster! Mana mungkin aku bisa melawannya!” Lalu
ditarik tangan Victor sambil terkekeh geli.
“Kau ini!” Bella pun tersenyum lega. Ia juga sempat berpikir
jika dua pria itu akan terlibat sebuah perseteruan yang serius. Siapa sangka,
jika keduanya hanya bermain kata. Meski ada beberapa hal yang nyata mereka
ungkapkan dengan serius.
“Mama! Papa bilang apa barusan?” tanya putra mereka sambil
mendongakkan kepala. Menatap keduanya dengan tatapan polos khas seorang anak
kecil.
“Papa bilang…” Victor yang menjawab, kemudian merundukkan
tubuhnya. Agar kepalanya sejajar dengan tinggi Bervan. “Akan memberikan adik
bayi untukmu!”
“Yeay… aku ingin adik bayi! Uupss… “ Setelah sempat bersorak
agak kencang. Bervan pun menutup mulut dengan tangannya sendiri. Ia ingat untuk
mengecilkan suaranya. “Yeay… aku akan punya adik bayi! Yeay…!”
Tangannya yang semula terkepal dan naik tinggi ke atas pun
ia turunkan. Bervan tetap bersorak girang, dengan suara pelan.
Ditarik Victor punggungnya, ia berdiri tegak dan menghadap
istrinya kembali. Tapi Bella, yang mengerti arah ucapan suaminya itu, malah
membuang muka. Karena terlalu malu untuk menatap Victor langsung.
“Ekhem… ekhem…” Relly sengaja berdehem dengan keras. Sampai
semua perhatian tertuju kepadanya.
“Jadi… apakah kita harus melanjutkan masalah ini atau
tidak?” Sambil menatap ke bawah, ke anak buahnya yang berlutut dan terikat di
samping kakinya.
Bersambung…