
Di sebuah kamar resort yang nampak tenang, angin berembus dari pintu kaca lebar yang sengaja dibuka. Sepoinya meniupkan gorden putih tipis yang menerawang.
Mereka berkibar, membiarkan angin pantai masuk dan menyejukkan ruangan.
Tempat tidur luas, berbalut sprei putih polos di tengah ruangan itu, saat ini, tengah menampung bobot seseorang. Ben berbaring di atas ranjang itu.
Lebih tepatnya dibaringkan! Oleh Rose dan Baz yang membawanya ke sana.
Sambil memapah Ben bersama dengan Baz, Rose tak lupa untuk menghubungi kakaknya. Ia minta dibukakan kamar supaya bisa membiarkan Ben beristirahat.
Rose juga meminta kepada Victor untuk dipanggilkan seorang dokter. Karena merasa, kondisi tubuh Ben sedang tidak baik-baik saja sekarang.
Tubuh pria itu terasa sangat panas. Matanya terpejam, namun mulutnya tak berhenti bergumam. Ben nampak seperti sedang mengigau sekarang.
Rose berpikir, jika Ben hanya sedang mengalami demam biasa. Sebab biasanya memang seseorang yang mengalami demam dengan suhu tubuh yang sangat tinggi, akan mengigau atau meracau tidak jelas.
Hal itu lumrah terjadi, terutama pada anak kecil. Maka dari itu Rose tidak berpikir macam-macam. Namun penasaran juga dengan penyebab kekasihnya yang kuat itu bisa jatuh sakit secara mendadak, seperti ini.
Wanita itu hanya belum tahu, jika Ben sudah menenggak minuman dengan campuran afrodisiak dengan kadar yang cukup tinggi.
“Rose…! Hk… panas! Rose… tolong aku Rose!” Kepala pria itu pun bergerak dengan gelisah ke kanan dan kiri. Mengalirkan peluh yang terus bercucuran di dahi hingga ke samping telinga.
Kemeja yang ia kenakan pun nampak basah di bagian dada. Mungkin juga di bagian punggungnya, namun tak terlihat karena ia berposisi telentang.
Semilir angin sejuk ini seolah tidak dapat membantu mendinginkan tubuhnya sama sekali. Padahal desirnya sampai terdengar ke telinga setiap umat yang berada di sana.
“Jadi bagaimana, Dok?” tanya Rose pada seorang dokter yang tadi dipanggilkan oleh Victor.
Dia, Baz dan dokter tersebut, berjalan menuju ke arah pintu kamar sambil membicarkan kondisi Ben saat ini.
“Saya sudah memberikan penawarnya. Namun itu sifatnya hanya sementara, karena zat afrodisiak yang masuk ke tubuhnya, dalam dosis yang cukup tinggi,” jelas dokter itu pada keduanya.
Rose dan Baz auto bertatapan. Alis dan wajah mereka mengerut setelah mendengarkan penjelasan itu.
Afrodisiak? Zat perangsang? Tapi mengapa Mirabel yang mengejarnya? Lalu, bagaimana hal ini bisa berhubungan dengan wanita alpha itu?
Jika Mirabel yang mengejar Ben, sudah dapat dipastikan jika memang wanita permen itu yang memberikannya. Maka dia pula yang ingin menjebak Ben.
Dan Baz tahu hal itu akan mengarah kemana. Yang jelas Mirabel pasti berniat merusak hubungan Ben dan Rose dengan cara kotor dan menjijikkan itu.
Namun, dengan dua pria yang mengincar Ben dan hampir membawanya, apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana hal ini bisa berhubungan dengan wanita yang bernama Della itu?
Baz sungguh tak dapat berpikir dengan jernih saat ini. Sampai Rose mengajukan pertanyaannya….
“Apakah Dokter tidak punya obatnya? Untuk menghilangkan efek zat perangsang itu secara keseluruhan?” Rose menggeleng pelan dengan wajah penuh harap.
Akhirnya Baz menyadari, akhirnya ia mengerti kemana arah dari kejadian ini. Wanita bernama Della itu menginginkan Ben, malam ini.
Tentu saja Baz tahu, obat untuk meredakan rasa sakit yang sedang diderita oleh si beruang grizzly itu. Jadi… inilah yang wanita itu inginkan?! Sama seperti apa yang Mirabel inginkan!
Ch! Namun Baz tidak habis pikir, bagaimana bisa begitu banyak wanita yang sangat menginginkan lelaki aneh itu?!
Hey, ada dirinya di sini! Apakah auranya begitu suram, sehingga tidak ada wanita yang melihat ke arahnya?!
Heh! Mendadak ia jadi kesal sendiri, karena telah memikirkan hal ini.
Sepanjang meninggalkan Ben di tempat tidur sana, Rose tak berhenti cemas dan khawatir. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada kekasihnya itu.
Digenggam tangannya sendiri di depan dengan begitu eratnya. Melampiaskan gundah gulana yang mendera.
Ia mendengus dengan kasar dan berat, serta beberapa kali menjepit bibirnya karena resah. Mendengar penjelasan dokter, Rose bukan tidak tahu sama sekali apa yang harus ia lakukan.
Rose tahu, hanya saja, ia masih berharap ada kimia atau obat-obatan dokter yang dapat menolong kekasihnya.
Sambil berjalan, sebenarnya ia sedang berpikir keras. Wanita itu sedang menyiapkan hatinya untuk melakukan hal yang akan datang. Dan memang mesti dia sendiri yang melakukan.
Karena tidak mungkin ia menyerahkan tugas mengobati kekasihnya ini kepada orang lain. Rose tidak akan terima, ia tidak akan rela!
Tanpa terasa mereka sudah berada di luar kamar. Victor beserta keluarga kecilnya pun sudah menunggu, ada Eric dan Tuan Benneth juga.
“Bagaimana keadaannya, Dokter?” tanya Victor seraya menghampiri mereka bertiga.
Lamunan dua orang di kanan kiri dokter tersebut pun buyar. Mereka terlalu larut dalam pemikiran mereka masing-masing barusan.
Namun, Rose segera memberi isyarat kepada dokter tersebut, dengan memegang lengannya dan menggeleng pelan, sangat pelan.
Jangan beritahukan hal ini kepada kakaknya! Rose belum siap untuk mengatakan yang sejujurnya, karena di sana terdapat ayahnya juga. Ia malu untuk mengatakan dengan jelas jika hal ini bersangkutan dengan kehormatan yang selama ini ia jaga.
“Teman Anda hanya mengalami demam biasa karena dehidrasi akut dan kelelahan. Tidak perlu khawatir, saat ini ia sedang beristirahat,” jelas dokter tersebut dengan wajah tenang.
“Hh… syukurlah!” Victor pun akhirnya bisa bernapas lega. Menyusul Bella di belakangnya, ikut mengelus dada, refleksi dari perasaan yang sama.
“Kalau begitu, kami bisa melihatnya, kan, sekarang?”
Victor sudah hendak menerobos ke dalam, namun tangan seseorang menahannya masuk.
“Ben baru saja tertidur, Kak! Biarkan dia beristirahat dulu!” Rose yang menghalangi jalannya. Wajah adik perempuannya itu nampak gugup, sehingga ia menukikkan alisnya curiga.
Pasti ada yang disembunyikan! Victor menatap lurus ke arah dalam ruangan dengan tatapan menelisik.
Tuan Benneth pun selaku ayah, merasakan hal yang sama. Namun, ia seperti tidak berdaya, seperti tidak memiliki kuasa untuk mempertanyakan banyak hal kepada putri kandungnya itu.
“Lagipula, sekarang sudah malam! Lebih baik Kakak mengajak Bella dan Bervan untuk beristirahat saja!” Wanita itu masih berusaha sambil tersenyum kaku.
Jujur saja, Rose sangat gugup saat ini!
Apabila kakaknya itu berhasil masuk, maka Victor akan mengetahui keadaan Ben yang sebenarnya. Lalu Rose tidak tahu, kakaknya itu akan menyetujui keputusannya atau tidak. Namun ia juga tidak bisa membiarkan Ben begitu saja!
Ia pun menatap Bella dengan sarat makna. Rose meminta pertolongan kepada kakak iparnya itu melalui matanya. Ia gerak-gerakkan bola matanya ke samping, meminta agar Bella segera membawa kakaknya itu pergi.
Rose tidak lupa jika kakak laki-lakinya itu lumayan cerewet. Pasti akan ada banyak pertanyaan yang muncul, jika kakaknya itu berhasil mengetahui kebenarannya.
Dan makin kuat saja, alasan Rose untuk tidak memberitahukan kakaknya. Untuk sementara ini.
Biar dia saja yang menyelesaikan masalah ini. Rose sudah dewasa, ia merasa sudah bisa dan harus menyelesaikan masalah ini seorang diri. Pun, ia akan mempertanggungjawabkan apa yang sudah menjadi keputusannya, nanti.
Namun gelagat Rose malah membuat Victor semakin curiga. “Biar aku melihatnya dulu!” pungkasnya dalam keadaan ambigu ini.
Ia benar-benar akan menerobos ke dalam kamar, tapi teriakan seseorang membuatnya tidak jadi masuk ke dalam sana.
“Tolong! Tolong!” Sambil berlari Nyonya Mira berteriak dengan kencang. Seolah ia lupa untuk tahu malu dengan keadaan sekitar.
“Aku tidak bisa menemukan Mirabel dimana pun. Mirabel-ku hilang! Tolong temukan dia untukku! Tolong!” Ia memohon kepada semua orang dengan wajah menyedihkan. Bahkan air matanya sudah berjatuhan di pipi yang mulai keriput itu.
“Kemana dia pergi? Bukankah dia selalu bersamamu?” Tuan Benneth langsung maju.
Dan hal ini pun disalahpahami oleh Rose dan Victor. Mereka berpikir, jika ayah mereka masih begitu mengkhawatirkan anak tirinya. Padahal Tuan Benneth bermaksud hanya memainkan perannya sebagai kepala keluarga.
Rasa iba yang tadi ia miliki pun menguap. Rose memilih berpaling daripada melihat hal yang tidak mengenakkan hatinya itu.
“Dia memang sejak tadi bersamaku! Lalu aku tidak sadar dia sudah pergi. Entah sejak kapan. Ku pikir dia menghampiri Rose dan Bella ke kolam renang. Tapi sampai acara selesai, Mirabel tidak muncul juga.”
“Aku sudah mencarinya kemana-mana. Tapi tidak menemukannya juga. Aku tidak tahu harus mencarinya kemana lagi! Hks… hks…!” Nyonya Mira mengakhiri penjelasannya dengan isak tangis yang ia tahan sejak tadi.
“Kalau begitu, aku akan mencarinya!” putus Tuan Benneth. Mengambil tanggung jawab karena saat ini ia masih merupakan kepala keluarga untuk Nyonya Mira dan juga Mirabel.
“Aku ikut!” seru Eric seraya mendekat.
Ada tatapan penuh harap ketika Tuan Benneth menoleh kepada putra sulungnya. Rose pun dapat melihat hal itu. Namun pria setengah baya itu urung untuk mengatakan apa yang sudah terkumpul di mulutnya.
Tuan Benneth memilih berpaling lagi ke depan. Lalu mengajak Eric dan istrinya pergi dari sana.
“Kau bantulah mereka!” bujuk Bella dengan lembut seraya mengusap lengan suaminya itu.
Dikerutkan Rose bibirnya sambil berpikir. Sepertinya ini adalah kesempatan yang tidak boleh ia lewatkan.
“Iya, Kak! Bantulah mereka mencari wanita itu! Bagaimanapun juga Kakak adalah tuan rumah di sini, tidak pantas rasanya, jika Kakak hanya berdiam diri dan tidak melakukan apapun!”
Senyum Rose pun mengandung dua makna. Di satu sisi ia berharap kakaknya itu mau mendengarkan ucapannya. Di sisi lain, dia sangat mengharapkan kakaknya pergi, agar niatnya terlaksana.
“Lalu, kau bagaimana? Siapa yang akan menemanimu menjaga Ben di sini?” tanya Victor yang mulai bimbang pikirannya.
“Ada aku-“
“Tidak!” Rose langsung memotong ucapan Bella.
“Ini sudah malam! Lihatlah, Bervan sudah sangat mengantuk! Lebih baik kau bawa Bervan untuk beristirahat,” imbuh Rose pada kakak iparnya itu.
Bella dan Victor menurunkan pandangan mereka. Nampak memang sepasang mata putra mereka sudah sayu dan sedikit berair. Anak kecil itu juga sudah menguap beberapa kali.
“Aku akan menemani Rose di sini!” pungkas Baz dengan wajah yakin.
“Hm… baiklah kalau begitu!”
Di saat sepasang suami istri itu nampak lega, Rose justru berwajah khawatir. Ia pun menggeleng samar pada temannya itu.
Tidak! Tidak seharusnya Baz tetap di sana. Ini bukanlah hal yang bisa diselesaikan oleh mereka berdua. Tapi hanya oleh dirinya seorang.
Namun Baz malah tersenyum hangat kepadanya. Dengan sedikit anggukan. Membuat Rose jadi kebingungan. Apa yang dia pikirkan sebenarnya?!
“Kami pergi dulu!” pamit keluarga kecil itu pada keduanya. Bella, Bervan dan Victor pun berjalan menjauh, meninggalkan mereka bertiga.
Ya! Bertiga! Karena masih ada sang dokter yang memeriksa Ben tadi.
“Kalau begitu saja juga permisi dulu! Jika efek zat itu belum hilang, maka hanya Nona Rose yang dapat mengobatinya. Selamat malam!” angguk dokter itu pada Baz dan Rose bergantian. Lalu pergi menyusul bayang punggung Victor dan keluarga kecilnya.
“Rose-“
Wanita itu langsung menggeleng saat ia menghentikan ucapan Baz.
“Kau ini! Harusnya kau mengatakan kepada mereka, jika kau tahu keberadaan wanita itu saat ini!” ujar Rose sambil memukul pelan bahu temannya itu.
Tersenyum hangat Rose untuk mengalihkan kekhawatiran Baz, yang ia tangkap di matanya.
“Lalu, kau, kenapa tidak kau saja yang mengatakannya?!”
“Aku ingin mendengarkan teriakannya besok pagi!” kekeh Rose geli.
“Sama!” sahut Baz menaikkan kedua alisnya sebentar.
“Pergi dan beristirahatlah!” Akhirnya Rose harus mengatakan hal ini. Meskipun dengan berat hati karena akan terdengar seperti dia sedang mengusir seseorang.
“Kau yakin?” Wajah Baz berubah serius. Tidak ada tawa lagi di sana.
Kenapa rasanya menyakitkan begini?! Padahal Rose bukanlah kekasihnya sama sekali. Ia seperti sedang melepaskan wanitanya untuk dimiliki lelaki lain.
Sungguh, hati Baz mendadak merasa sembilu menyayat hati!
“Hmm…!” gumam Rose seraya mengangguk yakin.
“Kalau begitu, aku pergi!” Karena bagaimanapun juga Baz tidak memiliki hak untuk menahannya. Rose bukanlah kekasihnya. Dia bukan miliknya. Baz harus menyadari hal itu. Ia mesti mengingatnya.
“Baz!”
Pria itu menoleh kala ia sudah memulai langkahnya. Ia tersenyum, masih berharap Rose tidak akan melakukan hal yang mungkin akan ia sesali nanti.
“Terima kasih untuk malam ini! Kau sangat membantu kami!” ucap Rose tulus.
Namun makin terasa menusuk di dada pria itu. Mendengar kata ‘kami’, bak pisau berduri tengah mengorek dalam hatinya.
“Ya, sama-sama! Kita, kan, teman!”
Lalu pada kesempatan kali ini, dia yang mesti menyakiti dirinya sendiri dengan mengingatkan bahwa hubungan mereka memang hanya sebatas ’teman’.
Kriet~!
Tatapannya pun berubah nanar saat ia menyaksikan Rose menutup pintu kamar itu. Kamar yang akan menjadi surga bagi mereka yang menempatinya.
Sedangkan bagi dirinya, menjadi pintu neraka. Menyayat, membakar seluruh jiwa raga.
Bersambung…
Poor Baz… sabar ya bang… semoga segera dikasih jodoh sama Tuhan,, eh, sama othor maksduhnya,, hehehe
Siapa yang masih inget novel pertama aku?
Ken-Ana
Sam-Sarah
Louise-Krystal
Kalo aku bikin cerita tentang anak-anak mereka, kalian setuju ga?