Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Pasangan tidak biasa



Rose sampai melipat tangannya di depan dada, untuk


menunjukkan diri bahwa dia sedang sangat serius sekarang ini.


Dan hal itu bukannya menular pada Anggie. Wanita seksi itu


malah makin kencang tertawanya. Makin kesal, makin runcing pula kerucut di


bibir Rose, menahan kesal.


“Baiklah,baiklah!”  Jeda dulu sebentar. Anggie perlu benar-benar menghentikan tawanya. Serta


mengatur napas agar lebih teratur masuk, mengisi rongga paru-paru. Supaya dia


bisa jelas menjawab pertanyaan Rose yang manyun itu.


“Sudah lama sekali…” Berpikir sebentar untuk menerka kapan


kira-kira kebiasaan itu berawal. Anggie ketukkan jari telunjuknya ke bibir saat


berpikir.


“Mungkin sejak kami mulai dekat! Lima tahun yang lalu,”


lanjutnya sambil menoleh ke arah Rose. Wajah percaya dirinya, menunjukkan bahwa


jawaban Anggie akurat.


“Wah… jadi kalian sudah bersama selama itu?” Mulut Rose tak


berhenti menganga.


Baru didapatinya hubungan selama itu. Tapi bukan itu juga


letak istimewanya. Hubungan awet itu dijalankan oleh pasangan tidak biasa seperti


mereka. Bukan pasangan normal, seperti dirinya dan Ben.


“Ya,” jawab Anggie dengan santainya. Dengan ringan pula dia


memamerkan senyum bangga.


Hh! Wanita ini! Apa yang bisa dibanggakan dengan hal itu?


Jika dia memiliki kekasih seorang pria sejati dan hubungan mereka bertahan


lama, barulah hal itu bisa dibanggakan. Rasa-rasanya, Rose jadi kesal sendiri


melihat senyum tak berdosa di wajah itu.


Hey! Masih banyak pria tampan di dunia ini! Tapi memang,


sih! Pria-pria tampan kebanyakan hanya menyakiti saja bisanya. Tapi, kan… masih


banyak juga yang gentleman dan baik hati. Ya, seperti lelaki yang dia temui


itu. Siapa lagi jika bukan, Ben, si tuan seramnya.


Baiklah! Rose rekam semua penuturan Anggie itu di dalam


benaknya. Sebab di dalam sana sedang memperoses kemungkinan apa yang terjadi


pada saat itu. Sehingga Ben sangat yakin jika penyusup itu adalah Zayn.


“Kenapa kalian tidak melakukannya pada malam hari? Saat


sedang santai, begitu?!” tanya Rose hati-hati.


“Memangnya ada waktu santai bagi kami?” Dikembalikan


pertanyaan Rose itu dengan ironi kehidupan Anggie.


Setiap waktu yang ada selalu berharga. Dia dan mereka mesti


memanfaatkan waktu sebaik mungkin, di balik kesibukan dan kepadatan jadwal


mereka setiap hari.


Terlebih dengan masalah yang datang akhir-akhir ini, membuat


mereka semua kehilangan waktu untuk sekadar memanjakan diri. Makanya Anggie dan


Zayn mencuri-curi waktu seperti ini.


“Iya juga, sih!” Rose menggigiti kuku jarinya sambil


tersenyum tak berdaya.


Akan tetapi, di balik itu semua, dia jadi berpikir. Jika ini


tepat sekali sesuai dengan dugaan Ben. Zayn mendadak mengajak Anggie untuk


melakukan perawatan wajah.


Sedangkan wanita maskulin itu tahu bahwa itu adalah momen


lengah Anggie, sehingga dia bisa meninggalkannya. Lalu bisa memulai aksinya,


tanpa diketahui dan dicurigai oleh kekasihnya itu. Itu pun jika memang Anggie


tidak terlibat dengannya.


Sampai di sini yang bisa Rose terka dan perkirakan. Untuk


selanjutnya, dia akan banyak bertanya lagi. Dia akan lebih banyak mengorek


tentang orang itu dari Anggie. Sambil mencari tahu, apakah Anggie termasuk di


dalamnya juga atau tidak.


Semoga saja tidak! Karena Rose akan sangat menyayangkan hal


itu. Di markas mafia yang solid ini, terlalu banyak pengkhianat di balik


selimut mereka. Apa lagi, Rose nilai, jika Anggie cukup baik untuk ia jadikan


teman. Rose tidak ingin kehilangan teman sebaik ini di masa depan.


“Maaf, ya, jika kedengarannya aku sedang menginterogasimu!


Padahal aku bukan siapa-siapa di sini dan tidak berhak untuk bertanya seperti


ini juga!” kata Rose merendah, mencoba mengambil hati Anggie.


terdalam. Tapi Rose selipakan juga maksud lain di dalamnya.


Wanita itu hanya merasa, dulu… dia tidak secerdas ini.


Kenapa tidak dari dulu saja dia seperti ini?! Jadi, kan, dia tidak perlu


memiliki pengalaman pahit seperti itu! Hal itu yang Rose sesalkan.


“Sudah ku bilang, kan! Tidak apa-apa! Sungguh!” Anggie


mengerjap pelan sambil meyakinkan Rose yang gusar.


“Aku mengerti situasinya. Dalam situasi seperti ini semua


orang pantas untuk dicurigai. Apa lagi aku dan Zayn yang tidak punya alibi yang


kuat. Aku paham, sungguh!” Ada senyum penuh ironi di bibirnya. Mata Rose


menangkap hal itu. Tatapan nanar yang lurus ke depan itu, menyiratkan sedikit


kekecewaan. Mungkin kecewa karena dia mesti berada di posisi dicurigai.


“Dan selama aku merasa benar dan tidak berkhianat, maka aku


akan berani menghadapinya. Meski Tuan Ben marah sekali pun. Karena aku merasa


tidak bersalah sama sekali!” imbuhnya lagi dengan kobaran keyakinan.


Anggie kini telah melepaskan tatapan nanar itu. Berganti


dengan tekad teguh untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.


Rose kehilangan, kehabisan kata-kata. Entah dia harus


berterima kasih atau mengucap kata maaf kembali. Wanita itu hanya mampu mengurai


senyum tipis nan tulus padanya.


“Ekh… kita sudah sampai!” seru Anggie menunjukkan apa yang


ia lihat di depan.


Netra abu Rose terbuka lebar. Melebar, mengedarkan


pandangannya ke sekitar. Menyapu keseluruhan apa yang ada di sana. Sebuah


lapangan tembak indoor yang amat luas. Dan jika dari apa yang pernah Rose


ketahui dari media masa online maupun offline, yang ada di sini tergolong


lengkap.


Rose dan Anggie sampai di tengan pintu berdaun dua yang


berdiri menjulang tinggi. Langkah mereka tertahan di sana untuk beberapa saat.


Rose masih terpana dengan apa yang ada di sana. Perlengkapan dan peralatan


latihan tembak yang sangat lengkap.


Membuat Rose langsung terpesona. Dengan mulut terbuka


setengah, dia menikmati setiap hal yang ada. Waktu itu saja, perasaannya sudah


berdebar saat menyentuh senjata-senjata koleksi Ben di ruangannya. Apa lagi


sekarang!


Dan Relly, sudah menunggu di tengah, di sebuah panggung


kecil jauh di hadapannya. Membuat Rose mengalihkan padangan dari semua hal yang


membuatnya tak berhenti untuk berdecak kagum.


“Ayo!” Anggie pun menarik tangannya. Ketika tatapanya masih


setengah kosong, setengah terisi oleh pandangan semua orang yang berdiri,


berbaris rapi dan membelah untuk memberi jalan kepadanya dan juga Anggie.


Sapuan mata mereka padanya, tak dapat Rose perhatikan satu


persatu. Karena terlalu banyak jumlah pasang mata yang mesti dia balas


tatapannya. Hanya saja, dari yang sempat bersirobok pandangan dengannya, tidak


ada satu pun yang dapat Rose tangkap arti tatapannya.


Semua orang memandangnya dalam ekspresi datar dan tenang.


Walau beberapa di antaranya juga merupakan korban terluka. Dan yang paling


parah, masih kuat untuk duduk di kursi roda.


“Ayo, Rose!” Anggie masih menariknya dengan tidak sabar.


Lebar senyum di bibir wanita itu seperti Anggie sendiri yang akan berbicara.


Padahal dia, kan! Tapi kenapa jadi Anggie yang bersemangat sekali!


Ditahan Rose tarikan tangan Anggie, ketika dia benar-benar


sudah sampai di depan. Di hadapan semua orang yang tadinya membelakanginya.


Sekarang Rose berdiri tepat di hadapan Relly yang memandangnya dengan tatapan


menanti.


“Silahkan, Nona Rose!” Tangannya menghela, mempersilahkan


Rose naik ke atas panggung kecil dengan stand microphone di depannya. Berharap


nonanya bergabung bersama dengannya.


“Ayo, Rose! Ini adalah giliranmu!” bisik Anggie berusaha


meyakinkan, Rose yang masih belum terisi penuh pandangan matanya.


Bersambung…