
Rose sampai melipat tangannya di depan dada, untuk
menunjukkan diri bahwa dia sedang sangat serius sekarang ini.
Dan hal itu bukannya menular pada Anggie. Wanita seksi itu
malah makin kencang tertawanya. Makin kesal, makin runcing pula kerucut di
bibir Rose, menahan kesal.
“Baiklah,baiklah!” Jeda dulu sebentar. Anggie perlu benar-benar menghentikan tawanya. Serta
mengatur napas agar lebih teratur masuk, mengisi rongga paru-paru. Supaya dia
bisa jelas menjawab pertanyaan Rose yang manyun itu.
“Sudah lama sekali…” Berpikir sebentar untuk menerka kapan
kira-kira kebiasaan itu berawal. Anggie ketukkan jari telunjuknya ke bibir saat
berpikir.
“Mungkin sejak kami mulai dekat! Lima tahun yang lalu,”
lanjutnya sambil menoleh ke arah Rose. Wajah percaya dirinya, menunjukkan bahwa
jawaban Anggie akurat.
“Wah… jadi kalian sudah bersama selama itu?” Mulut Rose tak
berhenti menganga.
Baru didapatinya hubungan selama itu. Tapi bukan itu juga
letak istimewanya. Hubungan awet itu dijalankan oleh pasangan tidak biasa seperti
mereka. Bukan pasangan normal, seperti dirinya dan Ben.
“Ya,” jawab Anggie dengan santainya. Dengan ringan pula dia
memamerkan senyum bangga.
Hh! Wanita ini! Apa yang bisa dibanggakan dengan hal itu?
Jika dia memiliki kekasih seorang pria sejati dan hubungan mereka bertahan
lama, barulah hal itu bisa dibanggakan. Rasa-rasanya, Rose jadi kesal sendiri
melihat senyum tak berdosa di wajah itu.
Hey! Masih banyak pria tampan di dunia ini! Tapi memang,
sih! Pria-pria tampan kebanyakan hanya menyakiti saja bisanya. Tapi, kan… masih
banyak juga yang gentleman dan baik hati. Ya, seperti lelaki yang dia temui
itu. Siapa lagi jika bukan, Ben, si tuan seramnya.
Baiklah! Rose rekam semua penuturan Anggie itu di dalam
benaknya. Sebab di dalam sana sedang memperoses kemungkinan apa yang terjadi
pada saat itu. Sehingga Ben sangat yakin jika penyusup itu adalah Zayn.
“Kenapa kalian tidak melakukannya pada malam hari? Saat
sedang santai, begitu?!” tanya Rose hati-hati.
“Memangnya ada waktu santai bagi kami?” Dikembalikan
pertanyaan Rose itu dengan ironi kehidupan Anggie.
Setiap waktu yang ada selalu berharga. Dia dan mereka mesti
memanfaatkan waktu sebaik mungkin, di balik kesibukan dan kepadatan jadwal
mereka setiap hari.
Terlebih dengan masalah yang datang akhir-akhir ini, membuat
mereka semua kehilangan waktu untuk sekadar memanjakan diri. Makanya Anggie dan
Zayn mencuri-curi waktu seperti ini.
“Iya juga, sih!” Rose menggigiti kuku jarinya sambil
tersenyum tak berdaya.
Akan tetapi, di balik itu semua, dia jadi berpikir. Jika ini
tepat sekali sesuai dengan dugaan Ben. Zayn mendadak mengajak Anggie untuk
melakukan perawatan wajah.
Sedangkan wanita maskulin itu tahu bahwa itu adalah momen
lengah Anggie, sehingga dia bisa meninggalkannya. Lalu bisa memulai aksinya,
tanpa diketahui dan dicurigai oleh kekasihnya itu. Itu pun jika memang Anggie
tidak terlibat dengannya.
Sampai di sini yang bisa Rose terka dan perkirakan. Untuk
selanjutnya, dia akan banyak bertanya lagi. Dia akan lebih banyak mengorek
tentang orang itu dari Anggie. Sambil mencari tahu, apakah Anggie termasuk di
dalamnya juga atau tidak.
Semoga saja tidak! Karena Rose akan sangat menyayangkan hal
itu. Di markas mafia yang solid ini, terlalu banyak pengkhianat di balik
selimut mereka. Apa lagi, Rose nilai, jika Anggie cukup baik untuk ia jadikan
teman. Rose tidak ingin kehilangan teman sebaik ini di masa depan.
“Maaf, ya, jika kedengarannya aku sedang menginterogasimu!
Padahal aku bukan siapa-siapa di sini dan tidak berhak untuk bertanya seperti
ini juga!” kata Rose merendah, mencoba mengambil hati Anggie.
terdalam. Tapi Rose selipakan juga maksud lain di dalamnya.
Wanita itu hanya merasa, dulu… dia tidak secerdas ini.
Kenapa tidak dari dulu saja dia seperti ini?! Jadi, kan, dia tidak perlu
memiliki pengalaman pahit seperti itu! Hal itu yang Rose sesalkan.
“Sudah ku bilang, kan! Tidak apa-apa! Sungguh!” Anggie
mengerjap pelan sambil meyakinkan Rose yang gusar.
“Aku mengerti situasinya. Dalam situasi seperti ini semua
orang pantas untuk dicurigai. Apa lagi aku dan Zayn yang tidak punya alibi yang
kuat. Aku paham, sungguh!” Ada senyum penuh ironi di bibirnya. Mata Rose
menangkap hal itu. Tatapan nanar yang lurus ke depan itu, menyiratkan sedikit
kekecewaan. Mungkin kecewa karena dia mesti berada di posisi dicurigai.
“Dan selama aku merasa benar dan tidak berkhianat, maka aku
akan berani menghadapinya. Meski Tuan Ben marah sekali pun. Karena aku merasa
tidak bersalah sama sekali!” imbuhnya lagi dengan kobaran keyakinan.
Anggie kini telah melepaskan tatapan nanar itu. Berganti
dengan tekad teguh untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
Rose kehilangan, kehabisan kata-kata. Entah dia harus
berterima kasih atau mengucap kata maaf kembali. Wanita itu hanya mampu mengurai
senyum tipis nan tulus padanya.
“Ekh… kita sudah sampai!” seru Anggie menunjukkan apa yang
ia lihat di depan.
Netra abu Rose terbuka lebar. Melebar, mengedarkan
pandangannya ke sekitar. Menyapu keseluruhan apa yang ada di sana. Sebuah
lapangan tembak indoor yang amat luas. Dan jika dari apa yang pernah Rose
ketahui dari media masa online maupun offline, yang ada di sini tergolong
lengkap.
Rose dan Anggie sampai di tengan pintu berdaun dua yang
berdiri menjulang tinggi. Langkah mereka tertahan di sana untuk beberapa saat.
Rose masih terpana dengan apa yang ada di sana. Perlengkapan dan peralatan
latihan tembak yang sangat lengkap.
Membuat Rose langsung terpesona. Dengan mulut terbuka
setengah, dia menikmati setiap hal yang ada. Waktu itu saja, perasaannya sudah
berdebar saat menyentuh senjata-senjata koleksi Ben di ruangannya. Apa lagi
sekarang!
Dan Relly, sudah menunggu di tengah, di sebuah panggung
kecil jauh di hadapannya. Membuat Rose mengalihkan padangan dari semua hal yang
membuatnya tak berhenti untuk berdecak kagum.
“Ayo!” Anggie pun menarik tangannya. Ketika tatapanya masih
setengah kosong, setengah terisi oleh pandangan semua orang yang berdiri,
berbaris rapi dan membelah untuk memberi jalan kepadanya dan juga Anggie.
Sapuan mata mereka padanya, tak dapat Rose perhatikan satu
persatu. Karena terlalu banyak jumlah pasang mata yang mesti dia balas
tatapannya. Hanya saja, dari yang sempat bersirobok pandangan dengannya, tidak
ada satu pun yang dapat Rose tangkap arti tatapannya.
Semua orang memandangnya dalam ekspresi datar dan tenang.
Walau beberapa di antaranya juga merupakan korban terluka. Dan yang paling
parah, masih kuat untuk duduk di kursi roda.
“Ayo, Rose!” Anggie masih menariknya dengan tidak sabar.
Lebar senyum di bibir wanita itu seperti Anggie sendiri yang akan berbicara.
Padahal dia, kan! Tapi kenapa jadi Anggie yang bersemangat sekali!
Ditahan Rose tarikan tangan Anggie, ketika dia benar-benar
sudah sampai di depan. Di hadapan semua orang yang tadinya membelakanginya.
Sekarang Rose berdiri tepat di hadapan Relly yang memandangnya dengan tatapan
menanti.
“Silahkan, Nona Rose!” Tangannya menghela, mempersilahkan
Rose naik ke atas panggung kecil dengan stand microphone di depannya. Berharap
nonanya bergabung bersama dengannya.
“Ayo, Rose! Ini adalah giliranmu!” bisik Anggie berusaha
meyakinkan, Rose yang masih belum terisi penuh pandangan matanya.
Bersambung…