Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Tidak salah lihat



“Ben! Ben! Ben!” Dipukulinya bahu pria itu agar mau melepaskan diri darinya dengan wajah panik.


“Hm….” Ben hanya menggeram malas sambil membalikkan wajahnya menghadap ke arah kedatangan Anggie dan Zayn. Perlahan ia membuka mata.


Tangannya masih mendekap erat tubuh Rose. Tak dibiarkan wanita itu pergi.


Rose mencoba mengingat, sepertinya tadi dia sudah menutup rapat pintu itu. Atau mungkin dia ceroboh karena tidak begitu melihatnya, saking merasa lucu dengan tingkah gemas Ben tadi?


Ah, sudahlah! Tidak mau memikirkannya lagi. Toh, sekarang sudah terjadi! Dirinya tertangkap basah oleh Zayn dan Anggie.


“Kenapa kalian datang ke sini?”


“Hng?” Anggie menelengkan kepalanhya bingung. Sedangkan Zayn hanya menipiskan bibir, enggan berbicara.


“Kau ini sudah pikun, ya! Tadi, kan, kau yang meminta Relly untuk memanggil mereka berdua!” seru Rose sambil memberikan satu pukulan kecil di salah satu bahunya.


Sebenarnya wanita berambut pirang itu masih berusaha menahan malu. Sebab Ben tidak juga mau untuk melepaskannya. Digigiti bibir bawahnya dengan perasaan gugup tak terkira. Canggung dia dengan posisi terlalu intim seperti ini.


‘Hish!’ Lalu dipandangi puncak kepala Ben yang ada depan matanya ini. Ingin sekali dia pukul rasanya! Ben ini sudah seperti anak-anak saja. Sulit sekali lepas dari induk semangnya.


“Hmm, ya!” Sepertinya dia memang lupa, saking asyiknya menikmati kenyamanan yang baru didapatnya ini.


Perlahan, kedua tangannya pun melepaskan tautannya. Ia menarik diri untuk bersandar ke sofa.


“Hah!” Akhirnya Rose bisa bernapas lega. Pria itu mau melepaskannya juga.


Sebenarnya, baik Anggie maupun Zayn sudah biasa melihat adegan seperti itu. Adegan penuh kasih sayang, yang mereka sendiri sering tunjukan kepada orang lain. Atau pun pasangan normal yang biasa mereka temui di luar sana.


Tapi bukan bosnya. Bukan ketua geng mereka yang terkenal dingin pada setiap wanita. Pun misal Ben menginginkan wanita itu untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Sudah menjadi rahasia umum jika pria seram itu tak bernurani sedikit pun. Tak diberi belaian kasih sayang sama sekali wanita itu.


Selepas menuntaskan kepuasannya, Ben akan memerintahkan wanita itu untuk segera pergi. Tak ingin ia melihat wanita itu lama-lama. Atau malah sampai pagi. Meski banyak wanita yang mendamba padanya. Mungkin bukan bayaran, malah batu nisan yang mereka dapat.


Nah, kini mereka tahu. Jika Rose memang berbeda. Ben tunjukkan dengan keseriusannya untuk menunggu Rose menjadi kuat. Dan tak segan menunjukkan kisah kasih mereka pada orang lain.


Ya, seperti sekarang ini! Dia terlalu nyaman memeluk Rose, sampai tak peduli dengan yang lain. Amarahnya yang tadi sempat meletup pun sirna sudah. Kenyamanan yang baru ia temukan itu, ingin ia miliki lebih lama lagi.


“Ak- aku akan membawa baskom ini dulu,” kata Rose sambil mengambil baskom di meja retak di belakangnya.


Saat Rose berbicara, Anggie dan Zayn berjalan mendekat.


“Nanti saja!” rengek Ben sambil menahan pergelangan tangan kekasihnya itu.


“Ben!” Rose menggeleng sambil sedikit membola matanya. D ia sudah sangat tidak enak hati pada dua wanita yang tengah menatapnya saat ini.


“Hmm….” Sepertinya dia memang harus mengalah kali ini.


Nanti saja dia akan meneruskannya lagi. Mengganggu kekasihnya itu lagi dengan… hukuman ganda. Hukuman ganda yang belum ia berikan sama sekali pada wanita itu. Atas tindakan membangkangnya tadi.


Disenyumi Rose pria yang akhirnya mau menurut itu. Ia lantas melangkahkan kaki sambil membawa baskom berisi air dan handuk kotor.


Mendadak kaki Rose terselip sendiri.


“Ugh…. “


Sebenarnya terdapat dua suara lenguhan. Hanya saja suara Rose terlalu kencang sehingga menutupi suara samar itu.


Panik wanita itu, karena hampir saja tersungkur ke lantai. Baskomnya ia bawa maju sebagai penyeimbang. Beruntungnya ia sempat menabrak Zayn dan Anggie pun menangkapnya. Hingga Rose pun tidak jadi mendarat di lantai seperti tadi yang ia takutkan.


“Hah… untung saja aku tidak jadi terjatuh!” Sambil mengatur napasnya yang tidak beraturan. “Terima kasih, ya, untuk kalian berdua!”


Zayn hanya menipiskan bibir dengan sikap tak acuhnya. Wanita maskulin itu bahkan memalingkan muka. Tapi… jika Rose tidak salah lihat, Zayn sempat mengerutkan keningnya. Seperti menahan ekspresi sakit.


‘Kenapa dia?’ tanya Rose dalam hati.


Tidak ingin terlalu banyak berpikir, Rose memiilih untuk melanjutkan langkahnya lagi. “Kalau begitu, aku akan membereskan baskom ini dulu. Kalian lanjutkan saja!”


Anggie dan Zayn mulai berjalan ke arah Ben. Dan Rose pun berjalan membelakangi mereka. Namun… sebelum berbelok ke kamar mandi, Rose menghentikan langkahnya.


Benaknya tak bisa berhenti dari apa yang ia lihat tadi. Rose memperhatikan dua wanita itu dari belakang. Kalau tidak salah, yang ditabraknya tadi adalah tangan kiri Zayn.


Rose tidak ingin asal berpikir, tapi dia juga tak ingin melepaskan rasa penasarannya. Jadi diperhatikan wanita maskulin itu agak lama. Selagi mereka semua tidak memperhatikan jika dirinya masih memperhatikan mereka berdua.


Tidak! Rose tidak salah lihat kali ini! Bahkan ia sampai mengusap matanya dengan bahunya sebisa mungkin. Untuk memastikan jika pandangannya tidak buram dan kabur.


Dilihat Rose, tangan kiri Zayn mengalirkan darah dari balik lengan jaket hitam yang dikenakannya saat ini. Itu cairan kental berwarna merah. Lalu apa lagi jika bukan darah! Rose sangat yakin akan hal itu.


Dan tepat sebelum darah itu mulai menetes jauh ke punggung tangannya, Zayn memasukkan tangan kirinya itu ke dalam saku celana.


Rose menggigit bibirnya, ia menahan napas.


Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!


Inginnya ia menampik hal ini. Rose tidak ingin kemungkinan yang ia pikirkan itu sampai terjadi. Hati nuraninya menolak untuk mengakui penglihatannya itu.


Tapi mereka juga belum tahu, kan! Siapa tahu darah itu berasal dari luka goresan atau semacamnya yang mereka tidak ketahui.


Semoga saja! Ya, semoga saja bukan dia!


Rose tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Ben jika pria itu akhirnya mengetahui bahwa pelaku penyusup itu adalah salah satu dari orang kepercayaannya.


Pasti rasanya sakit sekali! Pasti dia akan kecewa karena hal ini. Tidak! Pasti akan sangat kecewa hatinya karena telah dikhianati.


Rose memejamkan matanya. Masih berharap jika semua yang ia pikirkan kali ini adalah tidak benar. Semoga… semoga Tuhan mengabulkan keinginannya ini!


Karena belum apa-apa saja, hatinya sendiri sudah merasa amat terluka karenanya.


Anggie dan Zayn menghentikan langkah mereka setelah berjarak dua langkah saja dari sofa tempat Ben duduk. Mereka menunggu bos besar mereka itu berbicara, atau mungkin mengeluarkan perintah.


“Kemana kalian tadi?” tanya Ben sambil memejamkan matanya.


Ternyata, Ben kembali menyandarkan tengkuknya pada sandaran sofa.


Anggie nampak merasa bersalah di wajahnya. Dan yang satunya lagi hanya diam dengan ekspresi misterius.


“S- saya… tadi….” Anggie nampak gugup karena tidak bisa menahan aura menekan yang Ben keluarkan. Zayn pun menahan diri sebisa mungkin yang ia bisa. Dalam diamnya.


“Di saat ada penyusup masuk dan mencoba mencari masalah di sini, kalian ada dimana?” tanya Ben sambil perlahan membuka matanya dan menoleh pada mereka.


Bersambung..


Yuk,, yuk,, dukung terus ceritaku ya manteman


Kasih like, vote sama komentar kalian, oke


Kalian bisa baca season pertamanya Ben sama Rose atau novel pertamaku dengan klik profil aku ya manteman. Maaf kali ceritanya masih receh dan banyak typo di sana-sini. Maklum aja, kemarin dulu aku masih amat sangat pemula,, hehe


Keep strong and healthy ya semuanya