
lagi, aku buat konflik puncak ini sekaligus tanpa dipotong menjadi beberapa bab,,
maaf kalo agak panjang ya,, selamat membaca
Tak lama, setelah mereka saling diam. Lalu saling merenung, tentang apa yang, sebenarnya sama, yang berada di dalam isi pikiran mereka. Mobil sport putih yang Ben kendarai, akhirnya, sampai juga di tepi jurang yang ingin pria itu tuju.
Sebuah tepian, berupa lahan kosong berbentuk siku. Ada juga, bangku kayu di sana. Sepertinya, dua insan, cukup untuk menduduki bangku itu.
Juga, seperti sengaja ditempatkan di sana. Mungkin, diperuntukkan kepada para pelesir yang singgah untuk berswafoto ria.
Ada pohon besar di sisi bangku, yang meneduhkan tempat duduk itu. Meski, cuacanya terasa panas.
Hal yang bisa di dapat dari areal itu, adalah, pemandangan laut lepas. Samudera biru yang membentang, di sepanjang mata memandang.
Hanya, ada tepian bukit lainnya, yang rindang, dengan begitu banyak pepohonan, ada di seberang mata. Sama-sama mengarah ke lautan di bawahnya.
Semilir angin yang lumayan kencang, dari arah laut. Lalu, rindang dan sejuk yang didapat, dari pepohonan yang masi begitu asri.
Rasa-rasanya, nuansa ini, benar-benar sangat sempurna, untuk seseorang yang sedang ingin menjernihkan pikiran.
Atau, misal, ingin membuang beban pikiran, yang sedang menggelayut dan minta diberi solusi.
Ben menemukan tempat ini tanpa sengaja, kala itu. Setelah memutuskan untuk pamit pada Tuan Danu, ia memberhentikan mobilnya di sini.
Waktu itu, sepasang remaja sedang bersiap pergi dari sana. Mereka baru saja selesai, melakukan swafoto di area itu. Hamparan laut yang biru dan berkilau, menjadi latar foto keduanya.
Entah mengapa, tangan dan kaki itu, bergerak sendiri, untuk menghentikan mobilnya di sana. Setelah dua remaja itu pergi, Ben pun memutuskan untuk keluar dari mobil.
Menduduki kap depan mobilnya yang rendah. Sambil bersandar, rokok yang mengepulkan asap di tangan, pria itu memandang jauh, ke hamparan birunya laut itu.
Memikirkan dengan tenang, tentang tugas apa, yang akan ia emban setelah ini.
Apa yang Ben lakukan kala itu, ia praktikan pada masa ini.
Bedanya, jika saat itu ia sendirian. Merenung dan menikmati indahnya tempat itu bersama bayang-bayang.
Kali ini, ada seseorang di sisinya. Bayang yang dulu yang terdiam, kini sudah digantikan oleh sosok yang sangat berarti di dalam hidup.
Wanita yang ia cintai, insan yang akan ia jadikan partner hidup, manusia yang akan menemani sampai akhir hayat.
Rose! Saat ini, sudah ada wanita itu di sisinya.
Menemani sunyi dan damai romansa ini, sambil melakukan hal yang sama.
Mereka pun menduduki kap mobil sport berwarna putih itu. Duduk berdampingan, sambil Rose merangkul lengan di pria, juga menyandarkan kepalanya dengan nyaman, pada bahu bidang, milik Ben.
Aroma yang menyegarkan ini, ia hidu, sangat dalam, sampai matanya terpejam. Sambil menyebutkan dalam hati, betapa nikmatnya suasana saat ini.
Ben juga menyandarkan kepalanya pada kepala Rose yang meneleng dan bersandar nyaman. Ia memejam, sambil menghirup oksigen yang begitu banyak.
Pun, dengan aroma cinta dan kasih sayang, yang tengah menguar dari diri keduanya.
Betapa, Tuhan sangat baik padanya. Ben tengah mensyukuri hal itu.
“Rose!” panggilnya lalu. Dengan suara lembut, bersatu dengan semilir angin yang menenangkan. Perlahan, pria itu membuka matanya.
“Ehmm…” gumam wanita itu, tanda bahwa ia menjawab.
Rose terlalu sibuk, menikmati nuansa romatis dan mendamaikan ini. Sampai bibirnya menjepit, untuk memberikan senyum paling memuaskan, yang ia miliki.
Seperti, hanya untuk membuka mulutnya, menjawab panggilan Ben pun, ia tidak sempat.
“Aku mencintaimu!” seru pria itu. Dengan nada tulus dan menyejukkan jiwa. Ben lantas mengangkat kepalanya, lalu mengecup dalam kening wanitanya.
Kurva di bibir si wanita pun melebar. Rose makin tersenyum, ketika matanya masih terpejam. Ia membuka matanya pelan, sambil menikmati, cinta dan kasih yang tengah disalurkan oleh kekasihnya, Ben.
“Aku juga mencintaimu, Ben!” Wajah yang masih bertahan di atas kepalanya itu, lantas ia tangkup menggunakan kedua tangan. Sambil memundurkan kepalanya, memberi ruang, agar mereka bisa saling berpandangan.
Keduanya saling menatap untuk beberapa saat. Bola mata mereka saling berhadapan, saling menyelami isi dari hati mereka masing-masing. Dan ingin tenggelam ke dalam sana.
Bahkan rela, jika keduanya sampai terjebak, di dalam lautan cinta, yang tergambar pada iris mata masing-masing.
Setelah terdiam, bibir Rose melengkung indah lagi. “Aku mencintaimu, Ben!”
Cup~!
Dan sebelum pria itu membalasnya, Rose sudah memberikan satu kecupan bermakna pada bibir Ben yang berisi dan setengah terbuka.
Rose menarik diri seraya membuka matanya yang terpejam. Rasanya masih kurang jauh, ia terjun ke dalam lautan cinta yang tergambar di mata.
Tapi Rose ingin memandang wajah kekasihnya yang tampan.
Namun… belum sempat matanya terbuka sempurna, pria itu sudah menyusupkan tangan ke tengkuknya. Meraih pinggang, lantas mendekap tubuhnya erat.
Ben belum melakukan apa-apa. Hanya menautkan kening mereka, dan tak melepas pandangan. Lalu, ia berbisik dengan suara dalam. “Aku pun sangat mencintaimu, Rose!”
Cup~!
Sebuah kecupan, Ben anggap sebagai balas budi, dari bibir Rose yang tadi hinggap di bibirnya. Ia kembali menarik wajahnya dan menautkan kening mereka kembali.
Duduk di sini, berdua dengan orang yang sangat ia cintai. Ben rasa, pilihan ini sangat tepat ia ambil.
Pasalnya, urusan dan masalah perihal Zayn, jadi terlupakan sejenak. Beban pikiran yang sedari tadi menggelayut, sementara ini sirna. Diganti oleh romantisme yang tengah mereka buat.
Tanpa sengaja, karena terbawa suasana. Latarnya, yang membuat mereka jadi seperti ini.
Seolah, sangat mendukung, untuk sepasang insan, yang tengah dimabuk kasih.
“Jika, aku melamarmu lagi, sekarang, apakah kau akan menerimanya?”
Entah kenapa, pertanyaan itu tiba-tiba terbesit di pikiran Ben. Spontan lelaki itu menyebutkan, meski ia pun kaget sendiri.
Namun, sejujurnya, ia juga sangat menantikan jawaban dari pertanyaan tiba-tibanya ini.
Ben tidak berharap banyak. Maksudnya, hanya ingin bertanya saja. Jika pun jawabannya kurang memuaskan, ia akan menerima.
Sebab, keduanya sama-sama tahu, akhir dari hubungan mereka. Ada janji kebahagiaan di sana. Walau, memang membutuhkan sedikit lebih banyak waktu.
“Ehm, iya!” angguk Rose cepat, di kala kening mereka masih bertaut.
Ben langsung menjauhkan kepalanya tanpa sadar. Karena masih tak percaya, dengan apa yang barusan didengarnya.
“Kau bilang apa barusan?” tanyanya tak kalah cepat. Masih kaget, tapi juga ingin memastikan. Ingin meyakinkan, jika telinganya tidak salah dengar, tadi.
Matanya pun ia buka lebar. Seluruh jiwa raganya ini, ingin mendengar jawaban itu, dengan benar.
“I-ya!” ucap Rose perlahan, agar benar-benar terdengar dengan jelas. Ia juga ikut menganggukkan kepala, agar jawabannya makin jelas.
Tidak hanya, berupa lisan saja, tapi juga bahasa tubuhnya ikut menjawab.
“Rose-“
“Ssthss…!” Sebelum pria itu berucap apapun, Rose sudah membungkam mulut itu lagi. Dengan jari telunjuk sebagai kuncian, di depan bibir yang kemudian mengatup.
“Sebelum itu… ada yang ingin ku sampaikan kepadamu, Ben!” Ia tersenyum seraya menarik jemarinya. Saat sudah memastikan, jika, lelaki itu akan diam.
Pria dengan topi koboi itu mengedip pelan. Seolah bertanya ‘apa’ dengan gerakan mata lambat itu.
Rose pun terkekeh sebentar, saat melihat kekasihnya itu patuh. Bahkan tidak mengucap satu kata pun untuk mengutarakan rasa penasarannya.
Deg~! Deg~! Deg~!
Jantung Rose memukul dengan kencang. Mendadak merasa gugup dan gemetar. Rasa-rasanya, ia seperti sedang akan menyatakan, sebuah pengakuan cinta.
Karena memang, hal ini terkait dengan buah hasil cinta mereka. Cinta keduanya yang akan menghasilkan sebuah keluarga.
Genderang yang begitu kencang itu, mesti ia netralisir pertama. Ia hirup udara yang begitu banyak dengan hidungnya, seraya menggenggam kedua tangan kekasihnya itu.
Rose butuh ketenangan dan siap maksimal, kala menyampaikan berita baik ini.
Pacu jantungnya, sebenarnya seirama dengan detik yang berjalan mundur. Di suatu tempat, di bawah mobil yang mereka duduki.
Hanya saja, mereka tidak mengetahui. TIdak juga menyadari, karena benda itu, sudah disetting agar tidak mengeluarkan suara sama sekali.
“Ayolah, Rose! Aku sudah sangat tidak sabar ingin mendengarnya. Sebenarnya, hal apa yang ingin kau katakan?” Meskipun begitu tidak sabar dan penasaran, Ben tidak dapat melunturkan senyum bahagia di bibirnya.
Bahkan, ia sudah sangat berharap, jika apa yang akan terucap dari bibir ranum itu, adalah sesuatu yang sangat membahagiakan. Walau, ia tidak tahu apa pun itu.
“Iya, tunggu sebentar!” Kembali Rose menarik napasnya dalam. Untuk yang terakhir kali.
Dan… pada saat itu, di bawah sana, detik sudah menghitung mundur, mulai angka tiga.
“Ben! Aku ha-“
DDUUAARRR!!!
Dan sebelum kabar baik itu, terucap sempurna dari mulut Rose. Sebuah ledakan terjadi. Yang bersumber dari bawah mobil.
Ledakan yang dahsyat itu, membuat keduanya terpental akibat dorongan yang sangat kuat. Nahasnya, Ben dan Rose terpental, ke arah jurang.
Mobil sport putih yang tadinya gagah, kini hancur berkeping-keping. Dan kobaran api menyala-nyala, di atas puing-puing yang berserakan.
Mobil itu sudah tidak gagah lagi, sudah tidak menawan lagi seperti sang empunya. Sekarang, penampakannya, sangat mengenaskan. Seperti sedang dimakan monster api yang begitu besar.
Sedang, dua insan yang tadi hinggap di atasnya, saat ini, tengah mempertahankan diri, di sisi jurang yang terjal.
Refleks Ben yang cukup kuat, membuat ia dapat menangkap Rose dan mendekapnya, ketika ledakan itu terjadi.
Ia melindungi wanitanya, dari serpihan mobil yang terbang dan akan melukai kekasihnya itu.
Ben biarkan, tubuhnya menerima beberapa hantaman kap mobil yang pecah, juga goresan kaca, di beberapa punggungnya.
Serta, ada satu yang menancap dalam, pada bahu kiri pria itu.
Namun, pada saat ini, hal itu tidak penting lagi. Ia hanya menginginkan kekasihnya itu, selamat.
Meski ia sendiri, tidak tahu, seberapa besar kemungkinannya.
Bahu kiri Ben yang terluka, menghantam tepian jurang yang terjal dan tajam. Karena berupa batu karang.
Darah segar, makin mengalir deras dari sana. Rahangnya mengetat, mengencang, dengan alis yang menukik dalam, kala menahan rasa sakit yang luar biasa itu.
Semua ini, Ben lakukan, demi tak membiarkan kekasihnya itu, mendapatkan luka yang lebih banyak lagi.
Meski, saat ini, Rose pun sudah memiliki beberapa luka, akibat serpihan-serpihan yang menganinya.
Permukaan karang yang tidak rata itu, berhasil Ben gapai. Dengan tangan kanannya. Sambil terus membawa Rose di dalam pelukan. Menjaganya, melindunginya di dalam sana.
“Ben!” Diangkat Rose kepalanya di dalam dekapan itu. Wajah cantiknya menunjukkan beberapa luka, tapi tidak separah, luka yang Ben alami. Matanya pun otomatis mengkrisal dan mulai banjir di pelupuknya.
Tapi… bagaimana bisa… di saat-saat seperti ini, pria itu masih memamerkan senyum yang begitu lebar?!
Melihat hal itu, kristal bening pun mencair. Rose tak sanggup menahannya lagi.
“Berpeganglah pada tubuhku, dengan lebih erat! Aku akan memastikan, kau selamat!” Kembali senyum itu terbit.
Dan, bukannya menenangkan, tapi membuat hati Rose malah, menjadi semakin kacau.
Rose tahu, seberapa banyak dan dalam, luka-luka yang Ben alami. Topi koboi yang biasa pria itu kenakan, sudah terbang entah kemana. Terbawa, tersapu angin, juga dorongan ledakan yang begitu kuat.
“Ben, kau terluka!” Akhirnya, Rose dapat melihat sebilah pecahan kaca yang begitu besar, menancap dalam, pada bahu sebelah kiri kekasihnya itu.
“Ssshh…” ringis Ben kala Rose berusaha untuk menyentuh lukanya itu.
Rose kaget, dan langsung mengepalkan tangannya kembali. Lalu, menarik tangannya dari sana.
Akibat tak bertopi, wajah dan rupa Ben yang kacau, menjadi nampak jelas, saat ini.
“Hh… Ben!” dengusan sedih keluar sembari ia menyebutkan nama kekasihnya.
Mereka harus bagaimana sekarang? Apa yang harus mereka lakukan?
“Tolong! Siapa pun di atas sana, tolong kami!” Lantas Rose berinisiatif, berteriak meminta, memohon permohonan, sambil menengadahkan kepalanya ke atas. Sambil mendekap tubuh Ben dengan erat.
Walau, ia sendiri tidak tahu, apakah teriakkannya itu, akan terdengar atau tidak. Sementara, jarak antara posisi mereka saat ini, dengan tepian jurang, berada cukup jauh.
“Tidak akan ada siapa pun, yang datang, Rose!” Pria itu berucap dengan tenang. Dan lagi, menerbitkan senyum yang amat sangat menyakitkan.
“Apa maskudnya, Ben?”
Heh! Dengusan keluar bersama bibir Ben yang tersenyum indah. Sembari begitu, ia pun menggelengkan kepalanya.
Jadi ini, hal yang sudah dipersiapkan oleh mantan rekannya itu?! Heh! Hati Ben mencibir.
Pantas saja, sedari tadi, ia tak menemukan, satu kendaraan pun melintas, bersama atau berlawanan arah, dengan mobil yang ia kendarai.
Jadi, sematang itu, ia telah membuat rencana? Agar, di kala sekaratnya ini, tidak ada satu manusia pun, yang dapat menolong atau pun menyelamatkannya?
Heh! Ben tersenyum penuh ironi.
Bisa-bisanya, ia lengah di saat terakhir dan paling genting, seperti tadi! Bisa-bisanya!
Zayn! Aku akan membalasmu, nanti! Janji Ben di dalam hati.
“Tenang saja, Sayang! Aku pasti akan memastikan kau selamat!” Melengserkan hal itu, ia lebih memilih untuk menenangkan hati wanitanya yang resah.
Pun, ini adalah janji yang akan ia lakukan, di saat terakhir, hidupnya.
Ya! Ben merasa, ini adalah ujung dari kehidupannya. Walau begitu, ia sudah sangat berterima kasih kepada Tuhan. Karena sudah lebih dulu, dipertemukan dengan wanita baik, indah dan cantik, seperti Rose.
Yang sudah, mengisi hati yang begitu lama kosong, dengan begitu banyak cinta dan warna.
Beberapa menit, keduanya saling terdiam. Rose tetap berusaha merangkul tubuh kekasihnya. Sementara Ben, tetap berusaha mempertahankan pegangan, juga keselamatan wanita itu sendiri.
Mereka berdua, sama-sama berpikir, bagaimana caranya, agar mereka bisa selamat dari tempat ini, dari keadaan yang tidak memungkinkan ini.
Jika Rose terus berharap untuk meraih keselamatan bagi mereka berdua… oh, tidak! Tentu saja, bagi mereka bertiga, karena saat ini, sudah ada janin yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya.
Rose terus berpikir, agar mereka bertiga bisa selamat dari sana.
Sedangkan Ben, ia merasa… sudah tidak ada harapan lagi baginya. Jadi, yang terpikirkan olehnya adalah, bagaimana menyelamatkan Rose. Sedangkan, bahu kirinya, saat ini, terluka parah.
Bahkan, untuk digerakkan sedikit saja pun, terasa amat menyakitkan. Sementara, darah terus keluar dari beberapa lukanya, juga dari luka dalam itu.
Tubuh Ben mulai lemas, karena kekurangan darah. Juga, sebab hantaman bertubi-tubi yang tubuhnya terima. Pegangan yang kuat pun, sudah mulai goyah.
Darah segar makin mengalir, kala ia menggerakkan bahu kirinya yang terluka. Ia harus berusaha keras, untuk membuat Rose selamat, dari keadaan ini.
“Ben! Apa yang kau lakukan?” pekik Rose, saat merasakan, jika tubuhnya mulai diraih oleh tangan kiri pria itu.
“Berjanjilah padaku Rose, bahwa kau akan bahagia!” tutur Ben lemah sambil tersenyum. Sambil meringis pula menahan sakit, saat tangan kirinya itu sudah sempurna merangkul tubuh Rose.
Ada sebuah pijakan yang cukup untuk Rose hinggapi, menggunakan tangannya. Letaknya beberapa sentimeter di atas kepala Ben.
Dan menurut perhitungannya, pijakan itu, cukup kuat, untuk Rose bertahan, sampai beberapa waktu lebih lama.
“Tidak, Ben! Tidak bisa! Mana bisa aku bahagia tanpa dirimu?!” Rose menggeleng cepat. Menolak. Tidak terima dengan apa yang barusan pria itu ucapkan. Bahkan, sebentar lagi akan lakukan.
Pria itu pun hanya membalasnya dengan senyuman. Sambil berusaha mengerahkan tenaga untuk mengangkat kekasihnya itu sedikit lebih ke atas.
Hanya dengan begini, Rose bisa selamat. Sementara, ia sudah tidak kuat, misalnya pun harus berpindah pegangan lagi.
Atau, bagaimana mungkin, ia menjadi beban pada Rose yang sudah bisa berpegangan dengan aman. Ia pun yakin, tubuh wanita itu tidak akan bisa bertahan lama, untuk membawa beban bobot tubuhnya, yang jauh lebih berat.
Ditambah, dengan kondisi fisiknya, yang sudah amat lemah. Pasti, bobot yang akan Rose terima, menjadi semakin berat saja. Lalu, mereka bisa jatuh bersama.
Daripada begitu, lebih baik hanya satu orang yang jatuh. Yang berkorban. Kemudian, yang lainnya selamat.
“Ergghh… berpeganglah, Rose!” Benar-benar sekuat tenaga, di sisa energi yang ia punya, Ben mengangkat kekasihnya itu lebih tinggi.
Sambil menggeram, berusaha, sambil pula menahan sakit luar biasa dari bahu kirinya. Juga di beberapa tempat yang lain.
“Ben, ku mohon! Aku tidak bisa seperti ini!” rintih suara Rose, bersama air mata yang sudah menganak sungai. Kala Ben tengah berusaha mengangkatnya.
Air mata pilu bercucuran. Kesedihan akan takdir yang menimpanya saat ini. Tercurah, membanjiri seluruh sanubari.
Kenapa? Kenapa di saat cinta mereka akan terasa lengkap, malah terjadi hal seperti ini?
Mengapa pula, di saat ia sudah ingin bersatu dengan orang yang ia cintai, takdir malah ingin memisahkan mereka seperti ini?
Mengapa?
“Ben! Masih ada yang belum aku sampaikan! Ku mohon bertahanlah!” pinta Rose dengan sembilu yang begitu menyayat hati.
Ia kembali memohon, dengan kurva alis, serta keseluruhan lengkung wajah, yang jatuh ke bawah. Sambil benar-benar menangis, seluruh jiwa raganya.
Saat ini, ia sudah berhasil berpegangan. Dengan erat, dan sebisa mungkin, ditahan Rose tangan kanan Ben yang lalu, terlepas dari pegangannya.
“Eermhh… “geram Rose saat berusaha menahan tubuh besar itu di bawahnya. Hanya menggunakan satu tangan.
“Lepaskan, Rose! Aku tidak apa-apa!”
Sungguh ironi yang menyakitkan!
Di saat seperti ini, Ben malah tersenyum lembut padanya. Menenangkan dan seolah tengah meyakinkan dirinya.
Air mata Rose, jatuh pada pipi Ben yang terluka. Pria itu mengedip, merasakan tulus cinta yang mereka punya. Melalui cairan bening itu. Senyum di bibir kian melebar, sempurna.
“Aku tidak bisa, Ben! Kami tidak bisa!” Maksud adalah, ia dan calon anak mereka. Mereka tidak bisa ditinggalkan Ben, dengan cara seperti ini.
Ben yang tidak mengetahui maksud dari ucapan Rose pun… malah sengaja… melepaskan pegangan tangan Rose padanya. Dengan menggerak-gerakkan pergelangan tangannya sendiri, agar bisa lolos dari cengkeraman Rose yang begitu kuat.
Ia melakukan hal itu karena, melihat, jika, pegangan Rose mulai tidak stabil. Pria itu tidak mau, apabila usaha kerasnya tadi, jadi sia-sia.
Niatnya adalah untuk membuat, wanita yang dicintainya itu selamat.
“Bertahanlah, Ben! Kumohon!” rintih Rose lagi sambil berusaha menahan tangan yang sedang berusaha keras itu.
Tangis pilunya pun semakin menjadi.
“Selamat tinggal, Rose! Jaga dirimu! Lalu, berbahagialah!” ucap Ben seraya tersenyum.
Lantas, Rose pun kehilangan pegangannya pada tangan Ben. Pria itu meloloskan diri, setuju dengan takdir yang ada.
Ben pasrah melepaskan diri, dari jerat Rose, yang masih, sangat menginginkan dia untuk tetap hidup.
“Ben! Aku belum memberitahumu! Ben! Kita akan segera mempunyai seorang anak! Ben! Kau akan menjadi ayah sebentar lagi! Ben… hiks… hiks… hiks….”
Pada akhirnya, Rose hanya mampu meneriaki hal itu, tanpa tahu pria yang tengah terjun bebas itu, mendengarnya atau pun tidak.
Dan ironinya, kala terbang bersama angin, Ben masih sempat untuk memberikan senyum yang paling indah, yang dia punya. Sampai akhir.
Hingga…
BYUUURRRRR
Tubuh itu terjun, menghantam dan masuk ke dalam air laut, yang jaraknya puluhan meter, dari tempat Rose berpegangan saat ini.
“BEENNNN!!!!”
Bersambung…
mampir di karya aku yang baru ya menteman,, judulnya ENEMY SCANDAL
hanya ada di FIZZO, di sana baca gratis juga kok, tanpa harus membayar atau pun pakai koin
gratis,,, tis... tis... deh pokoknya
jangan lupa dimasukkan ke rak ya, manteman
terima kasih
keep strong and healthy semuanya