
Victor sedang memarkirkan mobilnya, di area parkir rumah sakit. Di mana Rose tengah dirawat saat ini. Begitu mendengar kabar tidak mengenakan ini, ia segera bergegas untuk berangkat ke sini.
Tentu saja, Bella dan Bervan tidak mau ketinggalan. Sebenarnya, Paman Alex pun ingin ikut, namun, Victor meminta, agar Paman Alex menjaga rumah saja. Dan mempersiapkan segala sesuatunya, karena Victor memutuskan, setelah ini, ia akan membawa pulang adiknya itu ke rumah.
Kakak mana pun akan terpukul mendengar kabar seperti ini. Adik perempuan satu-satunya, dalam kondisi mengandung, harus mengalami cobaan semacam ini.
Victor jadi benar-benar mengingat apa yang telah ia lakukan pada Bella. Meskipun hal itu, terjadi tanpa disengaja.
Laki-laki itu, jadi benar-benar berpikir, jika, ini adalah sebuah karma yang ditujukan padanya. Namun, mesti adik perempuannya sendiri, yang menerima karma tersebut.
Victor dilanda rasa bersalah luar biasa. Sebab, ia merasa, secara tidak langsung, hal ini pun berkaitan dengannya. Ia benar-benar menyalahkan dirinya sendiri saat ini.
Bella sangat mengerti perasaan Victor. Maka dari itu, ia merasa harus ikut.
Demi melihat bagaimana kondisi adik iparnya saat ini. Juga, demi mendampingi suaminya yang tengah gundah gulana, diserang rasa bersalah.
Sedang Bervan, mendengar bibi kesayangannya mengalami sebuah kecelakaan, segera anak kecil itu menjadi keras kepala, untuk mau ikut beserta kedua orang tuanya.
Apalagi, setelah mengetahui apabila, bibi kesayangannya itu, sedang mengandung seorang adik bayi. Bervan makin ingin, memastikan apakah, calon adik bayinya, dalam keadaan baik-baik saja.
Pada halaman parkir rumah sakit itu,
Satu keluarga keluar dari mobil. Mereka bertiga kompak, membuka mobil bersama. Saking semangat dan ingin tahu keadaan bibinya, Bervan sampai melompat dari kursi penumpang di belakang. Anak kecil itu, terlalu tidak sabar, rupanya!
“Hati-hati, Nak!” Victor mencoba menangkap putranya. Meski begitu, kekhawatiran tidak pudar pada raut wajah, ayah satu anak itu.
Lantas, ketiga kembali bergegas menuju ruang rawat, yang sudah dikabarkan oleh Relly.
“Sudahlah! Jangan terus menerus menyalahkan dirimu!” ucap Bella seraya mengusap punggung lebar Victor. “Ini bukan salahmu sama sekali, Victor!”
Di sepanjang perjalanan, dari area parkir sampai menuju ruang yang dituju, wanita itu tak berhenti menenangkan suaminya. Dapat dilihat pula, kristal bening sudah menumpuk, pada pelupuk mata pria itu.
Sungguh pun, ia dapat melihat betapa sedih dan terpukul Victor, karena hal yang menimpa kepada adik iparnya ini.
“Tapi… semua keadaan ini, seperti terhubung padaku, dan apa yang sudah terjadi padamu, Bella. Sekarang… adikku, yang mengalaminya. Heh! Bagaimana aku tidak menyalahkan diriku sendiri?!” tutur Victor lesu. Ia pun berulang kali, menggeleng lemah.
“Aku merasa, Tuhan sedang menghukumku melalui Rose, saat ini. Entah, aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi Rose, nanti!” ucapnya kembali, dengan nada frustasi.
Pak~!
Bahu sang suami ia tepuk pelan, untuk memberikan peringatan pada suaminya yang mulai hilang arah. Bella menggeleng lemah, kala Victor telah menatap ke arahnya. Walau, tukik alis itu nampak gemetar oleh kesedihan yang mendalam.
“Ini bukan salahmu! Ini takdir! Tuhan yang telah menuliskan suratan takdir ini.” Bella memberikan senyum, yang meneduhkan, hati Victor yang tengah gamang. “Seperti apa yang terjadi pada kita waktu itu. Apa yang terjadi saat itu pun adalah takdir. Kita dipisahkan.”
“Tapi… karena kita memang sudah ditakdirkan, pada akhirnya, kita tetap bersama, kan? Bahkan, ada Bervan, di antara kita berdua.”
“Sudah! Jangan menyalahkan dirimu lagi! Ini bukan salahmu, sama sekali! Tuhan hanya sedang menguji umat-Nya. Dia sedang menguji cinta Rose dan Ben, saat ini.” Bella mengakhiri dengan usapan lembut pada kedua bahu suaminya itu.
“Papa!” Tangan kecil yang sedari tadi berpegangan padanya pun menggoyangkan genggaman tangan mereka. Bahkan, Bervan menghentikan langkahnya. Lalu, diikuti oleh kedua orang tuanya. Di mana sang ayah, tengah resah.
Victor saling berpandangan sebentar dengan istrinya. Bella pun menanggapi dengan sebuah senyum, dan juga anggukan kecil. Kemudian, pria itu pun melutut, mengikuti apa yang diminta oleh putranya itu.
“Ada apa?” tanya Victor dengan lembut. Pun, tetap saja, tak dapat menutupi segala yang berkecamuk, di dalam diri pria itu.
“Tuhan pasti tahu, Papa adalah orang baik. Tuhan juga pasti tahu, jika, Bibi Rose adalah orang baik.” Anak kecil itu mengambil satu tangan ayahnya, lalu menggenggamnya erat. Kemudian, ia menempatkan telapak tangan yang ia genggam, ke dada Victor sendiri.
“Jadi, Tuhan tidak mungkin jahat pada Papa. Tuhan pasti sangat menyayangi Papa. Benar kata Mama, setelah kita berpisah, akhirnya Bervan dapat bertemu dengan Papa. Bukannya itu berarti, adalah kuasa Tuhan?!”
“Begitu juga dengan Bibi Rose. Tuhan pasti, juga sangat menyayangi Bibi. Meskipun sekarang Bibi sedang bersedih, tapi, suatu saat nanti, Tuhan pasti akan memberikan kebahagiaan untuk Bibi.”
“Jadi, sekarang, Bervan mohon pada Papa jangan menyalahkan diri Papa terus. Dan jangan bersedih lagi, oke! Bervan yakin, Tuhan pasti sudah menyiapkan kebahagiaan untuk Bibi Rose, suatu saat nanti.” Bervan menutup ucapannya seraya menurunkan tangannya, juga tangan Victor, dari dada sang ayah.
“Dan…,” Bella pun ikut melutut, bersama dengan mereka. Setetes air mata, langsung ia seka dengan cepat. Wanita itu, begitu haru mendengar seluruh ucapan putranya. Begitu dewasa, begitu bijak di tengah galau dan gundah, yang kedua orang tuanya tengah rasakan.
Sambil memeluk dua pria yang paling ia cintai, Bella melanjutkan. “Jangan menampilkan wajah sedih atau apa pun itu, di depan Rose, nanti. Tugas kita di sini adalah, untuk menghibur dan menguatkannya. Sambil terus berdoa, agar Ben segera ditemukan.”
“Setuju?” Bella melempar pertanyaannya dengan tersenyum.
“Setuju!!” seru Bervan dengan suara kencang. Anak kecil itu bahkan mengangkat kepalan tangan, penuh semangatnya ke atas.
Victor pun memberikan anggukan, seraya membalas senyum Bella.
Ketiganya, saling melempar senyum. Sambil sesekali, dua orang tua itu, menyeka air mata haru, yang belum berhenti keluar.
“Kalau begitu, ayo, kita lekas menemui Bibi Rose-nya Bervan!” ajak Bella, kemudian berdiri, bersisian lagi, dengan suami dan anaknya.
“Benar! Bibi Rose hanya milik Bervan. Dan Bervan, tidak punya bibi lain, selain Bibi Rose!” Anak kecil itu menegaskan. Hingga menimbulkan tawa renyah dari mulut kedua orang tua anak itu.
“Lalu, bagaimana dengan nasib Bibi Mirabel? Bukannya, dia, bibimu juga?” tanya Victor mencoba menggoda. Mereka bertiga, sudah mulai melangkah lagi, menuju kamar rawat yang Rose tempati.
“Tidak!” sangkal anak itu, secepat kilat. “Tidak, tidak, tidak!” Lantas Bervan menggeleng sambil menggoyang jari telunjuknya, di depan wajah.
“Dia bukan bibiku! Bibiku hanya Bibi Rose, seorang!” aku Bervan dengan suara tegas.
Dua orang tua itu pun semakin tertawa geli, mendengar hal ini.
Memang, mereka juga tidak menganggap sosok Mirabel, sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri. Dia dan ibunya itu, hanya benalu yang mesti disingkirkan, suatu saat nanti.
Ketiganya lalu, berjalan sambil bercengkerama dengan ceria. Tidak ada lagi resah yang begitu banyak, di rasa oleh dua orang dewasa itu. Terutama Victor, yang dirinya begitu meresah karena merasa bersalah.
Beban di bahunya sudah terangkat, sedikit.
Karena… ia belum benar-benar melihat bagaimana keadaan Rose saat ini.
Bersambung…