Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Amarah Ben



“Bagaimana dengan pencariannya?”


Pertanyaan itu pun menghentikan langkah Relly. Pria itu berbalik sebentar ke arah Ben, lalu menghadap ke depan lagi untuk berbicara dengan dokter itu.


“Sepertinya saya tidak bisa mengantar Dokter. Masih ada hal yang perlu saya bahas dengan Tuan Ben,” kata Relly dengan perasaan menyesal.


Bukan menyesal karena tidak bisa mengantar dokter itu seperti apa yang dikatakannya. Tapi menyesal karena tidak bisa melarikan diri dari sana. Seperti dia memiliki takdir yang kuat bersama sepasang kekasih itu.


Ya! Takdir untuk selalu tersiksa karena ulah kasih sayang mereka berdua!


“Tidak apa-apa, Tuan! Anda bisa melanjutkan pekerjaan Anda.” Ucapnya pada Relly. Kemudian ia beralih pada Ben dan Rose yang kini duduk bersebelahan. “Kalau begitu, saya  permisi dulu!”


Pasangan kekasih itu membalas anggukan si dokter tanpa bersuara.


Ceklek!


Setelah pintu ditutup olehnya, Relly pun berjalan ke arah sofa lagi. Mempertahankan wajah malasnya, ia mendudukkan diri di hadapan kedua orang itu.


“Apakah penyusup itu sudah tertangkap?” tanya Ben langsung tepat setelah Relly meletakkan bokongnya.


Hey! Dia bahkan belum duduk dengan benar, dan bosnya itu sudah bertanya! Benar-benar!


Inginnya menggeleng dia tepat di hadapan bosnya itu langsung. Tapi apa itu bisa?! Mana mungkin! Yang ada dirinya habis ditelan bulat-bulat seperti kue donat.


“Sayang sekali! Dia begitu licin seperti belut! Seperti dia sangat mengenal tempat ini, makanya dia bisa lolos dari pengejaran kami.” Tapi kali ini Relly tahu bahwa dia harus menjawab pertanyaan bosnya itu dengan serius.


Masalah yang mereka hadapi tidak main-main. Datangnya juga bertubi-tubi dan seperti tidak kenal waktu. Maka dari itu mereka akan sangat serius menangani hal ini. Harus mereka temukan dalangnya sampai tuntas.


“Heh!” Ben tersenyum sinis. Tidak sampai di situ, dia bahkan langsung mencemooh Relly dan anak buah yang lainnya karena terlalu kesal dengan usaha mereka yang gagal. “ Dia yang terlalu pintar atau memang kalian semua yang bodoh? Hah!”


Meninggi sedikit demi sedikit dari kata ke kata. Menggelegar di akhir kalimatnya dan membuat Relly juga Rose yang ada di sampingnya tersentak, kagetnya bukan main.


Rose, wanita itu sudah tidak heran lagi mendengar kekasihnya bersuara keras dan berkata kasar seperti ini. Karena bahkan dirinya sendiri pun sudah pernah merasakannya ketika pria itu benar-benar marah.


Relly yang duduk di depan mereka pun sempat melonjak kaget di tempat duduknya. Bentakkan Ben seperti sebuah bom atom baginya. Dapat membinasakan siapa saja tanpa pandang bulu.


Tangan Relly lalu saling menggenggam di tengah ketakutannya itu. Saling menguatkan, agar ia tidak berniat melarikan diri dari sana sekarang juga. Relly tahu, jika bosnya itu sedang benar-benar marah saat ini. Dan sebenarnya, ini adalah momen yang harus dihindari semua orang. Agar tidak terkena imbasnya.


Rose tertawa dalam hati. Memang pantas dengan julukan yang dia berikan. Tuan seram memang benar-benar menyeramkan ketika sedang meluapkan emosinya. Tipis-tipis dia tersenyum dan hal itu tertangkap oleh mata Relly.


‘Ya, tertawa saja sepuas hatimu, Nona!’ jeritnya sendiri. Sepertinya senang sekali nonanya itu melihatnya menderita.


Drrt.. Brak..


Ditendang meja di depannya sampai membentur sofa yang saat ini Relly duduki. Ben hanya menggunakan satu kakinya, dan meja kaca itu sudah sampai retak dibuatnya.


Beruntung Relly memiliki refleks yang bagus. Jadi dia langsung mengangkat kakinya ke sofa, dan terhindar dari himpitan meja yang disengaja.


“Ben!”


Rose juga kaget. Tapi ia perlu menenangkan emosi kekasihnya dulu dengan mengelus lengannya. Tidak ingin tuan seramnya itu sampai mengamuk di sana. Mungkin semua orang sudah biasa, tapi tidak dengan dia. Rose belum pernah melihat Ben menggila karena murka. Dan saat ini dia sedang tidak siap untuk melihat hal itu.


“Kalian yang begitu banyak, tidak bisa menangkap satu orang saja, apa itu namanya tidak keterlaluan?!” tanya Ben dengan nada ironi dan kecewa besar.


Ini adalah teritori mereka sendiri, markas mereka, jadi bagaimana bisa orang itu lolos begitu saja. Sedangkan Ben ingat jika tangan kirinya terluka karena tembakan Rose. Apakah sebegitu tidak becusnya anak buah yang dia miliki?! Atau orang itu benar-benar sangat ahli dalam melarikan diri.


Relly menunduk dalam, di saat hanya ini yang bisa dialakukan. Mengatakan apa pun pasti akan dikatakan mencari-cari alasan saja oleh Ben. Pada akhirnya sama saja. Bosnya itu akan tetap menyemburkan lava murkanya kepada mereka semua.


“Kami sudah mengerahkan lebih banyak orang lagi untuk mencarinya. Wilayah kita yang tertutupi hutan, pasti tidak akan mudah baginya untuk pergi jauh dari sini.” tambah Relly supaya bosnya itu mereda amarahnya.


Paling tidak, sudah ada action lanjut yang mereka kerjakan. Tidak hanya sampai di sini dan mereka menyerah dengan mengatakan bahwa mereka tidak bisa mendapatkannya.


“Sabar, Ben!” Rose mengelus punggungnya dengan penuh perhatian.


Pria bertopi koboi itu pun menarik napasnya panjang, lalu membuangnya dengan cepat.


“Paling lambat besok, kau sudah harus menemukannya!” titahnya setelah mencoba menahan diri.


Maklum saja, dan Relly juga tahu jika bosnya ini memiliki sedikit kesabaran. Sampai di sini saja, sudah terlalu beruntung baginya. Tuan Ben sudah menahan diri untuk tidak memukulnya secara langsung. Hanya meja kaca itu saja yang jadi korbannya, bukan dia.


“Baik, Tuan!” Relly mengangguk lemah.


“Lalu untuk apa kau masih ada di sini?! Kau ingin menontonku berciuman dengannya?!” sindir Ben masih dengan nada kesalnya.


Rose langsung membola matanya. Hey! Bukankah ucapan pria itu terlalu frontal. Dia saja sampai malu dan tak berani menatap Relly sama sekali. Rose memilih untuk memalingkan wajahnya ke samping, agar tak terlalu kentara rona merah di wajahnya.


Iya, dia juga ingin! Tapi tidak perlu sampai diumumkan segala, kan?! Rose benar-benar tak habis pikir.


“T- tidak, Tuan! Kalau begitu saya permisi dulu!” Langsung menghilang pria itu seperti kelebatan bayangan. Relly melaju bak jet tempur.


“Panggil Anggie dan Zayn ke sini!” perintah Ben lagi, yakin jika Relly belum benar-benar keluar dari ruangan ini.


Duk!


Dia yang mengerem mendadak pun, jadi tersungkur ke depan dan mengenai pintu dahinya itu.


“Aduh!!” pekiknya sambil mengusap dahinya yang sekarang memerah.


“Kau dengar? Panggil Anggie dan Zayn ke sini!” Ben memastikan lagi. Agar tetap ingat Relly akan perintahnya, walau kepala asistennya itu baru saja terbentur pintu.


“Baik, Tuan!” Relly pun mau tak mau menjawabnya karena ditanya berulang kali. Sambil mengusap dahinya yang sakit.


“Hah! Benar-benar membuat pusing kepala!” Ben memijit pangkal alisnya tepat setelah Relly keluar dari sana.


“Tenanglah, Ben! Mereka pasti bisa menangkapnya!” Rose masih menjalankan tugasnya dengan mengelus lengan pria itu. Masih berusaha menenangkan raja iblis yang hampir mengamuk.


“Mereka benar-benar menginjak harga diriku, Rose!” desah Ben frustasi dan sangat marah.


Bersambung…


Jangan lupa untuk terus kasih dukungan kalian ya,, kasih like, vote sama komentar sebanyak-banyaknya


Keep strong and healthy semuanya


Follow ig ku yukk di @adeekasurayani


Nanti pasti langsung ku folback,, ma’aciw