
“Kau melihatnya juga, kan?” Makin mempererat pelukannya dengan tangan gemetar di belakang.
“Ben!” Rose bingung ingin menjawab apa. Tak mampu rasanya dia untuk mengiyakan kekasihnya itu.
“Aku tahu, kau melihatnya tadi!” Ben tengadahkan kepalanya, menatap wajah kekasihnya dengan perasaan mendalam yang kini tengah dimilikinya saat ini.
Kembali diusap lembut kepala Ben sambil memberikan senyumnya yang meneduhkan. “Tapi aku tidak mengerti maksudmu, Sayang!”
Rose pikir, jika dia membenarkan apa yang Ben ucapkan, maka dia hanya akan membiarkan luka pria itu semakin dalam. Maka dari itu, ia mencoba untuk berpura-pura tidak tahu.
“Rose! Aku tahu kau berhenti di depan kamar mandi. Aku tahu kau memperhatikan kami. Tolong jangan menampik lagi dan berpura-pura tidak tahu, Rose.”
“Aku hanya ingin tahu, bahwa bukan hanya aku yang melihatnya. Karena jika benar begitu, maka penglihatanku memang tidak bermasalah.”
“Tapi, Ben-“ Rose ingin mengatakan jika ia juga melihatnya. Tapi melihat netra hitam legam itu sangat terluka, rasanya, apa yang ingin dia katakan menjadi tertahan di tenggorokan.
“Tolong katakan saja, Rose! Kumohon!” Matanya yang penuh luka meminta, memohon dengan perasaannya yang paling dalam.
Rose pejamkan matanya dengan erat sebentar. Ia juga perlu menguatkan, dan menyiapkan dirinya untuk menjawab dan menghadapi kenyataan ini bersama dengan Ben.
Tugasnya juga berat. Dia adalah salah satu saksi, dimana bukti yang tadi dilihatnya bersama dengan Ben. Dan sejujurnya ia ingin menampik jika kenyataan itu memanglah benar adanya.
Namun Rose mengingat sesuatu. Bukankah tadi Zayn mengatakan jika dia berada di kamar dan tidak pergi kemana pun?! Jika ini benar, berarti bukan dia pelakunya. Berarti pikiran mereka berdua salah, kan?!
“Tapi dia mempunyai alasan, Ben! Dan dia memiliki saksi!” Maksud Rose adalah Anggie. Wanita seksi itu menjadi saksi jika Zayn selalu berada di sisinya. “Dia tidak pergi kemana-mana, Ben!”
“Kepercayaanku sudah musnah padanya!” Ben menyampingkan wajahnya, menyandarkannya lagi ke dada Rose yang menghangatkan hati.
“Maksudnya? Bukankah dia adalah salah satu anak buah kepercayaanmu, Ben?!” tanya Rose agak bingung. Dipandang lurus dinding di seberang matanya.
‘Apa maksudnya itu? Mengapa Ben bisa sampai berkata seperti itu?’
“Katakan dulu, apakah kau melihatnya atau tidak?!” Ben mengendurkan pelukannya, ia mendongak, menatap Rose lagi. Kali ini pandangannya tegas, lelaki itu menginginkan jawaban jelas dari Rose.
Ditarik napas panjang oleh Rose, lalu menghelanya dengan tidak berdaya. Dia benar-benar tidak bisa menghindar dari jawaban yang Ben inginkan. Dalam keadaan apa pun tuan seramnya selalu memaksa.
“Melihat apa, Ben?” Rose masih mengulur waktu sambil berusaha menyiapkan diri.
Ben mulai tak sabar. Tahu sendiri jika tuan seram itu hanya memiliki sedikit kesabaran. Tak melepaskan tubuh Rose, namun dia hanya menjauhkannya saja supaya mereka bisa saling menatap dengan benar. Supaya pria itu bisa menatap netra abu Rose dan meminta kejujuran dari sana.
“Erangan kesakitan yang samar, kerutan di wajahnya yang menahan sakit, juga darah segar yang menetes di tangannya. Kau mengetahui itu semua, kan? Tolong Rose, katakan padaku yang sebenar-benarnya!”
Melihat gurat kecewa dan luka di wajah kekasihnya itu membuat hati Rose tersayat-sayat. Ia seperti merasakan kesedihan yang tengah dirasakan oleh tuan seramnya itu. Pasti Ben sedang menahannya, kan? Pasti dia berusaha keras!
“Tapi mungkin saja itu bukan luka tembak, tapi luka lain. Mungkin saja dia mendapatkannya kemarin, tidak hari ini. Semuanya masih ada kemungkinan, Ben.”
Rose sendiri berperang di dalam batinnya. Antara dia ingin mengakui bahwa apa yang dikatakak Ben adalah benar bahwa dia mengetahui semuanya. Dan antara dia masih ingin menampik semua hal itu. Terlebih lagi hal itu membuat kekasihnya menderita seperti ini.
“Bukannya sudah ku bilang?! Aku sudah tidak mempercayainya lagi, Rose?”
Kepalanya masih oleng karena terkejut oleh sebab tindakan Ben. Dia tidak bisa menyadari kemana pria itu membawanya pergi.
“Ekh….” Kaget lagi dia karena sekarang didudukkan secara tiba-tiba.
“Diam dan perhatikan!” perintah Ben sambil memutar kursi kebangsaannya itu menghadap ke arah laptop yang berada di atas meja kerja. Ben pun menyalakan laptop itu.
Srrekk! Ditarik Ben laci di sebelah kiri Rose. Laci paling atas. Dan Rose hanya bisa mengikuti gerak tangan Ben dengan menggulirkan bola matanya saja.
‘USB itu!’ mata Rose melebar. Itu adalah USB merah yang waktu itu diberikan oleh Relly kepada Ben. Dan sampai saat ini ia belum sempat untuk menanyakannya.
Diterapkan benda mungil itu pada sisi laptop di hadapan Rose. Lalu sebuah ikon di klik oleh pria itu.
“Apa ini, Ben?” tanya Rose seraya menoleh ke samping. Pada wajah Ben yang amat dekat dengan wajahnya dan saat ini sedang serius.
Cup!
“Ben! Bisa-bisanya kau di saat seperti ini!” Dipukul dada pria itu pelan dan wajahnya mulai memerah. Pria itu mencuri ciuman di bibirnya dengan sangat cepat.
“Justru dalam keadaan seperti ini aku sangat membutuhkan vitamin, Rose! Energi yang ku miliki harus diisi ulang terus,” katanya tanpa rasa bersalah. Kemudian ia menyunggingkan sudut bibirnya sebentar di wajah seriusnya itu.
“Huh! Kau memang pintar mengada-ada!” protesnya kecil. Dan pria itu malah terkekehkecil sambil memposisikan diri membungkuk tepat di belakangnya. Ben seperti sedang memeluk Rose dengan posisinya itu.
Mau dalam keadaan biasa, senang, sedih, bahkan dalam keadaan serius seperti ini pun tuan seramnya itu selau sesuka hatinya. Baiklah, terserah padanya sajalah! Lagi pula menolak pun kasihan dia pada kekasihnya yang sedang bersedih itu.
“Lalu ini apa?” Ditunjuk Rose layar laptop yang sudah menampilkan sebuah video.
Di dalam video itu terdapat sebuah potongan rekaman kamera CCTV di areal depan gerbang utama markas. Itu adalah sebuah video dimana terdapat seorang pria paruh baya mengamuk di depan gerbang utama. Video yang sama, yang ditunjukkan Zayn pada Relly dan juga Anggie.
Rose perhatikan gambar bergerak itu dengan saksama. Namun dia tak juga menemukan keanehan dari video tersebut. Rose pun menjadi bingung, “Lalu apa masalahnya?”
“Perhatikan hari dan jamnya!” perintah Ben sambil mengarahkan telunjuknya pada sudut layar.
Bola mata Rose bergulir mengikuti kemana jari itu bergerak dan berakhir. Rose membacanya dalam hati. Kemudian dia hendak bertanya untuk memastikannya lagi. Ingin ia tanya apa maksudnya ini?!
“Ingat saja baik-baik! Aku akan menunjukkan padamu yang satunya lagi!” Ben menghentikan video tersebut. Lalu mengklik ikon lainnya di dalam folder yang sudah dia pilih.
Itu adalah video yang sama dengan yang barusan dilihatnya. Sama persis dan tidak ada yang beda. Rose mengerutkan alisnya sebagai tanda bahwa ia sedang kebingungan saat ini.
“Ini, kan?”
Bersambung…
Maaf ya dua hari kemarin aku ga update,, tugas kakak pertama sebagai juru masak di rumah lumayan menguras tenaga soalnya,, hehe
Ayo, ayo,, kasih dukungan kalian dengan memberikan like, vote sama komentar kalian ya,, karena mulai hari ini aku bakal rutin update lagi
Keep strong and healthy ya semuanya