
“Oke!” sahut Baz. Dia menatap aneh pada punggung Ben yang bergerak menjauh.
Ada yang tidak beres!
Apalagi kemudian, bola matanya menangkap sosok Mirabel mengikuti langkah Ben, tak jauh di belakangnya.
Heh! Ini pasti ulah wanita itu!
Meskipun, jika terjadi sesuatu pada mereka, maka akan berdampak pada hubungan pria itu dan Rose. Lalu ia memiliki celah di sana. Namun, Baz pikir, itu bukanlah hal yang benar.
Benar, jika sampai saat ini Baz masih memiliki perasaan terhadap Rose. Tapi dia akan merasa lebih bahagia apabila wanita yang ia sukai juga bahagia. Dan… ia akan merasa terluka apabila Rose pun terluka dan sedih.
“Aku ke sana dulu!” pamitnya pada Victor seraya menepuk lengan adik iparnya itu.
“Ya!” jawab Victor, namun Baz sudah berlalu pergi.
Hal itu membuat ia mengernyitkan alis. Tadi Victor sudah merasakan sedikit keanehan saat Ben pergi. Sekarang Baz menambah perasaan heran dan penasaran di dalam dirinya.
Sebab kakak iparnya itu pamit dengan wajah yang sangat serius. Terlebih lagi, tanpa melihat ke arahnya sama sekali. Nampak pula gurat kekhawatiran di wajah itu. Yang juga segera menular kepadanya.
Ada apa? Victor menoleh pada bayang Baz yang bergerak dengan tergesa-gesa.
Mungkinkah ada yang tidak beres?
Sambil berpikir, sambil pria itu meneruskan obrolannya dengan yang lain. Untuk sementara ini dia akan menunggu. Jika, dalam beberapa menit ini mereka berdua tidak kembali, maka Victor akan menyusulnya.
Sedang Rose dan Bella, tidak mengetahui hal ini sama sekali. Keduanya sibuk mengasuh dan menemani Bervan yang sedang menjelajah di sekitar kolam renang. Area pesta yang juga cukup ramai. Jadi mereka memiliki tugas untuk menjaga anak kecil itu dengan baik.
Ben keluar dari aula. Pria itu keluar melalui pintu samping. Sesuai dengan petunjuk dari salah satu pelayan ia tanyai. Kemudian berjalan di sebuah lorong yang menghubungkan aula itu dengan toilet terdekat, yang diperuntukkan kepada para tamu undangan.
Dengan semua kegelisahan yang ia rasa dan mulai menggila ini, Ben tidak menyadari jika ada yang setia membuntutinya sejak ia berada di dalam aula, hingga kini.
Tidak hanya ada satu, namun ada beberapa!
Yang terang-terangan adalah Mirabel tentunya. Dia mengekori pria itu beberapa meter di belakang. Sambil menggigiti bibir bawahnya, dengan tatapa sensual juga tidak sabar.
Lalu yang berkamuflase dengan berbagai profesi adalah anak buah Della. Ada yang menyamar menjadi petugas kebersihan, menjadi pelayan, pun ada yang menyamar menjadi tamu undangan.
Orang-orang itu berkamuflase dengan apik dan profesional. Mereka bahkan tak berpandangan meski lewat berpapasan. Hanya sebuah chip kecil menempel di dekat telinga, guna mendengarkan perintah dari atasan mereka. Baik dari Emilio, ataupun dari Nona Della secara langsung.
“Hh…!” Dihirup Ben oksigen melalui hidungnya dengan begitu banyak, kemudian ia keluarkan melalui mulut sambil menengadahkan kepala. Setiap kali langkahnya mulai terasa payah.
Pria itu berhenti sebentar di ambang pintu toilet. Kemudian ia mundur satu langkah lagi. Ben menengadahkan kepala lagi kala merasakan tubuhnya mulai bergejolak.
Dirasakan Ben panas yang begitu membara. Peluh-peluh gairah mulai bercucuran sebagai hasil dari bakaran yang tidak tersalurkan. Dan yang jelas, rasa ini sungguh-sungguh menyiksa.
Ia merasa seperti sedang dibakar api neraka yang panasnya tak terkira. Dan baru kali ini Ben merasakannya. Seluruh ototnya terasa tegang, terutama otot di bagian bawah tubuhnya. Terasa sekali tegang dan mengencang.
Sambil menahan panas di tubuh itu, giginya bergemerutuk di rahang yang mengetat.
“Benar-benar sial!” makinya sendiri saat menyadari apa yang telah terjadi. Cengkeramannya pada bingkai pintu toilet makin kuat dengan emosi yang ia punya saat ini.
“Ini pasti ulahnya!” geram Ben. Kilasan kejadian saat Mirabel menghampiri dirinya juga Rose terbersit di kepalanya.
Ben yakin jika, apa yang terjadi pada dirinya saat ini adalah ulah wanita itu. Sebab dia sudah sangat berwaspada, namun sedikit lengah hanya ketika Mirabel datang.
Benar-benar wanita licik! Pasti Mirabel sudah mencampur sesuatu ke dalam minumannya.
Oh, tidak! Dia menukar minuman mereka! Susah payah, Ben akhirnya mengingat wanita itu sempat menurunkan minuman yang ia bawa ke buffet di sisi mereka. Pasti pada saat itu dia menukarnya!
“Aarghh…!” erang Ben sebagai wujud pelampiasan kekesalannya saat ini. Juga atas ketidaberdayaannya pula.
Mengapa? Mengapa harus terjadi di saat seperti ini?
Obat perangsang yang masuk ke dalam tubuhnya pasti dalam dosis yang tidak sedikit. Ben pernah merasakan efek kimia macam ini, namun tidak juga semenyiksa ini.
Jika dulu ia bisa melampiaskannya pada siapa pun. Maka kali ini ia tidak mau, ia tidak bisa. Ben tidak ingin mengkhianati Rose. Meski ia bisa melakukannya tanpa diketahui oleh kekasihnya itu.
Ben pejamkan matanya saat berusaha, sekuat tenaga menahan gejolak dan panas ini. Bola mata pria itu bergulir ke sana kemari di dalam kelopak yang mulai turun. Sesuatu mulai menyiksa dengan sangat hebat di dalam tubuhnya saat ini.
Sungguh! Saat ini hanya nama itu yang melintas di dalam benaknya. Ia ingin melakukannya dengan wanita itu. Tapi Ben tahu jika hal itu tidak mungkin. Rose pasti tidak akan menyetujuinya.
Kesadaran pria itu mulai menurun, dibarengi dengan melemahnya kondisi tubuh. Pandangannya mulai kabur dan hanya bayang-bayang Rose yag berputar di matanya.
“Rose! Itukah kau?” racau Ben kala merasakan tubuh sejuk seorang wanita mendekapnya.
Sayangnya, itu bukan wanita yang ia harapkan. Tapi adalah wanita yang ia duga menjadi biang masalah yang ia derita.
Mirabel!
Wanita itu adalah Mirabel. Ia tersenyum sinis saat berhasil menggapai tubuh tegap dan gagah itu. Juga puas karena telah berhasil mendapatkan apa yang ia mau. Dipeluknya Ben dari samping, sambil membantu pria itu menopang tubuh.
“Rose! Benarkah ini dirimu?” tanya Ben lagi ingin memastikan. Sebab ia tak dapat melihat dengan jelas.
Sementara tubuhnya mulai mendamba pada lekukan tubuh yang menempel padanya. Seperti meminta untuk lekas diobati. Namun Ben ingin memastikan lebih dulu. Jika benar, wanita yang bersamanya saat ini adalah wanita yang ia inginkan. Kekasihnya!
“Benar, Sayang! Aku Rose! Ada apa denganmu?” jawab Mirabel dengan suara yang dibuat-buat. Sengaja memperhalus suaranya agar Ben tak menyadari, jika yang sedang bersama pria itu saat ini, adalah dirinya.
Tangan nakalnya menyusuri dada Ben yang basah. Kemudian Mirabel menempelkan telapak tangannya di sana. Mencoba merasakan bagaimana kokoh dan bidang, keras juga liat dada pria itu.
Ben pun segera menangkap tangan itu seraya memejamkan matanya dengan erat. Sentuhan tangan wanita itu malah menjadi pemicu, menjadi bahan bakar untuk nyala api di dalam tubuhnya.
“Ada apa denganmu, Sayang? Kau terlihat kurang sehat!” pancing Mirabel. Ia lepaskan tangannya dari genggaman Ben untuk menyentuh wajah lelaki itu.
Ini sungguh luar biasa! Akhirnya… akhirnya ia bisa berada sangat dekat dengan pria ini! Dan sebentar lagi… pria gagah ini akan menjadi miliknya. Wanita itu tersenyum licik kala memandangi dan menyentuh, wajah menawan yang berbingkai ketegasan dan kegarangan.
Sungguh membuat orang penasaran!
“Aku kesakitan, Rose! Sekujur tubuhku terasa panas, dan ini sangat menyakitkan,” jawab Ben dengan suara parau. Ia kerutkan alis dan hidungnya, bukti bahwa perasaan nyeri ini adalah nyata.
Tubuh pria itu melemah karena peluh semakin deras bercucuran. Sedangkan kesadarannya hanya tinggal sebagian. Sedangkan ia sudah meyakini, jika wanita yang bersamanya saat ini adalah Rose.
“Kalau begitu, ayo ikut aku! Aku akan mengobati kesakitanmu ini, Sayang!” serunya sambil membelai wajah tegas Ben yang sendu dengan setengah kelopak mata terbuka.
Ya, ampun! Mirabel benar-benar tidak sabar untuk menyembuhkan sakit yang menjalar pada tubuh Ben. Sebab, tubuhnya pun sudah merasakan hal yang sama. Walau tidak sedahsyat yang Ben rasakan.
Tapi tenang saja! Setelah ini, mereka bisa saling mengobati.
“Benarkah, Rose? Kau bisa… ehm, kau mau melakukannya untukku?” tanya pria itu lagi saat tubuhnya mulai dibimbing berjalan ke suatu arah.
Matanya mendelik kesal sebentar. Mirabel kesal karena lagi-lagi yang disebut pria itu adalah Rose dan Rose saja. Padahal yang sedang bersama pria itu adalah dirinya. Bahkan dia yang akan mengobati kesakitannya.
Mirabel lantas tersenyum lagi. Baiklah, tidak apa-apa! Yang penting pria itu sudah ada digenggamannya. Dan tak akan bisa terlepas lagi, setelah ini.
Mata Mirabek bergerak-gerak mencari seorang pelayan yang bisa ia mintai pertolongan. Karena jujur, ia mulai kewalahan menanggung bobot pria ini sendirian.
Sekaligus, ia bisa meminta dipesankan kamar oleh pelayan ataupun petugas yang ditemuinya.
“Permisi! Bisa tolong bantu aku?”
Akhirnya ia berpapasan dengan seorang pelayan pria. Sepertinya dia hendak kembali ke area pesta untuk menjalankan tugasnya lagi.
“Ya! Apa yang bisa saya bantu?” Pelayan itu menghampiri, dan bertanya dengan sopan.
“Tolong bantu aku memapahnya! Ini… ergh… berat sekali!”
Begitu mendengar, pelayan pria itu langsung cekatan mengambil sebagian beban tubuh Ben dari rangkulan Mirabel. Jadi sekarang wanita itu dan si pelayan memapah Ben di kanan kiri.
Padahal mereka sudah berbagi beban, namun Mirabel merasa kesusahan membawanya. Sungguh, pria ini berat sekali!
“Bawa kami ke kamar yang masih kosong dan belum dipesan. Kekasihku sangat membutuhkan istirahat saat ini,” pinta Mirabel ketika mereka mulai melangkah.
Sedang Ben, hanya mengikuti saja dengan terseok-seok. Obat yang menjalar sudah merebak ke seluruh tubuhnya. Dan yang bisa ia rasakan hanya rasa panas yang menyakitkan hingga merasa tak berdaya.
“Baik, Nona!” angguk pelayan itu. Ia lantas memandang ke depan dengan tatapan misterius.
Bersambung…