Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Pengumuman penting



“Rasanya aku ingin mencungkil bola mata mereka semua!” ujar Ben geram. Ia ingat bagaimana mereka semua menatap Rose seperti sedang menatap sebuah buruan.


“Sayang!” tangan halus Rose yang menyentuh pipinya langsung memadamkan api yang membakar lagi di dadanya. Ben menoleh dalam tatapan linglung.


“Ada baiknya jika kau belajar mengendalikan emosimu, Ben!” Rose menangkup rahang kokoh laki-laki itu dengan kedua tangannya.


Tatapan mata Rose melembutkan pandangan mata Ben yang kabur oleh amarah. Suaranya yang merdu dan halus, menyapu bersih semua risau dan risih di pikiran dan hati. Ben berubah wujud dari serigala buas menjadi seekor anjing penjaga yang jinak di tangan Rose.


“Untuk dirimu, akan aku coba!” jawab Ben dengan suara dalam. Dia menipiskan bibirnya sambil meraih jemari Rose untuk ia kecup.


Pria itu, pria sangar dengan topi koboi yang sudah dikembalikan oleh Rose tadi, saat ini tengah dibius oleh pesona Rose yang tiada habisnya. Selalu saja wanita itu membuatnya terpana.


Satu tangannya yang tidak memiliki tugas, menarik pinggang kekasihnya dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


“Ben! Bagaimana jika nanti ada yang masuk? Aku malu!” Rose memukul bahu lelaki yang tidak tahu malu itu.


“Tapi aku tidak!” jawaban tegas Ben membuat Rose bertekuk lutut di bawah tatapan dalam lelaki itu.


Heh! Sudah tahu! Rose sudah tahu apa yang ada di pikiran orang itu. Pasti tidak jauh-jauh dari hal itu, kan! Apakah tuan seramnya itu tidak ada puasnya sama sekali? Padahal mereka tadi sudah berciuman lama di dalam mobil.


“Ben!” Rose menggeleng. Memasang senyuman yang memohon.


Tetapi lelaki itu tidak mengubah ekspresinya sama sekali. Matanya benar-benar menatapnya seakan dia adalah buronan. Ingin sekali segera ditangkap!


“Aku ingin melakukan ciuman pertamaku di sini!” sambut Ben pada tatapan Rose yang terus memelas terhadapnya.


“Hah!” Wajah Rose menjadi jelek ketika dia bertanya dengan ekspresinya. Dia mendadak bodoh dan lamban menangani pria ini. Apa maksudnya dengan ciuman pertama? Bukannya mereka sudah melakukannya? Bukan hanya sekali, tapi sudah berkali-kali, bahkan ratusan kali mungkin!


Di bawah kesadarannya yang limbung, bibirnya sudah disantap dengan begitu nikmat oleh sepasang bibir lembut yang kian lama menyentuh bibirnya semakin panas. Pada akhirnya, dia mengikuti permainan kekasihnya itu dengan telinga yang memerah.


**


Di lain sisi markas,


Relly tengah berdiri di depan barisan besar tak beraturan di sebuah lapangan. Letaknya berada di belakang gedung, jadi tidak terlihat ketika Rose baru saja sampai. Lapangan menembak dengan fasilitas yang cukup lengkap untuk siapa saja berlatih di sana.


Anggie dan Zayn berdiri di pinggir bersama beberapa petinggi Harimau Putih yang lainnya. Menunggu Relly membuka suara.


“Perhatian! Aku memiliki pengumuman penting!” Sesuai perintahnya, atensi semua orang langsung tertuju pada dia yang agak konyol tapi bisa berwibawa kapan saja.


“Bos besar telah kembali! Aku rasa kalian sudah melihatnya tadi. Tapi bukan itu yang penting!” Ketika Relly memberi jeda pada ucapannya, satu demi satu anak buahnya mulai berspekulasi dengan tatapan mereka yang saling memandang satu sama lain.


“Wanita yang datang bersama bos adalah intinya!” Bunyi bisikan-bisikan pelan pun tak tertahankan lagi.


Maksudnya apa? Memangnya siapa wanita itu? Pertanyaan yang sama datang dari mulut mereka satu persatu. Menjadi lebih penasaran lagi mereka akan hal ini. Meskipun tidak heran jika sesekali bos besar mereka akan membawa seorang wanita ke markas.


“Namanya Nona Rose! Dia adalah calon nyonya bos kalian nantinya!” Relly menyapu pandangan semua orang dengan wajah tegas dan tenangnya. Bukan seperti Relly yang biasanya.


Luar biasa! Anggie dan yang lain, yang sudah mengetahui hal ini lebih dulu, melihat hal ini sesuai dengan ekspektasi mereka. Rekan mereka yang lain sama terkejutnya seperti mereka tadi di halaman parkir.


Namun, tidak sedikit pula yang memiliki pemikirannya sendiri. Melihat penampilan Rose yang seperti wanita polos pada umumnya, mereka berpikir jika hadirnya Rose di markas mereka hanya akan membuat repot saja. Takutnya juga, bos mereka jadi tidak fokus mengurusi masalah kelompok mereka.


Jejak keraguan itu tertangkap oleh kilatan mata Relly yang tajam. Asisten kepercayaan Ben itu telah menyapu ekspresi anggotanya secara keseluruhan. Dia merasa wajar jika mereka semua tidak sepaham.


“Datangnya nona Rose di sini adalah untuk melatih diri. Sebenarnya bos kita sudah melamar nona Rose. Tapi nona Rose menolaknya, sebab ia merasa tidak pantas jika saat ini dirinya bersanding di samping tuan Ben. Nona Rose yang meminta agar tuan Ben mau menunggunya supaya menjadi kuat lebih dulu. Sehingga dia merasa sudah pantas untuk menjadi pendamping hidup tuan Ben kelak.”


Bukan bermaksud bodoh dengan mempermalukan bosnya lagi, namun Relly merasa perlu menjelaskan hal ini. Semua rekannya harus mengerti bahwa bos mereka pun seorang manusia, yang mempunyai hak untuk menentukan kebahagiaannya sendiri.


Anggie, Zayn dan yang lainnya menyetujui hal ini. Mereka akhirnya paham mengapa bos besar mereka datang bersama dengan seorang wanita. Dan lagi menunjuk Anggie dan Zayn pula sebagai pelatih bela dirinya. Dengan maksud seperti ini, semua orang mulai menghargai kehadiran Rose di sana, bersama mereka.


“Tapi... “ Relly mengubah wajahnya lebih serius lagi ketimbang tadi.


“Kalian semua dilarang menatapnya lebih dari tiga detik! Itu pun jika kalian masih sayang dengan nyawa kalian.” Dia kemudian tersenyum miring seperti setan kecil. Masih untung dia masih mau mengingatkan mereka semua, dengan betapa posesif dan seramnya bos mereka terhadap kekasihnya itu.


“Kalian harus menjaga sikap di hadapan nona Rose. Jangan bertindak tidak sopan, apalagi kurang ajar! Aku serius ketika mengatakan bahwa nyawa adalah taruhannya.” Sambungnya lagi sambil menegakkan pandangannya.


Demi Tuhan! Bahkan dia sendiri sudah merasakannya! Tadi, nyawanya hampir saja melayang jika saja nona Rose tidak menyelamatkannya. Tapi mana mungkin dia akan memberitahukan aibnya ini kepada para bawahannya. Mau ditaruh dimana wajahnya yang tidak seberapa tampan ini!


"Kalian paham dengan ucapanku, kan?” Relly berkacak pinggang di tengah di antara mereka semua. Seperti seorang bapak guru yang baru saja memberikan pelajaran kepada muridnya.


“Kami paham, Tuan!” Serempak anak buahnya yang puluhan itu menjawab bak harmoni sebuah paduan suara.


“Kalau begitu, cukup sampai di sini! Kalian bubar!" titahnya lalu membuat kerumunan itu berpisah satu demi satu.


Sedangkan Anggie, Zayn dan kawanannya, mereka juga meninggalkan lapangan tembak itu dengan Relly yang berdiri dengan wajah bangga.


Melihat rekan-rekannya pegi, Relly pun mendesah. Ini sudah ke berapa kalinya dia ditinggalkan sendirian. Nasib, nasib! Nasibnya kenapa selalu sendirian!