Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Melemparmu ke laut



Sepasang kekasih tengah berjalan-jalan menikmati lembut dan halusnya pasir pantai, dengan kaki telanjang. Sambil menunggu datangnya langit senja, juga matahari yang menenggelamkan diri di ufuk barat.


Benar!


Ben dan Rose memutuskan untuk berjalan-jalan di bawah sinar mentari yang agak teduh, di siang menjelang sore hari ini.


Refreshing sejenak dari penatnya tuntutan kehidupan, sepertinya adalah ide yang bagus. Maka dari itu, keduanya memutuskan untuk tidak langsung pulang, setelah Rose menyelesaikan makan siangnya.


Dua sejoli itu saling bergandengan. Jemari mereka bertaut, saling menyatu, seperti lambang penyatuan cinta mereka tadi malam.


Kadang kala, sapuan ombak ringan menyapa telapak kaki mereka. Mencipatakan sensasi nyaman tersendiri, kala air laut yang dingin mengenai dan membasuh sebagian kaki yang berpijak.


“Jalan-jalan di pantai seperti ini, aku jadi ingat waktu kau melamarku, dulu.” Rose berucap tiba-tiba, sambil sesekali berjingkat-jingkat, berkejaran dengan sapuan ombak yang datang.


Bibirnya tersenyum ceria, saat kepalanya menunduk dan menatapi gelombang kecil yang datang mengejar langkah kakinya. Bak senyum polos seorang anak kecil yang tengah berbahagia.


“Yah… dan kau menolakku waktu itu! Hem!” sahut Ben seraya menipiskan bibir kala mengingat masa itu. Momen dimana ia merasa gagal dalam hidupnya untuk pertama kali.


Meski bukan bukan benar-benar dinyatakan sebagai penolakan. Karena Rose hanya menundanya, menunda untuk menerima lamaran Ben kala itu. Ada janji yang wanita itu buat sebelum mereka bersatu dalam ikatan yang lebih resmi dan suci.


Jemarinya tetap menggenggam dengan erat, meski ia membiarkan kekasihnya itu bermain-main dengan ombak. Juga pasir basah yang menjadi kubangan, setiap kali mereka pijak.


Seperti ia yang membebaskan Rose melakukan apa pun yang diinginkannya. Termasuk untuk menjadi kuat, serta menjadi sosok yang lebih hebat. Ben mempersilakan, ia mengizinkan, selama semua prosesnya masih dalam pengawasan dirinya secara langsung.


Wanita pembangkang itu, dari pada dibiarkan berkeliaran sendiri mencari jati dirinya, lebih baik ia saja yang mengawasi dan mendidiknya.


Sambil menunggu, sambil ia bersabar, sambil pula ia bisa memupuk cinta mereka menjadi semakin kuat dan semakin dalam. Dengan begitu pun, ia bisa menjaganya dari dekat, jika Rose selalu ada di sisinya.


“Jangan kesal begitu! Jika kau melamarku lagi, pasti aku akan menerimamu, Ben!” Rose mengulum senyum saat dilihatnya Ben setengah cemberut menatap ke arahnya.


“Kalau begitu, aku akan melamarmu sekarang!” tegas Ben seraya menahan pegangan tangan mereka. Sehingga langkah Rose pun terhenti.


“Tidak sekarang juga, Ben! Hh… hh…” Wanita itu meletakkan kepalan tangannya di depan mulut, guna menutupi bibirnya yang tengah meloloskan tawa kecil yang meledek.


“Barusan… kau yang bilang sendiri!” balas Ben cepat. Dengan wajah serius, ia menarik tangan kekasihnya itu, sehingga kini mereka saling berhadapan.


Berlatar pantai yang sama, ketika dulu ia mengucapan janjinya pada Rose. Deru ombak yang merdu dan semilir angin yang terus membelai tubuh mereka. Rasanya momen ini, sangat tepat untuk Ben mengungkapkan pernyataan sekaligus pernyataannya itu.


Deg~! Deg~!


Jantung Rose memukul dengan kencang. Berdebar dadanya sampai menimbulkan bunyi yang membuatnya semakin gugup tak karuan.


Melihat wajah serius Ben saat ini, apakah mungkin lelaki itu akan melamarnya lagi?


Bukan tidak mau! Tapi Rose merasa, ini bukan waktunya, bukan waktu yang tepat. Meskipun secara fisik mereka sudah menjadi satu kesatuan.


Nanti, sebentar lagi. Rose masih membutuhkan waktu sebentar lagi. Untuk hal itu, ia tidak bisa begitu berkompromi dengan komitmen yang sudah ia buat.


Rose tetap harus menjadi kuat terlebih dahulu, untuk mencapai status yang itu.


Tapi, bagaimana jika Ben benar-benar melamarnya kali ini?


Apa yang harus ia lakukan?


Tidak mungkin juga, kan, ia menolaknya lagi? Rasanya tidak mungkin!


Mana tega ia menolak kekasihnya itu, pria yang dicintainya. Lalu membuat Ben terluka kembali atas penolakannya. Tidak bisa! Rose tidak juga menginginkan hal itu terjadi!


Namun, harus bagaimana? Harus menjawab apa ia ketika Ben benar-benar mengungkapkan hal itu kepadanya?


Tatapan mata Rose bergoyang kala menatap dalam pada netra Ben yang hitam legam. Rasanya ia tak sanggup membuat kekasihnya itu kecewa lagi.


Namun pernikahan bukan sekadar menyatukan cinta suci, baginya. Butuh komitmen yang kuat, ikatan, kepercayaan, serta toleransi untuk menjalaninya, nanti.


Rose ingin benar-benar matang ketika menjalani tahap selanjutnya, di dalam hidupnya ini.


“Aku mengerti! Tenang saja, Rose! Aku tidak akan memaksakan kehendakku padamu. Aku akan menunggumu, walau sampai kapan pun.”


Kata-kata tulus itu mengembangkan senyum di bibir, yang menempel pada dada lelaki itu. Tangan Rose lantas membalas pelukan  hangat Ben.


Ketegangan yang tadi Rose rasakan pun musnah perlahan. Dibawa angin laut, juga ombak yang kembali lagi ke samudera.


“Terima kasih, Ben! Aku mencintaimu!” seru Rose seraya mempererat rengkuhannya pada punggung lebar itu.


Merasakan harum dan nyaman yang selalu dapat membuatnya merasa aman dan terlindungi. Merasa dijaga dan dicintai secara bersamaan.


“Ya, aku tahu! Dan aku pun akan selalu mencintaimu!”


Cup~!


Sebuah kecupan dalam Ben berikan pada puncak kepala Rose yang berada tepat di dagunya.


Ia tahu, Ben tahu bahwa Rose sangat mencintainya. Ben dapat merasakan hal itu. Jadi rasanya begitu egois jika ia terus menuntut Rose tentang hal yang belum bisa dipenuhi oleh kekasihnya. Sementara Rose sudah berjanji pada masa tertentu, hubungan mereka pasti akan menyatu.


“Ayo kita jalan lagi!” ajak Ben kemudian setelah puas memeluk.


Ia pikir, bisa melakukan hal yang lebih dari ini untuk menyatakan perasaan cinta mereka satu sama lain. Tapi bukan di sini tempatnya.


Hh…! Tertawa dalam hati, ketika pria itu memikirkannya.


Di sini, lebih baik mereka kembali menikmati indahnya momen kencan, yang jarang-jarang bisa mereka lakukan dengan tenang.


“Tapi gendong aku! Lututku masih lemas, tahu!” pinta Rose sembari mengeluh dan cemberut. Ia rentangkan pula kedua tangannya ke depan. Menunggu pria itu menyambutnya.


Tahu sendiri, kan, ini perbuatan siapa?! Jadi, tentu saja dia harus bertanggung jawab padanya!


“Iya, iya, baiklah!” Pria itu lantas membalik tubuhnya. Kemudian melutut dengan posisi membelakangi Rose. “Ayo, naik!” Ia pun mempersilakan kekasihnya itu naik, dengan mengedikkan bahu.


Yeay! Sorak Rose dalam hati.


Ia bertepuk pelan dengan wajah girang, di belakang punggung kekasihnya.


Lantas ia membuka kedua tungkainya, lalu naik dan merengkuh punggung itu seraya mengalungkan kedua tangannya dari belakang, ke leher Ben sebagai salah satu kuncian agar ia tidak terjatuh.


Mereka berjalan sambil berbincang juga bersenda gurau. Sesekali juga saling membalas ciuman di pipi yang nampak mesra di hadapan banyak orang.


“Jika aku berat, turunkan saja aku, Ben!” seru Rose perhatian.


“Ya, kau memang berat! Sampai aku ingin melemparmu ke lautan!” timpal Ben menggoda kekasihnya itu.


“Ben!!” Dipukul Rose bahu pria itu sebagai balasan karena telah menggodanya.


“Apa kau meragukan kemampuanku, hem? Aku bahkan bisa terus menggendongmu sambil mengelilingi dunia!” seru Ben lagi dengan gaya angkuhnya.


“Ben! Aku tidak sedang bercanda sekarang!”


“Kau pikir aku bercanda?” balas Ben cepat dan tanpa ragu.


“Aku-“


Rose menahan ucapannya sampai di tenggorokan. Lantas kata lain malah keluar dari mulutnya.


“Ben! Dia-?”


Mata mereka lalu menuju ke arah yang sama.


Bersambung…