Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Pesan misterius



Apa lagi?


Nampak mereka yang mulai ketar-ketir, bertanya bersamaan


dalam hati. Tatapan mata mereka nanar di wajah piasnya.


Sekeluarga di atas panggung pun membisu. Tidak mengiyakan


lewat mulut, namun diamnya mereka tentu saja menanti dengan apa yang sudah


dipersiapkan oleh Relly.


‘Kejutan apa lagi yang akan bocah itu berikan?’ tanya Ben


dalam diam.


Apa masih tidak cukup dengan kedatangan Victor di sini? Apa


hadirnya kakak dari Rose belum cukup untuk membungkam mulut-mulut tidak tahu


diri?


Meski pun begitu, baik Ben, Rose, atau pun semua orang yang


berada di sana tentu penasaran dengan ‘tamu’ yang akan Relly undang lagi.


Siapakah gerangan orang itu?


Samar, Ben tersenyum puas untuk kinerja asistennya kali ini.


Pria yang biasanya bodoh itu, tidak  menyangka jika pada kesempatan kali ini bisa diandalkan.


Rose tak berhenti mengerutkan alis kebingungannya. Matanya


mengerling menatap Anggie, dia bertanya pada wanita seksi itu. Namun Anggie pun


hanya mengedikkan kedua bahu. Sama bingungnya dengan wajah Rose.


Mereka memang bersama sejak tadi. Anggie pun begitu, Relly


selalu berada di sisinya. Dan yang dia tahu, yang lelaki itu lakukan seharian


ini juga hanya bermain game saja.


Tidak tahu memang, untuk beberapa waktu tertentu saat mereka


tidak bersama. Entah apa yang lelaki itu sudah lakukan di belakang mereka?


Prok! Prok!


Ditepuk Relly tangannya dua kali, memberi isyarat entah


kepada siapa. Sepertinya memang sudah ada orang yang menunggu dan berjaga di


luar sana sejak awal. Hanya saja, mereka tidak menyadarinya.


Dua orang masuk membawa seseorang dengan tangan terikat ke


belakang. Penampakannya benar-benar tidak baik sama sekali. Berantakan baju dan


wajahnya.


Ya! Wajahnya! Wajahnya babak belur, berhias lebam biru


keunguan serta sedikit lecet di bagian pipi, rahang, serta pelipis kanan. Sudut


bibirnya sobek, dan masih ada sisa darah di sana.


Entah apa yang sudah Relly lakukan padanya, sampai berjalan


saja dia mesti terhuyung-huyung mencari keseimbangan. Untung saja kedua


tangannya masih dicekal, setidaknya masih bisa membantunya berjalan.


Bahkan, ketika berhenti, dua orang yang membawanya,


menendang kakinya supaya lekas berlutut di hadapan semua orang. Sungguh


tindakan yang tidak manusiawi. Namun untuk sekelas hukuman di dalam dunia hitam


seperti ini, hal itu masih tidak ada apa-apanya.


Benar! Hal itu tidak manusiawi. Tidak pantas jika mata polos


seorang anak kecil yang menyaksikannya. Maka Bella dengan sigap segera menutup


mata Bervan dengan satu telapak tangan.


Lalu… seakan mengerti, anak kecil itu diam tanpa perlawanan.


Bervan menurut saja dengan apa yang ibunya lakukan.


Sejak kehadiran orang itu di dalam aula, semua orang sudah


mengalihkan atensi mereka padanya. Dan sekarang, ketika dia berlutut di hadapan


semua orang, jiwa mereka dimakan rasa penasaran.


Siapa dia?


Wajahnya nampak tidak asing! Seperti bagian dari kelompok


mereka. Tentu saja, setiap anggota pasti hafal wajah rekan-rekannya, walau


mereka tidak mengenal nama.


Namun, dengan kehadiran orang itu di depan sana dalam


keadaan seperti itu. Mereka pun semakin bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya


terjadi? Apa yang sudah dia lakukan?


“Lapor, Tuan!” Relly maju, berdiri di samping orang yang


berlutut itu sambil mendongakkan kepalanya pada Ben. Pasalnya tadi Relly sempat


turun panggung, dan menanti di depan barisan.


Ditatap Ben asistennya itu dalam diam. Pria bertopi koboi


itu hanya menggulirkan bola matanya sesaat, menatapinya. Namun Relly sudah


tahu, bosnya itu pasti juga menunggu dan penasaran.


“Dia adalah biang keladinya!” Sambil menendang, sampai orang


itu sedikit terhuyung ke samping. Tapi dia berusaha menegakkan tubuhnya


kembali, sambil meringis menahan nyeri.


“Apa maksudmu?” tanya Ben dingin.


Tatapan matanya yang membekukan beralih pada orang yang


bersimpuh, sambil menunduk di samping kaki Relly. Tidak hanya itu, aura kental


seorang pembunuh pun menguar dalam dirinya.


“Dia adalah oknum yang mengkambing hitamkan Nona Rose


sebagai pengkhianat di dalam kelompok kita. Tidak hanya itu, dia juga yang paling


getol memanas-manasi anggota yang lain, untuk terus menyalahkan Nona Rose, atas


semua masalah yang akhir-akhir ini terjadi.”


Yang paling cepat bereaksi atas laporan lengkap Relly adalah


Rose sendiri. Orang yang namanya selalu disebutkan dalam masalah ini.


Wanita itu maju tanpa ragu. Tangan Ben yang menggenggam pun


terlepas begitu saja. Hingga pria itu merasakan kehampaan dalam pegangan


tangannya.


Dilipat Rose kedua tangannya di depan dada, saat ia mencapai


orang tersebut. Pandangannya menelisik tajam.


“Angkat kepalamu!” pinta Rose pelan. Suaranya masih ia


tahan, belum ingin meneriaki seseorang sekarang.


Dan pria itu tetap bergeming dengan pose dan posisinya.


Keras kepalanya orang itu, tetap menunduk dan mengunci mulut.


Tengkuknya seperti diletakkan sebuah batu besar, sehingga


dia kesulitan untuk mengangkat kepalanya, seperti apa yang Rose inginkan.


Sebenarnya dia ingin menurut, namun perasaan takutnya lebih


besar menguasai diri. Dia tidak berani mengangkat pandangannya barang satu


senti pun. Rasanya… terlalu mencekam penampilan Rose yang sekarang ini.


Benar! Dia baru melihat penampilan Rose yang berbeda dari


pada biasanya. Seperti harus lebih waspada dan tidak bisa sembarangan lag,


dalam menghadapi wanita ini.


Sosoknya tetap terlihat menawan. Namun… Rose yang sekarang,


seperti diselimuti aura dewi kegelapan.


“Kau tidak dengar? Nona Rose sedang berbicara denganmu


sekarang!” Relly melayangkan satu tendangan lagi.


Seperti dalam mode lambat, pria itu menengadahkan kepalanya


dengan sangat pelan. Jangan bibir, bola matanya saja sudah gentar menatap Rose


saat ini. Bermega-mega perasaan bersalah telah menjadi kabut dan menutupi


pandangannya.


“Maafkan saya, Nona! Ampuni saya!” Pria itu lantas menyeret


lututnya, bergerak mendekat ke sisi panggung, dimana Rose berada. Hingga


posisinya seperti sedang benar-benar bersimpuh di bawah kaki wania itu.


Dia memohon dan mengharap sambil setengah menangis. Pelupuk


matanya sudah digenangi kristal bening, yang bergetar karena ketakutan dan


kekhawatirannya.


Bagaimana tidak takut? Setelah disiksa oleh Relly untuk mau


buka suara, ia segera dibawa ke sini, dan mendengar pembicaraan semua orang


sejak awal. Termasuk dengan jati dir Rose yang sebenarnya.


Pria itu langsung gentar, gemetar dengan perasaan menyesal


yang tiada tara. Ternyata dia sudah melakukan perbuatan yang salah! Sangat-sangat


salah!


“Dari mana kau tahu bahwa aku adalah pengkhianat di sini?


Dan bagaimana bisa… kau mempercayainya begitu saja? Apa aku terlihat begitu


hebat di matamu?”


Rose masih merundukkan badan ketika bertanya. Sengaja, ia


menurunkan volume suara, sampai terdengar seperti setengah berbisik. Namun


tekanan pada setiap kata-katanya, langsung menusuk ke dalam hati orang itu.


Jiwanya disentak oleh setiap nada rendah yang keluar dari


mulut Rose. Mulutnya sampai setengah terbuka tanpa ia sadari. Ketika napasnya


tercekat dan tertahan di dada.


Sungguh pun, wanita yang ia hadapi saat ini bukan lagi wanita


lemah lembut dan ramah yang pernah ia temui sebelumnya.


Henyak beberapa saat, pria itu bersimpuh semakin dalam.


Menekuk tubuhnya sampai rata dengan lantai. “Ampuni saya, Nona! Tolong ampuni


saya! Saya sengaja, saya tidak bermaksud melakukannya!”


Terus saja pria itu meracau, sampai membuat Rose jengah dan


menarik punggung untuk ia berdiri tegak kembali. Seluruh wajahnya, memandang


sinis ke arah orang itu.


“Heh! Itu bukan jawaban yang aku inginkan!” Lantas, wanita


itu berbalik tanpa mau memandang. Rasanya muak dengan semua permohonan ampun


yang dia minta. Baginya… itu sudah tidak berguna!


Ben mengulurkan tangan, menyambut Rose yang kembali ke


sisinya. Melihat wajah murung dan masam wanitanya, mata mata pria itu segera


memerintahkan. Sedikit mendelik pada asistennya di bawah.


“Beberapa hari yang lalu, dia menerima sebuah pesan misterius


yang memintanya untuk melakukan semua ini…” Rasanya Relly tak perlu menjelaskan


tentang Rose yang dijadikan kambing hitam. Dia agak meringis karena riskan.


“Tidak dengan cuma-cuma dia melakukan hal ini. Orang itu


menjanjikan bayaran mahal jika dia mendapatkan hasil yang memuaskan.”


Rose sudah jengah, dia sudah bosan dan lelah dengan semua


ini. Pikirannya, hati dan perasaannya terasa lelah sekali menghadapi masalah


ini, Jujur saja, dia masih sangat marah, masih kesal dengan semua yang mereka


perbuat kepadanya.


“Hh… “ Jadilah Rose mendengkus lelah sambil membuang


pandangannya ke arah lain.


“Dan… orang itu sudah membayarmu?” Victor segera bertanya.


“Sudah, Tuan!” Orang itu menjawab dengan gemetar.


“Berapa banyak? Kalau begitu, uangnya bisa kita ambil, kan?”


Victor berbicara pada Relly. Bibirnya menyeringai tipis.


Pria di bawah, yang masih berlutut dan tidak bisa melakukan


perlawanan. Saat ini ia menjepit bibirnya kuat dan wajahnya semakin pias.


“Sudah ia habiskan untuk berjudi, Tuan!” jawab Relly sambil


matanya memandang sinis pada salah satu anak buahnya itu.


“Ben! Beginikah caranya kau mendidik semua anggotamu?” Dilepaskan


Victor suaranya yang bernada tinggi penuh emosi pada bekas rekannya, Ben.


Bersambung…