
Sejak mobil mereka meninggalkan rumah, suasananya tidak sepi sama sekali. Mulut Rose tak berhenti mengoceh mengenai setiap anggota keluarga yang ditinggalkannya. Sampai Ben tak sanggup menanggapi celoteh riang wanita itu lagi, dia memilih diam. Membiarkan Rose senang dengan luapan perasaannya sendiri.
Ben mengetahui jika sebenarnya Rose tidak semudah itu untuk pergi meninggalkan kakaknya yang belum begitu lama dia temui itu. Tidak dengan entengnya wanita itu memutuskan hal besar seperti ini. Ben melihat ada perasaan berat untuk meninggalkan rumah itu dari mata Rose. Hanya saja wanita itu menutupi kerinduannya dengan senyum ceria yang ditunjukkan kepada dirinya maupun asistennya, Relly.
Pria bodoh itu mungkin tidak mengetahui hal ini sebab jika dihitung-hitung, Relly memang kurang peka terhadap wanita. Itu juga sebab asistennya itu belum juga mendapatkan kekasih hingga saat ini. Pikir pria bertopi koboi itu sambil menyembunyikan senyumnya yang meremehkan.
Tapi... setengah jam di akhir perjalanan mereka ini, wanita itu terlihat diam. Dia seakan sedang menikmati perasaan hampanya tanpa keluarga. Sejak tadi Rose hening dalam kebisuannya. Atau mungkin dia hanya sedang menikmati pesona jalan raya yang semakin lama semakin sepi. Atau bisa jadi dia lelah karena sudah mengoceh sejak tadi. Ben menggelengkan kepalanya karena terlalu banyak berpikir.
Memikirkan kemungkinan jika kekasihnya itu tidak dalam suasana hati yang baik-baik saja, batinnya terusik. Jika memang Rose belum siap dengan hal ini maka dia tidak akan memaksanya. Meskipun wanita itu akan keras kepala dengan pilihan yang sudah dia tentukan, Ben akan dengan sabar menunggunya. Dia terlalu mencintai Rose. Hidupnya kini bukan untuk penjelajahan lagi. Ben sadar jika sudah saatnya baginya untuk menemukan pendamping hidup yang tepat.
"Kau baik-bak saja?" Pria bertopi koboi itu meremas jemari lentik Rose untuk mengalihkan perhatiannya.
"Ya?" Agak terkejut dia karena harus berhenti dari lamunannya itu secara tiba-tiba.
Rose menoleh kemudian tersenyum sambil menyadari makna dari pertanyaan yang Ben ajukan. Ditarik tangan Ben untuk ia lingkarkan di pinggangnya dari belakang, sehingga dia bisa leluasa bersandar pada dada bidang kekasihnya itu.
"Kau mengkhawatirkan aku?" Dia menengadah sebentar kemudian menghadap ke depan lagi. Bermanja-manja sambil memainkan jari-jari tangan Ben yang berada di depan perutnya.
Dalam situasi ini, Relly tahu bahwa kedua orang itu akan menyiksa lahir batinnya lagi. Jadi sebelum ia mendengar atau melihat lebih jauh lagi, Relly mengambil earphone dari dashboard mobil. Ia sumbat telinganya dengan lagu-lagu yang menyenangkan hati. Matanya ia fokuskan ke jalanan di depannya saja.
"Jarimu ternyata besar-besar, ya?!" kata wanita itu sambil menimbang setiap jari kokoh kekasihnya. Rose tersenyum lucu sendiri sebab merasa tidak pernah memperhatikan hal ini.
Wanita ini! Padahal pikirannya sudah kemana-mana memikirkan perasaannya sekarang. Tapi bisa-bisanya dia masih memikirkan hal remeh seperti ini. Pria itu pun menaikkan sebelah sudut bibirnya seraya menghela nafas.
"Tapi aku masih memiliki yang lebih besar lagi! Apakah kau mau melihatnya?" Ben menggoda wanita dengan bisikkan lembutnya.
"Hah?" Rose terdiam sebentar untuk berpikir.
"Ben!" Lelaki itu tertawa saat perutnya dipukul oleh Rose yang protes. Pukulan kekasihnya tidak sakit sama sekali. Malahan terasa geli sehingga menimbulkan gelak tawa.
"Kapan sebenarnya kau tidak menggodaku?!" Rose cemberut namun dalam hati dia berdebar.
Itu adalah hal paling fulgar yang pernah laki-laki itu katakan kepadanya. Tentu saja Rose merasa malu, sangat malu. Sehingga dia harus pandai menyembunyikan merah di pipi dengan menggembungkannya. Agar tidak terlalu kentara, pikirnya.
"Salahkan wajahmu sendiri!" Suara Ben datar namun tatapannya penuh arti.
"Wajahku! Memangnya apa yang salah dengan wajahku?" tanya Rose bingung. Dia sampai menoleh ke kanan dan ke kiri pada pantulan kaca jendela mobil untuk melihat kesalahan di wajahnya seperti yang Ben katakan.
"Keterlaluan! Bagaimana bisa hal seperti itu menjadi sebuah alasan?!" Rose protes lagi dengan menyikut perutnya.
"Tentu saja bisa!" sahut Ben percaya diri. Dia kemudian tertawa lagi menyambung rasa puasnya.
Rose lalu mendenguskan kekesalannya seraya melepaskan tangan Ben yang ia lingkarkan sendiri ke perutnya. Ia ingin membuang tangan itu lalu menggeser tubuhnya ke dekat jendela. Tapi hal itu hanya sampai di angannya saja, sebab Ben sudah menariknya lagi. Dan bahkan saat ini tubuhnya terlalu menempel erat.
"Mau kabur? Hem!" Laki-laki itu meliriknya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Seperti seorang pemburu yang sedang menggoda. Tajam namun tetap menarik perhatian.
"Aku kesal!" Tak peduli jika tubuhnya dipenjara oleh tangan kokoh pria itu. Rose merengut sambil melipat tangannya di depan dada.
cup
"Kau!" seru Rose sambil mendelikkan matanya. Bagaimana bisa laki-laki itu mengambil kesempatan dikala dirinya sedang kesal?!
Relly yang tak sengaja melihat adegan tersebut pun menurunkan bahunya yang sejajar. Dia mendesah. Sesuai dugaannya, hal ini pasti terjadi! Siksa saja dirinya terus, Tuan! Relly merintih dalam hati. Kemudian ia teguhkan tatapan matanya ke depan agar tidak melihat hal-hal lebih lanjut lagi.
"Semakin kau kesal, maka akan semakin banyak bibirmu menerima ciuman dariku!" Kembali Ben memberikan tatapan itu. Sebenarnya lelaki itu sedang menggodanya atau sedang mengancamnya, sih?!
"Apalagi sekarang?!" Rose protes tanpa bersuara kali ini. Bola matanya hampir keluar saat menoleh ke arah Ben. Saking kesalnya dia pada Ben. Kenapa ini semua tentang dirinya?! Kenapa hal ini merupakan kesalahannya?!
cup
"Kau tidak percaya rupanya!" Ben mengintimidasi Rose dengan tatapannya dan menggiring kepalanya sampai membentur sandaran kursi mobil itu.
Ben kemudian menangkap bibir Rose dengan bibirnya. Menyapu seluruh permukaannya sampai ke bagian dalam. Dia merengkuh pinggang wanita itu agar selalu merekat kepadanya.
uhukk,, uhukk
Tak peduli dia dengan suara batuk orang di depannya. Ben tetap melakukannya. Menikmati setiap kelembutan dan kekenyalan bibir Rose. Terasa manis dan legit hingga bibirnya selalu rindu untuk bernaung di sana.
Sedangkan Rose segera merasa tidak enak hati ketika mendengar suara Relly terbatuk. Bisa jadi orang itu terkejut dengan apa yang mereka lakukan saat ini. Memikirkan hal ini ia pun merasa malu dan segera ingin melepaskan diri dari jerat nikmat bibir kekasihnya. Tapi tenaga Ben terlalu kuat sehingga Rose hanya bisa pasrah sampai laki-laki itu mau melepaskan tautan bibirnya sendiri.
Perjalanan mereka padahal tidak akan lama lagi. Tapi Relly merasa jika di beberapa kilometer terakhir ini menjadi perjalanan terpanjang yang pernah ia lalui. Ia membuat lengkung bibirnya ke bawah sambil menangis dalam hati. Bosnya itu selalu tega!