Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Pro kontra



Setelah dirasanya Relly cukup tenang di belakang, Rose pun


memulai ucapannya yang tadi tertunda.


“Hh….” Dihirup oksigen agak banyak untuk mengisi paru-paru


dan menyebar ke seluruh tubuh, termasuk otak yang saat ini perlu ia gunakan


untuk merangkai kata dengan baik dan benar.


“Aku tulus meminta maaf kepada kalian atas kekacauan yang


terjadi tadi malam. Juga untuk kalian semua yang terluka karenanya. Aku


sungguh-sungguh minta maaf pada kalian semua!”


Rose kembali membungkukkan tubuhnya. Diikuti geraman tidak


setuju dari Relly di belakang. Pria itu masih tidak terima dengan Rose yang


harus memohon pengampunan seperti ini. Padahal ini bukan salahnya sama sekali.


Beberapa pandangan nampak puas dengan pernyataan Rose


barusan. Mereka nampak menikmati Rose yang menginjak harga dirinya di hadapan


semua orang. Tidak jarang juga, di antaranya menaikkan sebelah sudut bibir


mereka. Ejekan tersembunyi dilayangkan di sana.


Bagaimana pun juga… pro kontra tetap ada meski mereka telah


melewati kejadian semalam. Apa lagi karena hal itu, beberapa yang kontra juga


makin marah dan membenarkan argumen mereka sendiri bahwa Rose adalah tetap


pengkhianatnya.


Tidak jarang juga yang menyalahkan Ben, bos besar mereka.


Yang bisa-bisanya hilang kendali hanya gara-gara seorang wanita. Bisa-bisanya


bos besar yang biasa menjunjung tinggi solidaritas malah gelap mata dan


menyerang mereka semua.


Sebagian orang yang kontra itu sungguh merutuki pasangan


ini. Tanpa tahu apa pun kejelasan dan bukti terkait masalah yang mereka hadapi


saat ini.


“Tapi-“ Suara parau namun tajam sampai di telinga semua


orang. Rose mengangkat kepala dengan tatapan tak kalah menusuk.


Relly yang semula tidak bisa diam. Masih ingin protes dengan


apa yang Rose lakukan, juga ikut henyak dalam suara khas itu. Nadanya mirip dengan


nada bicara Ben ketika hendak marah. Langsung menusuk telinga dan mencengkeram


leher mereka. Namun ini dalam versi wanita.


Entah sejak kapan, nonanya bisa jadi sekeren ini?! Relly pun


memutuskan, ia akan diam mulai sekarang! Benar-benar tidak akan berisik dan


memotong pembicaraan lagi.


Itu baru Relly yang mentalnya sudah sekuat baja, jika


dibandingkan dengan anak buah yang lain, jika sedang menghadapi aura kental Ben


yang menyeramkan. Dia biasa bertahan dengan nuansa mencekam seperti itu. Juga


dengan tekanan yang Rose berikan saat ini. Yang mirip dengan tuannya.


Lalu… apa kabar dengan rekannya yang lain, atau anak buah


yang kemampuannya jauh di bawahnya?! Dapat ditebak, bukan! Mereka jadi


mengkerut sendiri. Nyali mereka ditekan oleh tatapan menusuk yang Rose


layangkan.


Hanya saja… mereka tetap enggan untuk mengakui hal itu.


Dengan cara tetap mengangkat dagu dan memberanikan diri menatap Rose. Namun


jika diperhatikan, tetap saja ada gemetar takut pada ekspresi mikro yang mereka


miliki.


Rose tak memperhatikan. Dia juga tidak peduli. Baginya, dia


hanya perlu menyampaikan kalimatnya sampai selesai. Membuat tuntas perasaan


yang campur aduk di dalam hati.


“Tapi aku juga ingin kalian meminta maaf kepadaku!” cetus


Rose dengan tatapan berani.


Di belakang, Anggie tengah menatapnya dengan senyum tipis,


di salah satu sudut bibirnya. Dia sudah menebak. Hal ini pasti akan terjadi.


Sebab, Anggie juga tahu bagaimana sakit hatinya wanita itu, diperlakukan


seperti tadi malam. Anggie sendiri, meski dia bukan wanita baik-baik saja, dia


juga tetap akan tidak terima diperlakukan seperti itu.


Dihina, dicaci, dimaki dan difitnah tanpa bukti. Semua hal


itu tidak ada yang dapat menerimanya mentah-mentah. Tidak ada orang yang dapat


menerima diperlakukan seperti itu begitu saja. Hatinya, batinnya, harga dirinya


pasti sangat terluka. Anggie mengerti akan hal itu.


Sontak saja… ucapan Rose itu langsung menimbulkan riuh ramai


protes dari beberapa di antaranya. Mereka mempertanyakan maksud dari ucapan


Rose tadi. Ada juga yang menganggap ucapan Rose itu hanyalah sebuah lelucon


Apa-apaan?! Wanita itu yang adalah pengkhianatnya. Dia yang


telah menyebabkan datangnya banyak masalah di dalam kelompok mereka. Jadi sudah


sewajarnya, kan, jika wanita itu yang meminta maaf kepada mereka!


“Apa-apaan?! Untuk apa kami meminta maaf kepadamu?”


Seseorang bersuara lantang dari tengah kerumunan. Seakan mewakili pemikiran


setiap orang yang masih kontra terhadapnya.


“Ya, benar! Untuk apa kami meminta maaf kepadamu?” Disahuti


dengan suara lantang beberapa orang lainnya.


Ramai-ramai suara penolakan itu terdengar dalam lingkup aula


itu. Dan Rose hanya tersenyum miring menanggapi mereka semua. Dia juga tidak


buru-buru untuk menyela atau membantah semua suara bising itu.


Dia menunggu semua keributan itu selesai dengan sendirinya.


Seperti tadi malam, sebelum semua kekacauan terjadi. Rose akan menanti sampai


mereka semua puas dengan kebodohan yang mereka buat sendiri.


“Kalian bertanya… untuk apa kalian meminta maaf kepadaku?”


Rose akhirnya bersuara setelah suara ribut itu mereda.


Dari sudut pandang Anggie, wanita seksi itu dapat melihat


kilatan jernih dan runcing seolah menusuk mereka satu persatu. Rose bahkan


menaikkan sebelah sudut bibirnya dengan menjengkelkan.


Anggie merinding, seperti dia sedang melihat Rose sedang


kerasukan tingkah Ben, bos besar mereka. Orang paling menyeramkan, dan ditakuti


di tempat itu. Ia tidak melihat sosok Rose yang seperti biasanya saat ini.


Wanita itu seakan menjelma menjadi sosok Ben versi feminin.


“Ya, tentu saja! Untuk apa kami minta maaf kepadamu! Sudah


jelas, kan, di sini siapa yang bersalah?!” sahut seseorang lagi dengan


lantangnya.


Tangannya terbalut perban. Oh, mungkin dia jadi lebih berani


karena merasa terluka serta menjadi korban atas kekacauan tadi malam.


“Jaga ucapan kalian!” Yang pro terhadap Rose dan masih


memiliki akal sehat mulai menyahuti karena geram. Pihak ini seakan tidak


mengerti, sejak kapan mereka jadi punya rekan sebodoh ini!


“Jadi menurut kalian, siapa yang bersalah di sini?!” masih


kelompok pendukung Rose yang bersuara. Pertanyaannya makin menantang pihak


sebelah sana.


Satu geng mafia Harimau Putih sekarang terpecah menjadi dua


kelompok. Secara alami mereka bergerak ke mana pemikiran mereka memiliki arah


yang sejalan. Pertama kali dalam sejarah, kelompok besar itu terpecah menjadi


dua.


Anggie dan Relly memijit kening mereka bersamaan. Tidak


menyangka jika situasainya akan berkembang menjadi semakin rumit seperti ini.


Yang pasti, mereka harus menemukan solusi dari hal ini.


Dua kubu itu saling serang dengan pernyataan kuat mereka


masing-masing. Dimana yang satu sepakat untuk tetap memojokkan Rose dengan isu


pengkhianat, ditambah dengan kekacauan yang terjadi semalam.


Sedang yang satunya lagi, mempertanyakan keakuratan tuduhan


rekan yang terasa seperti lawan. Dimana titik akurat dari penyataan mereka


bahwa yang menjadi pengkhianat adalah Rose dan yang bersalah atas semua


kejadian ini, termasuk yang tadi malam, adalah wanita itu juga. Sungguh pun,


pihak sebelah sini sangat ingin memukul kepala rekan-rekan mereka yang bodoh


itu.


Rose bersedekap dada, makin menunjukkan sikap jengkelnya


dengan lengkung mencemooh di bibir. Benar-benar bodoh!


“Diam!” Didekatkan wanita itu mulutnya ke arah microphone


dan berbicara. Pelan, dalam dengan nada memerintah.


Rose memejamkan matanya sebentar lalu membukanya kembali.


Berusaha menahan wajah tenangnya, meski sebenarnya dia sudah tidak sabar.


Keributan dua kubu itu belum juga tenang. Sepertinya mereka semua tidak


mendengar suara Rose sama sekali.


“Ku katakan sekali lagi… di-am!” Kali ini suaranya lebih


bertekanan. Bahkan Rose mengungkapkannya sambil memejamkan mata. Agar pinta dan


perintah yang ia inginkan sampai ke setiap pasang telinga.


Bersambung…