
Setelah dirasanya Relly cukup tenang di belakang, Rose pun
memulai ucapannya yang tadi tertunda.
“Hh….” Dihirup oksigen agak banyak untuk mengisi paru-paru
dan menyebar ke seluruh tubuh, termasuk otak yang saat ini perlu ia gunakan
untuk merangkai kata dengan baik dan benar.
“Aku tulus meminta maaf kepada kalian atas kekacauan yang
terjadi tadi malam. Juga untuk kalian semua yang terluka karenanya. Aku
sungguh-sungguh minta maaf pada kalian semua!”
Rose kembali membungkukkan tubuhnya. Diikuti geraman tidak
setuju dari Relly di belakang. Pria itu masih tidak terima dengan Rose yang
harus memohon pengampunan seperti ini. Padahal ini bukan salahnya sama sekali.
Beberapa pandangan nampak puas dengan pernyataan Rose
barusan. Mereka nampak menikmati Rose yang menginjak harga dirinya di hadapan
semua orang. Tidak jarang juga, di antaranya menaikkan sebelah sudut bibir
mereka. Ejekan tersembunyi dilayangkan di sana.
Bagaimana pun juga… pro kontra tetap ada meski mereka telah
melewati kejadian semalam. Apa lagi karena hal itu, beberapa yang kontra juga
makin marah dan membenarkan argumen mereka sendiri bahwa Rose adalah tetap
pengkhianatnya.
Tidak jarang juga yang menyalahkan Ben, bos besar mereka.
Yang bisa-bisanya hilang kendali hanya gara-gara seorang wanita. Bisa-bisanya
bos besar yang biasa menjunjung tinggi solidaritas malah gelap mata dan
menyerang mereka semua.
Sebagian orang yang kontra itu sungguh merutuki pasangan
ini. Tanpa tahu apa pun kejelasan dan bukti terkait masalah yang mereka hadapi
saat ini.
“Tapi-“ Suara parau namun tajam sampai di telinga semua
orang. Rose mengangkat kepala dengan tatapan tak kalah menusuk.
Relly yang semula tidak bisa diam. Masih ingin protes dengan
apa yang Rose lakukan, juga ikut henyak dalam suara khas itu. Nadanya mirip dengan
nada bicara Ben ketika hendak marah. Langsung menusuk telinga dan mencengkeram
leher mereka. Namun ini dalam versi wanita.
Entah sejak kapan, nonanya bisa jadi sekeren ini?! Relly pun
memutuskan, ia akan diam mulai sekarang! Benar-benar tidak akan berisik dan
memotong pembicaraan lagi.
Itu baru Relly yang mentalnya sudah sekuat baja, jika
dibandingkan dengan anak buah yang lain, jika sedang menghadapi aura kental Ben
yang menyeramkan. Dia biasa bertahan dengan nuansa mencekam seperti itu. Juga
dengan tekanan yang Rose berikan saat ini. Yang mirip dengan tuannya.
Lalu… apa kabar dengan rekannya yang lain, atau anak buah
yang kemampuannya jauh di bawahnya?! Dapat ditebak, bukan! Mereka jadi
mengkerut sendiri. Nyali mereka ditekan oleh tatapan menusuk yang Rose
layangkan.
Hanya saja… mereka tetap enggan untuk mengakui hal itu.
Dengan cara tetap mengangkat dagu dan memberanikan diri menatap Rose. Namun
jika diperhatikan, tetap saja ada gemetar takut pada ekspresi mikro yang mereka
miliki.
Rose tak memperhatikan. Dia juga tidak peduli. Baginya, dia
hanya perlu menyampaikan kalimatnya sampai selesai. Membuat tuntas perasaan
yang campur aduk di dalam hati.
“Tapi aku juga ingin kalian meminta maaf kepadaku!” cetus
Rose dengan tatapan berani.
Di belakang, Anggie tengah menatapnya dengan senyum tipis,
di salah satu sudut bibirnya. Dia sudah menebak. Hal ini pasti akan terjadi.
Sebab, Anggie juga tahu bagaimana sakit hatinya wanita itu, diperlakukan
seperti tadi malam. Anggie sendiri, meski dia bukan wanita baik-baik saja, dia
juga tetap akan tidak terima diperlakukan seperti itu.
Dihina, dicaci, dimaki dan difitnah tanpa bukti. Semua hal
itu tidak ada yang dapat menerimanya mentah-mentah. Tidak ada orang yang dapat
menerima diperlakukan seperti itu begitu saja. Hatinya, batinnya, harga dirinya
pasti sangat terluka. Anggie mengerti akan hal itu.
Sontak saja… ucapan Rose itu langsung menimbulkan riuh ramai
protes dari beberapa di antaranya. Mereka mempertanyakan maksud dari ucapan
Rose tadi. Ada juga yang menganggap ucapan Rose itu hanyalah sebuah lelucon
Apa-apaan?! Wanita itu yang adalah pengkhianatnya. Dia yang
telah menyebabkan datangnya banyak masalah di dalam kelompok mereka. Jadi sudah
sewajarnya, kan, jika wanita itu yang meminta maaf kepada mereka!
“Apa-apaan?! Untuk apa kami meminta maaf kepadamu?”
Seseorang bersuara lantang dari tengah kerumunan. Seakan mewakili pemikiran
setiap orang yang masih kontra terhadapnya.
“Ya, benar! Untuk apa kami meminta maaf kepadamu?” Disahuti
dengan suara lantang beberapa orang lainnya.
Ramai-ramai suara penolakan itu terdengar dalam lingkup aula
itu. Dan Rose hanya tersenyum miring menanggapi mereka semua. Dia juga tidak
buru-buru untuk menyela atau membantah semua suara bising itu.
Dia menunggu semua keributan itu selesai dengan sendirinya.
Seperti tadi malam, sebelum semua kekacauan terjadi. Rose akan menanti sampai
mereka semua puas dengan kebodohan yang mereka buat sendiri.
“Kalian bertanya… untuk apa kalian meminta maaf kepadaku?”
Rose akhirnya bersuara setelah suara ribut itu mereda.
Dari sudut pandang Anggie, wanita seksi itu dapat melihat
kilatan jernih dan runcing seolah menusuk mereka satu persatu. Rose bahkan
menaikkan sebelah sudut bibirnya dengan menjengkelkan.
Anggie merinding, seperti dia sedang melihat Rose sedang
kerasukan tingkah Ben, bos besar mereka. Orang paling menyeramkan, dan ditakuti
di tempat itu. Ia tidak melihat sosok Rose yang seperti biasanya saat ini.
Wanita itu seakan menjelma menjadi sosok Ben versi feminin.
“Ya, tentu saja! Untuk apa kami minta maaf kepadamu! Sudah
jelas, kan, di sini siapa yang bersalah?!” sahut seseorang lagi dengan
lantangnya.
Tangannya terbalut perban. Oh, mungkin dia jadi lebih berani
karena merasa terluka serta menjadi korban atas kekacauan tadi malam.
“Jaga ucapan kalian!” Yang pro terhadap Rose dan masih
memiliki akal sehat mulai menyahuti karena geram. Pihak ini seakan tidak
mengerti, sejak kapan mereka jadi punya rekan sebodoh ini!
“Jadi menurut kalian, siapa yang bersalah di sini?!” masih
kelompok pendukung Rose yang bersuara. Pertanyaannya makin menantang pihak
sebelah sana.
Satu geng mafia Harimau Putih sekarang terpecah menjadi dua
kelompok. Secara alami mereka bergerak ke mana pemikiran mereka memiliki arah
yang sejalan. Pertama kali dalam sejarah, kelompok besar itu terpecah menjadi
dua.
Anggie dan Relly memijit kening mereka bersamaan. Tidak
menyangka jika situasainya akan berkembang menjadi semakin rumit seperti ini.
Yang pasti, mereka harus menemukan solusi dari hal ini.
Dua kubu itu saling serang dengan pernyataan kuat mereka
masing-masing. Dimana yang satu sepakat untuk tetap memojokkan Rose dengan isu
pengkhianat, ditambah dengan kekacauan yang terjadi semalam.
Sedang yang satunya lagi, mempertanyakan keakuratan tuduhan
rekan yang terasa seperti lawan. Dimana titik akurat dari penyataan mereka
bahwa yang menjadi pengkhianat adalah Rose dan yang bersalah atas semua
kejadian ini, termasuk yang tadi malam, adalah wanita itu juga. Sungguh pun,
pihak sebelah sini sangat ingin memukul kepala rekan-rekan mereka yang bodoh
itu.
Rose bersedekap dada, makin menunjukkan sikap jengkelnya
dengan lengkung mencemooh di bibir. Benar-benar bodoh!
“Diam!” Didekatkan wanita itu mulutnya ke arah microphone
dan berbicara. Pelan, dalam dengan nada memerintah.
Rose memejamkan matanya sebentar lalu membukanya kembali.
Berusaha menahan wajah tenangnya, meski sebenarnya dia sudah tidak sabar.
Keributan dua kubu itu belum juga tenang. Sepertinya mereka semua tidak
mendengar suara Rose sama sekali.
“Ku katakan sekali lagi… di-am!” Kali ini suaranya lebih
bertekanan. Bahkan Rose mengungkapkannya sambil memejamkan mata. Agar pinta dan
perintah yang ia inginkan sampai ke setiap pasang telinga.
Bersambung…