Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Salah lagi! Salah lagi!



Malam menjelang, sudah mengganti jingganya angkasa dengan gelap dan taburan bintang. Meski ini baru jam 7 malam, namun vista angkasa sana sudah nampak luar biasa.


Setelah menyelesaikan makan malam bersama, Victor dan keluarga kecilnya mesti undur diri dari markas Harimau Putih. Dia memang merasa berat hati karena harus berbagi jarak dengan adiknya lagi. Tapi sepertinya… ada yang memiliki wajah murung ketimbang dirinya.


Bervan! Anak kecil itu sudah sejak sore menekuk wajahnya sampai menjadi beberapa lipatan. Ia ingin protes namun ia tahu itu tidak bisa. Karena keputusannya sudah mutlak, semenjak mereka membuat rencana untuk datang ke sini.


Besok, Bervan harus masuk ke sekolah. Dan ibunya paling tidak suka jika anaknya tidak masuk sekolah, karena alasan tidak penting. Sebab, bagi Bella, pendidikan adalah yang nomor satu dibandingkan apa pun.


Jadilah anak kecil itu memendam protesnya dalam hati.


Ditambah, setelah selesai makan, bibinya langsung menghilang entah kemana. Bahkan tidak berbicara sama sekali kepadanya.


Dan saat ini, keluarga kecil itu sudah sampai di samping mobil yang akan mereka gunakan untuk kembali ke rumah. Seperti biasa, Relly yang bertugas memasukkan koper milik mereka ke dalam bagasi mobil.


Jika, saat bersama dengan anggota Harimau Putih yang lain, Relly bisa meminta dan memerintah seenaknya. Namun, jika bersama orang-orang penting ini, dia akan berubah menjadi upik abu.


Pria itu cukup sadar diri dengan posisinya, jadi dia mengambil pekerjaan paling rendah dan paling berat yang terdapat di setiap situasi yang ada.


Nasib! Nasib!


“Kemana anak itu?” tanya Victor pada Ben. Sejak tadi ia sudah mengedarkan pandangan, namun tak didapatinya juga bayangan adiknya itu.


“Entahlah! Aku juga tidak tahu!” Dikedikkan Ben kedua bahunya, menjawab dengan tidak acuh.


“Mama, tidak bisakah kita menginap di sini, semalam lagi?” tanya Bervan seraya mendongakkan kepalanya. Alis anak kecil itu masih berkerut dengan ketidak-puasan dan kesal yang ia tahan sendiri.


Bervan masih mencoba bernegosiasi dengan ibunya itu, meskisebenarnya dia sudah tahu jawabannya. Tapi… siapa tahu, kan, ibunya itu mau berubah pikiran?!


“Mama juga pasti sudah bosan, kan, di rumah? Mama pasti masih ingin bertemu dan mengobrol dengan bibi juga, kan?” Mata anak kecil itu mengedip polos. Walau alisnya masih bertaut di tengah dahi.


Ch! Manis sekali anak kecil itu bicara! Ben berdecak dengan sebelah sudut bibirnya terangkat naik. Pria itu mendengkus sambil tersenyum sinis.


Bella dan Victor saling pandang untuk beberapa saat. Lelaki itu memicingkan mata, mencoba memohon melalui tatapannya. Sayang, hal ini adalah mutlak bagi Bella. Pendidikan nomor satu baginya. Istrinya pun menjawab dengan tatapan galak.


Lalu Bella melutut, sembari tersenyum penuh penyesalan, bahwa dia tidak bisa mengabulkan keinginan putranya itu.


“Lain kali kita bisa ke sini lagi!” Sambil diusap punggung Bervan yang masih mungil.


Heh! Ternyata tidak mempan! Ben ingin sekali tertawa, melihat kegagalan akal bulus Bervan, untuk mengelabui ibunya itu.


Dirapatkan bibirnya guna menahan tawa kurang ajar yang berusaha lolos dari sana.


Anak kecil itu makin cemberut melihat paman galaknya makin meledeknya seperti itu. Dia merajuk, membuang pandangan ke samping, sambil bersedekap dada. Heh!


“Bervan!” seruan seseorang datang dari arah lain. Membuat semua orang menoleh ke sumber suara.


“Untung saja masih sempat! Hh… hh… hh…!” Rose yang baru saja sampai di sana, setelah berusaha mengejar langkahnya dengan terburu-buru. Makanya saat ini ia sedang merunduk sambil memegangi lutut, mengembuskan lelahnya melalui tiupan udara yang terengah-engah.


“Kau dari mana saja, sih? Tahu, kan, kami akan pulang? Tapi kenapa malah menghilang?!” omel Victor pada adiknya.


Ben yang sudah mengetahui alasannya, hanya terdiam. Ditatapnya tangan Rose yang sedang memegangi sebuah kotak persegi.


‘Selesai juga akhirnya!’ gumam Ben dalam hati.


“Bervan juga menunggumu untuk berpamitan,” beritahu Bella sambil sengaja memperlihatkan wajah merajuk putranya itu.


Wanita itu lantas melutut, mensejajarkan diri dengan keponakannya itu. Lalu menyerahkan kotak karton berwarna putih padanya. “Maaf karena Bibi tidak sempat menemanimu makan ini, ya! Kau bisa mencobanya bersama Mama dan Papa!”


“Bibi janji, jika Bibi pulang ke rumah, Bibi akan buatkan kue seperti ini lagi, dan kita akan makan bersama! Oke?” ucapnya lagi saat Bervan, dengan penasarannya membuka penutup kotak itu.


Dilihat Bervan Strawberry Cheese cake yang tadi mereka buat. Sekarang sudah dihias dengan cantik dan siap disantap. Merahnya potongan strawberry di atas kue itu sungguh menggoda. Dan berhasil membuat bibir Bervan merekah karenanya.


Satu potongan strawberry ia ambil dan ia lahap. Bibirnya lantas pamer senyum lebar. Kontras dengan bibirnya yang mengerucut saat merajuk tadi.


“Oke! Bibi tidak boleh ingkar janji, ya?” sahut anak kecil itu dengan mulut penuh. Kesegaran, manis dan asamnya membuat mood Bervan membaik.


Bella dan Victor mengintip dengan kompaknya. Ingin menengok isi di dalam kotak tersebut. Bagaimana rupa kue yang bisa membuat sikap Bervan jadi berubah drastis. Di samping itu, mereka juga… sangat ingin mencicipinya.


“Ini punyaku!” seru Bervan seraya memeluk kotak kue itu dengan erat. Tak membiarkan ayah dan ibunya  untuk mencoba, atau sekadar mengintip hal yang sudah ia cap menjadi miliknya ini.


“Oke, baik! Kami tidak akan mengambilnya!” Diangkat Victor kedua tangannya sampai ke samping telinga. Seperti ia sudah merasa kalah, namun dalam hati, ayah dari anak itu sudah memiliki rencana.


Ya! Meskipun Bella juga menginginkannya, namun dia berusaha bijak. Mungkin nanti, dia akan mencoba membujuk putranya itu untuk mau berbagi dengannya.


Masalahnya, ia sudah menahan air liurnya ini sejak tadi. Bella pun turut menyesal, ketika mengetahui jika kue itu tidak bisa langsung disajikan ketika sudah matang. Jadi, dia juga sudah sangat menantikannya.


Rose yang sekarang sudah bergabung dengan Ben pun tersenyum tak berdaya. “Lihatlah! Mereka sudah berebut, bahkan saat mereka belum mencobanya!”


Dalam rangkulan pria itu, Rose terkekeh geli. Jangan tanya Ben! Pria bertopi koboi itu memasang wajah datar, sambil menyesal dalam hati. ‘Berarti hanya tersisa satu loyang! Huh!’


Inginnya pria itu, jika bisa, ia tidak ingin berbagi! Ben masih saja menaruh dengki pada keponakan dari kekasihnya.


Mini bus silver itu melaju, meninggalkan Rose, Ben dan Relly yang melambai di halaman parkir markas. Ada tangan kecil yang masih melambai, menyembul dari jendela mobil. Seperti tentakel, yang kemudian ditarik kembali oleh yang si empunya saat mobil berbelok melewati gerbang utama.


“Besok, kita harus membuatnya lagi!” putus Ben sambil berlalu pergi.


“Membuat kue?” tanya Rose bingung sambil mengejar langkah pria itu.


“Biasanya Tuan meminta koki untuk membuatkan?” Dahi Relly pun mengernyit bingung.


“Benarkah?” Ditolehkan kepalanya ke arah Relly, ingin memastikan.


“Benar, Nona!” jawab Relly polos.


Ben langsung menghentikan langkahnya, lantas menoleh ke belakang dengan cepat. Heh! Asistennya ini memang tidak bisa menjaga mulut.


‘Tutup mulutmu!’ Begitu tatapannya berbicara. Ben melotot sampai bola matanya hampir keluar.


Relly langsung merapatkan bibir, menjepit kedua bagiannya, sampai benar-benar tertutup rapat.


‘Salah lagi!’ rutuknya dalam hati. Selalu saja, selalu dia yang berada di posisi salah! Lebih baik dia mengubah topik.


“Ee... Tuan! Saya mempunyai informasi penting mengenai orang itu!” seruan Relly lantas membuat Ben maupun Rose mengalihkan atensi mereka padanya.


Bersambung…


Satu dulu ya manteman.. nanti malem lagi,, ocey