
“Hey! Sebenarnya apa yang kau temukan?” Relly mencoba menerawang setiap layar monitor sampai memicingkan mata. Namun tak didapatinya apa pun di sana.
“Iya, Sayang! Ada apa?” Anggie pun mengikuti gerakan Relly tanpa sadar.
Kedua anak manusia itu sibuk memperhatikan layar monitor satu persatu dengan jarak mata begitu dekat. Saking penasaran mereka itu!
“Hmm... sepertinya aku salah lihat!” Buru-buru Zayn meletakkan mouse yang semula ia genggam.
“Apakah kau yakin? Coba sini, biar aku mengeceknya!” Dengan paksaan Relly menggeser tubuh Zayn dari kursinya.
“Eh!” Wanita maskulin itu pun hampir saja terjatuh jika Anggie tak sigap menolongnya.
Relly, bodoh ini! Bagaimana pun juga Zayn adalah wanita, bukan laki-laki! Perilakunya kasar sekali! Pantas saja dia terus sendiri seumur hidupnya! Sambil memandangi laki-laki itu, Anggie menggerutu kesal dalam hati.
“Mana, Zayn? Apa yang kau lihat tadi?” Mouse di tangan, Relly gulirkan ke sana sini.
“Itu, tadi aku melihat seseorang yang mencurigakan di depan pintu gerbang. Tapi ku pikir itu hanya perasaanku saja. Karena setelah ku perbesar, ternyata dia hanyalah seorang pengemis.” Zayn menjelaskan dengan tenang sambil menatap lurus pada layar monitor di depannya.
“Pengemis?” Relly mendengkus kesal. “Lalu kau percaya dengan begitu saja?! Bisa jadi itu hanya sebuah penyamaran! Bisa jadi dia adalah mata-mata yang dikirim musuh untuk menembus markas kita!”
“Benar apa yang Relly ucapkan, Sayang! Bukannya apa saja bisa jadi kemungkinan?” Anggie melipat tangannya di depan, lalu yang satunya ia pergunakan untuk menyanggah dagu. Wanita seksi itu seperti sedang berpikir.
“Tapi tak sampai lima menit dia berada di sana, penjaga gerbang langsung mengusirnya.” Zayn melirik Relly dan Anggie sebentar. Dia mencoba menjelaskan apa yang dia lihat tadi di layar monitor.
“Video mana yang kau lihat? Kapan waktunya?” Dengan wajah serius, Relly sudah mendaratkan kesepuluh jarinya di atas keyboard. Jarinya sudah siap berselancar kembali di sana.
"Kamera 16, dua hari yang lalu, sekitar pukul 10 pagi. Aku lupa tepatnya!”
Relly segera mengetikkan apa yang sudah Zayn informasikan. Tak berapa lama, layar monitor yang berada di hadapan mereka menampakkan video yang Zayn jelaskan tadi.
Benar memang, jika ada seorang pria tua dengan penampilan yang sangat berantakan mendatangi gerbang utama markas mereka. Dia menggedor pintu baja itu dengan keras. Lalu dua orang penjaga keluar, ada senjata laras panjang mengalung di leher keduanya.
Ketiganya melihat, dua penjaga tadi seperti mengusir orang tua itu. Tapi orang tua itu tetap keras kepala. Hingga salah satu di antara penjaga menendang kaki orang tua itu hingga terjatuh ke tanah. Kemudian dia seperti merajuk, menangis seperti anak kecil sambil terduduk di depan para penjaga itu
Dengan tanpa belas kasihan, kedua penjaga itu tetap mengusir, mendorong pria tua yang penampilannya kacau itu pergi menjauh. Terus merek usir sampai orang tua itu benar-benar tak memiliki niat untuk kembali.
“Yang ku katakan benar, bukan?!” Zayn mencoba meyakinkan keduanya.
“Tetap ada yang aneh menurutku!" Anggie masih dengan pose yang sama. Dipandanginya layar monitor itu dengan mata menyipit.
Zayn dan Relly lantas menoleh dan menatapnya dengan penasaran. Seolah dengan matanya, mereka sudah bertanya. Apa?
“Markas kita bukan tempat yang mudah dijangkau siapa saja.” Anggie menggelengkan kepalanya. "Teritorial kita sudah dijaga ketat sejak di pinggir kota. Tidak sembarangan orang, bahkan sampai khalayak umum pun tidak semudah itu bisa lalu-lalang di wilayah kita. Jadi menurut kalian, apakah pria itu tidak mencurigakan?”
“Benar apa yang kau katakan!” Relly pun mengikuti gaya Anggie dengan melipat tangan dan menyanggah dagunya. Ikut-ikutan pula dia nampak berpikir wajahnya. Hingga dia menoleh seraya berkata, “Tapi ku pikir dia memang seorang pengemis. Tak ada yang mencurigakan sama sekali dari gerak-geriknya.”
Relly sampai bangun dari duduknya ketika mengemukakan hal ini. Dihadapkan
“Kau ini labil sekali, sih! Tadi kau bilang iya mencurigakan, sekarang kau bilang tidak! Kau ini bagaimana! Sudah seperti wanita datang bulan saja, selalu berubah-ubah pikirannya.” Anggie menatap sengit pada Relly sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Hey! Jaga ucapanmu, ya! Aku ini laki-laki, tahu! Murni laki-laki!” Jari telunjuknya pun beraksi di depan wajah Anggie.
“Bukan!”
“Iya!”
“Bukan! Kau memang bukan laki-laki!”
Zayn yang berdiri di antara mereka pun memijit keningnya. Kepalanya mulai berdenyut karena pertengkaran mereka berdua... lagi.
“Baik! Aku akan membuktikannya!”
“Ya, buktikan saja! Buktikan di sini, biar aku melihatnya kau ini laki-laki atau bukan!”
Keduanya saling membusungkan dada. Saling menatap sengit pada satu sama lainnya.
“Baik!” Relly bersiap memegangi resleting celananya. Tapi Anggie tak menyadar hal itu.
“Hey, apa yang akan kau lakukan?!” Zayn yang melihat hal itu pun langsung menyela di antara Relly dan kekasihnya. Anggie dipaksa mundur beberapa langkah ke belakang dan refleks bingung.
“Buka saja, jika kau mau burungmu tidak bisa terbang bebas lagi setelah ini!” Zayn merapatkan tubuhnya pada Relly. Ditodongkan pistol dari saku celananya ke arah junior pria itu.
Dalam posisi ini Anggie tak dapat melihat apa yang sebenarnya dua orang itu lakukan. Sudah dia panjangkan lehernya berulang kali untuk mengintip, tak matanya tak dapat mengetahui apa pun.
“Sebaiknya kita juga makan siang. Ini juga sudah hampir waktunya, kan!” Zayn melihat jam sporty berwarna hitam di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menyimpan pistolnya lagi dengan hati-hati. Jangan sampai Anggie mengetahuinya.
“Sekarang?” Zayn menjawabnya dengan anggukan.
“Baiklah!” Dirangkul lengan kekasihnya itu oleh Anggie. “Kau tahu apa menu makan siang kita kali ini?”
“Burung!” jawab Zayn singkat.
“Burung? Bagaimana kau tahu?”
“Hanya menebak saja!” Padahal pandangan mata Zayn menyimpan arti.
Ditinggalkan layar-layar monitor yang masih menyala itu oleh mereka semua.
Ketika mereka mencapai pintu, Relly berpamitan untuk pergi ke toilet sebentar.
“Baiklah, kalau begitu aku langsung ke kantin. Kau cepat menyusulku ke sana!”
Mereka pun berpisah di depan ruang pengawasan CCTV. Zayn berjalan ke suatu arah, sedangkan wanita seksi itu melenggak-lenggok menuju arah lainnya. Memang ada kantin di markas besar itu. Dan ada beberapa orang koki yang mempersiapkan makanan untuk semua anggota yang sementara ini tinggal di markas.
***
Linta negara, lintas benua, juga melintasi waktu dengan selisih beberapa jam lamanya.
Di negara E, di sebuah hotel berbintang nan mewah. Seorang bawahan baru saja menyelesaikan panggilannya. Lalu dengan ekspresi tenang dia berjalan ke arah majikannya yang tengah duduk menatap gulitanya malam.
Kakinya telanjangnya nampak indah, putih mulus tanpa cela, tersibak dari balik jubah mandi yang dikenakannya saat ini.
“Nona!” Wanita dengan kacamata membungkukkan sedikit tubuhnya sebelum menyampaikan laporannya.
“Hem?” Wanita cantik dengan tahi lalat di dagu itu lebih memilih menyesap anggur merahnya sambil menanggapi. Kemudian dia berdiri dan membalikkan tubuhnya.
“Semuanya selesai, sesuai dengan apa yang Nona perintahkan!”
Wanita cantik itu nampak tertarik, lalu melirik. “Lalu, apakah orang itu sudah melakukan pergerakan? Apa dia mencurigai sesuatu?”
“Maaf, Nona! Mereka kehilangan topeng sintetis yang mereka kenakan. Jadi sepertinya orang itu sudah menemukannya.” Tangan bawahan itu agak gemetar di samping tubuhnya.
Prang!
Dengan sengaja, wanita cantik itu melempar gelas anggurnya ke dinding yang berada tepat di samping bawahannya itu. Sehingga wajah wanita berkaca mata itu berdarah, tergores pecahan beling yang terpental ke wajahnya.
“Lalu bagaimana dengan perkembangan anak yang kau suruh? Apakah dia sudah berhasil melakukan apa yang kuminta?” tanyanya lagi dengan ekspresi tak bersahabat sama sekali.
“Dia sedang berusaha, Nona!”
Wanita cantik itu pun menyingkirkan masalah ini terlebih dahulu. Masalah mengenai topeng yang ditemukan kembali terpikirkan olehnya. Berarti orang itu sudah menemukan barang bukti. Heh!
Ekspresinya yang tadi bak monster pun berubah secepat kilat. Kini wanita cantik itu menyeringai. Diketukkan jari-jari lentiknya yang bercat kuku merah ke dagu.
“Kalau begitu, sebentar lagi dia akan menemukan aku, kan?!” Sekarang senyuman lebarnya bahkan terlihat lebih menyeramkan. “Kalau begitu, atur agar aku bisa bertemu dengannya. Dengan cara yang amat profesional, jadi dia tidak mencurigaiku sama sekali.”
“Baik, Nona!” Wanita berkacamata itu tetap tegap dan kaku meskipun wajahnya terluka.
Dia membungkukkan tubuhnya lagi sebelum undur diri dari sana.
“Aku benar-benar tak sabar untuk menyentuhnya... uupss! Maksudku untuk bertemu dengannya!” Kemudian dia tertawa sendiri sambil kembali memandangi langit malam.
Bersambung...
Kalo kalian ngikutin cerita di season pertama, nah ini dia calon pelakor yang sempet muncul di sana. Di season kedua ini pelakor ini bakal bener-bener ngerusak hubungan Ben sama Rose.
Upsss... aku keceplosan, kan, jadinya!!
Pokoknya ikutin ceritanya terus ya
Jangan lupa mampir di ceritaku yang di platform sebelah dong,, Rain Destiny,, mumpung masih gratis,, tis,, hehe
Keep strong and healthy semuanya 🥰