Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Ben menggila



Rose jadi terpikirkan sesuatu….


Digenggam kuat pengeras suara itu, lalu dia buat tubuhnya


berdiri tegap. Memandang lurus ke depan, pada titik dimana kekasihnya itu


berada. Matanya dipenuhi kilatan tekad.


Jika bukan dirinya, lalu siapa lagi yang bisa menghentikan


tuan seramnya itu. Seram, benar-benar menyeramkan saat ini. Bahkan tak satu pun


dari anak buahnya yang berkenan untuk menghadapi ketua mereka.


Mungkin karena tak ingin menyakiti Ben. Mungkin karena yang


terpikirkan hanya melarikan diri. Meski Rose berpikir tindakan mereka cenderung


tindakan seorang pengecut. Namun Rose tak peduli. Dirasanya itu bukan hal yang


mesti ia pikirkan. Hanya tidak menyangka saja, ada kejadian seperti ini di


dalam sebuah kelompok besar.


Rose sibuk memperhatikan. Sudah ada rencana di kepalanya. Tapi


dia membutuhkan gagasan yang lebih bagus, agar dia tidak terluka nantinya.


Tidak tahu kekasihnya itu menyadari kehadirannya saat ini


atau tidak. Takutnya pandangan matanya sudah tertutupi kabut amarah. Lalu


mengira Rose adalah bagian dari mereka semua yang membuatnya murka.


Diangkat pengeras suara itu di mulutnya. Dengan penuh tekad


dan keberanian. Di tengah semua kericuhan itu, Rose bersiap mengeluarkan


suaranya. Setelah menekan tombol ON di sisi benda yang dia pegang.


“Beennn! Berhenti, Beennn! Berhentiiii!” teriaknya


menggunakan pengeras suara toa. Dikeluarkan Rose sekuat tenaga suaranya, sampai


ia memejamkan mata.


Benar! Ben pun mengalihkan pandangannya. Beserta… arah


senjata di tangan.


Pria bertopi koboi itu sedang tidak bisa membedakan mana


kawan mana lawan. Barusan, ia hanya mendengar nama disebut, dan otaknya menangkap


seolah ada lawan yang sedang menantangnya. Pria itu sedang menggila, sedang


tidak bersama akal sehatnya.


Sebelah sudut bibirnya terangkat naik. Di bawah topi


koboinya, bibir itu menyeringai kejam. Diarahkan lurus, senjata yang dia pegang


di arahkan pada posisi Rose berada.


“Bennn!! Ini aku Rose, Ben! Berhentilah, berhenti!!!”


Dan nampaknya, wanita itu tidak menyadari hal ini sama


sekali. Ia hanya merasa sedikit berhasil karena Ben mau menghentikan


tembakannya. Namun bukan untuk benar-benar berhenti.


Rose tidak tahu, jika saat ini pria itu tengah mengarahkan bidikan


senjata ke arahnya. Posisinya saat ini sudah dikunci dengan picingan matanya


yang tajam dan menusuk.


Dari samping, beruntunglah Relly sempat melihat hal ini.


Dadanya langsung bergemuruh mengetahui hal buruk apa yang akan terjadi.


Tidak bisa! Ini tidak bisa terjadi! Relly harus segera


mencegahnya!


Dia segera berlari, sekencang, semampu yang dia bisa. Saat


ini, semuanya seolah bergerak lambat. Dilihatnya Rose tetap berteriak tanpa


tahu apa-apa. Lalu di sisi lain, Ben sudah siap menembakkan senjatanya ke arah


wanita itu.


Relly tidak mau! Dia takut bosnya itu akan menyesal


nantinya. Jika setelah sadar nanti, dia mengetahui telah menyakiti kekasih yang


amat dicintainya itu. Relly harus mencegahnya.


Jaraknya tinggal lima meter lagi dengan Rose. Relly berusaha


menggapai wanita itu dengan tangannya. Mempersingkat jarak supaya dia bisa lekas


menarik wanita itu. Agar tidak terkena tembakan bosnya.


“Ben!”


“Dor!”


Teriakan itu lebih cepat sepersekian detik dari tembakan yang


Ben lesatkan.


Dan Relly berhasil meraih nonanya. Ditariknya Rose ke


arahnya, sampai mereka terjatuh ke tanah. Namun… tembakan itu berhasil mengenai


salah seorang anak buahnya. Pria itu langsung tergeletak ke tanah, begitu


terkena tembakan di perutnya.


Relly dan Rose sama-sama melihat hal ini. Begitu juga Anggie


yang menyaksikan tak jauh dari sana. Wanita seksi itu tidak menyangka, tidak


menduga jika keadaannya sampai di titik terparah seperti ini. Sampai bisa


menjatuhkan korban.


“Ben!” serunya tanpa bersuara. Terlalu tercekat


tenggorokannya melihat ini semua. Ia benar-benar tidak menyangka jika


kekasihnya itu akan menembakkan peluru ke arahnya.


Tapi… jika melihat ekspresinya lagi, Ben saat ini sedang


mengurai senyum penuh kemenangan, ketika melihat jatuhnya seorang korban. Pria


itu nampak puas sekali melihat hal ini. Seakan hasrat membunuhnya tersalurkan..


Rose menatap Relly yang kini sama-sama menduduk di aspal


lapangan. Apa-apaan ini semua?


sekarang, Nona! Akan sangat berbahaya jika Nona sampai mendekati Tuan!” seru


Relly agak kencang di tengah hiruk pikuk kekacauan itu. Supaya Rose dapat


mendengarnya.


“Apa?” Mulutnya ternganga tak percaya.


Kekasihnya bisa sampai segila ini jika sudah marah. Benar-benar,


benar menyeramkan. Jika ada level di atas itu untuk menentukan horor sikap


kekasihnya itu. Maka Rose akan memberikannya, nilai tertinggi dalam level


keseraman seseorang.


“Lalu bagaimana cara mengatasinya?” teriaknya bertanya.


Meskipun begitu, tetap harus ada solusinya, kan!


“Tidak ada! Sampai dirasanya semua musuh mati berjatuhan,


dia tidak akan berhenti,” jawab Relly bersama dengan helaan napas berat.


Entahlah! Dia tidak tahu harus berbuat apa! Kala itu, yang


dilawan adalah musuh-musuh mereka. Jadi tidak ada siapa pun yang


menghentikannya. Ben benar-benar berhenti ketika semua lawannya sudah tumbang.


Namun kali ini berbeda. Kali ini yang Ben serang adalah anak


buahnya sendiri. Keluarganya sendiri. Tidak bisa dibiarkan jika Ben sampai


melukai keluarganya sendiri. Tapi bagaimana… bagaimana caranya?!


Rasanya Relly pun sangat ingin menangis saat ini. Rumahnya,


keluarganya, semuanya dalam keadaan kacau. Frustasi jiwa raganya tidak bisa


menghentikan aksi bosnya itu.


Tapi salah sendiri, salah mereka semua karena telah


memancing bos mereka untuk mengamuk. Harusnya mereka ingat, jika bos mereka itu


kesabarannya hanya sedikit. Dan harusnya mereka juga tahu, bagaimana kejam bos


besar mereka itu jika sudah murka.


“Jadi tidak ada solusi?” Rose menyimpulkan dengan wajah


serius.


“Tidak, Nona!” jawab Relly kembali menggeleng lemah.


“Lalu… kau akan pasrah begitu saja? Kau akan pasrah ketika


rumah dan keluargamu hancur seperti ini?” Dipandang Rose tajam asisten


kekasihnya itu.


Relly juga tidak ingin begitu. Dia tidak ingin rumahnya ini


menjadi kacau lebih parah lagi. Tapi dia benar-benar tidak tahu harus berbuat


apa. Pria itu menggeleng sangat pelan.


“Jadi kau akan membiarkan saja semua ini? Kau akan


membiarkan korban berjatuhan lagi?” tanya Rose lagi memastikan. Wajahnya


terlihat lebih serius ketimbang yang tadi.


Nyatanya, bukan hanya seseorang yang jatuh karena menggantikan


tembakan yang harusnya ditujukan pada Rose. Tapi ada beberapa korban lagi yang


tak sengaja terkena tembakan Ben yang tak tentu arah, dan Anggie sudah


mengevakuasinya.


“Tapi, Nona-.“ Relly seakan tak mampu lagi untuk berkata-kata.


“Kau adalah asistennya, Relly! Kau adalah penggantinya


ketika dia tidak ada. Saat ini anggap saja dia tidak ada, itu bukan Ben. Itu


bukan atasanmu. Kau yang harus mengambil alih situasi ini!” seru Rose lagi menyemangati.


Pria itu diam. Seakan sedang menyelami semua ucapan yan


keluar dari mulut kekasih dari bosnya itu. Semua yang dikatakan Nona Rose


benar. Saat ini, di dalam dirinya, Relly sedang menguatkan diri.


“Aku akan menangkap Ben. Aku akan bergerak ke arahnya. Aku


akan berusaha menahannya, sebisaku.” Ungkap Rose mengenai rencana yang dia


miliki.


“Tapi itu berbahaya, Nona!” protes Relly tidak setuju.


“Lalu bagaimana?” Rose terdengar marah. Sudah tidak ada


waktu lagi, sebelum makin banyak korban yang jatuh.


“Kita bergerak bersama. Saat aku sudah mencapai Ben, kau


bisa rampas senjatanya. Ambil dan buang sejauh mungkin, jauh dari jangkauannya.


Lalu… kau boleh melakukan apa pun untuk membuatnya sadar!” imbuh Rose memperjelas


rencananya lebih detail lagi.


“Tapi, Nona-“ Relly terdengar ragu. “Benar, saya boleh


melakukan apa pun?” Dia pun memastikan.


“Hm… benar!” Dianggukan kepala Rose yakin.


“Apa pun?” Lagi, dia memastikan.


“Kau ini memang cerewet sekali!” omel Rose sambil berusaha


berdiri. Relly juga jadi mengikuti.


“Kita bergerak sekarang!” Dua orang itu saling tatap dan


mengangguk bersama.


Bersambung…


Deg-degan tahu nulis bab ini.. kalian gimana yang baca?


Semoga sukak ya,, hehe


Ayo, ayo, kasih like, vote sama komentar kalian


sebanyak-banyaknya yess


Keep strong and healthy ya semuanya