
Bersamaan dengan perginya keluarga kecil Victor, sebuah mobil hitam memasuki area parkir geng Harimau Putih yang selalu nampak lusuh. Memang, berbanding terbalik, dengan mobil-mobil mewah yang berjajar di sana.
Hal itu adalah bentuk kamuflase dari markas mereka. Agar tidak terlihat mencolok dari luar.
Mobil SUV hitam berhenti di blok parkir paling ujung. Ben, Rose dan Relly tak begitu memedulikan kedatangan mobil itu. Mereka terus berpaling, berjalan ke arah dalam kembali. Karena mereka pikir, yang baru saja tiba adalah, hanya seorang anggota biasa.
Sampai… Anggie datang dengan tergesa-gesa dari arah yang berlawanan. Wanita seksi itu malah berjalan cepat ke arah area parkir.
“Ada apa?” tanya Rose pada Relly dengan kernyit di dahi.
Memang, wanita seksi itu tidak ikut mengantar keluarga kakaknya tadi. Namun sekarang dia datang dengan terburu-buru begini, mereka jadi sangat ingin bertanya.
Mungkin saja, kan, telah terjadi sesuatu lagi! Karena pada saat seperti ini, kemungkinan apapun tidak bisa mereka hindari sama sekali. Belum tahu, musuh mana dan musuh seperti apa yang sebenarnya saat ini mereka hadapi.
Digelengkan Relly kepalanya dengan cepat sebagai jawaban. Hari ini dia tidak bersama dengan rekan wanitanya itu. Jadi tidak tahu apa yang membuat Anggie sampai terburu-buru seperti itu.
“Kau mau kemana?”
Di antara ketiganya, Relly yang bertanya ketika mereka berpapasan. Hal itu pun menghentikan langkah cepat si wanita seksi.
“Zayn pulang!” jawabnya dengan sorot mata berbinar.
“Aku sangat merindukannya. Jadi aku sudah tidak sabar, ingin bertemu dengan kekasihku itu!” imbuhnya lagi dengan begitu bersemangat. Bahkan senyum di bibirnya kian melebar, sampai mengangkat tonjolan pipinya ke atas.
“Ch!” decih Relly yang mendadak kesal. Tanpa alasan.
“Dia sudah pulang?” Rose membeo untuk memastikannya lagi.
“Ya, ya! Itu dia!” seru Anggie cepat. Diacungkan jari telunjuknya pada Zayn yang baru saja keluar dari mobil. Dan belum melihat ke arah mereka.
Tingkah Anggie ini sudah seperti anak kecil yang tidak sabar ingin melihat kepulangan ayahnya. Kakinya yang gemulai, sampai berjingkat-jingkat kecil di tempatnya berdiri.
Anggie tak ingin memedulikan tanggapan mengesalkan Relly. Meskipun ia ingin sekali memukulnya. Ada apa dengan wajahnya yang jelek itu?! Apa yang salah?!
Ben, matanya mengerling tajam menatap kehadiran teman, sekaligus anak buahnya itu. Riak di wajahnya tetap tenang, menyembunyikan dalamnya amarah yang saat ini bisa menenggelamkan siapa saja.
“Suruh dia segera menemuiku!” titah Ben dingin. Kemudian menarik Rose untuk mengikutinya, beranjak dari sana..
Relly sempat menatap kepergian tuannya itu dengan tatapan misterius. Namun ia tak mau menunjukannya di depan Anggie. Karena sampai saat ini, rekan seksinya itu masih tercatat sebagai terduga. Tapi bisa juga berubah kapan saja. Bisa menjadi saksi atau malah menjadi tersangka. tergantung bukti apa lagi yang bisa mereka dapatkan ke depannya.
Sedang Anggie, tak merasakan keanehan apa pun. Dia sudah mengenal bosnya itu lama, jadi ia sudah tahu sifat dan watak kebiasaan Ben sehari-hari. Pria bertopi koboi itu memang kesannya selalu dingin. Padahal sesungguhnya, hati Ben begitu hangat, pada orang-orang terdekatnya.
Jadi, saat ini Anggie merasa, Ben hanya sedang berlaku seperti biasanya saja.
“Baik, Tuan!” sahut Anggie, tidak tahu didengar oleh Ben atau tidak. Karena ia telat memberikan respon, sedangkan Ben sudah berjalan agak jauh. Diikuti Rose yang agak terseok-seok di belakangnya.
Dan yang pasti… Anggie tidak tahu, jika pemimpinnya itu tengah meredam api amarah yang sedang mengamuk di dada.
“Kau ingat taruhan kita, kan?!”
Tiba-tiba Relly mendekat. Mencondongkan tubuhnya, lalu berbisik di telinga wanita seksi itu.
“Taruhan apa?” sergah Anggie langsung dengan nada tidak suka. Dahi wanita seksi itu berkedut bingung.
“Jika rencanaku berhasil, maka kau harus menciumku!” jelas Relly percaya diri. Karena dia tidak akan melupakan janji mereka yang satu ini.
“Rencana apa? Rencanamu yang mana yang berhasil? Heh!” Bibir Anggie langsung mencibir dan mencemooh.
Yakin jika rekannya itu sedang mengada-ngada saat ini. Pasti pria konyol itu sedang bermain akal bulus dengannya!
Lagipula, pria bodoh macam dia, mana ada bisa sampai memiliki sebuah ide berlian! Jangan bermimpi!
“Heh!” dengus Relly dengan senyum samar. Sepertinya wanita itu sangat meremehkan otaknya yang cerdas.
“Minggir! Lebih baik aku menemui kekasihku sekarang!” Didorong Anggie, tubuh Relly agar tidak menghalangi jalannya untuk menghampiri Zayn.
Rasanya, Anggie sudah tidak sabar ingin meneriaki nama kekasihnya itu sambil berlari ke arahnya. Kemudian mereka bisa melakukan aktivitas bersama lagi! Selalu menyenangkan, bisa menghabiskan waktu bersama dengan Zayn.
Tapi jangan remehkan Relly yang biasa terkesan bodoh di mata orang lain. Bagaimana pun juga, dia adalah seorang lelaki, yang memiliki kemampuan. Tidak hanya otak, tapi kemampuan fisiknya juga diperhitungkan.
Relly, tidak serta merta ditunjuk menjadi asisten Ben, karena mereka dekat secara personal. Namun kemampuan fisik, cara bertarung, dan yang jelas, pria itu termasuk yang paling cerdas di dalam kelompok itu. Makanya dia bisa menduduki jabatan ini sampai sekarang.
Nyatanya Relly memang mempunyai kemampuan. Sayangnya, kadang orang lupa! Karena tingkah konyol yang bisa Relly tunjukkan.
Ketika Anggie hendak berjalan melewatinya, bibirnya tersenyum puas, karena sudah berhasil membuat tubuh Relly tidak menghalangi jalannya lagi.
Anggie lengah. Dalam sepersekian detik saja, Relly sudah berhasil menarik tangan wanita seksi itu. Dan menguncinya di belakang punggung.
“Sshhss…” desis Anggie menahan sakit. Relly benar-benar mengunci lengannya dengan sangat kuat.
Hish! Memangnya dia ini penjahat apa?! Sampai diperlakukan seperti ini!
“Lepas!” desahnya dengan amarah. Apa-apaan lelaki itu?!
“Kau pikir siapa yang mengundang Tuan Victor untuk datang ke sini?” bisik Relly tepat di belakang tengkuk wanita itu. Sembari menghidu aroma manis dari rambut Anggie yang tergerai melewati bahu.
Benar saja! Tuan Victor-
Itu adalah salah satu kunci, semua orang bermulut kurang ajar itu bisa bungkam. Tidak menghina dan menuduh Rose lagi.
Jadi maksudnya, itu adalah rencananya, begitu? Itu adalah rencana Relly untuk mengundang Tuan Victor hadir di sana.
Anggie menggeleng samar. Ia tidak terima jika hal itu adalah sebuah kebenaran. Namun gerakan kecil ini pasti tertangkap oleh mata Relly yang begitu dekat.
“Hh…” dengus pria itu. Sudut bibirnya naik sebelah. Wanita itu pasti sudah mendapatkan pemikirannya. Jadi dia tidak perlu repot-repot menjelaskannya lagi.
Dari belakang, tangannya yang lain, terulur ke depan. Disentuhkan Relly tangannya itu dari belakang telinga Anggie, ke leher, dan berakhir di dagunya. Pria itu menekan ibu jari dan telunjuknya yang memegangi di sana. Kemudian mendongakkan kepala Anggie, sehingga leher jenjang dan belahan dadanya makin terlihat.
Saat itu Zayn sudah berjalan semakin mendekat di antara mobil-mobil yang berbaris. Anggie panik setengah mati. Jangan sampai kekasihnya itu melihat hal ini.
Wanita itu juga tidak lemah. Sehingga Anggie membuat gerakan memutar dengan kakinya. Sehingga saat ini posisi mereka jadi membelakangi dari arah Zayn datang.
Tubuh bagian atasnya boleh tidak dapat bergerak. Namun kakinya masih bisa bergerak dan menyerang. Diangkat Anggie kakinya tanpa aba-aba. Dia bermaksud menginjak kaki Relly lagi dengan ujung haknya yang runcing.
“Aku tidak akan terjebak di lubang yang sama, untuk kedua kali!” tegas Relly masih membuat kepala Anggie mendongak. Dan tidak berdaya. Senyum licik nan puas terbit di bibirnya.
Sebab, kaki Relly sudah terlebih dulu bergerak untuk menghindar. Dia sudah belajar dari pengalaman. Juga, pria itu merasakan kaki Anggie akan membuat gerakan. Jadi, sebelum kakinya sakit dan terluka lagi, sebaiknya dia menghindar.
“Sial!” umpat Anggie kala usahanya tidak berhasil. Dadanya sudah berdegub, jantungnya berdetak dengan kencang. Jika sampai Zayn melihat hal ini, kekasihnya itu pasti akan cemburu dan curiga.
Tidak bisa! Tapi… bagaimana dia bisa melepaskan diri dari Relly? Kenapa pula orang yang biasanya bodoh, sekarang jadi begitu cerdik? Heh!
Tap! Tap! Tap!
Suara tapak kaki makin terdengar jelas. Anggie makin panik sekarang. “Lepas!”
“Tidak akan! Sebelum kau melunasi janjimu!” tegas Relly di belakang.
“Errgh… baiklah!” Mata Anggie terpejam, ketika memutuskan hal ini dengan terpaksa. “Tapi tidak sekarang! Aku tidak ingin membuat Zayn marah dan curiga terhadap kita.”
“Aku tidak masalah!” jawab Relly santai.
“Err… kau!” geram wanita itu setegah mati.
“Baiklah, aku akan melepaskanmu! Ingat, kau masih berhutang janji padaku!” Relly memperingati Anggie, sambil melepaskan kuncian tangannya terhadap wanita itu.
Anggie lantas mengibas tangannya yang terasa nyeri. Dan mendapati, jika Relly, meninggalkan bekas merah di pergelangan tangannya. Atas tindakan semena-mena yang baru saja dia lakukan.
Sshss… lumayan sakit juga!
“Anggie!” seruan yang ditunggu-tunggu datang. Namun hal itu bukannya membuat dia senang, namun malah membuat Anggie panik.
Wanita seksi itu segera berbalik. Sambil menyembunyikan gugupnya, Anggie menurunkan tangannya ke samping. Agar Zayn tidak melihat apapun yang mencurigakan darinya.
“Akhirnya kau pulang!” Anggie segera menghambur ke arah kekasihnya itu. Lalu merangkul tangannya seperti biasa. Dengan manja.
Matanya mengedarkan pandangan. Mencari keberadaan Relly. Namun pria itu sudah tidak ada di sana.
Heh! Dia itu sebenarnya manusia atau hantu, sih?! Tapi untunglah, dia jadi tidak perlu mengkhawatirkan Relly bertingkah macam-macam di depan kekasihnya.
“Kau baru pulang?” Nyatanya pria yang baru saja ia pikirkan, mendadak muncul di belakang mereka berdua. Bahkan ikut bergabung dengan merangkul bahu Zayn.
“Tsk!” Anggie berdecak kesal. Apa yang ingin dia lakukan?!
“Ya!” jawab Zayn singkat, di wajah yang ia buat setenang mungkin.
Sebab, bahunya yang lecet oleh wanita mengerikan itu, mendapat tekanan dari rangkulan tangan Relly. Oleh sebab itu, sakitnya jadi makin terasa. Namun dia tahu, bahwa dia tidak bisa menunjukkan ringis sakitnya pada siapa pun.
“Oh, ya! Sebaiknya kau segera menemui Tuan Ben. Dia menunggu laporanmu!” Relly mengatakan hal itu dengan riang. Sebagaimana dirinya yang seperti biasa.
Zayn tidak boleh mencurigainya. Relly berpikir, jika wanita maskulin itu pasti belum tahu, jika mereka sudah menemukan beberapa bukti.
“Oke!” sahut Zayn dengan alis terangkat. Seakan dia tidak keberatan sama sekali. Padahal sebenarnya, hatinya berdebar setiap kali berhadapan dengan bosnya yang menyeramkan itu. Terlebih, setelah pengkhianatan yang telah dia lakukan.
Rasanya menjadi berat, setiap kali ia mengangkat kepala dan ingin menatap pemimpinnya itu. Padahal sejak dulu, mereka sudah bersama, seperti saudara.
Tapi Zayn tak peduli. Ia sudah tidak bisa mundur lagi sekarang! Zayn sudah tidak mau tahu lagi, jika nanti persaudaraannya mesti rusak dan hancur.
“Baiklah, aku duluan!” Ditarik tangan Relly dari rangkulan itu. Namun sebelum benar-benar beranjak dari sana. Tangannya itu, mampir di pinggang Anggie yang aduhai. Bahkan Relly sempat meremasnya dengan kurang ajar.
Anggie sempat terbelalak kaget. Ingin sekali dia memaki orang itu. Namun Relly sudah berjalan cepat mendahului mereka berdua.
‘Dasar sialan! Awas saja kau!’ maki Anggie dalam hati.
Sungguh pun, ia tidak bisa membuat gerakan yang mencurigakan sama sekali. Sebab, sepertinya, Zayn tidak mengetahui, tidak menyadari hal ini sama sekali.
Bersambung…