Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Mencari Rose dan Berly



Daniel telah berlari ke sana kemari. Menyusuri sekitar resort dengan langkah-langkah cepat. Dan hasilnya, masih, nihil.


Maka hanya tinggal satu, tempat di resort itu, yang belum Daniel datangi. Yaitu, kamar Rose dan Berly sendiri. Daniel masih ingat nomor kamar dan letaknya, ketika ia mengantar Berly, waktu itu.


Semoga saja, mereka berdua, masih ada di sana.


Tok~! Tok~! Tok~!


Begitu sampai di hadapan, sepasang pintu kayu berukir itu, Daniel langsung mengetuknya dengan tidak sabar.


Berulang kali, ia melakukannya, namun, masih juga, tak mendapatkan jawaban. Pria itu hampir putus asa, karena hal ini.


Dilipat Daniel, tangan yang tadi mengetuk, lalu menempelkannya pada pintu, kemudian keningnya bersandar di sana. Menopang kepalanya, yang sedang berpikir keras.


Ke mana mereka semua pergi?


Untuk terakhir kalinya. Daniel mengetuk pintu berukir itu dengan keras. Mungkin saja, mereka berdua tengah mandi di dalam sana, jadi tidak mendengar ketukan pintunya ini.


Tok~! Tok~! Tok~!


Ia mengetuk lagi. Namun kali ini, hanya dengan memundurkan sedikit kepalanya saja.


“Apa yang kau lakukan di sini?” Daniel begitu kaget, karena mendengar suara dari samping. Bukan dari arah dalam. Bahkan, itu adalah suara seorang lelaki.


Pria itu pun segera menoleh. Didapatinya, sosok yang selalu berada di sisi Rose maupun Berly. Tapi Daniel belum mengetahui siapa namanya.


“Di mana Rose dan Berly?” tanyanya langsung.


Daripada penasaran dengan siapa nama pria tersebut. Lebih baik ia menanyakan keberadaan, dua orang yang sedang dicarinya.


“Untuk apa aku memberitahumu?” tanya pria itu balik, dengan nada yang tidak ramah sama sekali.


Ya! Pria itu adalah Baz. Sosok yang selalu begitu peduli dan selalu menjaga Rose dan Berly.


Melihat bekas memar di wajah Rose kemarin, membuat Baz tidak ingin, Rose berhubungan dengan Daniel lagi. Yang otomatis, akan bersangkutan dengan wanita bernama Della itu. Kemudian, mereka akan berselisih lagi.


Della adalah wanita yang kejam dan licik. Sungguh pun, Baz tidak mau terjadi apa-apa lagi pada Rose, ataupun Berly nantinya.


Dan inginnya, Rose mulai menjaga jarak dengan pria di hadapannya ini. Meski, sebenarnya, dia adalah sosok yang mereka cari-cari.


Akan tetapi, segala berbeda sekarang. Dia adalah Daniel, sesuai dengan bagaimana dia memperkenalkan dirinya. Dia bukan Benny Callary, seperti yang mereka kenal.


Walau, alasan di belakangnya, mereka belum mengetahui.


“Aku tanya, di mana Rose dan Berly?” Daniel menegaskan pertanyaannya sekali lagi.


Nampak, pria itu mulai hilang kesabaran. Ia menunggu bukan hanya sekarang, tapi sudah sejak beberapa saat yang lalu. Dan lagi, ia pun sudah mencari mereka berdua dari tadi.


Dapat dilihat juga, kening mengkilap itu, sudah mengeluarkan bulir-bulir peluh, hasil usaha Daniel mencari keduanya.


Resah. Gelisah. Takut. Khawatir. Panik. Hal itulah yang mendorong kesabaran pria itu, semakin menjauh. Mereka diburu waktu saat ini. Dikejar bahaya, yang tidak tahu, kapan dan bagaimana akan terjadi.


Tapi Baz, malah melakukan tindakan defensif, seperti ia enggan memberitahukan jawabannya kepada Daniel. Seolah, lelaki itu sengaja menyembunyikan ibu dan anak itu darinya.


Dilipat tangan Baz di depan dada, seraya memandang Daniel dengan tatapan berani.


“Sebaiknya, kau menjauh dari Rose dan Berly! Urus saja, wanita, yang menjadi tunanganmu itu!” Baz memperingatinya, juga melalui tatapan yang menusuk.


“Kemarin dia menampar Rose. Tidak tahu, apa yang akan dilakukannya, nanti!” sambung pria itu.


“Justru itu, di mana Rose dan Berly? Mereka dalam bahaya, saat ini!” erang Daniel bersama ketidak sabarannya.


Walau, ia jadi diingatkan, perihal Rose yang ditampar oleh Della. Ia bahkan belum menanyakan hal ini kepadanya. Bagaimana keadaannya sekarang?


Juga, belum meminta maaf atas kejadian ini. Nanti, Daniel pasti akan meminta maaf pada Rose. Tentang kejadian kemarin, juga dengan apa yang akan terjadi.


Dan entah apa itu! ia bahkan belum tahu, hal apa yang sudah Della rencanakan untuk ibu dan anak itu.


“Apa maksudmu?” Baz terbelalak kaget mendengar hal ini.


“Aku bisa menjelaskannya nanti. Katakan dulu, di mana mereka berada, sekarang?” Daniel berusaha keras untuk menekan kesabarannya.


Bisa saja, ia sudah memukul pria di hadapannya ini. Lantaran rasa sabarnya, sudah di ambang limit, dan hanya tinggal terkumpul di ujung kepalan tangan.


Nampaknya, sosok Benny Callary sudah mulai, menguasai sebagian besar diri Daniel.


Lampu peringatan, segera menyala di atas kepala Baz. Ia lantas memulai langkahnya dengan terburu-buru. Begitu pun, dengan Daniel yang segera menyusul di sampingnya.


“Apa yang terjadi?” tanya Baz sambil berjalan cepat.


“Aku baru saja, memergoki Della. Dia memerintahkan seseorang, untuk menghabisi Rose dan Berly,” jawab Daniel sambil mengimbangi langkah cepat, pria di sebelahnya.


Tap~! Brugh~!


Baz auto mengerem, lantas menarik kerah jas Daniel, lalu memojokannya ke sebuah tiang di lorong resort, yang terbuka.


Terbakar emosi Baz mendengar hal ini, makanya, ia menghantamkan punggung Daniel dengan begitu keras, pada tiang penyangga itu.


“Jika, sampai terjadi sesuatu pada mereka. Aku tidak akan, membiarkan kalian begitu saja. Akan ku pastikan, kalian membayarnya. Terutama, KAU!” Tidak hanya menarik, ia juga setengah mencekik Daniel dengan cengkeraman pada kerah jas, yang begitu erat dan kuat.


Bugh~!


Daniel pun menyerang balik. Sekarang giliran dia yang mencengkeram kerah jaket yang Baz kenakan. Pun, membanting tubuh pria itu pada tiang yang lainnya. Lantas mengunci tubuh itu, dengan menekan lengannya di dada Baz, dekat lehernya.


“Tidak perlu kau, yang turun tangan! Aku bahkan bisa membalasnya, dengan tanganku sendiri!” Gigi Daniel bergemerutuk, membayangkan, kemarahannya, terhadap Della.


Wanita itu! Benar-benar telah, membakar setiap kesabaran yang sudah ia pertahankan, selama beberapa waktu. Untuk dirinya.


“Apa maksud ucapanmu? Heh! Bukannya, dia adalah tunanganmu?” cibir Baz. Tidak semudah itu, ia bisa percaya terhadap apa yang Daniel ucapkan padanya.


Lalu, Daniel mengingat, bahwa tidak sepantasnya, ia melampiaskan amarahnya ini, pada pria di hadapannya. Lagipula, ada situasi genting lain, yang mesti mereka hadapi.


Dilepaskan Daniel lengan yang mengunci tubuh Baz. Lantas pria itu membuang pandangan, sebentar. Kemudian, memulai langkahnya yang tergesa, lagi.


Baz yang penasaran pun, lalu menyusul seraya membenarkan jaketnya, yang menjadi, sedikit kusut. Pandangan penuh luka dan kebingungan, yang Daniel pancarkan, membuat pria itu ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi.


“Aku bukan tunangannya! Entahlah, siapa aku baginya?! Mungkin, aku hanya sebuah permainan untuknya!” Desah berat terdengar dari mulut itu. Namun, tak menghentikan langkah cepatnya.


Baz meliriknya dari samping. Ingin memberikan tanggapan, tapi, tak terasa, mereka sekarang, sudah berada di halaman parkir.


“Pakai mobilku saja!” ucapnya mengambil inisiatif.


Daniel, hanya menaikkan kedua alis, sebagai jawaban. Tidak masalah dengan mobil siapa mereka berangkat. Yang penting, mereka bisa, segera, menemukan keberadaan Rose dan Berly.


“Ke mana kita akan pergi?” tanya Daniel kemudian, seraya membuka pintu penumpang, di bagian depan, di samping kemudi.


“Ke pusat souvenir! Tadi aku mengantar mereka ke sana. Rose dan Berly ingin membeli oleh-oleh, untuk teman-teman mereka,” jawab Baz sembari masuk ke dalam mobil. Lalu menduduk di belakang kemudi.


Mobil berwarna silver itu pun melaju, meninggalkan jejak ban di area parkir tersebut.


Saat di perjalanan, Baz memberanikan diri, untuk bertanya. Setelah melirik beberapa kali, pada lelaki di sampingnya.


Dulu, dia mengenalnya. Namun, sekarang masih terasa agak asing. Apalagi, dengan penampilan serta gaya, yang berbeda.


Kalimat terakhir yang Daniel ucapkan, masih terngiang dan membuat pria itu, tak berhenti penasaran.


“Tentang ucapanmu tadi…,” Baz buka suara dengan meragu dan sedikit canggung. “Apa maksudnya? Apa yang terjadi dengan kalian?”


Tentu saja, pertanyaan Baz merujuk tentang hubungan Daniel dan Della, yang nampaknya, sedang tidak baik-baik saja. Meskipun begitu, ia berusaha, bertanya, dengan hati-hati.


“Wanita itu, selama ini, telah menipuku!” jawab Daniel tanpa menoleh, kepada yang bertanya.


Baz kembali ingin bertanya, namun sepertinya, Daniel sendiri pun akan meneruskan jawabannya itu. Maka, ia lebih memilih untuk fokus menyetir sambil mendengarkan.


“Empat tahun lalu…, aku sadar dari koma yang begitu panjang, selama setahun. Aku pun tahu dari Della, jika, aku sudah, koma selama itu.”


Pembukaan ini, menurut Baz, cukup masuk dengan kejadian nahas yang terjadi, sehingga menyebabkan Ben menghilang.


“Wanita itu, mengatakan jika, aku adalah tunangannya yang bernama Daniel Ernesto. Dan, aku mempercayainya begitu saja, karena saat itu, aku tidak mengingat apapun.”


Sekarang, rasanya, begitu berat, untuk Daniel menyebutkan nama Della. Terlalu banyak rasa sakit hati, marah, kecewa dan benci, yang ia rasakan, terhadap sosok itu.


Menggunakan kata ‘wanita itu’ adalah, cara yang paling mudah dan ringan, bagi mulutnya, untuk mau menceritakan semua hal yang ia tahu.


“Singkat cerita, aku menjalankan peran sebagai tunangan dari wanita itu. Akan tetapi, makin lama makin terasa ganjal bagiku, karena di sana, aku tidak mengenal siapa-siapa, selain wanita itu dan orang-orangnya.”


“Kecurigaanku pun terbukti, setelah aku mencari tahu, secara diam-diam.” Daniel menghela napas sebentar, dengan beratnya.


“Aku bukan Daniel Ernesto,” sambung Daniel kemudian.


“Lalu, kau siapa?” pancing Baz dengan pertanyaannya.


Siapa tahu, apabila lelaki itu, sudah mengingat apapun. Atau malah, belum mengingat apa-apa.


“Benny Callary!”


Mata Baz melebar, kemudian, ia pun melirik ke arah lelaki itu. Apakah dia sudah mengingatnya?


“Tadi, kami bertengkar hebat karena aku memergokinya, yang merencanakan sesuatu terhadap Rose dan Berly.”


Dada Baz kembali gemetar, mendengar hal ini. Amarah yang tadi berkurang, sekarang kembali dengan kuantiti yang sama. Malah semakin, lebih besar, setelah mengingat, mereka telah mengulur lebih banyak waktu, dengan berdebat.


“Tanpa sengaja, dia menyebutkan nama itu. Kau tahu, siapa itu…, Benny Callary?” Daniel pun sengaja melirik pria yang sedang mengemudi. Ingin melihat, bagaimana reaksinya.


Meski Baz, tetap mempertahankan wajahnya yang tenang. Namun tangan itu, meremat kemudi dengan sangat kuat. Bersama gejolak emosi dan perasaan di dalam dada.


Apabila, sampai pria itu mengingat siapa dirinya, yang sebenarnya. Maka, pupus sudah, harapannya, untuk menggapai cinta dan hati Rose.


Akan tetapi, di sisi lain, ia pun, ingin wanita yang selalu dicintainya, hidup bahagia. Dan semua orang tahu, dengan siapa kebahagiaan Rose berada.


***


“Kita berpencar sekarang!”


Begitu sampai, pada halaman parkir toko souvenir tersebut, kedua lelaki itu, langsung berpisah arah.


Daniel sudah memberitahukan, ciri-ciri pria asing yang tadi diperintahkan oleh Della, untuk menghabisi Rose dan Berly. Baz pun merekam hal itu baik-baik, di dalam memori.


Agar, pencarian mereka lebih efisien dan tidak memakan waktu, maka, keduanya memilih cara ini. Supaya tidak satu pun, dari ibu dan anak itu, yang terluka. Atau pun masuk, dalam situasi bahaya.


Semoga saja! Mereka harap, orang yang Della suruh, belum menjalankan rencananya.


Hari ini, kebetulan sekali, pusat souvenir itu, sedang ramai pengunjung. Jadi, akan lebih sulit mencari Rose dan Berly di keramaian.


Akan tetapi, sulit juga, untuk para penjahat itu, untuk menjalankan rencananya.


Daniel dan Baz sudah memutari tempat tersebut, dan masih belum menemukan, kedua sosok itu. Dua pria itu pun, bertemu lagi di halaman parkir, di depan mobil yang Baz bawa.


“Aku tidak menemukan mereka!”


“Aku juga!”


Baik, Baz juga Daniel, sama-sama melaporkan, dengan napas terengah. Mereka diburu waktu dan kesempatan. Tidak berhenti bergerak untuk mencari, sejak tadi.


Rasanya, kaki mereka bahkan, tidak mau diam, sebelum mereka dapat menemukan ibu dan anak itu.


“Kita cari kemana lagi?” tanya Baz. Mencoba berdiksusi.


“Kau sudah menghubungi Rose?” Daniel balik bertanya.


“Ah…, kenapa aku sampai tidak melakukannya?!” Sepertinya, mereka semua, terlampau panik. Jadi, sampai tidak terpikirkan hal sepele seperti ini.


“Aku akan mengecek keberadaannya melalui sinyal GPS!” lanjut Baz seraya menghidupkan layar ponsel. Sambil menetralisir napasnya yang masih pendek-pendek.


“Dapat!” Sekarang dia berseru dengan begitu antusias.


Hal itu pun menular pada wajah Daniel yang menanti.


Dan jaraknya dari tempat mereka berada saat ini, tidak begitu jauh. Mungkin, hanya memerlukan waktu, beberapa menit saja, dengan berjalan kaki.


“Hi-lang??” Pupil mata Baz lantas membesar dengan kenyataan mendadak ini. Titik yang bergerak, pada layar gawainya, mendadak lenyap.


“Apa?” Efek domino tetap berlanjut. Daniel pun ikut membelalakkan mata, sambil menyaksikan, hal itu terjadi.


Daniel mengambil napas dalam, seraya memejamkan mata. Ia pun mengatur asupan oksigen yang masuk, agar merasa lebih tenang. Dan dapat berpikir, dengan benar.


“Ayo, kita bergerak ke tempat, sebelum titik itu menghilang, tadi.” Daniel pun memberikan idenya. Lalu disambut dengan sebuah anggukkan, dari Baz.


Sambil bergerak dengan cepat, keduanya mulai berspekulasi, jika mungkin saja, Rose dan Berly, langsung dieksekusi, begitu mereka sampai.


Karena memang, jarak antara resort dan pusat souvenir tidak jauh. Jadi dalam spare waktu ini, rasanya, tidak mungkin, apabila mereka tidak dapat menemukan ibu dan anak itu, di dalam toko souvenir.


Sedangkan, begitu Baz sampai di resort, tak lama, mereka langsung kembali lagi ke sana.


Bagaimana pun juga kemungkinannya, mereka tetap harus menemukan Rose dan Berly, dengan cepat.


Jangan sampai, sudah lebih dulu, terjadi sesuatu yang buruk, terhadap mereka berdua.


Dan, baik Baz maupun Daniel, akan merasa sangat bersalah karena hal ini.


Terutama Daniel, karena penyebab rencana jahat Della terjadi, adalah dirinya. Akibat Della, yang begitu ketakutan, dirinya akan pergi dari wanita itu.


Bersambung…