Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Manis sekali!



Victor sudah selesai memberikan sambutan untuk para tamu yang datang. Tepuk tangan yang meriah pun menyambutnya ketika Victor turun dari sana. Berjalan pria itu ke arah istri dan putranya.


Begitu mencapai Bella, Victor segera merangkul istrinya itu dan memberikan sebuah kecupan di dahi. Bervan pun tak ketinggalan. Bocah itu langsung ia gendong. Mereka lalu tersenyum bahagia bersama.


“Selamat, Kakak!” Sebuah suara langsung melunturkan senyum di bibir Victor dan Bella, terutama Bervan.


Ketiganya segera menoleh dan menatap ke arah yang sama. Mereka berpaling ke arah sumber suara.


Mirabel datang dengan senyum ramah sambil mengulurkan tangan. Di tangan lainnya terdapat minuman yang tadi ia tukar dengan milik Ben. Dan yang jelas, tidak ada yang tahu selain dirinya.


“Selamat untuk ulang tahun kelima tempat ini! Juga untuk kesembuhan Kakak! Dan ahh… selamat juga untuk pernikahan Kakak. Ngomong-ngomong aku belum mengucapkannya,” seru Mirabel.


Sesekali ia mengalihkan pandangannya pada Bella dan versi kecil dari pria yang ia ajak bicara. Mirabel tak mengendurkan senyum palsunya sama sekali. Dan malah makin lebar, dan makin nampak tidak tulus di mata Victor.


“Ya, terima kasih!” jawab Victor sekenanya.


Demi acara ini, acara yang baru saja dimulai, pria itu mau menjawab ucapan Mirabel. Walaupun sebenarnya ia tidak sudi dipanggil ‘kakak’ oleh wanita ular itu.


Ia tidak sudi, tidak rela! Tidak ada yang pantas memanggilnya kakak selain adik kandungnya sendiri, yaitu Rose.


Apalagi Mirabel, bagian dari komplotan yang sudah membuat hidup adiknya menderita kala itu. Dan selalu tertangkap intrik di mata wanita itu, oleh sepasang tatapan tajam Victor.


“Ayo!” ajaknya kemudian pada Bella. Mereka bertiga lantas berlalu dari sana begitu saja. Tanpa memedulikan kehadiran Mirabel di sana. Juga uluran tangan yang masih menggantung di udara. Dan diacuhkan.


“Heh…!” Mirabel mendengus seraya tersenyum sinis pada mereka yang meninggalakan dan mengacuhkannya. Lantas ia menarik uluran tangannya itu dengan kesal.


Sombong sekali!


Maka, wanita itu pun memutuskan untuk kembali bergabung dengan ibunya yang nampak seorang diri.


Victor, Bella serta Bervan yang berada di gendongan ayahnya lantas bergabung dengan Rose dan Ben, yang kebetulan memang sedang berjalan ke arah mereka bertiga.


Ketiganya, lalu berkumpul pada satu spot. Kelompok Baz, Eric dan Tuan Benneth pun ikut bergabung. Meski harus merasakan kecanggungan yang belum usai.


Ketika pria membicarakan urusan bisnis dan yang lainnya. Rose dan Bella, juga Bervan sibuk mencicipi hidangan-hidangan kecil yang sudah disiapkan di atas buffet di dekat mereka.


“Kau cantik sekali, Rose! Aku belum sempat memujimu, karena kita berangkat terburu-buru, tadi!” puji Bella seraya menggenggam tangan iparnya itu. Bella nampak antusias, selalu mungkin, dengan kesan dari penampilan Rose yang berbeda-beda.


“Kau adalah bintangnya malam ini! Tentu saja kau yang paling cantik di antara kami, Bella!” balas Rose cepat. Digoyangkannya pegangan tangan Bella pada tangannya, sebagai tanda bahwa ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya barusan.


Benar memang, jika Bella pun sangat cantik malam ini. Gaun putih panjang yang menjuntai, model sabrina pada lengannya, ditambah beberapa kerlipan kristal di bagian depan gaun itu, melengkapi tatanan rambut Bella yang disanggul ke atas. Sebuah jepit rambut kristal pun bertahta di atas sanggulan rambut itu.


Keduanya nampak cantik dengan kesan berbeda. Hanya saja, Bella bertanya-tanya melalui tatapannya. Ada apa dengan jas yang bertengger di bahu Rose itu?


“Ahh… ini jas milik Ben! Katanya, pakaianku terlalu terbuka!” bisik Rose sambil menggelengkan kepala. Ia mencondongkan tubuhnya agar dapat berbicara dengan jelas tanpa harus berbicara keras. Tidak mau jika tuan seramnya itu mendengar ucapannya.


“Oohhh…!”


Ketika Bella menyahuti dengan ber’oh ria, Ben tetap merasa jika kedua wanita itu tengah membicarakannya. Maka dia pun menoleh dengan tatapan tajam yang menelisik dan mengusik.


Pria bertopi koboi itu ingin menilai, apakah ada yang terprovokasi dengan tatapannya. Jika ada, maka benar dua wanita itu sedang membicarakannya.


Walaupun Ben menangkap hal tersebut, pria itu tetap menoleh ke depan lagi dengan sikap tak acuh. Sepertinya bukan pembicaraan yang penting!


Rose dan Bella tentu memperhatikan hal itu. Keduanya lantas berpandangan dengan senyum tak berdaya.


“Lelaki, memang selalu seperti itu! Kakakmu pun begitu! Tidak boleh yang ini, tidak boleh yang itu, sampai aku mengatakan untuk membungkusku dengan satu gulungan kain saja. Jadi rapat sekali, kan, hanya wajahku saja yang terlihat?!” cerita Bella dengan wajah kesal, saat mengingat kejadian di butik tadi.


“Ternyata mereka sama saja, ya!” Rose terkekeh geli. Kakak iparnya itu jujur sekali dengan ekspresi kesalnya.


Jika sampai Ben seperti itu pun, mungkin dia akan mengatakan hal yang sama!


Di saat dua wanita dewasa tengah asyik dengan pembicaraan mereka, Bervan pun asyik dengan makanannya sendiri. Ia terlalu antusias dengan acara ini. Sehingga anak kecil itu tidak melulu minta ditemani.


Netra abu yang menurun dari genetic Victor tengah menjelejah ke sekitar tempat acara itu berlangsung. Ada kolam renang di luar ruangan, juga sebuah meja dengan kambing guling di dekatnya.


Kambing muda yang siap disantap itu tengah berputar pelan pada sebuah stik panjang. Dan hal itu membuat Bervan menjadi penasaran.


“Aku temani!” ujar Rose menyusul langkah kaki Bella yang cepat. Dan iparnya itu pun menggangguk dengan sebuah senyuman. Begini lebih baik!


Terlalu banyak orang saat ini. Dan hampir semua yang ada di sana, baik tamu ataupun karyawan yang bekerja melayani tamu, mereka tidak ada yang mengenalnya sama sekali.


Maka dari itu, Bella dan Rose merasa khawatir. Mungkin anak kecil itu yang membuat masalah, atau seseorang yang membuat masalah dengannya.


Dug~!


Bola mata Rose terlalu konsentrasi, mengunci gerak Bervan di depan sana, tanpa ia memerhatikan sekitar. Sehingga, tanpa sengaja ia menabrak bahu seseorang.


“Akh… maaf!” pekik Rose sedikit terkejut. Namun buru-buru dia meminta maaf atas kesalahannya. Lantas ia menoleh pada orang yang ia tabrak.


Sesosok cantik, elegan, menawan, rupawan dan yang jelas… berkelas, Rose dapati di iris mata abunya. Rose langsung terpana akan keagungan yang terasa menguar pada diri wanita yang ditabraknya.


Dia tidak menjawab dengan suara. Namun hanya dengan anggukkan dan senyumnya saja, Rose yakin jika suara wanita itu pasti akan sangat merdu ketika didengar.


“Anda tidak apa-apa, Nona?” tanya Rose tulus dan khawatir. Sungguh, ia benar-benar tidak enak hati padanya.


“Ya!” Satu jawaban singkat dan sesuai dengan dugaannya. Suaranya luar biasa indah, menurut Rose! Bahkan mungkin, kicauan burung di pagi hari pun kalah oleh suara wanita itu.


“Hm… syukurlah! Kalau begitu saya permisi dulu!” angguk Rose berpamitan. Wanita berambut pirang itu lalu mengejar jarak yang sudah tertinggal jauh.


“Nona-“ seruan Emilio tertahan kala Della mengangkat tangannya.


“Aku tidak apa-apa!” potong wanita itu sambil memerhatikan ke arah perginya Rose.


Benar! Wanita yang ditabrak oleh Rose adalah Della Moran August.


Wanita dengan senyum mematikan di bibirnya itu sebenarnya sedang berjalan menuju kamar yang sudah ia pesan khusus untuk menghabiskan malamnya dengan seseorang yang sudah ia incar tentunya, Ben.


Namun jalannya jadi agak tersendat karena Rose menabraknya barusan. Meski tanpa sengaja. Dan Emilio yang biasanya menyingkirkan lalat-lalat pengganggu jalan nonanya. Maka dari itu, barusan dia berniat memberi pelajaran kepada Rose.


Mereka berkuasa, tidak ada yang mereka takutkan sama sekali di dunia ini. Jadi mereka bisa melakukan hal apapun sesuka hati, di mana pun mereka berada. Kekuasaan dapat menaklukkan segalanya.


“Manis sekali! Seleranya… lumayan!” Sambil berkomentar, Della menaikkan sebelah alisnya. Wanita yang Ben pilih, menurutnya lumayan juga.


Sangat baik jika pria itu memiliki selera yang bagus! Jadi dia merasa benar, karena sudah memilihnya.


“Ayo!” ajaknya pada Emilio.


Pengawal pribadinya tak menjawab, namun mengangguk kemudian mengikutinya dari belakang.


“Heh!” Sebelah sudut bibirnya terangkat naik. Tersenyum licik kala melihat gelagat Ben yang sudah mulai tak nyaman dengan kondisi tubuhnya.


Oh, sungguh! Della sudah sangat menantikannya!


Tapi wanita itu tidak mau buru-buru. Semuanya harus berjalan sesuai rencana. Agar dampaknya lebih dramatis dan menegangkan. Karena ia memiliki hadiah untuk semua orang.


Della pun berlalu bersama dengan Emilio yang selalu setia di sisinya. Meninggalkan jejak tatapan penuh ambisi dan gairah di tengah pesta.


Ada pun Mirabel, wanita itu juga sedang menantikan reaksi obat yang ia berikan. Apalagi Rose sedang pergi menjauh. Maka, peluang yang ia miliki pun semakin besar.


“Jika Rose mencariku, katakan aku ke toilet sebentar!” pamit Ben pada para pria yang tengah berbincang dengannya.


“Sekarang!” gumam Mirabel dengan bersemangat. Tubuhnya mulai terasa gerah, karena ia sempat mencicip sedikit minuman yang sudah terkontaminasi itu.


Mirabel lalu bergegas menyusul langkah Ben yang panjang dan cepat. Ia harus mendapatkannya!


Bersambung…


Aku mah deg-degan ih,, Mirabel apa Della???


Ayo, Rose balik kanan! Tuan seram dalam bahaya nih,,,