Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Janji Rose



Dor!


“Tuan!” Relly menjerit ketakutan sambil memeluk tubuhnya sendiri.


‘Ck! Dasar bodoh!’ Bibir Ben mencibir pada bawahannya yang entah mengapa bisa ia jadikan orang kepercayaannya itu.


Ditatap kaca jendelanya yang berlubang. Juga bekas timah panas yang sedang menggelinding di dekat kakinya.


“Ampun, Tuan! Aku tidak bersalah!” Relly masih meringkuk di belakang sofa.


“Bukan aku yang menembak, bodoh!”


Relly segera berdiri tegak, namun bosnya itu sudah tak berada di sana. Ruangan itu sekarang kosong dan hanya menyisakan dirinya seorang.


“Ha!” Ditutup mulutnya karena terkejut melihat lubang menganga di jendela kaca.


Hey! Ini ruangan bosnya. Siapa yang begitu berani?! Dan lagi… di markasnya sendiri! Ya, ampun! Darah Relly rasanya sekarang mendidih oleh amarah. Entah siapa pun itu, dia sudah sangat berani!


Pria itu pun segera bergegas menyusul bosnya, yang ia yakini sudah melesat terlebih dahulu. Pasti bosnya itu sedang memburu pelakunya. Anak buah yang dilewatinya pun sampai kebingungan melihat bos besar mereka yang


berjalan dengan terburu-buru.


Ben memang ingin segera memburu pelakunya, tapi benaknya langsung mengarahkan kakinya yang gagah menuju kamar Rose.


Jika ruangan pribadinya saja bisa ditembus oleh timah panas, maka bisa jadi sama halnya dengan ruangan yang Rose tempati. Maka dari itu, ia harus menyelamatkan kekasihnya itu terlebih dahulu.


Brak!


“Rose!”


Suara Ben yang khawatir, bersatu dengan dentuman keras pintu kamar Rose yang ia buka dengan keras.


Pria bertopi koboi itu segera menarik napasnya, menahannya ditenggorokan dan dia kesusahan untuk mengeluarkannya kembali. Bibirnya mengatup rapat karena hal ini.


“Ben! Apa yang kau lakukan?!” Teriakan Rose langsung menggema dan memekakkan telinga.


Ternyata Rose baru saja selesai mandi dan saat ini sedang memakai pakaian dalamnya. Kaca mata indah di bagian dada sedang ia kenakan ketika Ben masuk. Beruntunglah saat itu posisi Rose sedang membelakanginya. Dan bagian pinggang ke bawah masih aman, karena handuk masih melilit di sana. Hanya punggung telanjangnya saja, yang mungkin sudah menjadi santapan mata binal kekasihnya itu.


‘Ck!’ Rose pun merutuki dirinya sendiri dalam hati.


“Berbalik!”


Ben segera memutar tubuhnya dengan kaku ketika mendapat perintah tegas itu. Perintah dari Rose yang tak bergerak dan tetap membelakanginya.


“Kau, kan, bisa mengetuk pintu lebih dulu, Ben!” omel Rose sambil terus memakai seperangkat pakaiannya.


“Kalau begitu, kau tunggu di sini! Jangan keluar, walau satu langkah kaki pun!” Pria itu segera merubah warna mukanya menjadi serius. Kesadarannya pulih dengan cepat setelah mengingat ada hal darurat yang mesti ia selesaikan di luar.


Ben pikir ia tak bisa menunggu lagi. Sebaiknya ia cepat bergegas sebelum orang itu menghilang.


“Tapi ada apa?” Rose sudah memakai pakaian atasnya, dengan handuk yang masih melingkar di pinggang. Dia berbalik karena terlanjur penasaran.


“Nanti akan aku jelaskan!” Ben yang sudah memutar kenop pintu pun berhenti dan menoleh sebentar. “Ingat pesanku, jangan keluar, jangan pergi kemana-mana! Mengerti?!”


“Ya, baiklah!”


Tapi sepertinya Ben tidak mendengar jawabannya, karena pria itu sudah benar-benar keluar pintu ketika dia berucap.


Rose terdiam, dia mematung di tempatnya sambil memikirkan kemungkinan apa yang terjadi. Namun setelah beberapa saat, tak jua ia menemukannya. Rose jadi kebingungan sendiri.


‘Sebenarnya ada apa?’ Bisakah dia menemukan jawabannya. Wajah Ben kelewat serius ketika meninggalkan kamarnya tadi. Tidak seperti Ben yang biasanya.


Rose buru-buru memakai pakaian lengkap. Semenjak tinggal di sini, wanita itu tidak lagi mengenakan dress rumahan yang biasa ia pakai di rumah Victor. Sekarang ia lebih sering mengenakan celana sebagai pelengkap


atasannya.


Seperti sekarang, Rose sambar celana jeans panjang dari lemari pakaiannya. Lalu ia kenakan dengan cepat. Rambutnya yang setengah basah ia sisir asal. Yang penting tidak kusut saja, sudah cukup. Kemudian dilempar dengan asal handuk bekas pakainya ke keranjang di pojok kamar.


Ceklek!


Sayangnya, ketika dia membuka pintu, Relly sudah berjaga di sana. Sambil merentangkan kedua tangan, mencoba menghadang Rose untuk maju satu langkah pun. Relly menggelengkan kepalanya dengan wajah sendu.


Tadi, begitu Relly keluar ruangan Ben, bosnya itu juga keluar dari kamar Rose. Asisten itu pun berjalan menghampirinya. Ben kemudian berpesan kepadanya untuk berjaga di depan pintu kamar Rose. Jangan biarkan wanita itu keluar dari kamarnya.


Awalnya Relly menolak karena dia pun ingin menangkap pelaku yang sudah lancang, menurunkan tangannya di tempat ini. Anggaplah ini tempat suci baginya. Relly begitu geram ingin menembak kepala orang itu dengan tangannya sendiri.


Tapi siapa yang bisa menolak titah si raja kejam, begitu juga Relly yang tak bisa menolak perintah yang sudah Ben turunkan itu. Ben pun bersikukuh bahwa ia bisa menangani masalah ini sendirian.


Ben berkata, bahwa ia lebih membutuhkan Relly untuk menjaga Rose. Karena kekasihnya itu bisa jadi menjadi incaran selanjutnya. Setelah mencoba berpikir dengan akal sehatnya, Relly pun akhirnya mau menuruti perintah bosnya itu… meskipun dengan berat hati.


Sebab Relly masih geram dan ingin menghukum tangan kotor itu secara langsung.


“Ku mohon, Relly!”


“Maaf, Nona!” Pria itu tetap pada pendiriannya. Dia bungkam namun kepalanya tetap bergerak ke kanan dan ke kiri.


Rose bersidekap dada, memasang wajah kesal pada asisten kekasihnya itu. “Kalau begitu, katakan apa yang sebenarnya terjadi?”


Hey! Relly merasa jika makin hari aura nonanya ini makin mirip saja dengan aura bosnya. Padahal baru sebentar Nona Rose tinggal dan berlatih di sini, tapi mengapa begitu cepat pula dia menjadi menyeramkan, sama seperti Tuan Ben?!


“Tapi Nona harus berjanji!” katanya masih sambil merentangkan tangannya.


“Ck! Kenapa harus pakai janji-janji segala, sih?!” Rose menghentakkan kakinya kesal. Dia semakin menusuk Relly dengan tatapannya.


Meskipun pria itu gentar dengan cara Nona Rose memandangnya, tapi dia juga harus menguatkan diri. Relly ingat janjinya pada bosnya untuk menjaga dan melindungi Nona Rose.


Melihat wajah memelas dan memohon Relly, Rose pun akhirnya mau mengalah. Memang  tidak ada cara lain lagi selain menuruti ucapan Relly, jika dia mau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


“Janji apa?” tanyanya kemudian masih dengan nada tidak terima.


“Nona harus berjanji, bahwa setelah Nona mendengar apa pun nanti, Nona harus tetap berada di dalam kamar. Nona harus berjanji tidak akan pergi kemana-mana! Nona harus bejanji akan tetap di sini, dan saya akan berjaga! Nona harus berjanji-“


“Cepat katakan!” Rose memotongnya dengan tidak sabar.


“Ada seseorang yang sengaja menembak ruangan Tuan Ben. Untung saja tidak mengenai Tuan Ben atau pun saya!” Relly terlihat mendesah lega sampai matanya terpejam.


Dan momen itu dimanfaatkan Rose dengan sangat baik. Wanita itu menunduk kemudian meyelinap di bawah tangan Relly yang masih merentang. Dia pun segera berlari menjauh dari sana.


“Jadi Nona harus berjanji-“ Relly membuka matanya dan hanya udara kosong yang ia dapati. Kemudian dia menoleh. “Nonnaaaa!!!”


Bersambung…


Rose kabur ya… hayo, kira-kira siapa ya yang berani macam-macam di markas Harimau Putih?


Makanya, ikutin terus cerita ini ya, manteman


Jangan lupa dukung karya aku ini dengan kasih like, vote sama komentar kalian


Keep strong and healthy semuanya