Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Daniel Ernesto



Di negara P, di sebuah hotel mewah di ibukotanya, seseorang tengah memeriksa beberapa berkas di tangan. Sambil menduduk santai di sofa, ditemani secangkir kopi hitam, juga sepotong strawberry cheese cake di atas meja.


Seorang pria, dengan rambut tersisir rapi ke belakang, mengenakan setelan jas tiga lapis. Jam tangan bulat berwarna silver dengan rantai besi, melingkar di tangan kiri. Memamerkan, bagaimana berkilau dirinya, di sisi lembaran berkas yang sedang di empunya buka dan baca.


Tubuhnya yang kekar, tegap dan berotot, mengisi satu bagian penuh, sofa panjang yang lembut dan empuk. Disilangkan olehnya, salah satu kaki, sehingga memangku, ketika bersandar dengan nyaman pada sandaran sofa tersebut.


Wajahnya belum terlihat, sebab tertutupi oleh berkas ia sedang ia baca saat ini.


Clek~!


Pintu kamar mandi terbuka, lalu, menampilkan seorang wanita dengan gaun merah bata, dengan rambut bergelombang di punggungnya.


Lantas, ia pun berpose bak seorang model di depan pria tersebut.


“Bagaimana penampilanku hari ini?” tanyanya, dengan salah satu tangan di pinggang, meliukkan sedikit pinggul sampai ke kakinya.


Tubuhnya yang tinggi dan proporsional, membuat dirinya bak sebuah manikin hidup dengan tatanan glamour.


Pada leher jenjangnya, melingkar kalung rantai emas, yang cukup tebal. Dan ia hanya memakai anting tindik kecil, juga sebuah cincin yang di jari manis tangan kirinya. Tujuannya, untuk menonjolkan penampakan kalung, yang saat ini, tengah ia kenakan.


“Oke!” Pria yang masih menduduk, membuat simbol dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Dan pada saat itu, sebuah cincin yang sama persis, melingkar pada jari manis pria tersebut.


“Oh, ayolah Daniel! Kau selalu saja begitu!” rengek si wanita yang kemudian merangsek masuk, ke samping pria, yang ia sebutkan namanya. Lantas, ia pun melanjutkan protesnya tersebut, sambil memeluk erat lengan si pria. Juga, agar prianya itu, mau mengalihkan atensinya, dari berkas-berkas yang sedang ia baca. Agar, hanya memerhatikannya saja. “Memangnya, kau tidak punya jawaban lain, hem?”


Pria itu pun menurunkan lembaran kertas bersampul map itu.


Dan… laki-laki itu adalah Ben. Yang saat ini memiliki nama Daniel Ernesto. Serta, wanita yang berada di sisinya saat ini adalah, seorang wanita mengerikan berselimut bulu domba.


Benar! Dia adalah Della Moran August.


Sosok yang licik dan kejamnya bukan main. Namun saat ini, tengah memainkan peran wanita polos, lugu dan manja, di hadapan pria yang sekarang, memiliki status resmi, sebagai tunangannya.


Daniel aka Ben, meletakkan berkas tersebut dan menumpuknya dengan berkas yang lain, di atas meja. Meja kaca, yang merupakan pasangan dari sofa-sofa lembut dan mahal yang mereka duduki, saat ini.


Membiarkan tangan yang merangkul lengannya melonggar dengan sendirinya. Lantas, ia pun menipiskan bibir. Tersenyum kecil, seraya memberikan satu usapan lembut pada pipi Della.


“Aku tahu, kau akan selalu cantik, dengan pakaian apapun!” Pria itu berdiri, sambil mengakhiri belaiannya pada pipi halus dan kenyal itu.


Daniel aka Ben, lalu beranjak dari sana. Mengitari meja di depannya, lalu, berdiri, tepat, di mana Della posisi berdiri Della tadi.


“Kalau begitu, sekarang adalah giliranku mengganti pakaian. Kau sudah sesempurna ini, jadi tidak mungkin, aku mengecewakanmu dengan penampilanku, kan?!” Daniel bersidekap dada, memberikan senyum menawannya untuk menghibur si wanita.


Della, yang tadinya masih cemberut akan protesnya. Pun karena lantas ditinggalkan dari sofa tersebut. Kini menerbitkan senyumnya kembali, setelah mendengar pujian sederhana itu.


Padahal, ia biasanya muak, mendengar kalimat-kalimat membosankan dari pria lain, selama ini. Tapi, dengan pria yang sudah ia rubah identitasnya itu, Della merasa hatinya berbunga-bunga, dengan beberapa pujian ringan saja.


Benar! Dia adalah biang keladi dari semua hal nestapa yang Rose dan juga putrinya, alami.


Kecelakaan maut yang terjadi 4 tahun silam, adalah sesuatu yang sudah ia rencanakan dengan matang.


Puluhan orang ia libatkan untuk menangani segala kemungkinan. Termasuk, dengan tim yang menggunakan kapal selam.


Tidak ada yang menyangka, dengan hal itu, bukan?!


Ia bahkan mempunyai beberapa kapal selam yang lainnya. Tidak… bukan! Sebenarnya, ayahnya yang mempunyai semua hal itu.


Della, hanya menggunakan dan memanfaatkan kekuasaan yang ayahnya itu miliki. Dan ayahnya, tidak pernah melarangnya sama sekali.


Sampai titik kejadian meledaknya mobil Ben terjadi pun, semua anak buahnya sudah bersiap di kegelapan. Di mana Rose dan Ben bahkan tidak menyadarinya.


Puncaknya adalah, ketika Ben jatuh ke laut. Bahkan, tim penyelamnya pun sudah bersiap di bawah sana. Sudah bersiap di titik tersebut dengan segala perkiraannya.


Sementara Della, wanita itu hanya memantau dari jauh, dari negaranya berasal. Sebab, ia sudah menurunkan semua orang yang paling ahli dalam bidangnya.


Jadi, ia cukup percaya diri, jika rencananya itu 100% akan berhasil. Meski konsekuensi yang harus ia dapatkan adalah, pria incarannya itu terluka parah. Dan memang itu pula, yang ia harapkan. Maka, rencana selanjutnya pun, akan berjalan dengan mulus.


Ben jatuh ke laut. Jatuh hingga ke kedalaman beberapa meter, dan sempat membentur batu karang. Namun, depan cepat tim penyelam yang Della kerahkan, segera menemukan dan membawanya. Untuk diserahkan, kepada dirinya.


Kembali ke masa kini,


“Tapi, kau pun sudah tampan, Sayang!” Sekarang Della yang melipat tangannya di depan dada.


Paras itu, memang adalah favoritnya, sejak pertama kali, wanita itu bertemu dengannya. Waktu itu, di bandara, ketika tanpa sengaja ia menabraknya.


Ben memang, punya paras tegas dan garang, yang tidak banyak orang miliki. Sangat cocok dan paling cocok, jika disandingkan dengan dirinya.


“Sudah ku bilang! Aku harus menandingi kesempurnaan milikmu, kan?” Lantas, pria itu masuk ke dalam kamar mandi. Di mana setelan senada, sudah disiapkan.


“Kau…,” Suara Della, menghentikan langkahnya. “…tidak mau mengganti pakaianmu di sini?” Wanita itu bertanya, sembari menggeleng dan memberikan kerlingan menggoda. Ia pun menggigit bibirnya denagan tatapan sensual.


Benar saja, laki-laki itu menghentikan langkahnya. Padahal kenop pintu sudah berhasil ia raih. Daniel pun menolehkan kepalanya dengan perlahan.


Setiap lelaki, jika melihat wanita itu, dengan pose seperti itu, tidak ada yang tidak akan tergoda. Sayangnya ia tidak!


Entah kenapa, nalurinya sebagai lelaki, tidak bangkit sama sekali, meski bagaimanapun Della sering kali menggodanya. Dengan berbagai cara.


Daniel yang belum menyadari jati dirinya itu, bingung dan heran sendiri, mengapa, sampai saat ini, ia tidak memiliki gairah terhadap wanita mana pun yang pernah ia temui. Bahkan pada tunangannya sendiri, Della.


“Tidak! Terima kasih!” sahut Daniel. Dengan senyum santai, namun Della tahu, bahwa ada ketegasan di dalam nada bicaranya.


“Heehh….” Sudut tegak bahunya pun turun karena lemas. Selalu saja, Della mendapatkan penolakan dari pria itu.


Ia lantas mengerucutkan bibir dengan tak berdaya. Berpura-pura protes dan kesal, tapi juga tak bisa melakukan apapun.


Pria yang masih bergeming itu kembali tersenyum seraya menyipitkan mata, dengan tatapan sarat akan penyesalan.


Maaf, ia masih belum bisa mengabulkan permintaan apapun mengenai tunangannya itu.


Clek~!


Pintu itu pun tertutup. Dan meninggalkan Della yang sudah merubah mimik wajahnya, seketika.


Sekarang, ekspresi lembut dan juga kesal-kesal manja yang tadi ia tunjukkan telah sirna. Wajah tegas, seram juga mengerikan, dilengkapi dengan tatapan yang menghunus. Della tampilkan sambil memandang lurus ke depan.


Ck! Sial!


Sebenarnya kapan, ia bisa menikmati tubuh itu?!


Padahal, ia sudah sangat bersabar selama bertahun-tahun ini!


Dengan segala upaya, ia sudah berhasil mendapatkan pria itu. Dan goal-nya adalah tinggal hanya menikmati tubuh padat dan liat itu saja. Yang pasti akan sangat bisa memuaskannya.


Akan tetapi, entah mengapa pula, Della mau dengan sabar menunggu sampai Daniel aka Ben itu mau menerimanya. Sedangkan biasanya, ia tidak akan bisa tahan untuk menunggu dan bersabar.


Della pun begitu, seperti Ben yang sebenarnya, yang dalam keadaan normal sebagai seorang Ben. Della mempunyai limit kesabaran yang sedikit.


Padahal, ia juga bisa melakukan cara apapun untuk mendapatkan tubuh itu. Obat perangsang atau apapun bisa ia gunakan. Akan tetapi, Della tidak mau menempuh cara itu.


Della ingin, ketika hal indah itu terjadi, keduanya dalam keadaan benar-benar sadar. Hal ini pun mengingatkan, tentang Ben yang dulu bersabar menunggu Rose. Untuk mereka saling bersatu, dalam keadaan sadar dan saling mencinta.


Kira-kira, seperti itu juga yang diinginkan Della.


Paling-paling, ketika hasrat wanita dewasanya sedang memuncak, karena ia tak berhasil menggoda tunangannya, Emilio, selalu jadi pelampiasan. Yang siap kapanpun dan dimana pun, untuk melayaninya.


Beralih ke dalam kamar mandi,


Daniel sendiri, belum mengganti pakaiannya sama sekali. Memang, ada perjamuan penting yang harus ia datangi malam ini, bersama dengan Della, tunangannya.


Kamar suite presidential ini, adalah tempat tinggalnya. Daniel yang menjabat sebagai direktur di hotel berbintang ini, memilih untuk tinggal di sini, agar mempermudah segala aktivitas dan mobilitasnya. Sebab, letaknya yang strategis kemana pun.


Daniel yang sebenarnya Benny Callary, merentangkan kedua tangan yang lantas berpegangan pada pinggiran wastafel.


Dipandangi bayang pantulan dirinya sendiri, di depan kaca yang begitu lebar. Dengan sorot mata tajam, seperti layaknya, seorang Ben yang sesungguhnya. Yang belum pria itu sadari. Bahwa dirinya yang seperti ini, adalah yang asli.


Sedang ia pikirkan semua hal aneh, yang belakangan ini mulai  mengusik benaknya, satu persatu.


Yang pertama kali membuatnya merasa terusik adalah, bagaimana Daniel, pernah memergoki Della dan Emilio berciuman dengan begitu bergairah. Di depan kamar sang tunangan. Dan bahkan, setelah itu, mereka berdua, masuk ke dalam sana, dengan spekulasinya, yang merupakan seorang pria dewasa.


Tentu! Semua orang pun tahu, apa yang akan terjadi setelah itu! Sedangkan, yang ia ketahui, Emilio merupakan kepala pengawal pribadi Della.


Awalnya ia agak bingung, pria semuda ini, bagaimana bisa menjabat sesuatu yang sangat penting dan berisiko tinggi. Agaknya, sekarang ia menyadari, bahwa bukan karena kecakapannya saja secara profesional. Namun, Della pasti menilainya lebih, dalam hal lain.


Dan saat ini, Daniel tahu, di mana letak nilai lebih tersebut.


Dia menyandang status sebagai tunangan Della. Sudah pasti, mereka memiliki hubungan yang begitu dalam. Akan tetapi, melihat hal itu, Daniel tidak merasakan apapun. Biasa saja, tidak ada perasaan kecewa atau pun murka, ketika melihat hal menjijikkan itu.


Tidak ada! Dan bahkan, Daniel seperti tidak memiliki perasaan khusus seperti cinta yang ia ketahui. Perasaannya terhadap Della, hanya ia rasa seperti kasih sayang seorang saudara, serta balas budi.


Lantas, hal itu pun ia simpan. Sampai ia menyadari, jika, orang-orang yang ia kenal, hanyalah orang-orang yang berada di sekeliling Della dan dirinya sendiri.


Mana mungkin, seseorang tidak mempunyai kenalan, selain orang-orang di sekitar!


Meski, yang Della katakan adalah, dirinya yang seorang yatim piatu. Dan merupakan anak dari sahabat ayahnya. Bahkan, mereka merupakan pasangan yang sudah bertunangan belum lama, semenjak pria itu, sadar dari komanya.


Semuanya, terasa aneh baginya, sampai… Daniel mencari tahu tentang identitas yang ia sandang pada saat ini. Tanpa sepengetahuan Della. Tanpa sepengetahuan siapapun.


Ia menyewa detektif swasta untuk melakukannya. Dan melakukan hal ini, diam-diam, di belakang Della, maupun sang calon ayah mertua.


Maka ia mendapati, jika nama beserta cerita lengkap yang Della katakan kepadanya, adalah, tentang seseorang yang sudah ‘mati’.


Semua cerita tentang anak dari sahabat ayahnya, pernah bersekolah di mana saja, beserta tempat tinggal yang dulu pernah ia tinggali, semuanya adalah benar.


Namun, detektif swasta sewaannya, menemukan foto satu keluarga. Di mana terdapat gambar diri, Daniel Ernesto yang sebenarnya.


Lantas, siapa dirinya?!


Sempat terkejut, tapi lagi-lagi, ia harus menyimpan semua hal itu sendiri. Dan, sepertinya, ia masih harus mengumpulkan banyak informasi, untuk mengetahui jati dirinya, serta alasan di balik semua ini.


“Saat itu aku memang tidak dapat memercayai siapapun!” desahnya seraya memandang ke samping.


Bisa dikatakan itu adalah salahnya. Juga tidak!


Pada saat seseorang baru saja bangun dari koma, siapa yang bisa ia percayai, selain orang yang langsung ia temui, saat itu juga. Sedangkan, otaknya mendadak blank dan tidak dapat mengingat apapun, terkait informasi tentang dirinya.


Saat itu, Daniel mengakui, jika dirinya, hanyalah sebuah cangkang kosong, yang kemudian diisi dengan begitu banyak informasi meyakinkan, oleh Della.


Dan, ia hanya bisa mengakuinya begitu saja.


Satu tahun, Della berkata jika dirinya koma selama satu tahun. Lalu, pada tahun kedua, ia berusaha memulihkan kondisi fisik serta banyak hal. Sembari terus diberi asupan kebohongan, oleh wanita, yang mengaku sebagai tunangannya itu.


Lalu, dua tahun belakangan, ia menerima jabatan ini. Seorang direktur dari sebuah hotel berbintang, yang ia dapatkan secara cuma-cuma. Dan bahkan, Della mengatakan, jika, ini adalah jabatan lamanya. Selalu kosong dan yang diperuntukkan kepadanya.


Pria itu membuka satu persatu, jas hingga kemejanya. Menampakkan dada bidang yang padat berotot, juga liat dan kokoh untuk menopang tubuh seseorang.


Jika, diingat-ingat, pada saat kecelakaan nahas itu terjadi, Ben mengalami luka tusu yang cukup dalam, di bahu sebelah kiri. Namun, nampaknya bekas luka itu sudah menghilang. Mungkin, ini juga merupakan ulah Della, untuk menghapus, semua jejak mengenai kejadian tersebut. Agar, Daniel tidak mempertanyakan lalu mengingatnya.


Sebab, yang tidak Daniel ketahui adalah, Della sudah mengerahkan beberapa orang ilmuwan juga dokter andal, untuk menghilangkan, semua jejak memori masa lalu pria itu. Dan terutama, ini berkaitan dengan Rose. Wanita yang begitu dicintai oleh sosok Ben yang sebenarnya.


Sosok Daniel yang sekarang, tidak boleh mengingat tentang hal itu, sama sekali.


Akan tetapi, semua rencana yang sudah Della anggap bersih dan mulus, mempunyai satu dari lain hal kelemahannya. Sebuah luka tembak di lengan kanan, terlewatkan oleh orang-orang yang ia suruh.


Luka tembak yang Ben dapatkan ketika melawan dua orang yang berhasil menyusup ke markas Harimau Putih. Dalam kondisi melindungi Rose dan sedikit lengah, ia mendapatkan luka tembak itu.


Dan pada saat ini, seorang Daniel yang merupakan Ben sendiri, sedang menyentuh bekas luka itu. Juga berusaha untuk mengingatnya.


Ia sudah lama menemukan hal ini. Namun, pada seorang Daniel Ernesto sendiri, tidak ada riwayat luka tembak sama sekali. Bahkan, bisa dibilang, Daniel Ernesto yang sebenarnya, adalah seseorang yang sangat menjauhi kekerasan. Orang itu pun meninggal dunia, dalam sebuah kecelakaan pesawat, bersama dengan seluruh keluarganya.


Maka dari itu, tidak ada jejak lagi, yang tertinggal mengenai orang itu, juga seluruh sanak saudaranya. Yang bisa Ben gali, lebih dalam lagi.


“Aku harus menemukan, siapa diriku yang sebenarnya!” ucapnya penuh keyakinan. Setelah melepas sentuhan ujung jarinya dari luka itu.


Sebab, di sudut hatinya, ia merasakan hangat yang mendamaikan, ketika melakukannya. Seperti, bekas luka tembak ini, sangat berarti baginya.


Memorinya boleh dihapus, tapi jejak perasaan yang ditinggalkan, tidak dapat dihapus begitu saja. Begitulah, tubuhnya sedang mengingat saat ini!


Sebab, yang Daniel tidak sadari adalah, sosok Rose sudah sangat melekat pada diri seorang Benny Callary, yang tak lain, adalah dirinya sendiri.


Mulai dari sinilah, Daniel makin menjaga jarak dengan Della. Dengan cara sehalus mungkin, sebab ia tahu, jika, dia dan calon ayah mertuanya itu, bukan orang sembarangan.


Juga karena, ia belum mengetahui motif, di balik wanita itu, melakukan ini semua, terhadapnya.


Lantas, ia pun mengelus pipinya di sebelah kiri. Daniel kembali teringat, dan sering kali teringat, momen ketika pertama kali ia sadarkan diri.


Seorang bayi yang begitu cantik, menepuk wajahnya di bagian pipi kirinya. Ketika ia membuka mata, pada dunia ilusinya itu, bayi tersebut tersenyum lebar dengan begitu lucu dan menggemaskan.


Seolah, begitu senang setelah mengetahui pria itu, mau melihat dan merespon bayi gemuk namun benar-benar menggemaskan.


Telapak tangannya yang besar dan kapalan, menggerus pipinya berulang kali. Meraskan, jika, hal yang terjadi, adalah benar-benar nyata.


Halus dan lembut tangan mungil si bayi, rasanya, rasa itu, masih tertinggal di pipinya. Bahkan, sampai saat ini.


Daniel, masih sering kali mengingatnya. Bahkan, jika hal itu sudah berlalu selama bertahun-tahun. Dan sentuhan itu, selalu membuat hatinya merasakan damai bahagia, yang belum pernah ia rasakan, sama sekali.


Perasaan yang begitu spesial, sampai ia sendiri, sulit untuk mendeskripsikannya secara detail. Yang jelas, hal itu terlalu membahagiakan, setiap kali Daniel mengingatnya.


“Apakah… apakah bayi itu memiliki hubungan denganku?” tanyanya yang mulai berspekulasi sendiri.


Bersambung…


Nah,,, Bennya udah ada nih, sebentar lagi, Ben bakal ketemu sama Berly,, huhu