
Seseorang tengah berjalan di lorong sebuah hotel. Alas karpet meredam bunyi ketukan sepatunya ke lantai. Sosok dengan rambut cepak itu memakai wasker wajah untuk menutupi identitasnya.
Dia berjalan dengan tenang. Menyimpan kedua tangan pada saku jaket, guna menyembunyikan telapaknya yang berkeringat dingin.
Hasil buruk yang didapat, tetap harus ia laporkan. Dan Zayn, tahu saat ini siapa yang mesti ia hadapi.
Ya! Dia adalah Zayn. Wanita maskulin yang tengah berjalan di bawah remangnya penerangan lampu kuning, lorong hotel itu.
Benar apa yang Anggie katakan, jika kekasihnya itu baru saja menyelesaikan masalah di perbatasan. Namun hal itu hanya ia gunakan sebagai alibi, karena tujuan utamanya adalah untuk menemui orang yang satu ini.
Sengaja ia mengambil tugas ini, agar ia bisa keluar dari markas. Meski sebenarnya, ia belum rela pergi. Sebab, rasanya, masih belum puas ia menyaksikan pertunjukkan seru di sana.
Ia masih ingin melihat bagaimana Rose begitu terpuruk karena terus disudutkan. Serta, bagaimana Ben disalahkan dan disudutkan, dengan kekacauan yang ia lakukan sendiri. Juga… bagaimana markas itu hancur.
Ada kilatan ambisi di matanya yang memicing. Sesuatu yang berkobar seperti unggun api yang membesar setelah disiram bensin.
Sayang, ketika dia pergi, ketika dia tidak ada di sana, kabar buruk ia dapati. Meski sesuai rencana, wanita itu dihujat habis-habisan namun akhir yang terjadi tidak sesuai harapan.
Ternyata akhir baik yang mereka semua dapatkan. Bahkan bala bantuan datang untuk semakin meyakinkan Rose yang tidak bersalah.
Dan baru saat itu juga, Zayn mengetahui bahwa Rose bukanlah wanita sembarangan. Ia tidak mengira semuanya akan berakhir seperti ini. Pula dengan hukuman yang dijatuhi. Siapa sangka jika Rose memiliki otak yang cerdik, sampai memiliki ide untuk memotong gaji rekan-rekannya.
Heh! Wanita maskulin itu mendengus, ia tersenyum sinis. Nyatanya, keadaan di sana, sekarang malah baik-baik saja. Dan pasangan kekasih yang ingin ia hancurkan malah makin harmonis dan romantic.
Tok! Tok! Tok!
Jarinya yang mengepal, mengetuk sebuah pintu kayu yang lebar dan kokoh. Kemudian ia memasukkan kepalan tangannya kembali ke dalam saku jaket.
Dia perlu menuggu. Namun hanya beberapa saat, pintu itu sudah terbuka dari dalam. Seorang lelaki muda tampan, menampakkan diri dalam ruangan itu.
Ruangan yang ketika baru membuka pintu saja, sudah nampak kemegahannya.
“Masuk! Nona sudah menunggumu di dalam!” ucapnya pada Zayn tanpa basa-basi. Seperti dia sudah mengetahui siapa yang akan datang.
Pria muda itu hanya mengenakan piyama kimono saja. Tali mengikat di tengah pinggang. Tubuh altetis dan dada bidang menggeliat, bersembunyi di baliknya.
Jika saja Zayn adalah wanita normal, mungkin saja sudah terpesona. Tergoda oleh rupa dan bentuk yang indah juga menggetarkan jiwa. Wajah tampan dibalut ekspresi dingin itu, sungguh menantang sebenarnya.
Sayangnya, dia tidak tergoda sama sekali dengan hal itu. Hanya pandangan acuh yang keluar dari sorot mata itu.
Zayn masuk ke dalam ruangan kamar itu, setelah dibukakan pintu oleh sang pemuda.
Dianggukkan Zayn kepalanya pada pemuda itu sebagai rasa hormat dan isyaratnya bahwa dia mengerti. Melangkah lalu, wanita maskulin itu ke dalam.
Begitu pintu ditutup oleh pemuda itu, Zayn juga sampai tepat di hadapan seorang wanita. Dia duduk bersandar, memangku kaki pada kaki lainnya. Sedang tangannya tengah memegang gelas bertangkai panjang.
Wanita itu membuat sedikit gerakan. Sehingga, anggur merah yang berada di dalamnya, bergoyang dan berputar.
“Kau terlambat!” sapanya acuh tak acuh. Lalu menyesap minuman berwarna merah pekat di tangan.
“Maaf, Nona!” Ditundukkan kepalanya. Zayn mencoba menyembunyikan pandangan matanya yang bergetar.
Wanita itu, hanya dengan menatapnya saja sudah memberikan aura kental yang cukup menekan. Zayn pikir itu sama dengan rasa yang Ben berikan setiap kali orang menatapnya.
Tatapannya bengis, tidak berperasaan. Bibir tipisnya acuh dibingkai gincu merah. Rupanya menawan, agung, dan semua yang ada pada dirinya adalah indah.
Dalam sekali tatap, kesan yang didapat adalah, wanita kejam yang cantik dan memesona.
“Kau gagal kali ini!” tegasnya sambil memindahkan kaki yang berpangku. Dan kembali mencicip rasa pahit berpadu manis dan getir anggur merahnya.
“Saya tidak bisa mengendalikan situasi karena harus keluar dari markas, Nona!” jelas Zayn. Masih menundukkan kepalanya. Dia hanya sekilas melirik wanita, yang kini duduk berpaling darinya.
“Heh! Maksudnya kau menyalahkan aku?” Dijauhkan wanita itu bibirnya dari gelas. Lalu melirik sekilas dengan kesal.
Hk! Hanya dengan tatapan seperti itu saja, Zayn mesti menahan napasnya di tenggorokan. Sungguh pun, dia seperti gambaran iblis wanita.
Kuku-kuku yang bercat hijau, mengetuk pada perut gelas yang buncit. Netranya memandang ke luar jendela kaca yang lebar. Namun rasanya, seolah dia memiliki mata lain untuk terus menekan keberanian Zayn.
Wanita maskulin itu menelan ludah dengan susap payah. Zayn mengeluarkan kepalan tangannya yang gemetar ketika wanita itu bangun dan mulai berjalan menuju dirinya.
Benar saja! Wanita itu menyentuh bahu Zayn, kemudian berjalan mengitarinya. Tapi bagi Zayn, ia seperti tengah dikuliti perlahan-lahan.
Wanita cantik itu berhenti tepat di sebelahnya. Tak memindahkan tangannya dari bahu Zayn, dengan posisi yang saling berhadapan.
Dicondongkan tubuhnya, sampai bibirnya sampai di telinga Zayn.
“Hancurkan wanita itu dan jauhkan dia dari sisi priaku! Maka aku akan terus membantumu untuk mengambil alih tempat itu!” bisik si wanita, dan sengaja menekan, mencengkeram bahu Zayn dengan kukunya yang tajam.
Seperti elang yang tengah mencengkeram mangsa dengan cakarnya. Lantas wanita itu pun beranjak dari sana, sampai melihat ringis sakit di wajah Zayn.
Heh! Sudut bibirnya menyungging puas kala membelakangi Zayn.
Wanita itu berjalan ke arah pemuda, yang tidak disadarinya sejak tadi sudah berdiri tak jauh dari mereka. Dan bahkan Zayn juga tidak menyadari jika piyama kimono yang mereka kenakan, sama.
Zayn juga dapat melihat tatapan pemuda itu melembut ketika memandang si wanita bengis yang baru saja melukai bahunya.
Benar! Ada rasa perih menjalar pada beberapa titik yang ditancapkan wanita itu. Pasti lecet bahunya saat ini.
Sungguh pun, dia sudah seperti penyihir berkuku panjang! Benar-benar wanita yang mengerikan!
Zayn ingin sekali memaki, ingin memarahi, namun semua itu tertahan hanya sampai di tenggorokan. Ini barulah gambaran sosok Ben versi wanita, menurutnya.
Keduanya langsung saling mendekap. Berbagi kehangatan dengan tubuh yang merekat erat. Tatapan wanita itu sejenak berubah sensual ketika memandang pemuda itu.
Bahkan ia mengecup bibir pemuda itu sebentar. Seolah tak peduli, tak menganggap kehadiran Zayn sama sekali di sana. Pemuda lantas tersenyum dan menerima kecupan singkat itu dengan senang hati.
Tangan wanita itu masuk, menelusup piyaman kimono si pemuda di bagian dada. Dirabanya dada bidang pemuda itu, lalu melempar pandangan ke arah Zayn lagi.
“Kau pasti tahu apa yang aku inginkan? Aku akan menetap di sini sampai tujuanku tercapai,”beritahunya sambil terus membelai dada si pemuda.
Anehnya, Zayn menangkap kilatan benci ketika wanita itu berucap barusan. Namun Zayn, tidak ingin memikirkannya. Itu bukan urusannya!
“Atur rencana agar aku bisa bertemu dengan priaku, secepatnya!” perintah wanita mengerikan itu. Dan mutlak harus dilaksanakan.
Meski harus menahan gemetar, Zayn tetap menjawab dengan tenang. Beruntunglah masker wajahnya tidak ia buka. Jadi wajah piasnya tidak benar-benar kentara saat ini.
“Baik, Nona!” angguk Zayn mengerti.
“Kalau begitu kau boleh pergi!” perintahnya lagi. Yang terdengar seperti nada mengusir. Tangan nakalnya makin berkeliaran di dalam piyama si lelaki.
Bergerilya, merabai sekitar dada sampai ke pusat perutnya.
“Nona ingin meneruskan yang tadi, hem?” bisik pria itu di belakang telinga si wanita.
“Tentu saja!” tantangnya dengan tatapan sensual menggairahkan.
“Saya permisi!” Enggan melihat hal menjijikkan itu lebih lanjut, Zayn lebih memilih untuk pergi dari sana.
Sambil berjalan meninggalkan kamar hotel itu, dalam hati, Zayn bertanya-tanya. Apakah wanita itu sakit? Kenapa dia begitu mengingikan pemimpinnya, sedangkan wanita itu begitu menikmati kebersamaannya dengan lelaki lain?!
Zayn sungguh tidak dapat menemukan jawabannya saat ini?!
Sambil berjalan, diusap bahunya yang terasa nyeri akibat cengkeraman wanita itu, tadi. Lalu kepalanya meneleng ke samping. Zayn berpikir, wajah wanita itu nampak mirip dengan seseorang.
Bersambung…
Maaf ya, semalem ga jadi update lagi,,
Mau kenalan sama si wanita mengerikan? Yuk,, tunggu bab selanjutnya, ya
Keep strong and healthy semuanya ya