
Pada akhirnya hanya Bervan yang ikut bergabung dengan Rose dan Ben untuk membuat kue. Sedang Victor dan Bella, menunggu di luar dan mengobrol, menghabiskan waktu sambil menunggu kuenya matang dan ditata dengan cantik dan menarik.
Oh, sungguh! Sebagai wanita yang juga menyukai makanan manis, Bella sudah sangat menantikannya.
“Jadi, sudah sangat lama Ben menyukai kue itu?” tanya Bella sedikit penasaran.
Mereka memilih duduk di sebuah bangku taman yang terletak di pojok lapangan tengah. Di antara kursi tunggal itu terdapat sebuah meja bundar. Sudah tersedia dua cangkir teh panas untuk keduanya.
“Orang itu pernah bercerita sedikit kepadaku!” Dianggukkan Victor kepalanya, dia sedikit mengenang.
“Dulu, waktu dia masih remaja dan belum bergabung dengan Harimau Putih, Ben pernah merasa sangat kelaparan. Sampai malam dia belum juga mendapatkan uang-“
“Maksudnya dia sudah bekerja sejak belia, begitu?” potong Bella, antusias dengan cerita yang Victor sajikan untuknya.
“Ya! Dulunya, dia bukan seorang anak yang beruntung seperti kita,” jelas Victor dengan gamang. Namun Bella sepertinya mengerti akan maksud ucapannya barusan.
“Ben bilang, waktu itu tubuhnya sudah sangat lemas. Bahkan untuk berdiri saja dia sudah tidak kuat, kepalanya terasa berputar karena menahan lapar.”
“Lalu apa yang terjadi? Apa dia sempat pingsan?”
“Untungnya tidak! Seseorang tiba-tiba mendekatinya, lalu memberikan sepotong kue dan sebotol air mineral.”
“Pasti kue itu, ya?” Bella langsung menebak.
“Benar! Sepotong Strawberry Cheese Cake, yang menurut Ben, maknanya tidak hanya sebatas makanan. Kue itu ia anggap seperti penyelamat hidupnya.”
“Oohhh!” Bella membulatkan mulutnya sambil membayangkan. Rasanya dia masih harus banyak bersyukur setelah ini.
“Orang itu sudah pergi sebelum Ben sempat mengucapkan terima kasih. Tapi seminggu kemudian Ben bertemu dengan orang itu lagi. Kali ini orang itu yang nampak lemah. Sebagai rasa terima kasih, Ben hanya mampu membelikan sebotol air mineral untuknya.”
“Lalu? Lalu?” Bella makin seru mendengarkan.
“Orang itu mengajak Ben untuk bergabung dengan Harimau Putih. Dia adalah pemimpin kelompok ini, sebelum Ben. Sampai sekarang, orang itu sudah Ben anggap sebagai orang tuanya sendiri. Meski beliau sudah tidak ada di dunia ini.”
“Benarkah?”
“Hem…,” angguk Victor yakin.
“Sepertinya kalian sangat dekat, ya?” Bella juga sedikit penasaran dengan hubungan pertemanan di antara suaminya itu dengan kekasih adik iparnya. Dua pria gagah itu seperti memiliki chemistry tersendiri.
Bahkan Victor sampai bisa mengetahui cerita masa lalu seseorang. Sudah pasti mereka pun sudah banyak saling bertukar cerita dan pengalaman, kan?
Untuk ukuran seorang pria yang kaku seperti keduanya, dengan berbicara dari hati ke hati seperti itu, sudah pasti hubungan mereka cukup dekat dan akrab.
“Yah… bilang begitu! Makanya aku mau memberikan Rose padanya. Karena aku tahu bagaimana masa lalunya. Rose akan memberikan cinta dan warna untuk hidupnya. Sedangkan adikku… Rose akan mendapatkan seseorang yang dapat menjaga dan melindunginya,” jelas Victor agak melankolis.
“Semoga mereka benar-benar ditakdirkan untuk melengkapi satu sama lain. Dan hidup bahagia sampai akhir hayat,” harap Bella sambil menatap Victor dengan tulus.
“Kita juga!” balas lelaki itu seraya menautkan jari tangan mereka yang masih berseberangan. Keduanya saling melempar senyum dengan harap yang sama.
Kemudian, keduanya larut dalam pemikiran mereka masing-masing, sambil memandang lurus ke depan.
Tak jauh dari pasangan pengantin baru itu, tiga orang tengah berkutat di dapur markas Harimau Putih. Rose tak menyangka jika terdapat dapur luas seperti yang berada di sebuah hotel berbintang.
Mereka menggunakan salah satu sudut yang tak terpakai. Yang meskipun sepi akan kegiatan memasak, namun peralatannya terbilang lengkap di satu set condiment beserta meja untuk memasaknya.
Ketiganya kompak mengenakan celemek putih, senada dengan koki dan petugas masak yang bekerja di sana. Mereka nampak berbaur, meski sebenarnya kontras.
Sebuah ironi dimana pahatan-pahatan menawan milik Tuhan, tengah berada di antara para juru masak yang bercucuran keringat.
Sebuah hal menakjubkan terjadi lagi di markas Harimau Putih. Dimana pemimpin mereka mau repot-repot masuk ke dalam dapur markas yang terasa panas.
Mungkin hal itu tidak terlalu jadi bahan pembahasan menurut mereka. Sebab, yang menjadi pusat perhatian adalah sosok cantik dan ketampanan versi junior dari wanita itu. Rose dan Bervan yang dengan kompaknya tengah menakar bahan apa saja yang akan mereka pergunakan.
Jarang-jarang, bahkan hampir tidak pernah ada sama sekali, seorang wanita yang masuk ke dalam dapur besar mereka ini. Melihat Rose dan Bervan berada di sana, bekerja sama dengan akrabnya, orang-orang itu merasakan seperti mereka sedang benar-benar, berada di rumah.
Sebab, tiga orang itu, nampak di mata orang lain seperti sebuah keluarga. Mereka tidak menyangka, bisa menyaksikan pemimpin mereka bisa bersikap seperti seorang ayah dan suami yan baik untuk istrinya.
Ini adalah pemandangan langka lain, yang mestinya mereka abadikan!
200 gr biskuit yang sudah dihaluskan, dicampur dengan lelehan mentega. Setelah diaduk rata dan nampak agak basah, adonan itu dimasukkan ke dalam loyang bundar. Ben mengingatkan Rose untuk meratakan dan memadatkannya. Lalu dipanggang dalam suhu 150°C selama 8-10 menit.
Selama waktu menunggu itu, Rose meminta Ben untuk membelah strawberry-strawberry merah merona itu, menjadi dua bagian. Wanita itu ingin tahu, Ben yang hebat, apakah bisa memotong hal sekecil itu dengan rapi dan presisi.
“Potong ini, ya, Sayang!” Disodorkan Rose satu loyang strawberry segar ke hadapan Ben. Dia tersenyum begitu lebar, dengan mata memicing.
‘Enak saja, dia malah menganggur! Sementara dia juga yang menginginkan makanan ini!’
Laki-laki itu harus diberi pekerjaan! Supaya mulut dan tangannya tidak hanya digunakan untuk mengatur dan memberi perintah saja.
“I-iya!” Diterima Ben buah-buah itu dengan senyum kaku.
Kenapa Ben merasa jika wanitanya itu sedang memarahinya, ya!
Sementara Ben berkutat dengan buah strawberry, lampu indikator oven menyala. Pertanda jika adonan biskuit tadi sudah matang.
“Bibi, biar aku yang mengeluarkannya!” pinta Bervan bersemangat.
“Ini akan panas, Sayang! Nanti saja ketika sudah dingin, kau yang mengambilkan ini untuk Bibi, ya?” Rose berusaha memberikan pengertian.
“Oke!” sahut Bervan cepat.
Anak kecil itu memperhatikan bibinya mengeluarkan adonan dari dalam oven dengan penuh saksama. Seperti dia sedang sangat mempelajarinya. Disisihkan Rose adonan yang masih panas itu pada sisi ujung meja yang lainnya.
Wanita itu tertawa kecil sembari mengusap kepala keponakannya. Anak yang pintar memang selalu ingin tahu dan mencoba.
Stand mixer Rose gunakan untuk mencampur bahan adonan yang lainnya. 300 gr cream cheese dikocok sampai lembut dan creamy. Pria itu tetap memerintah meski tangan dan matanya sibuk bekerja.
“Sudah! Kau potong saja strawberry-nya! Masa sudah sepuluh menit, kau baru memotong lima buah saja!
Ck… ck… ck!” Rose menggelengkan kepala sambil mendecakkan lidah, sengaja membuat Ben kesal.
Diangkat Ben pandangannya. Ia hanya menggerakkan bola matanya ke atas, ke dekat kelopak mata. Tentu dengan tatapan dingin khasnya!
“B-Ben… aku hanya bercanda!” Rose mundur kikuk dengan senyum kaku. Tuan seramnya telah kembali!
Bersambung…