
Ben menyeringai. “Jadi?”
“Baiklah, aku akan mengaku! Aku memang takut disuntik.” Akhirnya Rose menjawab sambil merengut bibir manisnya itu. Tapi kemudian dia meninggikan suaranya lagi dengan begitu bersemangat. “Jika kau menghubungi kakakku, itu sama saja dengan kalian ingin menindasku bersama-sama!”
‘Huh! Kesal sekali rasanya.’
“Siapa yang menindasmu? Aku?” tunjuknya pada diri sendiri seolah tak bersalah sama sekali.
“Saya akan menyuntikkannya sekarang!” Dokter itu memberikan informasi lagi di sela perbincangan seru sepasang kekasih itu.
Ben mengangguk menjawabnya.
“Tentu saja, siapa lagi?!” Rose melipat tangan di depan dada, masih kesal wajahnya seperti anak kecil yang sedang berdemo karena tak diberi mainan.
“Aku tidak menindasmu. Aku hanya bertanya!” sahut Ben denga entengnya. Tersenyum tipis yang menjengkelkan bibirnya itu.
Jarum tipis dan runcing itu perlahan masuk ke dalam jaringan kulitnya. Menembus lengan kekarnya yang kokoh berotot seakan jarum suntik itu sangat tajam.
Tapi Ben tak berekspresi sama sekali akan hal itu. Seperti tidak terjadi apa-apa pada lengannya. Seperti tidak ada apa-apa yang tengah menembus kulitnya. Padahal di dekat sana ia memiliki luka tembak yang didapatkan sebelumnya.
“Isshh!” Rose yang meringis ngeri seperti dia yang sedang disuntik saat ini. Pasti itu rasanya sakit sekali!
Ben malah tersenyum. “Ini tidak sakit, Sayang!”
Tepat saat itu sang dokter mencabut jarum suntiknya. Dia langsung tersedak ludahnya sendiri. Seorang Benny Callary, ketua geng mafia Harimau Putih, baru kali ini didapatinya berbicara selembut itu serta dibubuhi kata ‘sayang’.
‘Apa sebentar lagi dunia akan kiamat?!’ pikirnya.
Lalu jangan tanyakan Relly. Saat ini dia tengah menahan mual di perutnya. Sudah lama dia tidak disiksa oleh dua pasang manusia itu. Mereka selalu menyiksanya dengan pertunjukan kasih sayang. Baik matanya, maupun telinganya, selalu ada yang tidak beres jika sudah berada di dekat mereka berdua.
“Hey, kau! Sebaiknya cepat selesaikan tugasmu itu!” pintanya pada si dokter.
Setelah sekian lama, muak juga disiksa begini terus. Yang jelas, dia harus segera meninggalkan tempat ini. Dan tak lupa untuk turut serta membawa dokter itu. Kasihan juga jika dia tersiksa lama seperti dirinya ini.
Takutnya, lama-lama dia akan mati rasa karena cinta. Bukan karena cinta yang dia rasakan. Itu masih untung! Tapi karena pertunjukkan cinta orang lain, bukan cintanya sendiri!
“B- baik!” Agak canggung dokter itu menjawab sebab bukan Ben yang memerintah. Bahkan bos besar itu sampai melirik sebal pada asistennya itu, meski tak bersuara.
‘Mau mati, ya!’ tatap Ben pada Relly.
Sedang asistennya itu sedang sangat enggan untuk membalas tatapan bosnya. Dia sedang demo, dia sedang protes sekarang. Jadi didiamkan Ben sambil memalingkan wajah ke arah lain.
‘Berani-beraninya!’ Ben mencibir kesal pada asistennya yang sudah berani mengacuhkannya itu. Sepertinya Relly sedang meminta untuk ditembak kepalanya.
“Ugh….”
Perhatian Ben pun teralihkan mendengar lenguhan Rose yang tengah memperhatikan ke arah lengannya dengan wajah serius.
Dan ternyata dokter itu sedang mengeluarkan peluru dari dalam lubang menganga di lengannya ini.
Rose membekap mulutnya. Menahan gejolak takut dan khawatir yang tidak mau tentram ia bungkam. Terus memberontak melihat adegan mengerikan itu.
Di dalam hidupnya, dia baru melihat hal semacam ini hanya di dalam film saja. Namun saat ini ia sedang melihatnya secara langsung.
Ya, ampun! Ini benar-benar terasa mengerikan. Padahal untuk kejadian pertarungan tadi terasa mendebarkan sekali. Sungguh aneh! Kenapa sensasinya jadi berbeda sekali dengan yang tadi?! Padahal tadi ia tidak merasakan apa pun ketika melihat anak buah Ben, atau Ben sendiri yang terluka dan berdarah-darah.
Kenapa melihat peluru itu dikeluarkan lalu bagian yang berlubang itu dijahit, malah terasa menakutkan baginya?! Aneh sekali!
“Lenganku sudah diberi anastesi, jadi tidak terasa sakit sama sekali!” Ben menjelaskan agar wantia itu tidak meringis terus seperti kuda betina.
Rose mengalihkan pandangannya pada Ben sebentar. Lalu pikirannya tiba-tiba membayangkan jika dirinya yang berada di posisi Ben. Rose yang terluka, kemudian harus menjalani serangkaian perawatan itu. Dan menghadapi jarum suntik secara langsung dan sadar.
Oh, tidak bisa!
“Ben!”
“Hmm!”
“Maukah kau berjanji?” tanya Rose dengan wajah serius.
Ben dan Relly pun jadi pensaran dengan apa yang mau dikatakan oleh wanita itu. Sebab Rose memang selalu tidak terduga.
“Janji apa?”
Relly seperti de javu. Dia jadi mengingat kejadian tadi saat nonanya itu mencoba kabur darinya. Dan hal itu terjadi karena sebuah… janji. Tapi saat ini, nonanya yang mengajukan janji.
“Jika aku terluka nanti, kau tidak akan membiarkan aku diberi anatesi lokal seperti ini. Bius total saja agar aku tidak merasakan apa pun dan tidak perlu melihat pula.” kata Rose sungguh-sungguh.
Wanita itu tahu perbedaan pemberian anastesi, karena hal itu juga merupakan hal umum yang biasa ia dengar. Tahu dia jika diberi anastesi lokal seperti itu, maka akan terlalu fokus pikirannya pada luka yang dia punya Dan bisa dijamin, dokter yang akan mengobatinya tidak akan berhasil, karena usaha perlawanannya.
Tidak dibiarkan siapa pun untuk membuatnya merasa lebih sakit lagi. Bahkan dokter yang mengobatinya pun bisa terluka jika terlalu memaksa. Rose memang tidak akrab dengan suasana rumah sakit. Tidak terlalu akrab,dan tidak ingin akrab juga, sih! Mungkin saja dokter itu akan terkena, jika dia terus meronta dan meminta.
“Bah ha, ha, ha, ha!” Ben tergelak begitu kencang.
“Bah ha, ha, ha, ha!” Relly pun mengikutinya.
Mereka sama-sama merasa lucu dengan ucapan Rose barusan. Apa-apaan bius total?! Sudah seperti akan melahirkan saja!
“Diam!” Dan Relly tak diberi kesempatan untuk menikmati kegembiraannya lama. Karena Ben segera memeritahkannya untuk membungkam mulutnya, sambil membelalakkan mata.
Langsung dikatupkan erat mulutnya melihat tatapan horor Ben yang tidak bersahabat sama sekali. Bosnya memang tidak terbahtahkan. Bisa langsung ditelan dalam kondisi utuh oleh raja iblis itu.
Yang boleh menertawakan Rose hanya dirinya saja. Orang lain tidak boleh , terkecuali jika mendapatkan izin darinya.
Tangan dokter itu bergerak dengan cekatan dan akurat ketika melakukan setiap langkahnya untuk mengobati luka Ben. Hingga tanpa sadar lukanya sudah dibalut perban putih bersih yang kini tengahnya terdapat noda darah.
Lengan Ben sudah dibebat rapi oleh seorang dokter dengan perban. Dan Rose masih memperhatikannya.
“Sudah selesai, Tuan! Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap dokter itu pamit setelah membereskan peralatannya ke dalam koper kecil miliknya.
“Terima kasih!” balas Ben dengan tulus.
“Kalau begitu, saya juga ikut keluar sekalian mengantar dokter ini ke halaman parkir,” sambut Relly mengikuti dokter yang sudah bangun dari duduknya itu.Padahal dia juga tidak mau tersiksa lagi setelah ini jika ditinggalkan dengan mereka berdua.
Ben tak mengiyakan atau pun melarangnya. Tapi pria itu lekas bertanya. “Bagaimana dengan pencariannya?”
Bersambung…
Jangan lupa untuk terus kasih like, vote sama komentar kalian ya
Keep strong and healthy semuanya