Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Meminta keberanian



Ini sebenarnya masih terbilang subuh. Mentari saja baru


timbul sedikit di ufuk timur. Masih malu-malu untuk menyinari dunia yang kejam


dan pelik ini.


Tapi Rose sudah harus mandi. Membersihkan serta menyegarkan


tubuh dan otak yang kelelahan. Dingin bukan berasal dari udara di luar. Tapi


hatinya yang mengantarkan kedinginan ini. Sehingga ia perlu mengguyur diri dengan


semburan air hangat. Tubuhnya yang penat, otaknya yang kusut, perlu


direlaksasi.


Tidak dengan berendam di bath tube, karena itu akan memakan


banyak waktu. Sedangkan ia hanya punya tiga puluh menit saja setelah Anggie


keluar dari pintu.


Rose menggunakan shower untuk mengguyur kepala sampai ke


kaki. Membiarkan air mengalir dan menyapu seluruh kotoran dan debu, serta


perasaan kacau di lubuk hati.


Dimatikannya pancuran air, ketika dia sudah menuntaskan


segala aktivitasnya di dalam kubik kaca itu. Letaknya bersebelahan dengan bath


tube yang terdapat di pojok kamar mandi. Rose sambar handuk yang tergantung di


dekatnya. Lalu ia lilitkan ke tubuhnya, panjangnya dari dada sampai ke paha.


Kali ini ia ingat untuk membawa serta pakaian ganti ke kamar


mandi. Meskipun tuan seramnya itu masih tak sadarkan diri, namun segala


persiapan perlu ia lakukan. Siapa tahu, saat ia sedang memakai pakaian gantinya


di luar sana, mendadak tuan seramnya itu membuka mata?!


Karena Rose terhitung masih baru di sana, jadi dia belum


mempersiapkan banyak pakaian yang nyaman digunakan seperti yang Anggie kenakan.


Yang lentur ketika digunakan untuk banyak bergerak. Tapi tidak seterbuka


miliknya juga, sih! Jadi saat ini… hanya jeans dan kaus saja yang menjadi


pakaian ternyamannya.


Rose keluar kamar dalam keadaan sudah berpakaian lengkap. Hanya,


rambutnya yang basah, digulung dengan handuk kecil, ke atas kepala. Ada harap


di matanya, ketika membuka pintu kamar mandi, ingin pria di tempat tidurnya itu


sudah sadarkan diri.


“Hh….” Rose menghela napas. Tapi ternyata dia masih betah


dengan mata terpejamnya.


Tangannya yang lembut dan lembab menyusuri wajah damai itu. Rose


juga sudah membersihkan wajah Ben dari kotoran dan debu yang menempel. Dia


mengelapnya dengan handuk dan air hangat. Wajah itu sudah bersih, mungkin


bersama murkanya juga yang sudah tiada.


“Bangunlah, Ben!” pintanya dengan suara bergetar. Tangannya


masih betah berdiam di pipi pria itu.


“Setelah ini… aku akan menghadapi mereka. Benar-benar


menghadapi mereka. Doakan aku, ya! Aku tidak akan rela… jika sampai mereka


membencimu karena semua ini. Terlebih lagi, karena… aku.”


Rose tertunduk. Barulah dia menarik tangannya dari sana. Dari


rahang kokoh yang jelas terpatri ketampanannya.


Benar! Dia tidak rela, tidak akan rela sama sekali jika anak


buah Ben sampai menyalahkan dan membenci kekasihnya itu karena masalah ini. Dia


tidak akan tinggal diam.


Dibuka Rose gulungan rambutnya. Lalu dikeringkan rambutnya


yang masih basah itu dengan hair dryer supaya menghemat waktu. Setelah kering,


rambut pirang itu ia biarkan bergelombang di belakang punggung.


Alisnya sudah cukup tebal, pun ia tak terbiasa mengenakan


riasan wajah yang berat. Jadi, Rose hanya memilih untuk menyapukan lipstick merah


terang ke bibirnya. Mempertegas sosok dirinya, yang bercahaya bagai dewi


perang.


Belum! Tapi nanti… dia akan menunjukkanya pada semua orang.


Bahwa dia memiliki kemampuan.


“Rasanya masih ada yang kurang!”


Satu tangannya bertopang di pinggang, sambil berdiri, sambil


mematut diri di depan cermin. Tangannya yang lain memegangi dagu, seolah


berpikir.


“Sepertinya aku punya sesuatu di dalam lemari!” serunya


seraya beranjak dari depan meja rias.


Masih ada yang kurang. Masih terasa hambar penampilannya


saat ini. Kesan kuat dan tegasnya kurang sempurna. Jika ada, mungkin akan dia


Sayangnya, hanya ada jaket denim saja yang ada di lemarinya.


Tapi… mengenakan itu dengan satu set pakaian serta make up yang dia pilih,


masih lebih baik ketimbang yang sebelumnya.


Setelah siap, Rose kembali ke tempat tidurnya. Dia membungkuk


dari jarak dekat, sampai lututnya menempel pada pinggiran tempat tidurnya itu.


Cup!


Dikecup kening kekasihnya. Begitu lama,begitu mendalam,


sampai matanya terpejam. Rose salurkan seluruh cinta kasih dan energinya. Dia


juga meminta keberanian yang ia yakin stoknya sangat banyak Ben miliki. Harapnya


tetap sama, pria itu lekas bangun, dan kembali dari dunianya yang entah dimana.


Rose menarik diri. Menegakkan punggung seraya berdiri tegap.


Netra abunya tak lekang menatap pria itu. Ditarik Rose garis bibirnya. Dia


tersenyum bahkan dengan matanya yang sendu. Rose izin pergi, dia minta restu,


agar bicaranya nanti bisa berani, keras dan lantang. Sebagaimana biasanya pria itu.


Ceklek!


Pintu dibukanya, Rose pun keluar dari kamar. Dan sebelum


benar-benar menutup pintu, satu lagi, ia sematkan senyuman untuk kekasihnya.


Begitu dia diluar, pandangan matanya langsung disajikan


dengan hiruk pikuk orang yang sedang bekerja. Membersihkan, merapikan serta


membetulkan sisa kejadian semalam. Semuanya bekerja dengan serius. Dan hampir


selesai, mendekati keadaan semula.


Pintu ruangan Ben yang dijebol juga sebentar lagi selesai.


Kaca yang berlubang sudah diganti dengan yang baru. Orang-orang yang bekerja di


sana langsung menyapa Rose, begitu melihatnya keluar dari pintu.


“Nona!”


Rose tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya memberikan sebuah


senyuman sebagai balasan dari sapaan mereka. Di antara semua kekalutannya,


ternyata masih ada orang-orang yang memandang kehadiran dirinya. Hatinya pun diguyur


kehangatan yang mendamaikan.


Ting!


Ting!


Ting!


Sebuah pesan masuk di dalam ponsel mereka secara bersamaan. Dan


Rose mendengarnya.


“Ada pesan dari Tuan Relly. Kita diminta berkumpul di


lapangan tembak sekarang juga.”


“Benar! Aku juga mendapatkan pesan yang sama!”


“Ya, aku juga!”


“Ada apa, ya?”


“Tidak tahu!’


“Bagaimana, sudah selesai belum?”


“Nah… selesai! Kalau begitu kita harus ke sana sekarang.”


“Sepertinya ada yang penting untuk disampaikan.”


Empat orang itu pun berlalu dari sana. Menuju tempat yang


diperintahkan. Di lapangan tembak, lapangan indoor yang luasnya tidak beda jauh


dengan lapangan tengah, tepat di hadapan Rose saat ini.


Seperti tadi, ketika mereka melewati Rose yang masih bergeming, mereka


tak lupa untuk menyapa. Dan dikembalikan dengan senyuman lagi oleh wanita itu.


Sepertinya Anggie sudah memberitahukan rencana mereka. Rose


bergumam-gumam sambil meyakinkan diri bahwa dia pasti bisa.


Keadaannya sudah lebih rumit dan lebih pelik lagi ketimbang


tadi malam. Masalah yang ada semakin membuat suasana dan hubungannya dengan


anggota Harimau Putih yang kontra semakin runyam.


Tapi memang itu yang mesti Rose hadapi. Dengan keberanian


yang ia punya tadi malam. Ditambah kekuatan dan keyakinan yang sudah Anggie


berikan. Ia harus yakin, bahwa ia bisa melewati masa-masa terberat ini.


“Rose!” Anggie berlari dari kejauhan menuju dirinya.


“Hai!” sapanya singkat, disisipi senyum tipis.


“Kau sudah siap?” tanya Anggie setelah jarak mereka cukup


dekat.


“Ekhm….” Dianggukan Rose kepalanya dengan yakin.


Bersambung…