
Ben menyetujui dengan putusan yang Rose ambil untuk mereka
semua yang bersalah. Kerumunan pun dibubarkan. Dan semua orang dipersilahkan
untuk beristirahat.
Tak terkecuali dengan tamu khusus yang Relly datangkan.
Victor dan Bella pun mesti beristirahat setelah perjalanan panjang mereka
datang ke sini, markas Harimau Putih.
Akan tetapi… sebelum itu… mereka harus mencari keberadaan
putra mereka yang sejak tadi menghilang bersama dengan bibinya.
Ben pun mengarahkan mereka, sebab sepertinya dia tahu dimana keberadaan bibi dan keponakan itu.
Sedangkan Anggie dan Relly pergi untuk mengurusi mereka
semua yang sudah dijatuhi hukuman. Mereka yang buta karena satu gosip saja, kini
sedang dikumpulkan di tempat lain. Untuk mendapatkan ganjaran atas apa yang
telah mereka perbuat.
Dan sepertinya, belum ada waktu untuk beristirahat bagi keduanya. Meski malam sudah larut, angin
pun semakin menusuk.
Tanpa beban, Ben membuka pintu kamar kekasihnya yang
tertutup rapat. Namun terdengar gaduh dari luar.
Ceklek!
Dipersilahkan Ben pasangan suami istri itu masuk dengan
sedikit gerakan kepala. Sebab Rose dan Bervan tidak menyadari kehadiran mereka
bertiga sama sekali.
Keduanya sedang asyik bernyanyi dengan suara keras, layaknya
penyanyi Rock. Menyelaraskan dengan dandanan yang sedang Rose pakai saat ini.
Menurut Bervan sangat cocok dengan musik beraliran keras seperti itu.
“Bervan!”
"Ya... ya... ya-" Panggilan ibunya lantas membuat anak kecil itu berhenti dari aksinya, yang seolah sedang bermain gitar sambil mengeluarkan suara dengan nada oktaf.
“Mama!” Segera anak kecil itu meringis sambil menggaruk
kepala. Lalu melompat dengan lincahnya, turun dari atas tempat tidur bibinya.
Sedangkan Rose, wanita itu langsung menurunkan sebelah
kakinya yang naik ke atas tempat tidur. Dia pun tersenyum kaku. Benar-benar
memalukan! Huh!
“Sudah malam! Ayo, kita tidur!” ajak Bella seraya
menghampiri putranya itu. Dielus kepala Bervan dengan lembut dan penuh kasih
sayang.
“Tapi aku masih ingin bermain dengan Bibi!” Bibir anak kecil
itu langsung merengut. Dia belum puas bermain dengan bibinya itu.
“Kalau begitu aku akan tidur di sini saja, dengan Bibi!”
cetus anak kecil itu dengan begitu cepat. Bahkan sebelum semua orang dewasa di
sana bereaksi. Wajahnya yang barusan muram, berubah ceria sedetik kemudian.
“Tidak bisa!” Dan yang paling cepat menanggapi adalah Ben.
Pria bertopi koboi yang langsung melayangkan protes keras.
Semua orang langsung menatap ke arahnya. Tentu saja dengan
Victor yang saat ini tengah menatap temannya itu dengan tatapan curiga. Bola
matanya yang naik turun seakan sedang memindai isi pikiran orang itu.
Ben yang sedang membalas tatapan permusuhan Bervan pun
mengangkat pandangan. Langsung kikuk ditatap seperti itu oleh kakak dari
kekasihnya.
“B- bukan begitu! Maksudku ada baiknya jika kalian bertiga
tidur bersama, kan?” Segera pria itu memberi alasan. Lagi pula, mereka, kan, satu keluarga! Wajar jika seharusnya mereka bersama-sama.
“Jangan melihatku seperti itu! Wajahmu seperti akan
menangkap seorang penjahat!” dalih Ben sambil memalingkan muka. Padahal dia
hanya tidak tahan diinterogasi oleh tatapan Victor.
“Ya! Kau penjahatnya!” gumam Victor sambil lalu. Hey! Mereka
satu gender, kan! Sama-sama pria! Wajar jika Victor dapat menebak isi otak Ben.
Dasar otak mesum! Awas saja jika dia sampai macam-macam
terhadap adiknya! Pria itu merutuk dalam hati.
Ben mendengar, namun dia hanya meliriknya dengan tidak
peduli.
“Ayo, Bervan!” Bergabung dengan Bella, lalu meraih kepala
Bervan untuk ia usap dengan lembut pula.
“Pa-“ Anak kecil itu memohon dengan tatapan sedih. Berharap
ayahnya itu akan luluh dengan tatapan mengenaskan yang dia punya.
“Sekarang sudah malam, besok kau masih bisa bermain dengan
Bibimu!” Agaknya tegas isi kalimat itu, namun Victor dapat menyampaikannya
dengan lembut.
Meskipun lama tak bertemu, bukan berarti dia juga harus
terlalu memanjakan putranya itu. Lagi pula, dia terbiasa tinggal di lingkungan
yang disiplin. Jadi kebiasaannya itu terbawa hingga sekarang.
Anak kecil itu menatap ibunya. Mencari pembenaran sekaligus
pembelaan. Semoga saja ibunya itu akan luluh dengan tatapannya ini. Dengan
sengaja, anak kecil itu mengerlingkan matanya dengan amat menyedihkan.
Sayangnya hal itu tidak mempan pada Bella. Sebagai ibunya,
tentu saja dia paham apa maksud tingkah putranya itu.
“Ayo, sudah malam!” sambut wanita itu dengan gelengan
kepala.
Rose tidak punya kuasa untuk menahan anak kecil itu,
sedangkan kedua orang tuanya saja sudah membuat keputusan. Dia tidak mungkin
menyela keputusan hakiki yang sudah kedua orang tuanya itu buat.
Wanita itu segera melutut, menyamai tinggi badan Bervan,
keponakannya. Lalu meletakkan telapak tangannya pada pucuk kepala anak kecil
itu.
“Bibi janji, besok Bibi akan mengajakmu berkeliling
bersama!” Seraya menautkan jari kelingkingnya ke jari mungil milik Bervan.
“Janji?” Anak kecil itu mengencangkan tautan jarinya ke jari
Rose.
“Janji!” Dibalas Rose dengan hal yang sama.
“Ma, Pa, ayo pergi! Aku mau tidur!” seru anak kecil itu
sambil berlari. Nada bicaranya yang ceria, membuat orang dewasa yang berada di
sana menggelengkan kepala.
Anak itu! Padahal tadi dia sendiri yang berat untuk beranjak
dari sini. Tapi sekarang… malah dia yang ditinggalkan kedua orang tuanya!
“Jangan macam-macam!” ancam Victor dengan wajah galak,
sebelum benar-benar keluar dari pintu. Jari telunjuknya mengacung lurus ke arah
wajah Ben.
dengan susah payah. Sambil tersenyum tak berdaya pada Ben maupun adik iparnya.
“Kau juga!” Dihentak Victor acungan jari telunjuknya ke
wajah Rose. Sampai wanita itu kaget dibuatnya. “Katakan, jika dia macam-macam
padamu!”
“I- iya, Kak!” jawab Rose sambil meringis. Pamer heran dan
rasa gugupnya dengan barisan gigi yang rapi.
“Sudah, ayo! Kau ini ada-ada saja! Memalukan sekali! Mereka
itu sudah dewasa, tahu mana yang benar dan mana yang salah!” oceh Bella sambil
berusaha kerasa menyeret suaminya itu dari sana.
Meskipun pasrah diseret oleh istrinya, namun ekspresi galak
dan acungan telunjuk Victor seolah mematung sambil terus menatapi mereka
berdua.
Rose memandang ngeri pada kepergian kakak dan juga kakak
iparnya itu. Tidak sadar jika Ben mulai memegang lengannya, kemudian menariknya
ke balik dinding.
“Ekh...,” pekiknya bersamaan bunyi derit pintu yang Ben
tutup, di belakang punggun pria itu.
Ceklek!
Tak ada jeda sedikit pun Ben berikan bagi wanita itu untuk
berpikir barang satu detik saja. Sudah terlalu lama ia menahan gejolak ini
dengan begitu keras.
Sejak ia bangun dan tak mendapati Rose ada di sisinya,
kemudian menyaksikan betapa cantik wajah dan penampilan wanita itu tadi, serta
dengan kecupan singkat sebagai penutup. Sebelum wanita itu pergi dengan Bervan.
Ben langsung menyambar bibir Rose. Menanamkan, menautkan,
melahap bibir wanita itu dengan tidak sabar. Pria itu sudah sangat ingin
merasai madu yang manisnya tak terobati bagai racun dan candu secara bersamaan.
Clek! Clek!
Satu tangan pria itu tak lupa untuk mengunci pintu kamar
itu, agar tak ada yang mengganggu.
Rose sempat membuka mata dan melirik ke arah tangan Ben yang
sedang bekerja. Pria ini benar-benar niat sekali, pikirnya.
Namun pria itu tak mengizinkan Rose mengalihkan perhatiannya
ke mana pun. Jempol Ben yang bersemayam di pipi kiri Rose mengusap dengan
lembut, sedang keempat jari lainnya menekan tengkuk belakang Rose.
Tangan kirinya lantas beralih pada tugas yang lainnya,
meraih pinggang wanita itu dan mendekapnya.
Tak ada jarak yang tersisa di antara kedua tubuh mereka. Ben dan Rose saling
menempel erat dalam kenikmatan paduan manis dan panas yang mulai menjalar ke
seluruh tubuh.
Ben terus menyerangnya, memburunya, membelit lidahnya sampai
Rose hanya bisa membalas dengan apa yang ia bisa. Pria itu tak mengizinkannya
untuk berkuasa sama sekali.
Padahal Rose sangat ingin membalas kecupan demi kecupan
dalam yang pria itu berikan. Dirinya juga perlu mengobati segala rindu dan
gelisah yang dia punya. Terutama terhadap kekasihnya ini.
Bentuk-bentuk perasaan syukur dan lega, mereka luapkan
dengan tarik ulur manisnya madu yang mereka punya.
Ben membawa wanita di dalam dekapannya itu ke arah ranjang.
Tanpa melepaskan tautan yang semakin panas menggelora.
Pria itu mendudukkan Rose di pangkuannya. Mereka melepas
rindu dan segala beban dengan pergulatan yang tiada habisnya. Yakin jika saat
ini bibir Rose sudah mulai terasa kebas
dan bengkak.
Namun rasanya dia tidak mau berhenti. Seolah sekarang Rose
sedang melepaskan semua beban dan kegelisahan yang sempat memakan hati.
Telapak tangan Ben yang hangat mulai menelusup, memasuki
kausnya di bagian belakang. Pria itu menyentuhkan telapak yang besar dan kasar
ke pinggang Rose yang terasa polos.
Punggungnya langsung menegak karena efek kejut yang
diberikan. Tangan Ben yang kasar karena sudah terbiasa melakukan pekerjaan
berat sejak muda, memberikan sensasi tersendiri bagi Rose. Meremang bulu kuduk
sejadi-jadinya.
Dan pria itu terus bergulat dengan bibirnya. Benar-benar tak
memberikan waktu bagi Rose untuk memikirkan hal lain. Diusapkan Ben dengan sengaja
telapak tangannya itu di sekitar pinggang Rose dengan lembut, namun kadang juga
sedikit meremas.
Sungguh Rose seperti bahan bakar baginya. Panas yang sudah
ia rasa semakin disiram, semakin besar nyala api di dalam dirinya saat ini.
Ada perang di dalam diri pria itu. Di satu sisi dia mesti
menghentikan semua ini. Di sisi lain, jiwa lelakinya tengah berusaha keras
untuk memberontak. Sedang dia sendiri tahu, keinginan Rose.
Ben tahu jika kekasihnya itu belum siap untuk mencapai
hubungan yang lebih jauh dengannya. Dan dia tidak mau memaksa.
Satu gigitan lembut pada bibir bawah Rose yang kenyal, Ben
buat sebagai penutup. Ben tak melepaskan dekapannya. Ia hanya melonggarkan
jarak di antara mereka.
Kening keduanya pun saling bertaut. Sambil berlomba-lomba
meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-paru mereka.
“Ben… hh… hh…” Rose ingin bersuara, namun napasnya masih
tersengal dan putus-putus.
“Ehm…” erang Ben, seolah dirinya pun tak mampu untuk banyak
berkata-kata.
Cup!
Diangkat Rose kepalanya, kemudian satu kecupan singkat ia
tanamkan pada kening yang mulai terasa panas. Yang jelas bukan karena demam!
Namun Rose-lah yang sudah menyebabkan hal ini terjadi pada tubuh pria itu.
“Maaf karena aku belum siap!” ucap Rose dengan tulus sambil
menautkan kening mereka kembali.
“Akhhh…,” teriaknya kaget, lantaran tubuhnya mendadak
dibanting ke atas tempat tidur.
Bersambung…