Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Pertemuan Kembali



Alis yang mengernyit dan menekuk, perlahan melurus dan naik ke atas. Ketika menyadari siapa-siapa saja yang kemudian hadir di hadapan Rose dan yang lainnya.


Itu adalah rombongan keluarga kecil Victor dan Bella, bersama dengan putra dan putri mereka. Ada Paman Alex juga yang selalu setia bersama dengan mereka.


Mereka semua berjalan dari area parkir mobil, sambil melihati badut dadakan yang sengaja Rose pajang di dekat gerbang rumah sakit.


Bahu Bervan bergidik berulang kali, saat dirinya berusaha menahan tawa. Mulutnya menjepit rapat kala anak lelaki itu saling tukar pandang dengan ayahnya, juga dengan Paman Alex.


Begitu juga dengan Bella yang menyembunyikan tawanya dengan berpura-pura bergurau dengan si kecil Ellia. Wanita itu merasa tidak tega untuk menertawai Della secara terang-terangan.


Mungkin, hanya Bella saja yang masih berbelas kasih pada Della di antara semua orang.


Sungguh pun, suasana hati semua orang dibuat baik setelah melewati sosok Della yang seperti badut. Bahkan, Ellia saja sangat menyukai dan terus tertawa setiap kali melihat ke arahnya.


Dan sungguh pula, Della ingin sekali tenggelam ke dasar jurang. Sekarang juga, detik itu juga jika perlu. Setengah mati wanita itu menahan malu!


Rombongan Victor dan keluarga pun sampai di hadapan keluarga kecil Ben dan Rose. Termasuk, dengan Felipe yang masih berada di sana juga.


“Rose! Kau baik-baik saja?”


“Hem…, aku ya! Tapi dia, yang tidak baik-baik saja!”


Dua wanita cantik tengah saling menyapa. Dan Rose menjawab seraya mengedikkan kepala ke arah Ben di sisinya.


Sementara, Bella masih mengecek setiap jengkal tubuh Rose, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Membolak-balikkan badan ramping itu, untuk memastikan bagian depan dan belakang tubuh Rose tidak berkurang satu apapun.


Bagaimanapun juga, sosok Bella sendiri, sudah seperti kakak kandung perempuan bagi Rose. Dia menjaga, melindungi, memperhatikan, selalu perhatian dan peduli, meski mereka jarang bertemu.


Tidak memiliki sosok ibu, tidak menjadikan Rose kekurangan kasih sayang dari sosok wanita dewasa, setelah pertemuannya dengan Bella. Sang kakak ipar yang paling baik hatinya.


“Kau ingat siapa aku?” tanya Victor yang kini sudah berdiri di depan kursi roda Ben. Seraya menunjuk wajahnya sendiri.


“Ya! Kau si tuan galau yang pernah sakit parah, kan?!” Dan sebelum Victor melayangkan protesnya, Ben sudah berucap lagi. “Hm…, maksudku…. Halo, Kakak ipar!” Tangannya melambai pelan bersama senyum kaku di wajah datar khasnya.


“Kau belum menikah dengan adikku. Jadi, aku bukan kakak iparmu!” ketus Victor setelah kesal dengan sapaan ‘bersahabat’ teman lamanya itu.


“Meskipun aku sudah memberi keponakan cantik ini, untukmu?” Sengaja, Ben memasang wajah memelas ketika menatap Berly. Anak perempuannya yang manis. Ia pun mengusap dagu si kecil dengan lembut.


“Ya! Meskipun sudah ada Berly di antara kalian. Kau tetap belum resmi jadi adik iparku!”


“Oh, Sayang! Papa sedih sekali, tidak dianggap oleh pamanmu!” adu Ben pada Berly dengan setengah merengek. Bak seorang anak kecil.


Pria kekar itu menggerakkan tubuhnya sedikit ke samping, sehingga ia bisa agak bersandar pada putrinya.


Sejak Berly mengusap samping kepala sang ayah dengan penuh kasih sayang, semenjak itu juga ia melayangkan tatapan tajam pada sosok Paman Victor-nya.


“Paman Victor!” seru Berly dengan mata menyipit.


Hanya dengan melihat ekspresi dan gesture tubuhnya saja, Victor sudah paham bahwa keponakannya itu sedang mengomel pada dirinya. Tidak boleh menganiaya ayahnya tersayang yang baru Berly temui.


“Paman, kan, tahu papaku sedang sakit! Harusnya Paman berkata iya, saja, bisa, kan? Seperti Paman bilang padaku dan Ellia kalau sedang minta sesuatu saat sakit!”


Nah, benar, kan?! Kena semprot juga, kan, ayah dua anak itu!


Bella pun berbisik pada sosok adik iparnya. “Sepertinya, dia baik-baik saja!”


Selepas mengatakan itu, kedua wanita cantik lekas melepaskan tawa mereka. “Benar! Ku rasa begitu!” balas Rose dengan berbisik juga.


Rose pun menatap Ben sambil menipiskan bibir. Lalu, dengan kompak menggeleng pelan bersama dengan Bella. Sama-sama tak habis pikir dengan sikap para lelakinya.


“Ha-hai-!” Kini giliran Bervan yang menyapa.


Anak lelaki yang sudah semakin besar itu agak canggung ketika melafalkan sapaannya pada Ben. Sosok paman seram yang selalu ia harapkan kembali dalam hati.


Sebab Bervan tahu, sangat tahu, bahwa hanya dengan kehadiran paman seramnya lagi, Bibi Rose-nya bisa kembali bahagia. Lalu, senyum favorit Bervan bisa ia temui lagi pada diri sang bibi. Sama seperti dulu.


“Kau sudah tinggi sekali, ya, sekarang?” Pertanyaan Ben langsung ditanggapi dengan sebuah anggukan, oleh Bervan. “Maaf, sebelumnya aku tidak mengenalimu! Tapi, kau pasti sudah menjaga bibimu dengan baik, kan? Ugh!” Ben ingin sekali menyentuh dan mengusap puncak kepala Bervan. Namun tidak jadi, karena lukanya terasa nyeri lagi, begitu ia menggerakan tangannya sedikit lebih tinggi.


“Ben! Ada apa? Kau baik-baik saja?” Rose pun langsung serta merta merundukkan tubuhnya.


Lantas setengah bersimpuh dan menempel pada kursi roda Ben. Demi melihat keadaan laki-laki yang barusan melenguh kesakitan.


“Tidak apa-apa! Aku baik-baik saja! Aku hanya merindukan anak ini!” kata Ben pada Rose seraya menunjuk anak lelaki di hadapan. Sambil menahan sakit pula.


Rose lekas tergugu mendengar penuturan sang kekasih. Begitu juga dengan yang lain. Mereka juga sama-sama tahu, betapa dekat hubungan antara Ben, Rose dan Bervan. Dahulu kala, ketika Ben belum menghilang dari muka bumi ini. Meski untuk sementara.


“Paman…, mau aku peluk?” tanya Bervan ragu.


Sesungguhnya, anak lelaki itu sedang menahan rindu. Lubuk hatinya ingin sekali mendekap sosok tinggi tegap yang selalu menjadi idolanya, setelah sang ayah.


“Aku ingin sekali kau peluk. Tapi sayangnya, luka-lukaku tidak ingin!” balas Ben sambil meringis.


Sontak saja, hal itu meledakkan tawa di antara semua orang. Paman Ellia yang mendorong straller Ellia pun ikut tergugu mendengarnya.


Termasuk dengan Felipe sendiri. Walaupun dirinya adalah orang asing di antara semua orang. Namun, ia bsia merasakan kehangatan dari keluarga kecil itu.


Lelaki berumur itu pun merasa bersyukur dalam hati. Untunglah, putranya yang selalu sendiri berada di tengah kehangatan. Dan ia yakin, Rose yang paling berjasa memberikan hangat di dunia sang putra.


Pria itu pun makin merasa bersyukur karena hal itu.


“Rose! Siapa dia-?” tunjuk Victor pada sosok asing di antara mereka semua.


Sebab ia mendengar suara tawa yang asing ditangkap oleh indera pendengarannya.


Semua atensi pun mengarah pada Felipe, setelah pertanyaan Victor keluar. Namun, lelaki yang diperhatikan tetap terlihat santai dan tidak tertekan sama sekali.


Rose pun lekas berdiri. Sementara Ben enggan bicara apapun, saat ini. Ia masih berusaha menerima kehadiran versi tua dirinya, yang hadir dengan begitu mendadak di hidupnya.


Langsung disadari Rose hal ini, maka dia pun langsung bersitatap dengan Felipe sendiri. Pria itu pun membalas tatapan Rose sembari tersenyum hangat.


“Mau kau yang memperkenalkan aku? Atau biar aku saja yang memperkenalkan diriku sendiri pada mereka?”


Bersambung…


doakan aku supaya rajin update lagi ya,,, supaya cerita ini cepat tamat juga,, hehe


maaf, aku tenggelam di dunia nyata begitu lama. soalnya lagi repot urus anak sekolah


terima kasih yang selalu setia nunggu cerita ini, ya


love u as always


keep strong and healthy teman-teman