Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Rose minta pijit



Rose meletakkan piringnya ke atas nakas sambil terus tersenyum. Yang Ben pikir jika kekasihnya itu sedang terharu dengan semua pengakuannya tadi. Ben tak curiga sama sekali dengan senyum Rose yang sebenarnya mengandung racun yang mematikan.


Bugh!


“Kau-“ Ben mengelus punggungnya yang baru saja kena pukul tangan Rose. Padahal tangan itu biasanya lembut padanya.


“Apa?Kau mau marah karena aku memukulmu?!” Rose bertumpu pada lututnya, setengah berdiri dia di pinggir ranjang itu sambil berkacak pinggang.


Wajahnya yang saat ini kelewat galak sampai membuat Ben tak bisa berkata-kata. Ben menggeleng dengan cepat.


“Terima kasih karena kau sudah mengingatkan!” Sudah seperti iblis wanita yang tersenyum saja dia saat ini.


“Apa?” tanya Ben lemah.


“Aku jadi ingat bagaimana perasaan kesalku pada kalian… padamu!” Telunjuknya mengacung lurus ke wajah tuan seramnya.


Mulanya dia kesal pada mereka bertiga. Pada Zayn dan Anggie yang melatihnya tanpa perasaan, juga pada kekasihnya yang sudah membuat daftar penyiksaan kejam itu. Ditambah lagi dengan pengakuan teramat jujur yang Ben katakan.


Terharu? Tersentuh? Tidak! Enak saja dia mengatakan itu semua lalu yang diterimanya tangisan dan pelukan haru nan romantis!


Heh! Yang harus tuan seramnya itu terima adalah kekesalannya yang sudah sampai pada titik puncak ini!


“Kau ingin aku menyerah? Selamat, kau berhasil!” Rose mendengus, lalu melanjutkan lagi. “Kau berhasil membuatku sempat berpikir ingin  menyerah saja saat melalui penyiksaan kejam kalian. Kau tahu? Aku setengah mati berusaha melawan perasaan itu dengan diriku sendiri! Aku melawan dengan tekad yang ku punya.”


“Lalu apa itu cukup? Belum!” Rose menggelengkan kepalanya sambil tersenyum penuh ironi. “Tekad saja tidak cukup, Ben! Tubuhku pun berusaha sangat keras sampai titik darah penghabisan.”


“Dan kau… tidak, kalian! Apakah kalian tidak berpikir, jika memakasakan itu semua padaku, yang tak pernah olahraga bisa mengakibatkan kelumpuhan bagiku! Apakah kalian tidak memikirkan hal itu?!”


“Sungguh, Rose! Aku sudah mengatakannya kepada mereka, jika kau terlihat kelelahan atau ingin menyerah, maka biarkan saja. Sungguh, aku sudah mengatakannya!” Ben berusaha menggenggam tangan wanita itu, tapi Rose menepisnya.


“Jangan membela diri! Maksudnya kau melimpahkan kesalahan ini pada mereka? Begitu? Tidak, Ben. Bagaimana pun juga, kau tetaplah salah satu tersangka utamanya!”


“Baiklah, aku tahu aku salah! Agar kau berhenti marah, lalu apa yang harus aku lakukan untukmu?” Tetap berusaha meraih tangan Rose untuk ia genggam. Dipasangnya wajah penuh penyesalan, agar kekasihnya itu berhenti marah-marah.


Hey! Sejak kapan dia jadi lemah begini terhadap seorang wanita?! Rose, memang benar-benar luar biasa. Tidak hanya bisa membuatnya mengalah, tapi sekarang dia juga dibuatnya kalah. Ini baru terjadi dalam hidupnya. Dalam hidup pria eksentrik yang hidupnya jauh dari wanita.


“Kau tahu?! Tubuhku rasanya remuk semua?!”


‘Ah, ternyata dia belum selesai!’ Ben benar-benar dibuat tak berdaya.


“Sakit sekali, sampai rasanya aku tidak bisa bangun atau berjalan lagi!”


“Iya, aku tahu! Kau, kan, sudah mengatakannya tadi, saat masih di lapangan!” Tak putus asa, Ben tetap mencoba menggenggam tangan Rose lagi.


”Makanya aku menyiapkan air hangat untukmu berendam. Agar tubuhmu, setidaknya merasa lebih rileks.” Setelah berhasil menggenggam kedua tangannya, Ben memperlembut nada suaranya.


Entah sejak kapan dia jadi begini! Ben hanya mengkuti instingnya saja. Tentang apa dan bagaimana yang harus dia lakukan untuk menghadapi kekasihnya yang sedang marah ini.


Mungkin karean otaknya sedang dingin, jadi dia dapat berpikir jernih. Tidak tahu jika tadi dia belum tidur siang dan  masih kusut. Mungkin Rose akan kena bentak lagi seperti tempo hari di rumah Victor.


Hish! Jangan sampai hal itu terjadi lagi. Sebab Ben menyadari jika kala itu ucapannya


memang keterlaluan.


Ketika Rose mulai berpikir, maka dia memanfaatkan situasi dengan mendudukkan wanita itu kembali. Tersenyum lebar dengan sabar, supaya marahnya wanita itu mereda.


‘Benar juga, sih! Sekarang aku sudah merasa lebih baik. Meskipun beberapa bagian masih sedikit terasa pegal, tapi ini sudah lebih baik dari pada tadi.’


Tapi… tapi dia tidak ingin terlihat mudah ditaklukan seperti biasanya. Sebab menurutnya, kesalahan Ben kali ini lumayan besar juga.


“Sudah, ya! Jangan marah lagi!” bujuk pria itu dengan suara halus.


‘Ck! Sejak kapan dia mempunyai suara semerdu itu!’ Rose keheranan dalam hati, meskipun dia menikmatinya juga, sih! Nanti, kan, dia tergoda!


Baiklah! Dia sudah memutuskan! Rose akan mengampuni Ben kali ini. Asalkan….


“Kau harus bertanggung jawab!” kata Rose sungguh-sungguh.


“Bertanggung jawab apa?” Dia, kan, belum menyentuh Rose sama sekali. Paling-paling hanya ciuman saja. Memangnya dengan begitu, sudah bisa membuatnya hamil? Sebenarnya apa yang ingin Rose katakan, sih!


“Tubuhku masih terasa sakit! Apalagi kakiku! Masih terasa pegal dan lemas untuk berjalan-jalan. Ini, ini, betisku masih terasa tegang!” Rose menaikkan kakinya ke atas paha Ben. Lalu ditunjuk-tunjuk betisnya yang putih dan berisi itu.


‘Sadarlah, Ben! Jangan tergoda lagi! Ingat, dia sedang marah sekarang!’ Pria itu meraup wajah untuk menyadarkan dirinya sendiri dari pikiran kotor itu lagi.


“Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan?” tanyanya dengan sabar.


“Pijat aku!” seru Rose seraya berbalik memunggunginya. Dia menepuk-nepuk bahunya sebagai pertanda.


“Kau bilang kakimu yang pegal, tapi kenapa yang dipijat bahu?!” Ben mengerutkan alis di belakang punggungnya.


Plak!


Rose menepuk dahinya dengan keras seraya tertawa. ‘Ya ampun, dia lupa!’


“Ini, tolong pijat kakiku!” Dinaikkan kakinya lagi ke atas paha kekasihnya.


Ben menarik napasnya dalam-dalam. Kesabarannya benar-benar diuji sekarang ini. Bukan tentang bagaimana dia menahan emosinya, tapi lebih kepada  bagaimana dia harus menahan diri untuk tidak menerkam Rose saat ini juga.


Rose, Rose! Seberapa banyak dirinya harus menahan diri!


“Ba- bagaimana jika kita teruskan makan kita dulu! Kau baru makan sedikit, kan!” Dia juga baru makan sedikit. Atau paling tidak berikan dia waktu untuk menyiapkan ketahanan batinnya.


“Kalau begitu… suapi aku!” seru Rose dengan wajah angkuhnya.


Dalam hati dia tertawa. Enak sekali bisa semena-mena begini pada tuan seram yang biasanya itu selalu galak padanya.


Menit demi menit berlalu sampai makanan di piring mereka habis. Tidak… bahkan troli makanan yang Relly bawa juga hampir habis isinya. Keduanya tertawa bersama. Mereka menertawai diri  mereka sendiri


yang sudah seperti tidak makan berhari-hari.


“Aduh, perutku kenyang sekali!” Rose bersandar pada kepala ranjang sambil mengelus-elus perutnya yang sekarang terlihat agak buncit.


“Ku rasa kau bukannya kelelahan, tapi kelaparan!” Senangnya Ben, sudah bisa melihat senyum Rose lagi.


“Yang makan banyak bukan hanya aku, tapi kau juga, kan?!”


“Aku hanya sedang… sedikit bernafsu!” Ben tersenyum penuh arti.


Uhukk… uhukk


Rose tersedak mendengar dan melihat apa yang barusan Ben ucapkan. Ia yakin jika sebenarnya pria itu  memiliki maksud lain dalam kata dan tatapannya.


“Hey, apa yang kau pikirkan!” Sambil membantu Rose mengusap-usap punggungnya. Tapi dia tersenyum puas di belakang. “Aku benar-benar sedang bernafsu... bernafsu makan karena baru saja kau marahi!”


Heh! Rose tahu jika itu hanya alasannya saja. Tuan seramnya itu, kapan saja selaluberpikiran kotor. Mungkinkah, ini adalah efek karena dia sudah berpuasa lama sekali?!


Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Masa bodoh! Dia tidak mau dimintai pertanggung jawaban jika dia nanti membahas hal ini.


“Ah, ya! Katanya kau mau memijit kakiku, kan!” Rose pun berbalik memandangnya lagi, dengan pandangan menuntut. Janji tidak boleh diingkari!


“Ahh…” Ben pun meringis. Tersenyum lebar dengan lemah dan tak berdaya. Akhirnya masa penyiksaannya datang juga! “Baiklah!”


Dengan terpaksa, dan amat terpaksa, pria bertopi koboi itu akhirnya memijat kaki mulus Rose yang amat menggoda. Ditekan hasratnya dalam-dalam sambil menatap kesal, pada wanita yang saat ini sedang memamerkan senyum kemenangannya.


Dia yang biasa dijunjung tinggi oleh para bawahannya. Dia yang biasanya menunduk, menatap pada musuh yang berada di bawah kakinya. Kini harus menyentuh, memegang, bahkan memijit kaki seseorang. Beruntung saja orang yang ia hadapi adalah kekasihnya sendiri. Dan ini memang pengecualian untuknya, untuk Rose


yang dicintainya. Tidak dengan yang lain, jangan lupa!


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar itu diketuk dari luar.


“Rose! Ini aku Anggie!”


“Anggie?” Ada gerangan apa wanita seksi itu mencarinya. Dia menatap Ben sebentar yang sepertinya sedang sangat berkonsentrasi pada kakinya. Rose tersenyum kembali.


“Masuk!” sahut Rose pada orang yang saat ini masih menunggu di luar.


“Oke!”


Ceklek!


“Ro- “ Rose ini benar-benar….


“Tu- tuan!” Dia pun kehabisan kata-kata pada apa yang sedang dilakukan oleh bos besarnya itu.


“Untuk apa kau ke sini?” Sebuah kilatan tajam seakan menusuk bola matanya sampai tembus ke belakang kepala. Rasa tertusuknya sampai membuat dia terhuyung mundur dengan ngeri.


Suara dingin bosnya pun seakan melengkapi aura horor yang mendadak melingkupi tempat ini.


Di tempat ini, di markas besar Harimau Putih ini, tak ada yang mampu bertahan dari aura bos besar mereka yang menyeramkan itu. Termasuk… dengan dirinya sendiri.


“K- kalau begitu nanti saja aku ke sini lagi!”


Brak!


Tubuh Rose sampai tersentak mendengar pintu kamarnya yang dibanting dengan keras.


“Ada apa dengannya?!”


Bersambung…


Maafkan author ya kemarin tidak sempat update


Maaf juga kalo aku masih update satu bab sehari,,


Bulan depan, mudah-mudahan mulai awal bulan ini aku akan update dua bab perhari,,


Di doakan ya,, ini untuk mengejar bonus minimal kata juga,, hehe


Keep strong and healthy ya semuanya