Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Lewat Berly



Inginnya, Rose meninggalkan pria itu begitu saja. Inginnya, Rose segera berlalu dari sana. Akan tetapi, panggilan itu, langsung menyerang segala sudut pertahanannya.


Namanya, disebutkan keluar dari mulut itu. Dengan suara berat yang selalu ia kenang, dan seringkali terngiang di telinganya.


Suara yang begitu ia rindu juga ia nanti.


Setelah menjepit bibir sambil mempertimbangkan sebentar, akhirnya Rose mengulurkan tangan, menunggu, menyambut pria yang berjalan dengan gontai.


Setelah berhasil menggapai Daniel, Rose diminta membawanya ke kamarnya. Wanita itu pun menyetujui, sebab ia juga merasa kasihan dan tidak tega melihat wajah Daniel yang masih mengernyit kesakitan.


Tidak sekali pun, selama ia mengenal sosok itu, melihatnya merasa kesakitan sampai seperti itu.


Bahkan, ketika tangannya tertembak oleh penyusup pun, pria itu masih bisa menahannya, ketika peluru yang bersarang dikeluarkan.


Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang menyebabkan ia merasa begitu kesakitan?


Sudah dua jam berlalu.


Begitu Rose mengantarnya ke kamar, ia langsung merebahkan Daniel ke ranjang. Membiarkan pria itu beristirahat. Sementara ia bisa pergi dari sana.


Niat awalnya begitu.


Akan tetapi, Daniel langsung merasakan kehampaan, setelah tangan Rose meninggalkan tubuhnya. Maka, dengan cepat, ia meraih pergelangan tangan itu. Menariknya, hingga Rose jatuh terduduk di pinggir ranjang.


Bahkan rasanya, hal itu pun tidak cukup bagi pria itu. Masih ada sisa kekuatan lagi yang ia punya. Daniel pun menggapai pinggang ramping itu dengan tangan yang lain, lantas menarik dan menggulingkan tubuh Rose.


‘Akh!’ pekik Rose kaget. Tanpa bisa melawan.


Hingga, mereka tertidur menyamping, dengan tanpa sengaja, berposisi saling berpelukan. Sebab, rengkuhan Ben, serta Rose yang berpegangan pada kemeja pria tersebut di bagian dada.


‘Biarkan seperti ini, sebentar saja!’ Pria itu meminta.


Yang pada akhirnya, mereka terlelap bersama, setelah saling berperang dengan perasaan masing-masing.


Kini, saat ini, begitu Rose membuka mata, yang dilihatnya pertama kali, adalah dada bidang yang biasa menjaga dan melindunginya.


Pose tidur lama, yang mana, merupakan kebiasaan mereka ketika masih menjadi pasangan, dulu.


Karena memang, sekarang ini, mereka tidak bisa dikatakan, masih menjadi sepasang kekasih.


Nama dan status telah Ben sandang berbeda. Bukan sebagai Benny Callary yang Rose kenal dan Rose cinta. Bahkan sudah ada seseorang yang bergelar tunagannya, di samping pria itu.


Sekarang, takdir mereka sedang berbeda, meskipun tidak tahu bagaimana ke depannya.


Sakit hati jelas, tapi mau bagaimana jika jalan ceritanya seperti ini?!


Ben berpaling darinya, bukan dengan kesengajaan, akan tetapi karena sebuah rencana manusia serakah, yang bernama Della. Segala yang terjadi pada pria itu saat ini, bahkan adalah sebuah manipulasi.


Rose berprasangka seperti itu.


Tapi jangan salah! Ia sendiri pun bisa menjadi serakah, saat ini.


Ia bisa memanipulasi balik pria, yang sepertinya sedang menjadi cangkang kosong. Rose tinggal mengatakan segalanya tentang Della, lalu menghancurkan hubungan pertunangan mereka berdua.


Namun, Rose masih punya hati nurani, ia tidak bisa melakukannya! Karena dia, bukan Della. Dia bukan wanita itu.


Lantas, wanita berambut pirang itu pun mendesahkan napas, melalui hidung dan juga mulutnya.


Ini adalah takdir, dan ia harus menerima takdir ini. Meski, ia sendiri sebagai manusia bertanggung jawab untuk mengubah takdir yang ada. Dengan berusaha.


Bangun dari semua kenestapaan masa lalu, Rose melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangan. Waktu sudah menjelang sore, akan tetapi, pria di sisinya masih belum terbangun juga.


“Astaga, Berly!” pekik Rose yang kemudian mencoba mengontrol suara. Agar, jangan sampai membangunkan si pria, yang masih tertidur lelap.


Pikir Rose, dia pasti kelelahan. Entah, otaknya ataupun hatinya yang merasa lelah. Yang jelas, saat ini, orang itu sangat membutuhkan istirahat. Dan Rose, tidak boleh mengganggu, dengan membangungkannya.


Akan tetapi, Rose ingat, ia belum mengabari putri juga keluarganya, tentang dia yang keluar dan belum  kembali hingga saat ini. Ponsel pun Rose lupa membawanya. Saking ia tadi terburu-buru dan terlalu larut dalam gelisah.


“Aku harus pergi sekarang!” bisiknya lagi. Mengingatkan diri sendiri, bahwa ini bukan tempat yang mesti, berlama-lama ia tinggali.


Dengan Daniel yang masih terpejam, jalannya untuk keluar dari kamar ini, pasti akan lebih mudah. Ia juga, jadi tidak perlu berpamitan atau basa basi, pada orang yang masih memeluknya.


Rose berusaha, untuk keluar dari penjara tangan Daniel. Ia angkat tangan kanan yang melingkar di sekitar pinggangnya. Meletakkan tangan itu di atas ranjang, lantas ia bisa bangun dan pergi dari sana. Sebab tangan yang lain, sedang tidak mengukungnya.


Kemungkinan besar, Daniel masih terlelap di alam mimpinya saat ini.


Setelah Rose berhasil mendudukkan diri, tangannya tidak tahan untuk tidak menyentuh wajah itu.


Semula, ia mengepalkan tangan, mencoba untuk menahan diri. Sebab mengingat bagaimana hubungan dan status mereka saat ini.


Akan tetapi, keinginannya terlampau besar. Pun, didorong oleh rasa rindu yang menggila. Kepalan tangan itu pun terbuka, lantas turun dan menyusuri kening, alis, pipi sampai ke dagu.


Jemari lentik Rose berhenti di sana, untuk beberapa saat. Tanpa sadar, ibu jarinya bergerak, mengusap lembut kekenyalan dari bibir yang sudah sangat lama tidak menyentuhnya.


Bolak-balik, sampai akhirnya Rose tersadar, dengan apa yang sudah ia lakukan.


“Ekh!” Napasnya pun jadi tertahan. Kemudian, Rose menarik tangannya dari sana.


Ia hendak turun dari ranjang, tapi rasanya, tetap saja ada yang kurang. Hatinya gelisah tak menentu. Ia menginginkan sesuatu yang tak semestinya, tapi juga ia berhak mendapatkan.


Tubuh itu berbalik lagi. Dia yang sudah hampir mencapai pinggir ranjang, lantas bergegas menju ke wajah itu, kembali.


Cup~!


Sebuah kecupan singkat Rose daratkan pada bibir Daniel. Lalu, mengangkat sedikit mengangkat kepalanya. Sambil memandangi wajah si pria, wanita itu pun tersipu malu setelahnya.


“Rasanya, seperti sedang melakukan ciuman pertama!” Rose terkekeh kecil sambil merasakan dadanya yang berdebar.


Mungkin, setelah sekian lama, akhirnya, ia bisa merasakan manis dan lembut bibir yang biasanya mencumbu, mengasihi, menyayangi serta membisikkan kata-kata cinta, padanya.


Dan, jangan lupa, biasanya juga, keluar omelan-omelan dari dia yang suka marah-marah.


Diusap Rose kening itu sampai ke anak rambutnya. Kemudian ia berbisik untuk yang terakhir kali. “Kau tidak akan tahu, betapa aku sangat merindukanmu!”


Cup~!


Sebuah ciuman dalam di kening, Rose berikan. Benar-benar menyalurkan rasa cinta juga rindunya yang teramat dalam.


Setelah mengumandangkan kerinduannya, Rose mentas dari sana. Ia harus segera kembali pada realita. Bahwa, saat ini, takdir mereka sedang berbeda. Tidak untuk satu sama lain.


Clek~!


Pintu kamar itu pun ditutup dari luar. Tapi seseorang di dalamnya membuka mata.


Daniel, tidak mengubah posisinya saat ini, tetap berposisi miring, di mana tadi ia merengkuh tubuh seseorang.


Butuh waktu beberapa saat, bagi pria itu untuk mencerna apa yang baru saja ia dengar dan ia terima.


Telapak tangan itu lantas mengusap, bekas tempat yang tadi Rose tiduri. Kemudian ke bibirnya. Diusap Daniel bekas kecupan Rose di sana. Lalu, pada keningnya.


Seolah, setiap ciuman yang Rose berikan, masih terasa, di setiap bagiannya. Pria itu pun mengusap bekas seseorang tidur di sisinya, tadi.


“Rose! Siapa aku sebenarnya?” bisik Daniel sambil mengerjapkan mata.


Pria itu lantas merebahkan dirinya dengan benar. Menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong dan hampa.


Sepanjang sakit kepalanya menyerang, deretan klise panjang menyelubung ke dalam memori otaknya. Memaksa masuk, merusak gembok penghalang, yang sudah dirancang sedemikian rupa, agar Daniel tak dapat lagi mengingat hal tersebut.


Apapun, setiap hal yang dipaksakan pasti tidak akan baik.


Begitu juga dengan memoar aneh yang Daniel rasa, ia tidak pernah melakukannya sama sekali. Hanya saja, pada setiap adegan, sangat jelas, wajahnya nampak di sana. Hanya saja, wajah setiap lawan bicaranya di sana, tidak terlihat dengan jelas.


Dalam ingatan itu, terdapat pula, gambaran ketika ia sedang bercinta, dengan seorang wanita.


Sungguh pun! Hal ini membuat diri Daniel saat ini, terheran-heran sendiri.


Padahal, mau bagaimana pun Della menggodanya, pria itu tidak akan terangsang sama sekali. Bahkan yang ada, ia merasa jengah dan risih dengan tindakan Della tersebut. Lalu, berakhirlah, dengan Daniel yang mesti mengusir tunangannya itu, secara halus maupun paksa.


Tapi, mengapa ia bisa melakukannya dengan wanita di dalam memorinya itu?


Pun, dengan hal yang tadi terjadi!


Mengapa pula, ia bisa merasa bahagia dan tenang, setelah mendapatkan kecupan dari Rose. Bahkan rasanya, ia ingin meminta lebih.


Sedangkan, saat bersama dengan tunangannya saja, tidak ada yang namanya ciuman. Semuanya, hanya berupa kecupan singkat dari Della, pun tanpa Daniel yang membalasnya.


Memang benar, selama ini, hubungan yang ia jalani, hanya dalam sebuah kebingungan yang tak kunjung usai. Baik mengenai jati diri, maupun perasaan yang terus menerus hampa, meski Della sudah berada di sisinya.


Tadi…, begitu merasakan Rose menggeser tangannya, Daniel mulai terbangun. Pria itu, hanya ingin tahu apa yang hendak Rose lakukan, sementara ia masih memejamkan mata.


Siapa sangka, jika, ia akan mendapatkan dua buah kecupan bermakna dalam. Serta ucapan rindu mendalam, dari seorang kekasih. Rasanya seperti itu, dan masuk, menelusup ke dalam sanubarinya.


Seolah sangat mengena di hati pria itu. Padahal, mereka baru saja bertemu tadi malam.


Akan tetapi, dengan apa yang Rose ucapkan tadi. Rasanya, makin memperkuat spekulasi yang ia punya, tentang Rose dan keluarganya, yang memiliki hubungan serta kaitan, dengan dirinya yang asli.


“Rose! Rose! Rose!” Setiap kali bibirnya mengumandangkan nama itu, Daniel kembali merasakan lembut dan sejuk bibir si wanita di bibirnya.


Ia pun mengusap bibirnya sendiri dengan ibu jari. Masih merasakan, nyata, tentang apa yang dialaminya tadi. Pun, tanpa sadar, alam bawah sadarnya, terus menagih, untuk diberi kecupan lagi dan lagi.


Dari Rose! Bukan dari Della!


Errghh…. Daniel mencoba mendudukkan diri, sambil membawa sisa pening yang tadi. Kemudian berusaha menyamankan diri, dengan bersandar di ujung tempat tidur empuk itu.


Dilihatnya, tas kecil yang tadi ia lihat, berada di sisi Rose, lalu, ia bawa-bawa sampai ke sini. Tas kecil itu, berada di atas lantai kayu, tak jauh dari tempat tidurnya.


Pria itu bangun perlahan. Peningnya memang sudah tak sehebat tadi. Ia pun sudah bisa berjalan sendiri, untuk mengambil tas jinjing tersebut.


Ia merogoh isinya. Kemudian mendapati jas miliknya, yang semalam, ia sampirkan di bahu Rose, guna menghalau tubuh basah Rose, dari angin malam yang menusuk.


Daniel pun tersenyum sambil memandangi secarik kemeja yang sedang ia genggam.


“Cepat sekali! Dia, pasti ingin segera mengembalikan ini! Tidak, bukan…,” Pria itu menggelengkan kepala, seraya melebarkan senyuman. “Dia pasti tidak sabar, ingin segera bertemu denganku!”


Begitu sombong dan percaya dirinya Daniel. Bahkan, tidak sekali pun, rasanya, berbunga-bunga seperti ini, ketika ia bersama dengan Della.


Entah, karena hatinya merasa, Rose sangat spesial dan sangat berarti baginya? Atau karena ia langsung tertarik dengan wanita itu pada pandangan pertama?


Yang jelas, semuanya berhubungan dengan siapa jati dirinya, yang sebenarnya.


Bagi Daniel, saat ini, seperti sedang, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.


Datang ke sini, sekalian bekerja, ia pun bisa menemukan beberapa keterkaitan, tentang hal-hal yang ia cari. Selama ini.


Daniel berharap, ia bisa segera mengetahui, dibalik dirinya, yang tidak mengetahui apa-apa ini.


Dan untuk memulai semua itu, ia bisa mencari tahu, lewat…, “Berly!”


***


“Mama!” seru Berly dari arah tempat tidur. Anak perempuan itu langsung menghambur ke pelukan sang ibu, begitu melihat ibunya masuk ke kamar mereka.


“Kau dari mana saja? Kenapa jam segini, baru kembali? Dan, kau juga meninggalkan ponselmu? Kau tahu, bagaimana kamu sangat mengkhawatirkanmu?!” Baz juga langsung datang mendekat, dengan deretan pertanyaannya.


Sebelum benar-benar sampai di hadapan Rose, Baz mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Lantas, pria itu menghubungi seseorang.


“Dia sudah kembali! Kau tidak perlu mencarinya lagi!”



“Ya! Baiklah!”


“Victor! Dia sedang mencarimu di luar!” ungkap Baz sambil menutup panggilannya. Kemudian menyimpan ponselnya kembali.


“Ya, ampun! Aku bukan anak kecil, yang harus kalian khawatirkan, serta kalian cari-cari sampai seperti itu. Ck!” Wanita itu memijat ujung pelipis, saat mengucapkan protesnya. Diiringi dengan decak tak percaya.


Pelukan putrinya pun, ia lerai. Namun ia masih menjaga bahu sang putri, karena masih ingin, putrinya itu, berada di hadapannya. Berpisah beberapa saat, ternyata, sudah membuat hatinya rindu.


“Kau sudah pergi selama berjam-jam, dan tidak membawa ponsel. Dan lagi, saat ini, kita sedang berada di tempat asing. Wajar saja, jika kami sangat mengkhawatirkanmu, sampai berlebihan begini!”


Entah, karena perasaannya masih kacau atau memang karena ia sedang emosi. Rose tersulut dan membalas ucapan Baz dengan nada tinggi yang sama.


“Kalian benar-benar khawatir karena aku pergi sendiri? Atau karena aku pergi untuk menemuinya?” sembur Rose agak emosional.


Dan ia bukannya tidak tahu mengenai perasaan Baz terhadapnya. Semburan, pertanyaan Baz tadi padanya pun, dibumbui oleh rasa cemburu, terhadap sosok Ben yang sedang menjadi Daniel, tersebut.


Rose tahu! Maka dari itu, Rose sekalian menyindirnya, dengan pertanyaan pedas dan telak.


Bagi Baz, kedua-duanya, memiliki jawaban ‘YA’.


Dan untuk pertanyaan kedua, hanya Baz sendiri yang tahu, betapa khawatirnya, ia, jikalau Rose bertemu dengan pria itu lagi. Memupuk cinta lagi. Bersatu kembali. Lalu, tak ada ruang baginya lagi, di hati Rose.


Meski, saat ini, pun tidak, sebenarnya.


Menghilang pemikiran egois itu, Baz lantas berkilah.


“Kau juga pasti tahu, siapa yang sedang bersama orang itu, saat ini? Dia adalah wanita yang mempunyai segalanya. Kekuasaan, kekuatan, wewenang di mana-mana. Wanita lebih mengerikan dari apa yang kita kira, Rose.”


“Kami tidak ingin, terjadi sesuatu padamu. Karena, kau pun, pasti tahu sendiri, betapa gilanya dia, jika sudah menginginkan. Bahkan, dengan nyawa seseorang sekali pun.”


“Kami hanya tidak ingin, kau terlibat dengannya lagi. Wanita itu berbahaya, Rose!”


“Lalu apa?” tantang Rose dengan tatapannya.


“Lalu aku harus diam saja melihat priaku ada di tangannya, begitu? Harus menjadi kambing bodoh yang tidak punya akal? Benar, begitu?”


“Jawab aku, Baz?” Diguncang-guncang kedua lengan pria yang tengah berbicara denganya. Bertanya dengan sangat emosional.


Sementara Baz sendiri, karena tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan yang ia berikan. Ia hanya bergeming, sambil memalingkan wajahnya ke samping.


Tidak kuasa, ia menatap langsung netra abu-abu, yang sedang berkaca-kaca itu. Jika berlama-lama, yakinlah Baz akan segera mengutarakan perasaan cintanya. Yang kemudian akan ditolak langsung, oleh wanita itu.


Baz tidak menginginkannya. Ia tidak ingin mengubah apapun, di dalam hubungannya dengan Rose saat ini. Abaikan perasaannya, melindungi dan menjaga Rose serta Berly, adalah tujuan utamanya.


Itu saja, sepertinya, yang harus ia ingat-ingat, lagi dan lagi.


“Aku hanya ingin bertemu dengannya, Baz. Hanya itu!” Rose pun melepaskan tanganya dari lengan Baz, sambil berujar lemah. Ia juga mengejar pandangan ke samping.


Baz menoleh sebentar pada wanita itu. Ia rasa, ia mengerti apa yang Rose rasakan saat ini. Ia pun, sudah melihat, bagaimana Rose yang begitu merindu selama ini.


Tatapan Baz pun makin lemah, kala menyadari, bahwa sepertinya, tak ada ruang lagi, yang tersisa, untuk dirinya.


Rose memilih untuk melutut, demi bisa memeluk putrinya lagi. Sekalian melarikan pandangan dari sosok pria di hadapannya. Sebagai seorang teman dan sahabat, Rose pun tidak tega, melihat temannya itu kalut dan bersedih.


“Mama, ini kenapa? Kenapa pipi Mama bengkak dan merah?” tanya Berly tiba-tiba, seraya mencoba menyentuh pipi sang ibu, begitu pelukan mereka, kembali dilerai.


“Rose…?” Baz pun melayangkan tatapan tajamnya sembari bertanya.


Bersambung…