
Ben dan Rose lantas mengurai pelukan mereka. Dengan cepat,
dengan ekspresi terkejut yang sama di wajah keduanya. Mereka jelas mengenal
betul pemilik suara ini.
“Kakak!” serunya bersama desah kaget yang ia punya. Mulutnya
masih menganga tak percaya.
Sedang Ben hanya diam, tak menanggapi. Tapi jelas, pria itu
cukup terkejut dengan kehadiran pria itu di markasnya. Lalu tanpa ragu, ia
meraih pinggang Rose supaya mendekat kepadanya.
“Ini rumah kami! Kenapa?” sahut Ben lantang. Tak memedulikan
sopan santun di antara mereka.
“Ck! Kalian bahkan belum menikah! Seenaknya saja kau
berbicara!” decak pria itu seraya menggelengkan kepala.
“Ya ampun, Rose! Kau cantik sekali!” pekik seseorang lagi
dari belakang. Seorang wanita cantik bersama putranya.
“Bella! Bervan!” Kali ini Rose tak kalah terkejutnya.
Wanita itu langsung memeluk kakak iparnya ketika mereka
sudah dekat. Saling menumpahkan rindu yang teramat dalam. Padahal, kan, belum
genap sebulan dia meninggalkan rumah!
Ya! Yang datang adalah Victor, bersama Bella dan putra
mereka. Ketiganya datang tanpa disangka-sangka. Rose senang, namun juga bingung
dengan maksud kedatangan mereka.
Apakah mereka terlalu merindukannya? Makanya datang ke sini,
secepat ini? Baiklah! Dia bisa menanyakan hal ini nanti! Ada hal yang perlu Rose
konfirmasi pertama kali.
“Kakak! Bagaimana mungkin Kakak membiarkan anak kecil datang
ke tempat seperti ini?” sembur Rose untuk protesnya pada sang kakak. Matanya
bahkan melotot dengan galak.
Bagaimana pun juga, Bervan adalah keponakan kesayangannya. Rose
tidak ingin anak kecil itu terluka, walau sedikit saja. Jadi agak… kurang
setuju dia dengan kakaknya membawa serta istri dan putra mereka.
“Bervan!” Meskipun begitu dia tetap ingat untuk menyambut
keponakan laki-lakinya yang tampan. Diulurkan kedua tangannya untuk menyambut
Bervan masuk ke dalam pelukan.
“Tidak mau!” ketus anak kecil itu. Bahkan ia sampai
memalingkan wajahnya. “Aku sudah besar, Bibi! Tidak perlu pakai memeluk
segala!”
“Ya ampun, anak ini!” keluh Rose sambil menatap Bella. Lalu
disambut dengan senyum tak berdaya juga dari ibunya.
Sudah tampan, pintar, dia cool sekali. Bagaimana Rose tidak
selalu menjadikan anak ini sebagai favoritnya? Setelah tuan seramnya tentu!
Jika Bervan yang pertama, sudah pasti Ben akan cemburu dan
merajuk seperti tempo hari. Pria itu tidak mau merasa dikalahkan. Meski
saingannya adalah seorang anak kecil.
“Huh! Padahal dia sendiri yang ingin ikut. Katanya ingin
bertemu dengan ‘Bibi Rose’. Aku, kan, ingin bermain dengan Bibi Rose dan Paman
Seram,” jelas Victor sambil mengikuti gaya bicara putranya ketika merajuk
sebelum mereka berangkat tadi sore.
“Papa!” protes Bervan kesal sambil melayangkan pukulan asal
pada Victor.
Pria itu segera melutut sambil tergelak riang. Diterima
kepalan lemah Bervan untuk ia genggam. Sambil ia sendiri menyelesaikan tawanya.
Lalu ia berdiri lagi ketika tak ada lagi protes dan lampiasan marah dari
putranya itu.
“Kemarilah! Bibi juga merindukanmu, tahu!” anak kecil itu
langsung direnggut paksa olehnya. Rose membenamkan tubuh mungil itu ke dalam
dekapan yang teramat erat.
Bella dan Victor saling mengulurkan tangan, lalu mendekat
seperti magnet. Keduanya saling merangkul sambil tersenyum. Kala menatapi wajah
putra mereka yang bersemu merah.
Anak itu cepat sekali menjadi besar! Padahal Bella merasa
belum lama ini ia menimangnya dalam gendongan. Mendendangkan melodi apa pun
supaya bisa membuatnya terlelap dengan cepat.
“Paman Seram?” Ben membeo dengan rasa percaya. Sejak kapan
ia memiliki julukan seperti itu? Apakah wajahnya seburuk itu, sampai seorang
anak kecil saja memanggilnya seperti itu?
Bella dan Victor tertawa geli melihat reaksi Ben terhadap
adalah Bervan, tapi mereka tidak khawatir sama sekali. Karena hal yang akan
terjadi malah akan jadi hiburan tersendiri untuk keduanya.
“Sudah cukup! Dia wanitaku!” seru Ben sambil menyingkirkan
Bervan dari pelukan kekasihnya. Ditarik kerah pakaian yang anak kecil itu
kenakan. Ia berikan anak kecil itu kepada ayahnya.
“Jika kau ingin mendapatkan sebuah pelukan, cari saja
wanitamu sendiri!” tambahnya lagi seraya memeluk Rose di samping, dengan
posesif.
“Ben! Jangan seperti itu pada anak-anak!” omel Rose seraya
memukul pelan dada bidangnya.
Percakapan hangat itu disaksikan oleh seluruh pasang mata
yang sedari tadi menjadi penonton dadakan. Mereka menikmati, menghayati dan
mengamati. Apa yang terjadi dan siapa yang datang, sehingga disambut ramah oleh
pemimpin mereka.
Bagi yang sudah bertahun-tahun setia terhadap Geng Harimau Putih,
pasti mengenal siapa lelaki dengan postur tinggi yang datang bersama wanita dan
seorang putra. Itu adalah anggota lama yang memilih untuk pensiun dini karena
masalah keluarga.
Itu adalah Victor Benneth. Meskipun bukan warga negara sini
asli, tapi dia adalah salah satu yang terbaik dan loyal terhadap kelompok ini.
Dan pastinya mereka juga tahu, jika dua orang pria berwajah tegas itu adalah
teman baik sejak dulu.
Tapi apa hubungannya dengan Rose? Apa hubungannya dengan
wanita itu? Mengapa mereka semua terlihat akrab sekali? Seperti sudah saling
mengenal dalam jangka waktu yang tidak sebentar!
Bagi anggota baru seperti Anggie, yang bergabung belum lebih
dari enam atau tujuh tahun pasti kebingungan dengan situasi yang ada. Alis
mereka mengernyit bersamaan. Bingung tapi juga penasaran dengan setiap sosok
yang datang.
Wajah Relly nampak antusias begitu melihat Victor dan
keluarganya datang. Dia langsung maju saja tanpa mengajak Anggie saking senang
dan girang hatinya. Pria itu berlari kecil setelah melompat dari panggung.
Meninggalkan Anggie yang masih bertanya-tanya.
“Relly!” desah Anggie dengan segala keingintahuannya. Mau
tidak mau, dia jadi membuntuti pria itu di belakang. Ikut menyusul dan
bergabung dengan kerumunan Rose dan yang lainnya.
“Tuan Victor! Terima kasih sudah datang!” Relly langsung
mengulurkan tangan.
“Kenapa kau berterima kasih? Sudah tugasku sebagai kakak
untuk menjaga dan melindungi adiknya!” Dibalas Victor jabatan tangan Relly.
Jedd… duaarrr
Bagai disambar petir setiap kepala di sana! Mata mereka
langsung membulat, bersama-sama. Apa yang tadi orang itu katakan?
Kakak?
Adik?
Dengan siapa?
Mungkinkah…?
Karena rasanya tidak mungkin orang itu memiliki hubungan
pertilian darah dengan pemimpin mereka. Dari segi wajah, warna kulit serta warna
rambut saja, keduanya tidak ada mirip-miripnya.
Dan… yang pasti… ketiga hal tersebut memiliki kesamaan
dengan… Rose, dengan wanita itu. Rose dan Victor memang mirip, seperti satunya
merupakan versi laki-laki dan yang satunya versi perempuan. Mereka seperti anak
kembar. Namun terpaut umur yang cukup jauh.
Sungguh pun, semuanya merasa tak percaya dengan tebakan
mereka ini. Namun kenyataan berupa fisik dan pernyataan Victor sendiri yang
menjadi hal untuk wajib mereka percayai.
Serta… beberapa di antaranya, jadi terlihat waspada dengan wajah pias mereka.
Apakah selama ini mereka sudah salah?
“Tetap saja, Tuan, saya tidak enak karena sudah merepotkan
Tuan untuk datang!” jawab Relly sungkan.
“Kau ini bicara apa? Jika… adik- ku mendapat ma- sa- lah,
maka… bukankah sebagai ka- kak aku harus membantunya!” Sengaja Victor tekankan
kata-katanya sambil menatap orang-orang yang mulai gemetar.
Bersambung…