Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Rose Adalah Pengkhianatnya



“K- kalau begitu nanti saja aku ke sini lagi!”


Brak!


Tubuh Rose sampai tersentak mendengar pintunya yang dibanting dengan keras.


“Ada apa dengannya?!”


Wanita itu bergumam di tempat sambil memandangi kepergian Anggie dengan tatapan aneh.


“Sudah! Nanti aku kembali lagi!”


Tiba-tiba kekasihnya itu menurunkan kakinya ke lantai. Lalu dia berlalu tanpa ke arah pintu rahasia, tanpa menoleh lagi ke belakang.


“Hey, Ben! Ini, kan, belum selesai! Baru juga sebentar kau memijatku!” seru Rose pada pria yang terus memunggunginya sambil berjalan.


“Mendadak aku ingat, sepertinya aku punya pekerjaan yang belum diselesaikan!”


Brak!


Dibanting pula pintu rahasia itu. Rose juga sampai memejamkan matanya disentak oleh hantaman suara pintu yang ditutup dengan keras.


“Lalu… dia kenapa?” Rose menelengkan kepalanya ditimang kebingungan.


Sementara di balik pintu rahasia itu,


Ben tengah meraup wajahnya dengan gusar.


Hey, malu sekali dia, anak buahnya sampai melihatnya sedang memijat seorang wanita, meskipun itu adalah kekasihnya sendiri.


Tapi kenapa dia mesti malu?! Bukannya itu adalah sesuatu yang patut dibanggakan?! Anak-anak buahnya pasti tidak ada yang pernah melakukan hal ini kepada seorang wanita!


Ben menarik napasnya dalam-dalam sambil meyakinkan diri. Dia juga khawatir kekasihnya itu akan kesal karena ditinggalkan begitu saja. Akhirnya pria bertopi koboi itu memilih kembali ke kamar Rose. Yang tak


diketahuinya sedang menahan kesal.


Kriet…


Pintu rahasia itu terbuka lagi. Seperti sebuah harta karun, Ben muncul lagi dari sana.


“Kenapa kau kembali lagi?” Rose bersedekap dada sambil memanyunkan bibirnya. “Bukannya mendadak kau punya pekerjaan yang belum terselesaikan?!”


Disindir begitu, gigi Ben refleks langsung menampakkan diri dengan posisi berbaris rapi. Benar, kan, kekasihnya itu kesal!


“Aku juga lupa, jika ternyata pekerjaanku sudah ku serahkan kepada Relly tadi!” Digaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal. Pria itu melangkah mendekati Rose yang masih terduduk di pinggir ranjang.


“Kau malu, kan, karena ketahuan Anggie sedang memijat kakiku?!” Ditanya pria itu dengan wajah sinis.


“Tidak!” Ben menggeleng dengan wajah polos sambil mendudukkan diri. “Sungguh!”


‘Kau pikir aku percaya?!’ Rose masih memandangnya dengan tatapan sengit.


“Sini! Biar ku pijat lagi kakimu!” Diambil kaki mulus Rose untuk ia bawa ke pangkuannya lagi.


Meskipun tangan Ben sudah bekerja untuk menunjukkan ketulusannya, Rose  masih menatap curiga


pada wajah kekasihnya itu. Kedua tangannya juga masih terlihat rapi di depan dadanya. Masih memperhatikan setiap gerak-gerik Ben yang mencurigakan.


“Aku ini adalah pria yang bertanggu jawab. Jadi tenang saja, Sayang! Aku akan membuat kakimu merasa baikan!” Ditepuk dadanya dengan telapak tangannya yang lebar. Membanggakan diri dengan dagu tinggi naik ke atas. Senyum paling lebar juga Ben berikan untuk membuat kekasihnya itu mempercayai setiap ucapannya.


‘Heh! Omong kosong!’


Ini bukan sekali Ben yang dia kenal! Sejak tadi pekerjaannya hanya menggombal dan membual. Atau mungkin semakin lama semakin kelihatan wajah aslinya?! Rose mencibir pria itu dalam hati.


“Lakukan saja dan jangan banyak bicara!” Sampai saat ini pun Rose masih belum mempercayainya. Masih ditatap sengit pria itu, masih mencibir bibirnya.


“Punggungku sekalian!” Setelah itu dia berbalik, menepuk-nepuk punggungnya agar dipijat juga.


Selagi tuan seramnya itu bisa ia tindas, maka harus dia manfaatkan sebaik-baiknya. Haha! Tertawa puas dia dalam hati.


***


Satu minggu berlalu. Cepat memang, karena Rose melewatinya dengan jadwal yang semakin padat saja. Latihan gila yang dilakukannya di hari pertama tidak ada lagi. Yang ia lakukan setelah itu merupakan latihan-latihan terarah, tapi juga tetap terasa berat.


“Hah… hah… hah!” Seperti biasa, wanita itu selalu tidur telentang di pinggir lapangan, setiap kali selesai melakukan latihannya yang masih saja terasa berat.


“Minum, aku butuh air minum!” Tangannya mengulur pada Anggie dan Zayn yang tengah berjalan ke arahnya.


“Ini!”


Ditangkap botol air mineral yang dilemparkan oleh Zayn. Rose lalu mendudukkan diri. Dihabiskannya ait minum itu dalam sekali tegukan.


“Tenang saja, air  minumnya masih banyak! Kau ini sudah seperti berada di padang pasir saja!” goda Anggie dengan terang-terangan tertawa.


“Huh! Kalian bisanya hanya meledek saja!” Rose memamerkan wajah jeleknya pada kedua wanita itu.


“Aku tidak-“ Zayn berusaha mengelak.


“Kau sama saja!” Ditunjuk Anggie dan Zayn bergantian, lalu Rose berbicara dengan bibirnya saja bahwa mereka satu komplotan. Jadi jangan coba-coba membela diri!


Masih diingat latihannya yang pertama kali. Dan oleh sebab pengakuan Ben, maka dia jadi tahu bahwa kelelahannya adalah ulah mereka berdua. Si wanita seksi menyebalkan, dan wanita maskulin yang menjengkelkan.


Masih untung dia memaafkan mereka berdua. Padahal bisa saja


dia bilang pada Ben untuk menghukum dua orang itu. Karena Rose sudah menganggap


mereka berdua sebagai teman, maka Rose akan melewatkan hal ini dan tidak


menganggapnya. Tapi… bukan berarti dia akan melupakannya begitu saja.


”Sudah, aku mau mandi dulu!” Rose bangkit sembari membawa botol kosong di tangannya. Dia berlalu pergi melewati dua orang itu begitu saja.


“Apa menurutmu dia masih marah pada kita?” tanya Anggie pada kekasihnya itu. Dia menatapnya sambil menunggu jawaban.


Zayn hanya mengangkat kedua bahunya. Lagi pula dia juga tidak terlalu peduli, apakah kekasih bos mereka itu masih kesal atau tidak.


Keduanya memandangi langkah Rose yang kian menjauh menuju kamarnya di ujung lorong.


Rose menghentikan langkahnya saat melewati sebuah tempat sampah. Dibuang botol kosong di tangannya ke tong besar berwarna biru itu. Dimana pun berada, tidak boleh sembarangan buang sampah.


“Hai, apa kabar?” sapanya lalu pada beberapa anak buah Ben yang melewatinya.


Meskipun statusnya berbeda ketimbang mereka semua. Dia yang tidak jelas bagian kelompok mereka atau bukan, tapi fasilitasnya diistimewakan, berusaha sangat keras untuk tidak terlihat sombong di mata yang  lainnya. Karena jujur saja, Rose merasa tak enak hati dengan semua yang didapatnya ketimbang anggota yang lain.


“Hai, kalian akan kemana? Semoga pekerjaan kalian berjalan dengan lancar, ya!” sapanya lagi.


Tapi tak satu pun senyum ramah atau sapaan balik ia dapatkan seperti biasanya. Hari-hari sebelumnya Rose merasa bisa berbaur dengan mereka semua. Agar tidak lagi terasa asing dan berubah terasa menjadi keluarga. Namun ada apa dengan ekspresi kaku orang-orang itu?! Ada apa dengan wajah mereka yang terkesan tidak acuh padanya?!


Rose ingin menanyakan hal ini secara langsung pada mereka semua. Tapi tidak mungkin mereka akan  menjawab


pertanyaannya, kan?! Kelihatannya mereka malah akan semakin mengacuhkannya saja.


‘Lupakan! Mungkin itu hanya perasaannya saja karena sedang kelelahan.’ Jadi sikap tidak acuh mereka Rose masukan ke dalam hati. Baiklah, anggap saja seperti itu agar dia tidak berpikir macam-macam.


Ketika dia hendak berbalik arah menuju kamarnya lagi, indera pendengarannya menangkap sesuatu. Informasi penting yang membuatnya mesti mematung di tempat untuk beberapa saat.


Bersambung…


Informasi apa yang Rose dengar, ya?


Ayo terus dukung karya aku dengan kasih like, vote sama komentar kalian, ya


Dukungan kalian benar-benar membantu semangat dan mood baikku


Keep strong and healthy ya semuanya