
Setelah pembicaraan serius di antara dua lelaki gagah itu. Walhasil, di sinilah mereka berada. Di ruang bawah tanah, dimana salah seorang penyusup yang berhasil mereka tangkap sedang ditahan.
Berarti, sudah hampir dua minggu berlalu semenjak kejadian itu. Ben dan Relly sudah berusaha membuat orang itu mau membuka suara, namun tetap saja tidak ada informasi yang bisa mereka dapatkan.
Padahal mereka masih berhati nurani dengan mau mengobati luka tembak di kedua kakinya. Ben memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di sepasang kaki itu. Mengobati layaknya seorang manusia.
Namun, karena orang itu tidak juga mau diajak bekerja sama, maka Ben kembali ke mode kejamnya. Hanya sampai di situ kebaikan yang dia punya. Setelah itu, Ben tak membiarkan kaki itu sembuh. Tidak peduli juga jika kakinya menjadi busuk dan cacat.
Yakinlah! Ben akan menghabisi nyawanya ketika kesabarannya habis, nanti.
Tujuan Baz menemuinya tadi adalah, karena dia ingin meminta izin pada Ben untuk menemui penyusup itu. Bagaimana pun juga, Baz masih tahu tata krama dan aturan. Dia adalah tamu di sana, jadi untuk masuk ke tempat-tempat tertentu, dia memerlukan izin tuan rumahnya.
Baz penasaran dengan sosok penyusup itu. Mungkin saja ada yang bisa ia gali darinya. Meskipun Ben sendiri tidak yakin, karena dia sudah mencoba melakukannya. Berulang kali.
Begitu menuruni tangga, aroma tidak sedap mulai tercium. Minimnya udara di sana, sudah membuat dada terasa sesak ditambah pengar yang menusuk hidung. Pun bersamaan dengan hawa dingin dan lembab yang tidak nyaman.
Seorang penjaga memimpin langkah Ben dan Baz. Menuntun mereka menuju ruang tahanan di ujung lorong. Dan Baz jadi dapat melihat hasil dari kekejaman Ben, dari orang-orang yang ditahan di sana.
Kurang lebihnya, mereka sama saja!
Baz pun akan memperlakukan dengan cara yang sama, jika ambang batas amarahnya dijajah. Pengkhianatan, pemberontakan, penyusup, musuh yang ditawan, mereka semua tidak bisa dijamin keselamatannya oleh Baz.
Di sana, di negara asalnya, tapi. Karena Baz pun merupakan seorang ketua geng mafia, jika kalian lupa.
Tek~!
“Silahkan, Tuan!” Anak buah itu baru saja membuka kunci gembok, jeruji besi tempat penyusup itu ditahan.
Santer aroma menyengat dari tubuh penyusup itu, sudah terbiasa di hidung Baz. Jadi dia tidak merasa terganggu sama sekali. Ia pun mengikuti Ben yang mendudukkan diri di sebuah sofa tunggal. Letaknya berhadapan dengan penyusup itu dirantai. Baz berdiri di sisinya.
“Bangunkan dia!” perintah Ben tak acuh. Ia bersandar dengan gaya malas.
Nampak, penyusup yang penampilannya sudah tidak karuan itu tengah melutut sambil memejamkan mata. Ia tidak dapat merebahkan diri, tangan dan kakinya terhubung dengan rantai di dinding. Jadi, untuk tertidur saja, dia hanya membiarkan kepalanya terantuk-antuk dengan posisi duduk.
Disanggah Ben dagunya dengan satu tangan, yang menopang ke sandaran tangan, pada sofa tersebut. Sofa merah tua yang nampak usang.
Tentu saja, definisi ‘membangunkan’ di sini, bukanlah membangungkan seseorang dengan cara yang normal. Tidak dipanggil atau diteriaki nama orang itu sehingga ia terbangun dan terbuka matanya.
Ada cara khusus untuk membangunkan tahanan di sana. Sebab, beberapa di antaranya, ada pula yang sengaja memejamkan mata. Takut melihat atau berhadapan dengan Ben secara langsung.
Byur~!
Anak buah Ben yang tadi, datang lagi bersama seember air es. Tidak hanya dinginnya yang menusuk, tapi juga air itu dicampur dengan garam. Agar ketika segenap cairan itu tumpah mengguyur badan, sensasi yang didapatkan adalah, sakit yang amat menyakitkan.
Dingin langsung menyerang, menusuk sampai ke tulang. Sakit dan perih segera mereka rasa menyayat setiap sisa luka yang belum mengering, akibat dihajar.
Semua hal menyakitkan itu pasti, sudah pasti segera membangunkan mereka dari pejamnya mata.
“Aarghh…! Hah… hah… hah…!” teriaknya kesakitan dan kedinginan. Dibuka mulutnya lebar-lebar sambil mendongakkan kepala. Napas keterkejutan yang pendek-pendek, ia buang lewat sana.
Penyusup itu lantas menegakkan kepalanya lagi. Menatap sengit pada orang di hadapannya dengan tubuh gemetar dan menggigil.
Siapa lagi? Tentu saja Ben yang nampak acuh, namun sebenarnya menikmati momen ini.
Lebam-lebam biru keunguan masih nampak di beberapa bagian wajahnya. Ada luka tergores juga pada tonjolan pipinya. Dia masih mengenakan pakaiannya yang terakhir kali, ketika berani menapakkan kakinya di sana.
Semua penderitaannya itu, ia dapatkan karena tidak juga mau membuka mulut. Dia menyimpan rahasia majikannya, rapat sekali.
“Apalagi yang kau inginkan?” erangnya sambil meringis-meringis, menahan nyeri dan perih di sekujur badan.
Bibirnya pun gemetar, menahan hawa dingin yang amat menyakitkan. Bongkahan-bongkahan es kecil, bertebaran di sekitar kaki dan lututnya. Bukti bahwa air yang mengguyur, dinginnya tidak main-main.
“Heh!” Ben menyeringai sinis. “Bukan aku, tapi dia yang akan bertanya padamu!” imbuh Ben sambil melirikkan matanya ke samping. Mengkode jika ada orang lagi selain dirinya yang berkepentingan.
Dia sudah enggan untuk banyak bertanya lagi. Bosan, karena tahu bahwa orang itu tidak akan mau memberikan mereka informasi barang setitik pun.
Ben hanya menunggu kapan ia jengah dengan orang itu, lalu melemparkannya ke laut. Agar menjadi santapan ikan-ikan di samudera lepas.
Seakan sudah mendapatkan izin, Baz pun mendekat. Memang, hampir semua informasi sudah mereka kantongi, saat ini. Namun, mereka belum bisa menerka tujuan aslinya. Tujuan utama dari semua masalah yang orang itu timbulkan.
Baz membolak-balikkan tubuh pria dengan warna rambut yang sama dengannya. Berwarna cokelat madu. Jelas, mereka berasal dari ras yang sama. Bukan dari negara ini. Apa yang dia lakukan? Sampai mau bertindak jauh-jauh ke sini!
Dicarinya sesuatu pada tubuh penyusup tersebut untuk Baz memastikan sesuatu. Mungkin saja ada sebuah tanda yang dapat mempermudahnya untuk menggali informasi lebih dalam lagi.
Dan…
“Ini?!” Baz menemukan sebauh tattoo lingkaran ganda dengan sebuah pedang yang mengarah ke atas, di tengah lingkaran itu. Di belakang pedang terdapat bayangan bunga mawar. Tattoo tersebut Baz dapati pada pinggang sebelah kanan penyusup itu.
“Ada apa?” Dahi Ben berkedut, alisnya mengkerut. Dia penasaran dengan apa yang Baz temukan.
“Sama seperti kelompokmu, mereka juga menggunakan tanda pengenal seperti ini, sebagai identitas,” jelas Baz sambil menyibak pakaian bau itu ke atas. Memperlihatkan simbol itu pada Ben.
Dicondongkan Ben tubuhnya untuk melihat lebih jelas apa yang ingin Baz tunjukkan. Alisnya berkerut semakin dalam.
“Kita makin yakin, jika wanita itu adalah orang di balik semua ini!” Baz melepaskan pakaian yang ia pegang barusan dengan kasar sampai pria itu terdorong karenanya.
Dan bukannya merasa teraniaya atau tersakiti, pria itu malah tersenyum ketika tubuhnya terhuyung-huyung.
“Heh! Apa yang kalian harapkan? Kalian ingin melawan nona kami?” Penyusup itu malah memamerkan senyum yang meremehkan.
“Lagipula… kalian semua hanya sebuah boneka bagi nona! Akan dipermainkan sampai nona puas!” Dengan ketidakberdayaannya saja, penyusup itu masih bisa menyeringai.
Ben terprovokasi. Ia bangun dari duduknya, bak kebangkitan di raja iblis. Meskipun tatapan penyusup itu mulai goyang dan nanar, ia tetap mempertahankan ekspresi nyalangnya, ketika menatap Ben yang mendekat.
“Katakan! Apa tujuan orang yang menyuruhmu?” Ben menggeram. Ia menarik pakaian orang itu dengan kedua tangannya, sampai tubuh orang itu terangkat.
Sampai saat ini saja, semuanya masih terasa abu-abu baginya. Ben harus tahu apa tujuan orang itu, sebelum dia terus membuat masalah dengan kelompok yang ia pimpin.
Akan separah apa lagi masalah yang akan ia buat? Sepertinya Ben, sudah cukup bersabar!
Namun, penyusup itu malah tersenyum, tepat di hadapan wajah Ben. “Jika kau penasaran… tanyakan saja langsung padanya!”
Bersambung…
Sabar bang ben,, jangan dimatiin dulu,,, ketemu dulu lah sama pelakornya
Jangan lupa untuk terus dukung karya aku ya menteman..
Kasih like, komentar sama vote kalian,, terima kasih