Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Kekasih pembangkang



Halo Februari,,,


Mulai hari ini author bakal update rutin lagi ya


Sepasang kekasih baru saja keluar dari wilayah Harimau Putih dengan mobil sport putih yang biasa si lelaki kendarai. Kini mereka tak lagi berada di areal perbukitan yang menjadi tempat bernaung markas geng mafia tersebut.


Mobil yang dikendarai oleh Ben sudah memasuki jalan raya nan ramai. Hilir mudik kendaraan, juga bunyi-bunyian klakson dari beberapa di antaranya, tak mengganggu khidmatnya Rose, yang tengah termangu menatap ke arah luar jendela.


“Apa yang sedang kau pikirkan? Hem?” tanya Ben dengan sekali toleh, ke arah kekasihnya itu. Kemudian ia menatap lurus ke jalanan kembali.


Pria itu merasa, pandangan Rose berada jauh sekali darinya. Mobil sport yang tengah melaju cepat itu pun menjadi terasa sunyi, karena tak diisi oleh celoteh wanita di sampingnya.


Karena sejak tadi, Rose hanya diam. Semenjak mereka keluar dari pintu gerbang markas Harimau Putih. Mungkin, Ben menyadari apa yang tengah merayap di dalam benak kekasihnya.


Namun, sepertinya, dia mesti menanyakannya langsung untuk mengkonfirmasi. Di samping itu, ia ingin mencoba, membuat Rose teralihkan dari hal yang mengganggu itu.


“Ayam goreng!” sahut Rose asal. Sambil menoleh dengan malas kepada Ben, kemudian ia melihat ke luar lagi.


“Hh…” Dengusan dari hidungnya, keluar bersama kekehan kecil. Wanitanya ini!


“Jadi kau masih lapar? Apa kita perlu berhenti sebentar untuk membeli makanan?” lanjut Ben, berpura-pura percaya dan menanggapi. Pria itu pun memasang wajah serius. Meski bibirnya mengulum senyum.


Sreek~!


Rose mengubah posisi duduknya. Yang tadinya bersandar malas bahu sebelah kirinya pada pintu, beserta siku yang menekuk dan tangannya yang memegangi pipi. Kini ia duduk tegak sempurna seraya memandang mantap ke arah kekasihnya.


“Ya! Aku ingin makan ayam goreng, nasi goreng, sate ayam, kambing guling, salad buah… ck!” Kemudian ia berdecak, kesal sendiri.


Rose melirik sebal sambil mendengus malas ke arah pria yang sedang mengemudi itu. Lantas, melemparkan dirinya ke sandaran kursi lagi. Kemudian bersidekap dada. Masih sambil melirik pria itu.


Dan Ben, hanya meliriknya sebentar. Sambil mempertahankan ekspreis seriusnya saat ini. Pun tetap menjepit bibirnya erat, agar tak kelepasan tersenyum atau bahkan tertawa.


“Kalau begitu, aku akan berhenti sebentar!” Pria itu juga berpura-pura memutar stir, seakan ia akan meminggirkan mobilnya.


“Oh, ayolah, Ben!!” Seperti sedang merajuk, Rose membanting punggungnya sekali ke sandaran kursi. Sampai menimbulkan bunyi protesnya. Dia, kan, sedang bicara serius saat ini!


“Aku yakin, kau pasti tahu apa yang aku pikirkan saat ini!” serunya lagi sambil memandang kesal.


Beberapa helaan napas lelah juga terlepas dari hidung Rose yang mancung. Merasa kesal karena sikap kekasihnya, tapi juga tak berdaya akan keadaan.


“I- ya, aku tahu, kau pasti sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh ka-kak i-parmu itu, kan?” Pria dengan topi koboi itu memberikan penekanan pada dua kata paling penting, di dalam kalimatnya itu.


“Ya ampun, Ben! Haruskah di saat seperti ini-“ Rose tak melanjutkan, karena lebih memilih untuk meraup wajah sampai ke rambutnya.


Dan pria itu hanya meliriknya sambil menaikkan alis, dengan wajah tak bersalah sama sekali.


Rose pun memutar bola matanya malas seraya menarik napas. Haruskah, di saat seperti ini, tuan seramnya itu menunjukkan rasa cemburunya?!


Rasanya… agak… tidak tepat, ya! Tapi, mau bagaimana lagi!


Dikedikkan Rose kedua bahunya sambil melirik ke samping. Tuan seramnya memang bebas melakukan hal apapun. Termasuk cemburu buta, meskipun waktunya tidak lazim bagi mereka.


“Tapi…” Sekarang Rose mengubah posisi duduknya. Memiringkan tubuhnya sampai benar-benar berhadapan dengan Ben yang terus mengemudi. Lalu ia melanjutkan. “… apa yang dikatakan Baz memang benar, Ben! Apa kau tidak memikirkan kemungkinan itu sama sekali?” Kepalanya menggeleng kala bertanya.


“Tentu saja!” jawab Ben cepat.


“Lalu?”


“Semalaman aku memikirkannya.” Dipandang Ben lurus, jalanan yang ada di depannya. “Dia pasti punya rencana lain dibalik semua ini. Tapi…” Pria itu nampak terdiam kemudian.


“Tapi apa, Ben?” tanya Rose penasaran. Ia bahkan memajukan duduknya seolah tidak sabar.


“Tapi apa bisa, aku pergi tanpamu!” seru Ben agak kencang. Agak emosi sepertinya pria itu, saat gantian melirik Rose dengan kesal. Dan wanita itu langsung cemberut.


“Dia sudah bilang ingin ikut pergi denganku. Sementara aku tahu keadaannya tidak tahu akan sebahaya apa. Tapi, daripada melarangnya lalu ujung-ujungnya membuat masalah. Jadi aku memutuskan untuk tetap membawanya saja!” Sekarang, bibir bawah Rose bahkan sudah terjulur ke bawah. Makin cemberut dan kesal mendengar sindiran pedas tuan seramnya itu.


Tentu saja, Ben harus memperjelas hal ini! Agar Rose mengingat apa saja yang sudah diperbuatnya, ketika wanita itu membangkang dan selalu tidak menurut dengan perintahnya.


“Baguslah, kalau kau tahu!” Dipalingkan Rose wajahnya ke samping dengan cepat. Sambil mendenguskan napas kesal.


Ben tergugu melihat hal itu. Tertawa bahkan ia sampai bahunya nampak jelas naik turun berirama dengan gelak kecil yang keluar dari mulut.


“Aww… awww… Ben sakit!” pekik Rose agak kencang kala prianya itu malah mencubit pipinya… tidak, bahkan menariknya. Sampai wajahnya tidak berpaling lagi, lalu menghadap ke arah pria dengan topi koboi itu.


“Makanya… “ Lalu melepaskan tangannya dari pipi Rose yang sudah memerah, akibat perbuatannya sendiri. “Aku memutuskan untuk tetap membawamu ikut bersamaku.”


“Akan lebih berbahaya, apabila kau tidak ada dalam jangkauan pandanganku. Jika, kau tetap bersamaku, maka aku bisa terus menjagamu, dan memastikan kau tetap dalam keadaan baik-baik saja,” lanjut Ben tulus, beserta senyum yang meneduhkan. Berbeda sekali, ketika tadi pria itu tersenyum jahil padanya.


“Maaf-“ Rose tertunduk.


“Untuk?” tanya Ben bersama alisnya yang mengernyit.


“Maaf, aku telah menjadi beban untukmu!” ujar Rose lesu. Ia menatap Ben sebentar. Kemudian menunduk lagi.


Ia sungguh tidak enak hati mendengar ungkapan tulus dan jujur itu. Rose malah merasa bersalah karena sikap keras kepalanya ini. Tapi sungguh, ia sangat ingin berada di sisi kekasihnya itu.


Entah situasi macam apa yang nanti Ben akan hadapi. Yang jelas, ia hanya ingin ada di sana, meskipun hanya berguna sebagai penopang kekuatannya saja.


“Heh! Kenapa kau baru menyadarinya, sih?!” Ben berlagak kesal lagi. Sengaja menggoda, supaya kekasihnya itu tidak murung.


“Ben!” Rose pun spontan mendongak. Memburu dengan kekesalannya.


“Kau bukan beban! Kau adalah tanggung jawabku, Rose! Semenjak kau memutuskan untuk pergi bersamaku dari rumah Victor, hari itu, kau adalah tanggung jawabku!” tuturnya sembari tersenyum tulus.


Tangannya kirinya pun ia gunakan untuk membelai, mengelus puncak kepala bermahkota rambut cokelat keemasan.


“Ben!” Rose lantas mengejar perginya telapak tangan besar di kepalanya. Meraihnya dengan satu tangan, kemudian meletakkannya di pipi.


Dinikmatinya nyaman, hangat dan sensasi kasar yang menggerus pipi. Dengan mata terpejam, Rose merasai, menyerap sari-sari kasih sayang yang keluar melalui setiap pori telapak tangan kekasihny itu.


Setelah merasa cukup, Rose tak lupa untuk melepaskannya. Ia masih ingat jika Ben masih dalam kondisi mengemudi saat ini. Ia tidak boleh memecah konsentrasi lelakinya.


Lantas mereka saling tersenyum setelah itu.


Bagaimana tidak terharu?! Rose bahkan merasa sangat tersentuh setelah mendengar hal itu. Mereka bahkan belum resmi menikah. Namun, pria itu telah benar-benar, mengambil tanggung jawab terhadap dirinya.


Rose merasa, taman bunga di dalam hatinya saat ini, sedang diguyur gerimis. Sehingga, bunga-bunganya nampak semakin mekar dan segar.


Apalagi Ben, yang makin melebarkan senyumannya.


Ben tidak suka, melihat Rose yang tidak ceria. Karena, ia selalu suka dan semakin suka, ada lengkung indah yang terkembang di wajah cantik itu.


Pria itu lantas merentangkan tangannya. “Mau ku peluk?” Bahkan sampai menggeser bahunya sedikit.


“Tidak!” Rose menggeleng cepat. Ia pun melanjutkan sambil menutup hidungnya, sambil mendorong pria itu agar duduk dengan benar kembali. “Kau bau!”


Dan, Ben pun auto menciumi ketiaknya, di kanan dan kiri, bergantian. Apakah dia benar-benar bau, seperti yang dikatakan oleh Rose!


Rasanya tidak!


Pria itu menggeleng kecil, saat dihidunya aroma parfum masih menempel sempurna. Bahkan ia merasa jika tubuhnya saat ini masih beraroma segar, seperti baru saja selesai mandi.


Ben lantas mengerutkan alis, wajah serta bibir dan hidungnya. Aneh sekali! Pikir pria itu.


Bersambung…