Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Rasanya sampai mencekik leher



Ben telah memerintahkan anak buahnya untuk menyisir hutan di sekitar gudang logistik. Ditambah dengan tim yang baru saja datang, Ben ingin memaksimalkan pencarian ini. Pasalnya dia terlewat geram dengan hal ini.


Dalang di balik pencurian senjata... di wilayahnya sendiri, dia harus menemukannya!


Pria yang kesabarannya hanya sedikit itu sudah sedari tadi berusaha keras untuk tidak meluapkan amarahnya. Padahal jika ingin tahu, di dadanya itu gunung merapi sudah akan memuntahkan lava panas. Menyembur semua orang yang sudah terlibat, termasuk kepala penjaga keamanan yang bertugas semalam.


Ben tidak mau tahu apa pun alasannya. Yang jelas dia dan anak buahnya, semua tetap bersalah. Pria itu mengeratkan giginya, mendengkuskan napasnya yang berat. Awas saja, jika sampai dia tidak menemukan dalangnya... maka mereka semua itu harus menerima akibatnya.


Brrr... Brrr...


Semua orang sekarang berada di aula utama gudang senjata, letaknya di sayap kiri gudang logistik itu. Mereka semua mendadak merasakan hawa dingin naik perlahan, dari ujung sepatu mereka tak berhenti sampai ke ujung rambut. Mereka menggigil berjama’ah.


Termasuk Relly yang saat ini tengah sibuk di depan laptop. Pria itu tengah mencari tahu melalui rekaman CCTV yang tersebar di sekitar lokasi ini sampai radius 5 kilometer. Wajah Relly yang semula serius sekarang ikut tegang sebab tekanan yang Ben berikan.


Sebagai seorang yang sudah bertahun-tahun berada di sisi bosnya, tentu dia mengetahui bagaimana sabar bosnya itu pagi ini. Semua anak buahnya harus berterima kasih kepada Nona Rose, sebab dia lah Tuan Ben mulai belajar bersabar meski hanya sedikit tambahan toleransinya kepada orang lain. Tapi itu saja sudah lebih baik.


“Kamera CCTV yang mengarah ke selatan bukit mati. Totalnya ada sepuluh, mereka semua berurutan!” Relly melaporkan hasil yang ia dapat, sambil menoleh ke arah Ben.


Pria bertopi koboi itu seakan membeku di singgasananya. Mengalirkan hawa dingin kental ke setiap orang yang berada di situ. Hingga anak-anak buahnya merasa akan mati akibat hipotermia.


Brak!


Suara hantaman yang begitu keras memekak telinga semua orang. Mereka semua terperanjat dan beringsut memeluk diri mereka sendiri ketakutan.


Pun sama dengan Relly yang baru saja menyelesaikan kalimatnya, harus memundurkan tubuhnya sambil memejamkan matanya erat. Dia menghindari sesuatu mengenai dirinya, dan jangan sampai mengenai matanya.


Ben lepas kendali. Kesabarannya di ujung frustasi. Sontak saja dia membanting kursi yang sedang didudukinya ke lantai. Seandainya saja itu tubuh seseorang, pasti sudah remuk tulang belulangnya. Sebab bangku yang dia duduki saja sudah hancur berkeping-keping sekarang. Dan mereka yang berada di sana semakin bergidik ngeri. Takut akan nyawa mereka sendiri. Bos mereka memang menyeramkan sekali jika sudah marah.


“Katakan pada mereka untuk bergerak ke arah selatan,” titah Ben pada Relly selaku asistennya. Tegapnya posisi berdiri Ben yang menjulang tinggi semakin dipandang ngeri oleh anak buahnya.


“Kau ikut aku sekarang!” Pria bertopi koboi itu lantas melanjutkan perintahnya pada asistennya itu. Sambil terus berjalan ke arah luar, seperti sudah yakin bahwa Relly pasti akan mengikutinya.


“Ck! Percaya diri sekali, dia!” Relly mencibir , sejauh lima langkah di belakang Ben.


“Tutup mulutmu jika kau masih ingin hidup!” Ben menguapkan ancamannya tanpa menoleh sama sekali. Ia mendengar namun segan untuk menegur atau sekadar mengomel. Lebih efektif dengan ancaman seperti ini, pikirnya.


“Lamban sekali! Kau ini manusia atau keong?!” Tolong jangan uji lagi kesabarannya. Sudah cukup membuat tensinya naik dengan masalah yang ada.


Ck! Relly mencibir lagi.


“Jika aku mau, bibirmu yang seperti perempuan itu sudah aku potong sejak tadi!” tegur Ben lagi pada pria di belakangnya.


Mereka yang mendengar pun mengulum bibir rapat-rapat. Berusaha keras mereka semua untuk tidak tertawa. Hanya mata mereka saja yang sudah berair.


Tapi Relly mengetahuinya. Ketika sedang berjalan menyusul Ben, Relly mendadak menoleh ke belakang dengan tatapan mengancam. Ditatapnya mereka semua satu persatu, dari kepala penjaga, dua anak buahnya, dan sisa dua orang lagi yang datang bersama dengan dirinya.


Dua jarinya, telunjuk dan jari tengahnya ia arahkan pada kedua matanya kemudian kepada mereka semua. ‘Aku mengawasi kalian, jangan macam-macam!’


Bibirnya pun mencibir lagi, bukan pada Ben kali ini, tapi pada sisa orang-orang itu.  Jika bukan karena dirinya dibawa pergi oleh Tuan Ben, mereka itu pasti masih merasakan tekanan tinggi. Rasanya sampai mencekik leher, kan! Huh, benar-benar tidak tahu terima kasih!


“Aku ingin buang air dulu, Tuan!” Salah satu di antara mereka meminta izin. Pasalnya toilet hanya ada di bagian luar gedung. Atau lebih tepatnya berada di gedung terpisah yang menjadi kantor tempat ini.


“Apa perlu kau minta izin seperti itu?! Aku bukan gurumu di sekolah! Kau bisa langsung pergi saja, kan?!” Tanpa perlu mengatakan hal tidak penting begitu. Kepala penjaga itu mengunyah udara kosong dengan mimik malas.


“Tuan! Pintunya terkunci!” seru orang itu panik setelah bersusah payah membuka kenop pintu yang ia pikir sedang macet tadi.


“Bagaimana bisa?!” Kepala penjaga itu menghampiri.


“Ini terkunci dari luar! Kita hanya bisa menunggu Tuan Ben kembali untuk membuka pintu ini!”


“Lalu bagaimana dengan aku, Tuan? Aku sudah tidak tahan!” Pria itu frustasi. Ditekan bagian inti dirinya sambil berjuang menahan diri agar tidak kelepasan. Bisa banjir seluruh gudang ini dengan bau pesing.


“Urus dirimu sendiri!” kata Kepala penjaga itu tak acuh seraya kembali ke tempatnya semula.


“Awas saja, jika kau mengotori tempat ini dengan bau tidak enak itu!” Kepala penjaga berbalik kemudian mengancam pada orang yang sebenarnya tidak berdaya.


“Ck! Tuan Relly ternyata pendendam sekali!” Dia berpikir jika itu pasti bukan ulah Tuan Ben. Mana mungkin bos besar mereka melakukan hal kurang kerjaan seperti ini?! Jadi siapa lagi jika bukan Tuan Relly!


Dia menggelengkan kepala seraya berjalan ke tempat semulanya berdiri. “Kau! Bereskan bangkai kursi ini!” Ditunjuknya anak buahnya yang lain untuk membersihkan puing-puing kursi yang tadi Ben banting.


“Ya ampun, bagaimana ini?!” Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. Wajah kepala penjaga itu pun berangsur pucat.


 “Tuan Reellllyyyyy!” Dia meneriaki langit-langit gudang itu, saat dirasakannya perutnya mulai melilit. Mendadak dia mulas, dan perlu ke toilet sekarang juga. Suaranya bak rintihan lolongan serigala.


***


Di sisi lain hutan,


Relly yang tengah mengemudikan mobil pun tersenyum-senyum sendiri sejak tadi.  Suara kepala penjaga itu seakan sampai ke telinganya. Puas dia mengerjai mereka semua yang tadi sudah menertawakan dirinya.


“Dasar gila!” Cemooh Ben ketika menyadari hal itu. Namun fokusnya kembali ke depan.


Pria bertopi koboi itu masih larut dalam emosinya. Tatapan tajamnya seolah bisa memotong semua pepohonan rimbun yang menghalangi jalan mereka. Siapa orang itu? Siapa dia?


Drrt... Drrt...


Ketika tengah mengendarai mobil di medan terjal itu, Relly mendapatkan sebuah pesan.


“Tuan, mereka menemukan sesuatu di selatan bukit!” Segera informasi itu disampaikan pada bosnya.


“Tambah kecepatan!” Tak menoleh dan tak mengubah tatapan dinginnya ketika memberi titah. Tak sabar dia untuk melihat hal apa yang bisa mereka jadikan petunjuk.


 


“Baik, Tuan!”


Bersambung...