
Dua helai besi berkarat dibuka ketika mobil mereka masuk. Beberapa orang dengan senjata laras panjang berjaga di depan gerbang bobrok yang merupakan pintu masuk dari area ini. Ada patung harimau putih sebagai lambang kelompok mereka di tengah-tengah halaman parkir itu.Tempat itu jauh dari keramaian. Termasuk berada di sebuah pedesaan yang lumayan jauh dari pusat kota.
Baru saja, mobil mereka berhenti di sebuah pekarangan usang dengan banyak tanaman rambat yang tumbuh liar di sekitarnya. Meskipun begitu, ada beberapa mobil mewah terparkir bersamaan dengan mobil yang mereka naiki tadi. Saat ini, Rose tengah menggunakan memorinya untuk memindai segala hal yang dia lihat. Dia harus mempelajari dan mengingat semua hal ini.
Ben membuka pintu di sebelahnya saat Relly baru saja hendak membukakan pintu untuknya. Kemudian dia pun memutar untuk membukakan pintu untuk Rose. Begitu pun hal yang sama terjadi, Rose sudah membuka pintunya sendiri sebelum dia benar-benar sampai di sisi mobil yang lainnya.
Relly tertunduk lesu sebab merasa semua tindakannya sia-sia. Ia jadi merasa tidak berguna saat ini. Dia belum mempedulikan tatapan heran dan bingung beberapa orang atas kedatangan mereka bertiga saat ini.
"Kau ambil koper di bagasi! Kenapa diam saja?" tegur Ben pada asistennya yang ia lihat seperti sedang melamun.
Tidak tahu sebenarnya apa yang dipikirkan asistennya itu saat ini. Wajah Relly berubah cerah ketika dia melupakan hal ini. Mengapa tidak dari tadi saja dia melakukannya?! Dia ingin terlihat berguna! Bagaimanapun di sini, di markas ini dia memiliki sebuah jabatan. Dia nomor dua setelah Ben, tidak ingin dia diremehkan oleh anggotanya yang lain.
Mengetahui kedatangan Ben dan juga Relly, beberapa anggota keluar untuk menyambut mereka. Ekspresi gembira terlihat di masing-masing wajah meski dengan gaya mereka tersendiri.
Yang paling menonjol di antara mereka adalah seorang wanita muda dengan setelan berbahan kulit yang ketat di tubuhnya. Ada senjata bergelayut pada pahanya yang kokoh namun gemulai ketika berjalan. Tatapan menggodanya itu tak terhindarkan di mata semua pria. Rose yang sebagai wanita pun bisa meyakini hal itu. Tak heran jika seorang lelaki tampan bersedia dipeluk tangannya dengan begitu manja.
Begitu mereka mendekat Relly langsung melemparkan koper milik Rose ke salah satu di antaranya. Berubah sikap Relly menjadi sedikit berwibawa di hadapan anggotanya. Dia kemudian mengangkat kepalanya bersikap sedikit acuh dan sombong.
Sayang... tak ada yang mempedulikan tingkahnya. Anggotanya yang lain sibuk menyapa Ben yang merupakan bos besar mereka. Hanya Rose saja mungkin yang menyadari. Malangnya dia malahan mendapat cibiran dari mulut wanita itu. Aneh!
Rose masih memperhatikan wanita cantik itu. Dia tidak mengira jika anggota Harimau Putih ada wanitanya juga. Melihat betapa cantik dan seksi wanita itu, Rose merasakan krisis pada dirinya sendiri. Mungkinkah Ben pernah memiliki hubungan dengannya?! Dan lagi Rose bisa melihat begitu akrab wanita itu dengan kekasihnya.
Cemburu? Tentu saja! Dia cemburu sekarang! Panas hati Rose saat ini. Rasanya dia ingin kembali pulang saja!
"Tuan! Kau membawa wanita kali ini?" tanya wanita seksi itu seraya menempatkan tangannya di bahu Ben. Dua tonjolan besarnya hampir saja mengenai lengan lelaki itu jika saja Ben tidak segera menyingkirkannya.
Melihat wajah Rose yang terang-terangan cemberut begitu, Ben merasa senang. Namun dia tersenyum diam-diam. Apakah wanita itu begitu mencintainya?! Sehingga begitu mudahnya dia cemburu?! Ini adalah pertama kalinya dia melihat Rose cemburu. Rasanya Ben ingin sekali menciumnya sekarang juga.
Dia ingin menggapai tubuh Rose, tapi anak buahnya yang lain sudah mengerubungi kekasihnya itu terlebih dahulu. Mereka seakan penasaran dengan sosok yang sudah ia bawa. Timbul sedikit kekhawatiran jika anak buahnya itu akan membuat Rose tidak senang. Tapi Ben masih memilih diam untuk memperhatikan. Dia juga ingin tahu bagaimana Rose bisa menyesuaikan diri dengan keadaan.
Tentu saja rekannya yang lain tidak ada yang berani bertanya. Setiap kali terjadi, tak ada yang berani mengusik wanita yang dibawa oleh bos mereka. Setelah semua urusan selesai, barulah mereka akan mendekati wanita-wanita itu.
Tapi ada yang berbeda dengan penampilan wanita ini. Penampilan Rose memang tidak seperti wanita-wanita yang biasa datang untuk menyenangkan anggota pria yang lainnya. Penampilan Rose saat ini terlihat seperti wanita polos dan lugu yang jauh dari kata menggoda sama sekali. Hanya saja cantiknya Rose tak dapat mengalihkan mata para pria.
Jika mata para pria normal itu seakan memiliki minat kepada dirinya. Rose heran dengan tatapan lelaki yang digandeng oleh wanita seksi itu, dia seakan memiliki dendam terselubung dengannya. Pria tampan itu seakan ingin melahapnya dengan tatapan matanya.
"Namaku Rose!" jawabnya singkat sambil melirik ke arah Ben dengan tatapan kesal. Pria itu tidak menyelamatkannya sama sekali di situasi aneh ini. Apa-apaan maksudnya membiarkan dirinya dikerubungi oleh orang-orang?! Kebanyakan laki-laki lagi! Rose semakin kesal memikirkan jika Ben berniat meninggalkannya seorang diri bersama para lelaki yang tidak dia ketahui ini.
"Wah... nama yang bagus!" Semakin tajam tatapan lelaki tampan itu pada Rose ketika wanita di sampingnya memuji dirinya.
"Selamat Nona Rose! Kau adalah wanita ke seratus yang sudah dibawa pulang oleh Tuan!" Wanita itu menepuk pundak Rose dengan ekspresi tak bersalah. Bahkan bisa dibilang terlalu riang. Hal itu membuat Rose bertambah kesal. Apa-apaan ucapannya itu?! Benarkah seperi itu?!
Sedangkan Rose langsung mendelikkan matanya begitu seram pada pria di luar lingkaran orang-orang itu. Dia menatap Ben tajam juga melemparkan sebuah tanda tanya besar padanya.
Meskipun Ben sudah menggelengkan kepalanya dengan begitu keras. Rose masih belum mau percaya. Bagaimanapun mereka pasti sudah saling mengenal bertahun-tahun lamanya. Jadi mana mungkin wanita seksi itu berkata bohong, bukan?! Memikirkannya saja sudah membuat Rose semakin naik darah!
"Kenalkan, namaku Angel! Atau kau bisa memanggilku Anggie." Wanita seksi itu mengulurkan tangannya. Dia tersenyum ramah tapi yang terlihat begitu menggoda di mata para pria.
"Hai, Anggie!" Meskipun sudah mengungkapkan hal yang membuatnya tidak nyaman, Rose tetap membalas uluran tangan wanita bernama Anggie itu dengan senyum kaku. Ia masih tidak bisa tulus melengkungkan bibirnya.
Sial! Pasti Rose menganggap serius ucapan Anggie tadi! Ben masih melihat kemarahan menghujam matanya setiap kali mereka bersitatap. Rose menghunuskan bilah-bilah tajam melalui pandangan matanya.
Ben ingin menjelaskan hal ini kepada kekasihnya itu, tapi sebuah tangan kembali menyelanya. Ben kembali tak dapat meraih Rose, paling tidak untuk menenangkan kekasihnya itu terlebih dahulu.
"Relly!" gumam Ben pelan sambil mengetatkan rahangnya yang sekokoh karang.
Mau apa anak itu sehingga menyerobotnya sekarang?! Situasinya sedang genting, jika dibiarkan, Rose akan semakin salah paham terhadapnya nanti. Sambutan anak buahnya kali ini benar-benar tidak menyenangkan sama sekali!