
Keesokan harinya,
Ketika mentari hampir berada di atas kepala, dengan terik dan panas yang siap membakar kulit, Rose baru saja selesai dengan serangkaian latihannya.
Baru saja ia membuka pintu kamar, ponselnya di atas meja rias berdering dan bergetar. Layarnya yang menyala menampakkan sebuah panggilan masuk. Victor menghubunginya.
“Ada apa, Kakak?” sapa Rose seraya mendudukkan diri di depan meja rias. Sesekali ia menyeka keringat di dahi dan sekitar leher dengan handuk kecil yang tersampir di bahu.
…
“Apa?! Jangan bercanda, Kak!” Sambil menatap cermin di meja rias, Rose tersenyum pias pada pantulan dirinya sendiri. Merasa tidak yakin dengan apa yang barusan ia dengar.
…
“Mereka juga datang? Oh, ya ampun! Ini sungguh tidak dapat dipercaya!” Ia pun memijit kepalanya yang mendadak terasa pusing. Dan masih berkeringat.
…
“Ada urusan apa mereka datang ke sini?” Ditegakkan Rose tubuhnya kembali, sambil menyeka keringat di dahi, dengan handuk kecilnya. Ia pun mulai penasaran.
…
Alisnya berkerut dan semakin mengkerut kala mendengar penjelasan Victor yang panjang lebar. Wanita itu mendengarkan dengan saksama. Entah mengapa instingnya merasakan sebuah firasat buruk.
…
“Apa?” Seolah berseru saja tidak cukup, Rose meneriaki orang yang berada di ujung sambungan teleponnya itu. Dia bahkan berdiri, saking terkejut dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Eric?” gumam Rose sambil membelalakkan mata.
…
“Tapi, Kak-“ Dia menjatuhkan diri lagi ke kursi bulat yang menjadi pasangan meja rias. Wajahnya berubah lesu.
…
“Terserah apa yang ingin mereka lakukan! Tapi aku tidak mau bertemu dengan mereka. Titik!” Dengan satu embusan napas kasar, Rose memutuskan.
…
Ekspresi Rose makin jelek. Penuturan Victor membuat air mukanya nampak kesal. Ia tidak suka, tidak mau. Keengganan terlihat jelas, ketika dirinya hendak memprotes kembali.
…
“Baiklah, kalau begitu! Aku akan memberitahu Ben lebih dulu. Nanti aku akan menghubungi Kakak lagi!” putusnya dengan wajah cemberut dan tidak ikhlas.
...
“Iya, Cerewet! Kakak tahu, Kakak bahkan lebih cerewet dari Bella! Huh!” sergah Rose dengan kesal. Ia lantas menutup sambungan telepon itu. Lalu membuang ponselnya ke atas tempat tidur.
“Hish…!” Dibuang Rose napasnya dengan cepat dan kasar. Kepalanya terasa mau pecah sekarang!
Semua kenangan pahit itu, masa lalu yang tak ingin ia kenang, kenapa mereka harus datang ke kehidupan baru yang sedang ia bangun?!
Rose menyeka keringatnya lagi. Tidak hanya peluh, tapi saat ini resah dan gelisah seakan sedang mengguyur tubuh, sehingga membuatnya tidak nyaman.
Ben!
Ya, Ben! Ia harus segera mengkomunikasikan hal ini dengan kekasihnya. Rose merasa perlu meminta pendapat Ben. Karena kekasihnya itu berperan besar dalam kesembuhan psikisnya, yang sempat sakit karena trauma.
Apakah ia harus menuruti permintaan kakaknya atau tidak?! Karena apa yang akan ia lakukan nanti, serta orang yang akan ditemuinya, semuanya berhubungan dengan hal itu. Kenangan pahit yang sudah ia buang pergi.
Rose segera beranjak dan berjalan menuju pintu rahasia. Namun ketika sudah sampai di depan pintu itu, ia mengurungkan niatnya. Segera, Rose menundukkan kepala. Indera penciumannya menghidu sesuatu.
“Sebaiknya aku mandi dulu! Bauku tidak enak sekali!” Lalu Rose tersenyum sangat lebar, seperti kuda.
Dia pun berbalik. Berjalan menuju kamar mandi. Dan menunda niatannya untuk menemui kekasihnya itu.
Masa, dia menemui Ben dalam keadaan bau seperti ini?! Malu, kan!
***
Rose cukup terkejut, ketika dia memasuki ruangan Ben melalui pintu rahasia. Sebenarnya tidak hanya wanita itu saja, tapi orang yang berada di sana pun sama terkejutnya.
Ternyata, saat ini Ben sedang berbincang serius dengan Baz dan juga Relly. Lembaran-lembaran berkas nampak berserakan di atas meja. Menyamai berantakannya wajah mereka.
Mungkin, untuk Ben dan Relly, mereka tidak terlalu terkejut. Karena mereka sudah terbiasa dengan hal itu. Beda halnya dengan Baz yang baru mengetahui, jika terdapat sebuah pintu misteri di sudut ruangan yang ia tempati saat ini.
“Maaf! Kalau begitu, aku akan kembali lagi nanti!” Rose meringis, merasa tidak enak hati karena sudah mengganggu waktu serius mereka semua.
Kenop pintu yang masih ia pegang pun, ditarik lagi olehnya. Sehingga pintu rahasia itu akan tertutup kembali.
“Tunggu dulu!” seru Ben untuk menghentikan kekasihnya itu. “Bergabunglah!” ajak Ben lalu, dengan mengedikkan dagu.
“Apa aku tidak mengganggu kalian?” Dibuka Rose lagi pintu itu sambil memastikan. Lagipula, dia masih bisa menyampaikan hal ini nanti. Setelah mereka semua selesai dengan pembahasan mereka.
“Tidak apa-apa, Rose!” Relly pun mengangguk, menyetujui ucapan Baz.
Nona Rose memang tidak pernah mengganggu sekali pun, jika mereka sedang dalam pembicaraan serius. Malah kadang, wanita itu memberikan ide-ide untuk mereka.
“Kemarilah!” pinta Ben dengan lembut. Tangannya pun mengulur, minta disambut.
“Okelah, kalau begitu!” gumam Rose sambil menutup pintu rahasia. Wanita itu berharap, dia memang tidak akan mengganggu nanti.
Saat mereka sudah berbagi jarak, Rose menerima uluran tangan Ben. Ia pun mendudukkan diri di sisi kekasihnya itu. Nampak Baz sesekali mencuri pandang ke arahnya.
“Aku penasaran…” Baz buka suara. Semua orang pun mengalihkan perhatian mereka padanya.
“Pintu itu sudah ada, atau memang kau sengaja membuatkannya, saat tahu Rose akan tinggal di sini?” Sebenarnya Baz hanya iseng saja mengajukan pertanyaan ini. Dia hanya tidak menyangka jika, orang aneh itu bisa memiliki ide seperti ini.
“Pintu itu memang sudah ada sejak lama. Saya juga tahu jika pintu itu terhubung ke kamar sebelahnya,” jelas Relly mewakili bosnya.
Asisten itu, atau bahkan beberapa petinggi Harimau Putih sudah mengetahui pintu rahasia itu, seperti Zayn atau Anggie. Namun, sebelum Nona Rose datang, pintu beserta ruangan di sebelah memang tidak pernah digunakan.
Kamar yang sekarang Rose tempati, sebenarnya adalah kamar milik Ben pula. Namun pria bertopi koboi itu lebih memilih untuk beristirahat di ruangannya saja. Toh, terdapat kamar kecil juga di balik ruang kerja yang cukup luas itu.
Meski memang, Ben lebih sering tertidur di sofa. Dengan gaya sembarangannya, khas lelaki.
“Oh! Ku pikir-“
“Apa?” Ben langsung menyahuti, walau Baz belum selesai berbicara. “Kau pikir aku sengaja membuat pintu itu, supaya aku bisa menguntit kekasihku sendiri, begitu?”
“Tepat!” Baz langsung setuju sambil menjentikkan jari. Dia tersenyum kurang ajar, tanpa malu-malu.
“Kau!” Ben langsung memamerkan taringnya, siap memangsa Baz sekarang juga.
“Sudahlah, Ben! Toh, apa yang kau katakan memang benar, kan?! Kau suka tiba-tiba datang ke kamarku melalui pintu itu,” lerai Rose. Niatnya ingin menengahi masalah. Namun dia tidak sadar jika hal itu malah membuat kekasihnya itu semakin tersudut.
“Ha… ha… ha…!”
Relly dan Baz auto terbahak mendengar penyataan polos Rose barusan. Sangat jujur, sehingga bahkan, Ben tak mampu menampik.
Ya, memang itu kenyataannya, kan? Gumam Rose dalam hati sambil mengedikkan kedua bahunya.
Wajah Ben menggelap. Dia tersudut sekarang. Entah mengapa, setelah kehadiran Baz di sana, dirinya jadi sering jadi bahan tertawaan semua orang. Heh! Ben kesal sendiri jadinya.
“Jadi… ada apa kau ingin menemuiku?” tanya Ben pada Rose. Sebaiknya, dia segera mengalihkan perhatian mereka semua. Jengah juga pria itu, jadi badut yang selalu ditertawakan.
“Oh, itu… “ Rose nampak ragu. Ia menjepit bibirnya sebentar.
“Ayahku datang, dan sekarang sedang berada di rumah Kakak.”
“Ya sudah, kita temui saja!” sahut Ben dengan mudahnya.
“Masalahnya, dia datang bersama dengan ibu dan saudara tiriku. Juga… Eric!” Rose langsung menjatuhkan kepalanya. Ia menunduk dalam.
Lalu, Ben pun merangkulnya untuk memberi kekuatan. Ia tahu bahwa ini berat bagi Rose, untuk memutuskan.
“Mau apa mereka semua datang ke sini?!” Pertanyaan retoris mencuat dari bibir Ben yang mencibir sinis.
Baz pun ikut mengangkat pandangan. Ia cukup tahu, kisah menyedihkan Rose tempo dulu. Sedang Eric, ia cukup penasaran dengan nama itu. Siapa dia?
Tidak hanya mereka, tapi Relly juga melayangkan tatapan tidak suka. Pria itu pun cukup tahu bagaimana kisah masa lalu nonanya yang pilu.
“Aku akan menyerahkan semua keputusannya padamu. Tapi ada baiknya, jika kau datang. Bagaimanapun ada ayahmu yang jauh-jauh datang ke sini. Sebesar apa pun kesalahannya, dia tetap orang tuamu, Rose!” kata Ben mencoba untuk tetap bijak.
“Aku….”
Bersambung…