
Beberapa saat yang lalu,
“Dah, Paman!” Berly melambaikan tangan, pada orang di dalam mobil. Yang baru saja menjauhi keberadaan mereka saat ini.
“Nanti, aku akan meneleponmu, jika sudah selesai!” seru Rose juga, sambil menggandeng tangan putrinya.
Baru saja, mereka diantar oleh Baz menuju tempat ini.
Pusat souvenir terbesar di pulau tersebut.
Mereka ingin, membelikan hadiah oleh-oleh, untuk para tetangga, juga teman sepermainan Berly. Sebab, esok hari, mereka sudah harus kembali pulang. Ke Zanna Bakery, tempat mereka tinggal, saat ini.
Baz tidak bisa ikut, karena ada hal mendadak yang mesti ia urus, mengenai perusahaannya, di negaranya sana. Akan tetapi, pria itu tetap bertanggung jawab, untuk mengantar jemput, ibu dan anak itu.
Kruukk~! Kruukk~!
“Ma, aku lapar!” seru Berly dengan cengir kuda yang begitu lebar. Ia pun mengusap perutnya, yang tadi berbunyi.
“Ini baru jam berapa?!” Rose melihat ke arah jam tangannya. Ini masih sore, dan jam makan malam, masih ada beberapa jam lagi. Kemudian, ia menatap pada putrinya lagi. “Bukannya, kau sudah makan siang?”
“Sudah! Tapi tidak banyak! Makanya, sekarang aku lapar lagi.” Anak perempuan itu, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi, lagi.
“Hem…, baiklah! Kita cari cemilan, untuk mengganjal perutmu dulu!” putus Rose seraya mengajak putrinya itu, untuk mengikuti langkahnya.
“Mengganjal? Memangnya perutku ini, pintu?! Mama ada-ada saja!” seru anak perempuannya sambil menggeleng dan tertawa.
Tawa renyah si kecil pun menular pada sang ibu. Keduanya lantas, beranjak dari area pusat souvenir itu, sambil bersenda gurau bersama.
***
Pasangan ibu dan anak itu, kini pun sedang menikamati makanan khas daerah tersebut. Duduk di sebuah gubuk bambu dan hawa sejuk sore hari, rasanya sangat melengkapi kenikmatan, makan mereka kali ini.
“Mama bilang, kita hanya akan membeli cemilan! Tapi sepertinya, aku akan kenyang dan tidak makan malam, nanti.” Berly pun berucap kemudian menyuap makanannya sendiri, ke mulutnya.
Ya! Anak perempuan itu, sudah Rose biasakan untuk makan sendiri sejak dini. Sebab, belajar mandiri itu, tidak diterapkan di kemudian hari. Akan tetapi, perlu dibiasakan sedini mungkin.
Meski, aturannya tidak perlu terlalu ketat dan kaku. Pada masanya, mendidik seorang anak kecil, masih perlu hukum tarik ulur. Karena mood mereka, masih sangat mudah berubah-ubah.
“Oke, ini salah Mama! Tapi nanti, jika kau merasa lapar lagi, katakan pada Mama. Tidak boleh diam dan menahan lapar!” Diusap Rose belakang kepala anak perempuannya dengan penuh kasih sayang.
Pun, dalam urusan makan. Rose begitu menerapkan kedisiplinan. Jika sudah waktunya makan, maka harus makan. Jika bukan waktunya makan, maka ia akan menganjurkan untuk memilih sebuah cemilan. Dan juga, tidak boleh berlebihan dalam menikmatinya. Karena hal itu, hanya bertujuan untuk menunda waktu laparnya, sebelum benar-benar masuk waktunya makan.
“Oke!” Mata Berly mengerling, mengedip sebelah pada sang ibu.
Rose pun melanjutkan makannya lagi, sambil terus mengusapi rambut pirang Berly yang dikepang dari puncak kepala.
Tadinya, memang ia hanya ingin mencicipi beberapa cemilan khas di daerah itu. Tetapi, ia dan Berly, dengan kompaknya, begitu tergiur ketika melihat makanan yang satu ini. Maka, mereka pun memutuskan untuk mencicipinya. Lupa, jika ini belum masuk waktu makan malam.
Tint~!
“Ya, ampun!” Rose mengerjap kaget, setelah mendengar suara itu.
Piring, dengan makanannya yang sudah habis pun, ia letakkan. Lantas, ia merogoh tas selempang hitam, yang melintang dari bahu kiri ke pinggang kanan. Wajah wanita itu, berubah menjadi sedikit panik dan khawatir.
“Kenapa, Ma?” tanya Berly seraya meletakkan piring makannya juga. Bola mata anak kecil itu mengikuti setiap pergerakan sang ibu.
“Handphone Mama kehabisan baterai. Bagaimana ini? Bagaimana nanti kita akan menghubungi pamanmu, saat sudah selesai belanja?!” Sambil memperlihatkan kepada putrinya, layar ponselnya yang gelap gulita. Lalu tersenyum tak berdaya.
“Tenang saja, Ma! Paman, kan, pintar! Nanti, paman pasti akan tetap datang untuk menjemput kita!” ucap sang putri menenangkan ibunya.
“Hem…, baiklah! Kalau begitu, ayo, kita kembali lagi ke sana!” Rose pun memutuskan. Kemudian mengajak Berly untuk pergi ke pusat souvenir, yang tadi mereka tinggalkan. Bahkan, sebelum mereka memasukinya.
“Ayo!” sahut si kecil bersemangat.
Wanita mana pun, baik yang muda maupun yang sudah berumur. Atau bahkan, yang masih kecil sekali pun, pasti sangat menyukai berbelanja. Apapun itu.
Memilih kemudian membeli beberapa barang yang mereka suka, juga merupakan salah satu cara untuk mengembalikan mood yang sedang tidak baik, bagi seorang wanita. Pada umumnya, ya!
Lagipula, Baz, Rose dan Berly, memang sudah saling mengetahui kebiasaan masing-masing. Setelah tinggal lama, bersama.
Jadi, pria itu, tentunya, sudah tahu, berapa lama, kebiasaan pasangan ibu dan anak itu, berbelanja. Makanya, Rose menyetujui ucapan putrinya, ketika mengingat hal ini.
Sedangkan Victor dan keluarga kecilnya, sedang memiliki acara lain. Dan kebetulan, mereka sudah membeli oleh-oleh lebih dulu, pagi tadi.
Selesai membayar, Rose dan Berly berjalan sambil saling menggenggam. Menuju pusat souvenir, di bawah angkasa yang mulai berubah warna, menjadi jingga.
Karena saat ini, memang sudah benar-benar sore hari. Oleh karena itu, mereka mengejar waktu, dengan berjalan cepat. Agar, tidak kembali terlalu malam.
Pasangan ibu dan anak itu, terus berbincang dan bercanda, di tengah ramainya, jalanan sore hari itu.
Dan kebanyakan adalah, turis-turis domestik maupun manca negara. Maupun, orang lokal yang baru saja pulang bekerja.
Kurva naik hadir di bibir keduanya, tanpa tahu, apabila saat ini, ada bahaya yang tengah mengintai mereka.
Berjalan beberapa langkah lagi, ibu dan anak itu melihat dua sosok yang sangat, mereka kenal.
“Ma…,” panggil Berly seraya mengguncang pegangan tangan mereka. “Itu Paman Baz dan…, Daniel!” Lalu, ditunjuk anak kecil itu dua orang, yang sedang saling mengedarkan pandangan ke sekitar.
“Benar! Itu Baz dan…, dia.” Rasanya masih kelu lidahnya, untuk mengucapkan sosok itu dengan nama lain, yang tak ia kenal. Jadilah, nada bicara wanita itu melemah di ujung kalimatnya.
“Ekh, tapi, ada apa mereka datang bersama seperti itu? Tidak biasanya!” Ditelengkan Rose kepalanya, sambil menerka-nerka.
“Iya!” angguk Berly menyetujui.
“Mama tidak tahu, sejak kapan, mereka menjadi akrab seperti itu?!”
Sebab seingat Rose, Baz malah sangat menetangnya, untuk bertemu lagi dengan Daniel. Bahkan, untuk berhubungan lagi, dengan orang itu.
Jadi, untuk apa mereka terlihat bersama, saat ini? Terlebih, raut wajah keduanya, nampak tidak benar. Mereka seperti, terlihat cemas.
“PAMAN!! DANIEL!!!” Berly lantas meneriaki dua pria itu, setelah jarak mereka cukup dekat. Anak kecil itu pun melambaikan tangan, dengan begitu tinggi dan senyum cemerlang di bibir.
Sementara, di sisi kedua pria itu.
“Hey, lihat! Itu mereka!” Baz yang lebih dulu mendengar pun menarik-narik jas yang Daniel kenakan, di bagian lengannya. Sambil menunjuk ke arah Rose dan Berly berada.
Daniel auto menoleh, lalu mengikuti ke mana jari telunjuk Baz mengarah. Nyatanya, ibu dan anak itu, saat ini, sedang berada tak jauh dari mereka.
Padahal, mereka sudah berkeliling dan mencari-cari dengan mengedarkan pandangan, ke berbagai arah.
“Ayo, kita ke sana!” ajak Baz kemudian.
“Hem…!” Disusul anggukan serta bibir menipis yang begitu meyakinkan dari Daniel.
Mereka memang harus segera menyelematkan ibu dan anak itu. Sebelum sesuatu apapun, terjadi pada keduanya.
Ketika, dua pria itu sedang berlari menuju Rose dan Berly, tak jauh, di belakang mereka, sebuah motor tengah melaju, lurus. Dan, orang yang mengendarainya adalah-
“Hey, itu orangnya, kan?” Baz memukul pelan lengan Daniel seraya menunjuk ke arah si pengendara. Ia ingin, pertanyaannya benar-benar didengarkan oleh pria di sebelahnya. Lalu, segera mengikuti arah yang ia berikan.
“Benar!” Matanya langsung melebar, setelah dapat mengenalinya. “Itu, memang orang suruhan Della!”
Benar saja! Motor itu tidak memiliki tujuan lain, bahkan ketika banyak orang berlalu lalang di pinggir jalan. Kendaraan roda dua itu, hanya menuju satu arah. Dan, fokus si pengendara adalah, pasangan ibu dan anak. Rose dan Berly.
“Ayo! Kita harus segera menyelamatkan mereka!” seru Daniel pada Baz. Wajah keduanya pun, sudah semakin panik.
Sedangkan, Rose dan Berly, sama sekali tidak mengetahui apa isi pembicaraan mereka berdua.
Pikir Rose terutama, kedua lelaki itu, hanya berbicara singkat, saling mengajak untuk berjalan ke arah mereka. Akan tetapi, hal lain tetap tertangkap oleh mata Rose.
Namun, wanita itu tidak bisa menafsirkan apapun. Dia tidak memiliki ide apa-apa, tentang keanehan, dari ekspresi keduanya.
“Paman Baz! Daniel!” seru Berly sekali lagi. Karena jarak mereka semakin dekat. Anak perempuan itu, melambai sedikit, senyum di wajah itu pun tidak luntur sama sekali.
Senangnya, anak kecil itu, melihat dua pria favoritnya, bersama-sama, menghampiri dirinya.
Dua laki-laki yang makin mempercepat langkahnya, saling berpandangan satu detik. Keduanya, saling menyetujui sesuatu.
Bahwa, mereka tidak boleh memperlihatkan hal aneh apapun, pada Rose dan Berly.
Kemudian, dua orang itu, menoleh ke depan lagi. Sambil membalas senyum, si anak perempuan yang begitu cantik dan manis.
Brruummm~! Brruumm~!
Suara motor itu pun semakin dekat. Sudah berjarak beberapa meter lagi, dari ibu dan anak itu.
Dan….
Waktunya sangat pas, ketika Baz dan Daniel sampai, dan langsung meraih Rose dan Berly secara bersamaan. Lalu, menggiring mereka ke samping, dengan cepat.
“Awas!”
“Awas!”
Kedua pria itu memekik sambil berusaha melindungi dua wanita, berbeda umur itu. Pada posisinya, Baz berhasil meraih Rose. Sedangkan Daniel, berhasil memeluk Berly dan membawanya ke pinggir trotoar.
Tidak hanya mereka, beberapa turis yang lewat pun sempat berteriak, sebab mereka begitu terkejut. Beberapa di antaranya pun menyingkir, karena takut.
Dalam gerakan lambat, Daniel berhasil bersitatap dengan si pengendara. Yang ternyata, tidak memasang wajah menyesal sama sekali, karena telah gagal. Bahkan, ia tersenyum penuh kemenangan, kemudian.
Dan ternyata, kejadian mengejutkan itu, belumlah selesai.
Nyatanya, sosok pengendara tadi, hanya membuka jalan bagi kerumunan yang menutupi posisi Rose dan Berly. Karena tak lama, sebuah mobil hitam, lewat dan membuka salah satu kaca jendelanya. Yang menghadap ke arah empat orang itu berada.
Daniel langsung menyadari hal itu, karena mengikuti arah pandangan si pengendara motor. Moncong dari sebuah senjata laras panjang, langsung muncul di antara celah jendela yang terbuka sedikit.
“AWAAASSS!!!!” teriak Daniel begitu panik.
Ia pun tidak dapat memikirkan apapu, selain melindungi mereka semua. Sebab-
DOR~!
DOR~!
DOR~!
DOR~!
Senjata yang mengintip itu pun memberondong pelurunya keluar.
Dan…, Daniel yang menerima, semua tembakan itu, dengan punggungnya.
Karena refleks, ia memeluk Rose, Berly dan juga Baz. Guna melindungi mereka. Ia tidak dapat memikirkan hal lain, daripada ini. Yang sontak saja, dengan sendirinya, tubuh, tangan dan kakinya, bergerak sendiri.
Biarlah ia yang terluka. Asal jangan, dengan yang lain. Sebab, ia yang paling bertanggung jawab atas hal ini.
Semua orang berteriak. Semua orang membelalakkan mata. Semua panik dan dibuat terkejut dan ketakutan bukan main.
Hanya Rose, Berly dan Baz, yang sedang berada di pelukan Daniel. Dan, tidak bisa mengucapkan apapun. Mereka terlalu syok saat ini. Mendadak, dada mereka pun terasa sesak.
“Rose!” sebut Daniel, kala tubuhnya semakin melemah. Sedangkan ia, tidak bisa menyebutkan kata-kata lain. Hanya nama wanita itu, yang terus terngiang di dalam benak.
“Daniel!” Ketika Rose bahkan belum dapat membalas seruan pria itu, Berly sudah lebih dulu memanggilnya.
Rose menunduk, melihat ke arah putrinya. Air mata pun sudah membanjiri wajah anak perempuannya itu.
Bersamaan itu pula, mobil hitam tadi, mempercepat lajunya, setelah sebentar memperhatikan, target yang dikenainya.
“Daniel~!” Berly memanggil nama itu lagi, di tengah tangisnya.
Dan mata Rose, yang baru saja melihat ke arah mobil itu pergi pun, teralihkan. Raganya, ingin sekali mengejar mobil itu, tapi bahkan, ia tidak memiliki tenaga untuk melakukannya.
Geram rasanya, wanita itu. Ingin sekali membinasakan orang-orang yang sudah bertindak keji.
Akan tetapi, energi dan tenaga yang ia punya, seperti baru saja disedot, oleh rasa terkejut yang teramat sangat.
“Uhukk…!” Daniel batuk darah.
“Rose!” Pria itu memanggil lagi, dengan lemah. Dan sempat-sempatnya, pria itu tersenyum di tengah semua kesakitannya.
Netra abu-abu itu pun melebar. Ketika, Rose sudah kembali ke kenyataan.
Dadanya, makin sesak melihat pemandangan ini. Makin sakit dan nyeri di dalam sana. Melihat, pria yang begitu dicintainya, merana, sekarat dan kesakitan luar biasa.
“BEEENNN!!!” Akhirnya, bibir ranum itu memanggil dengan gemetar. Tangannya ingin menggapai pria itu, akan tetapi, yang ingin digapai, sudah lebih dulu ambruk ke jalanan.
Rose pun ikut menjatuhkan diri, memandang pria yang masih membuka mata itu, dengan sklera yang memerah dan tenggelam oleh air mata.
“Rose!” Tangan si pria kembali terulur, ingin disambut.
Tapi, Rose tidak hanya menyambutnya, tapi langsung menarik kepala pria itu, ke dalam pangkuan.
“Ben!” sebut Rose lagi. Dan lantas, si pria memejamkan matanya, dalam damai, dengan sebuah senyuman, di bibir yang masih bersimbah darah.
“BEEEENNNNN!!!!” Rose pun menjerit dengan sangat histeris. Sambil memeluk prianya, sambil menangisi beribu kepiluan dan rasa sakit luar biasa, yang menusuk hati.
Mengapa, nestapa ini kembali hadir?!
Di saat, ia bahkan, baru saja bertemu, dengan pria, yang selama ini, ia cari. Dan masih, begitu ia cintai.
Tangis Berly pun mengiringi, jerit Rose yang tak berkesudahan.
Bersambung…
setelah ini, mari panggil daniel dengan Ben lagi, ya