Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Memakan korban



“Ayo makan, Rose!” bujuk Anggie, pada seseorang, yang hanya terduduk, menyila, sambil menatap ke arah dinding kosong di sisi ranjang.


Rose! Dia Rose!


Wanita itu memilih untuk keras kepala dan tidak mengindahkan ucapan temannya itu sama sekali. Seolah sengaja menulikan indera pendengarannya.


Anggie, dengan sabar tetap mempertahankan, tangannya yang menjulur dengan satu sendok penuh makanan. Meski, hanya punggung yang ia dapatkan.


Wanita seksi itu pun membatukan egonya untuk keras kepala, pada penolakan Rose yang tiada henti-hentinya.


Karena langit, sudah berubah gelap, sekarang. Sudah lewat petang, berganti malam, dan sudah waktunya, untuk mereka makan malam.


Memang, tidak ada yang memiliki nafsu makan yang benar, semenjak kecelakaan itu terjadi. Dan juga, mereka belum mendapatkan kabar baik, mengenai Ben yang menghilang.


Bahkan, tidak bernafsu sama sekali. Tapi, mereka sadar, hidup tetap berjalan. Sementara mereka membutuhkan tenaga dan energi, untuk terus melakukan pencarian. Juga, untuk tetap bertahan, pada situasi yang diyakini, akan genting, bagi mereka semua, termasuk kelompok Harimau Putih juga.


Baz, Relly dan Anggie, tetap menghabiskan makanan mereka. Walau, rasanya hambar. Bahkan, ketika air mata saja, memiliki rasa.


Setelah menyelesaikan giliran mereka, dan melihat Rose, yang tak juga menyentuh makanannya, maka Anggie pun mengambil inisiatif, untuk menyuapi wanita hamil itu.


Namun… yang didapati malah, Rose yang memalingkan posisi duduknya. Menjadi menghadap dinding dan membelakanginya.


“Aku tidak akan makan, sebelum Ben kembali! Atau… paling tidak, aku mendengar kabar baik, tentangnya!” seru Rose yang tengah keras kepala.


Ia mengeluarkan suara tegas tak ingin dibantah. Padahal, ketika ia menghadap ke arah dinding putih nan polos, Rose tengah meluapkan perasaannya. Tanpa ingin diketahui oleh orang lain.


Bahkan, ia menangis tanpa air mata, tanpa bersuara. Demi, tak satu manusia di dalam ruangan itu, tahu, betapa, hatinya tengah sangat amat sakit, saat ini.


Semua kepedihan ini, Rose tahan di dada, di tenggorokan, juga pada tangan yang mengepal kuat.


Dadanya menahan diri untuk bergetar dan menggoyangkan bahu karena terisak. Bekerja sama, dengan tenggorokan yang menahan suara isak tangis apa pun, agar tak lolos keluar dari mulutnya.


Dan… kepalan tangan itu, sebagai bentuk pelampiasan dari semua perasaan yang begitu kuat. Ia cengkeram kepedihan ini, ia kepal dan remukkan rasa sakit ini.


Meskipun, rasanya sia-sia. Hanya, seragam pasiennya saja yang menjadi nampak kusut, karena usaha kerasnya.


“Tapi, Rose… kau tetap harus makan, sekarang!” Anggie mencoba membujuk lagi. “Baiklah, jika kau tidak peduli pada dirimu sendiri. Aku pun tidak masalah. Tapi… paling tidak, pikirkan janin yang ada di dalam kandunganmu. Pikirkan dia, yang harus selalu diberi nutrisi.”


Walau, tanpa sepengetahuan Anggie, kalimatnya cukup membuat Rose goyah. Namun, wanita hamil itu tetap mengeraskan kepalanya.


Baz dan Relly. Yang bahkan tak bisa duduk dengan tenang pun, kini berdiri bersisian. Bersandar pada dinding yang sama, di salah satu sudut ruang rawat, yang cukup luas itu. Letaknya dekat pintu.


Meski jauh, dari posisi Rose sekarang. Namun, segala gerak gerik Rose, dapat nampak dengan jelas, dari sudut pandang kedua pria itu.


Relly memang mengkhawatirkan keadaan Rose saat ini. Namun… pikirannya, sebenaranya sedang berada jauh di luar sana.


Dia sudah dekat dengan calon nyonya bos mereka. Tapi… ikatan yang ia punya, jauh lebih lama dan lebih dalam dengan Ben, yang notabene adalah pemimpinnya. Di samping itu, mereka telah sangat dekat, selama belasan tahun lamanya.


Memang, Relly selaly menjadi bayang-bayang Ben, di mana pun mereka berada. Namun… hal itulah yang membuat Relly menjadi gelisah tak menentu, dikejar perasaan gundah dan sedih.


Dengan menghilangnya Ben, sudah tentu, ia menjadi kehilangan sesuatu yang mesti ia ikuti. Relly takut, ia kehilangan jati diri, tanpa adanya Ben, di sisinya.


Maka dari itu, ia terus berpikir, sambil tak berhenti meng-update kabar, dari tim yang masih terus mencari keberadaan Ben, saat ini.


Bagi mereka yang tinggal lama di panti asuhan, pasti mengerti. Betapa penting dan berharganya, sebuah keluarga.


Andai, Tuan ada di sini-! Angan Relly terbang jauh, bersama awan.


Sementara, pria di sebelahnya, Baz, masih berusaha menetralkan wasa terkejutnya. Walau sebenarnya, ia sudah menyiapkan diri, jauh-jauh hari mengenai hal ini.


Cepat atau lambat, Rose pasti akan mengalami hal ini. Bukan! Tapi dia akan mendengar kabar, tentang Rose yang kemudian hamil, anak dari Ben. Yang memang kekasihnya.


Dan setelah itu, kekuatan cinta mereka, malah akan semakin tak tertandingi.


Akan tetapi, takdir yang mesti dihadapi malah seperti ini! Sungguh ironi!


Dan bagi Rose yang dalam keadaan seperti itu, pasti sangat tidak mudah untuk menerima dan menjalankan takdir itu. Karena Baz merasa, kemungkinan Ben ditemukan akan sangat kecil.


Meski begitu, kesempatan untuk Baz masuk ke dalam kehidupan Rose, makin terasa kecil baginya. Karena, walau Ben tidak ada pun, masih ada buah hati mereka yang menjadi pengingat, betapa Rose sangat mencintai kekasihnya itu. Yang sekarang menghilang.


Baiklah, tidak apa-apa! Untuk selanjutnya, menjaga dan selalu mendampingi Rose dalam diam, mungkin adalah cara paling benar, untuk ia bisa tetap diizinkan Tuhan, untuk mencintai wanita itu.


“Rose, ku mohon!” lirih suara Anggie meminta, agar wanita hamil itu mau berbalik. Lalu, menerima suapannya. Meski tangannya mulai terasa pegal dan lelah, Anggie tidak peduli. Ia hanya ingin Rose untuk makan, walau hanya beberapa suap saja.


“Heeehhh!” Wanita seksi itu pun menghela napas panjang. “Jika kau ingin Tuan kembali, paling tidak, kau butuh tenaga, kan, untuk menunggunya?!” Kemudian membujuk lagi, seraya mengganti nasi di sendok, yang Anggie yakin, mulai dikeringkan udara, beserta lauknya.


Ia kembali menyiapkan satu sendok nasi, lauk dan juga sayur. Dengan sendokan baru, nampak lebih fresh, ketimbang di sendok yang sebelumnya. Lalu mengayunkan sendok itu ke arah Rose lagi.


“Aku masih kuat!” Ketidak-pedulian Rose pada dirinya sendiri, sebenarnya, cukup membuat Baz hilang kesabaran.


Mereka sangat peduli pada wanita itu. Tapi mengapa… bahkan, Rose sendiri, malah seakan tidak peduli dengan tubuhnya sendiri?!


Baz sangat-sangat mengkhawatirkan keadaan Rose, saat ini. Meksipun, cairan infus baru saja diganti, dan tubuh Rose terasupi sedikit nutrisi.


Namun itu saja tidak cukup. Rose harus tetap makan. Harus tetap ada asupan tambahan untuk janin yang dikandungnya.


Lantaran, tidak tahan, Baz memutuskan untuk turun tangan. Ia yang akan mencoba membujuk Rose, supaya wanita itu mau makan. Juga menyadarkan, jika, mereka semua, begitu peduli dan mengkhawatirkan Rose, saat ini.


Namun… baru akan melangkah, pintu ruang rawat itu, dibuka dari luar, dan dibanting dengan keras.


Brak~!


“Bibi!” seru seorang anak kecil ceria.


Sementara, ada seseorang yang terhantam daun pintu, yang cukup keras itu, di wajah.  Dan korbannya adalah Baz.


Beruntung, tubuhnya tidak sampai gepeng seperti kertas. Lantaran, pintu itu terbuka dengan keras dan kencang, karena Bervan mendapat sumbangan tenaga dari ayahnya.


Menyadari pintu itu tidak membentur dinding, tapi memantul pada sesuatu yang tidak seutuhnya keras, Victor segera menyadari sesuatu hal. Ia pun lalu, saling berpandangan, dengan anaknya, yang sama-sama sedang meringis ngeri.


Sepertinya, tahu, bahwa  mereka sudah memakan korban.


Bersambung…