
Ketika bulan terang benderang, bertakhta di langit gelap yang kontras dengannya, angin malam pun berdesir sejuk membelai dedaunan kering dan menggugurkannya.
Malam datang, sudah hampir tengah malam bahkan. Namun tim yang Ben tugaskan untuk mencari penyusup yang berhasil melarikan diri belum juga kembali.
Yang berkerumun di lapangan tengah, malah sekelompok oknum yang sepertinya tidak menyukai kehadiran Rose sejak awal. Sudah setengah jam mereka menyerukan protes atas kehadiran Rose di markas mereka. Ditambah isu pengkhianat yang terus menyudut kepadanya.
“Tuan! Kami ingin wanita itu dikeluarkan dari tempat ini!” teriak salah satu yang terdepan di barisan orang-orang itu.
Ada cukup banyak orang dan mengisi setengah dari lapangan yang luasnya seukuran dengan lapangan bola. Hampir semuanya mengiyakan dan menyerukan pendapat yang sama. Tentang Rose yang harus pergi dari tempat tinggal mereka ini.
“Tenanglah, Ben!” Ditahan tubuh laki-laki kekar itu dengan kedua tangannya.
Ben sudah ingin bangkit untuk menghadapi mereka semua. Kadung geram pria bertopi koboi itu dengan mulut-mulut laknat yang telah berani menuduh kekasihnya secara terang-terangan.
“Mereka benar-benar keterlaluan, Rose! Aku tahu… kau tidak bersalah sama sekali! Dan bagaimana mungkin… aarghh!” Ben berteriak kesal untuk melampiaskan amarahnya.
Bagaimana bisa keadaannya jadi seperti ini?
Satu hari belum terlewat dari masalah penyusup yang datang menyerang dan yang satunya lagi masih bergerak bebas. Lalu sekarang sudah ada masalah baru lagi. Dan itu melibatkan Rose secara langsung. Bahkan yang mereka tuju adalah kekasihnya itu sendiri.
Bagaimana dia tidak geram? Bagaimana dia bisa berdiam saja seperti ini? Sedangkan nama kekasihnya terus saja dijelek-jelekkan dan dihina. Dan bahkan difitnah atas tuduhan yang tidak benar sama sekali itu!
Dia tahu! Sangat tahu, bahwa bukan Rose! Bukan kekasihnya itu! Rose adalah adik dari mantan anggota kelompok mereka yang paling setia. Dan Ben sudah mengetahui dan mengenal Rose lama, jadi mana mungkin kekasihnya itu adalah pengkhianatnya?!
Mungkinkah karena dia tidak mengenalkan Rose secara langsung dan menjelaskan kepada mereka semua, siapa Rose yang sebenarnya. Atau mengenai latar belakangnya. Sehingga kondisi Rose saat ini jadi mudah disalah pahami?!
Brak! Prang!
“Kurang ajar!”
Berbarengan dengan umpatan itu Ben memukul meja kaca yang semula sudah retak ketika menggertak Relly tadi siang. Dan kini, kaca di tengah meja itu hancur berkeping-keping. Juga… menyisakan luka sobek pada pinggiran telapak tangannya.
“Ben, kau terluka!” seru Rose sangat khawatir dan langsung mengambil tangan Ben, untuk ia lihat seberapa parah lukanya.
“Rose! Kau tak perlu mengkhawatirkan aku! Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri!” omel Ben melihat wanita itu seolah tak peduli dengan teriakan orang-orang di luar sana sama sekali.
“Ya ampun, berdarah! Banyak sekali darahnya!” Rose asyik bergumam-gumam sendiri sambil memperhatikan luka sobek di tangan Ben.
“Rose!” Ditarik Ben tangannya. Ia ingin wanita itu mendengarkan ucapannya.
Kepala Ben rasanya mau pecah diberondong dengan masalah bertubi-tubi seperti ini. Untuk melampiaskan kekesalannya, ia bayangkan semua orang yang berisik itu ditembakinya sampai habis tak tersisa.
Apa masih kurang cukup tekanan yang ia punya? Apa masih kurang cukup masalah yang menimpanya?
Ben menggeram bak monster. Ingin sekali menghabisi orang-orang kurang ajar itu. Mereka sudah lancing dengan mengusik ketenangan dirinya!
Sampai-sampai kekasihnya yang tidak tahu apa-apa itu juga menjadi sasaran kekurangajaran mereka. Ben sungguh tidak bisa menerima ini semua!
“Sebentar, aku akan mengambil kotak obat dulu!” Rose akan bangun dari duduknya.
“Akh…” Dia pun terduduk kembali karena Ben mencekal pergelangan tangannya kuat, kemudian menariknya.
“Rose, aku sedang mengkhawatirkanmu saat ini! Aku sedang memikirkan keadaanmu sekarang! Tolong jangan bersikap seolah tidak ada yang terjadi!” protes keras Ben.
“Hh… jika memang kau khawatir padaku, kau peduli padaku, maka obati dulu lukamu!” Rose lepas tangan Ben yang terus memegangi tangannya.
Lalu dia beranjak berdiri dan berjalan ke sudut ruangan dimana kotak persegi untuk keadaan darurat itu berada.
Rose tidak berpikir sama sekali tentang dirinya. Untuk apa dia sibuk memperkerjakan otaknya untuk mengurusi mereka yang sedang meneriaki omong kosong.
Rose merasa tidak terlibat sama sekali dalam masalah yang ada. Baik di gudang logistik maupun dengan masalah penyusup yang mengacau tempat ini. Dia bukan pengkhianatnya, jadi buat apa dia pusing mengurusi orang-orang itu.
Wanita itu lebih mengkhawatirkan kekasihnya, tuan seramnya yang tidak dapat mengontrol diri. Selalu saja terluka setiap ada masalah yang datang. Tidak karena orang lain, atau pun karena ulahnya sendiri.
Lebih baik dia mengurusi kekasihnya ini, pikirnya.
“Diamlah dan jangan banyak bicara!” titah Rose tegas pada ketenangan wajahnya.
Ekspresinya serius ketika dengan telatennya ia membersihkan luka itu, memberikan obat merah, lalu membalutnya dengan perban. Rose melakukannya dengan cepat dan efisien.
“Selesai!” serunya sambil tersenyum puas. Rose buat simpul pita pada ujung ikatan perban. Tertawa geli sendiri melihat hal itu.
Ben juga ingin tertawa, hanya saja, ia pikir ini bukan waktu yang tepat untuk sekadar mengurai senyum atau melebarkan lengkung di bibirnya.
Saat ini situasinya sedang genting, dan Relly belum kembali untuk meredam suasana riuh di depan ruangan pribadinya itu. Biasanya Relly yang mengambil inisiatif untuk urusan seperti ini.
Sebab Relly lebih bisa mengontrol diri ketimbang dirinya. Ben juga takut pada sifat buruknya sendiri. Tidak masalah jika yang terkena imbasnya adalah anak buahnya yang bersalah. Tapi ini… mereka yang berteriak di luar sana, tidak sepenuhnya bersalah. Anak-anak buahnya itu hanya termakan ucapan seseorang saja. Ben yakin akan hal itu!
Jadi… sudah diputuskan, dia yang akan keluar dan menangani anak buahnya di luar secara langsung. Dia sendiri yang akan turun tangan menjelaskan kepada mereka semua, bahwa Rose bukan pengkhianatnya. Bukan Rose orangnya.
“Ben, kau mau kemana?” tanya Rose melihat kekasihnya itu bangun dan pergi begitu saja. Ketika dirinya sedang sibuk membereskan kotak P3K, yang baru saja dipakai untuk mengobati luka di tangan Ben.
Ben yang sudah berjalan beberapa langkah pun berhenti.
“Aku harus bicara dengan mereka!”
Rose tersulut, dia bangun dari duduknya. Meninggalkan obat merah dan perban yang masih berantakan di sofa. Dia maju menghampiri Ben, kekasihnya.
“Untuk apa? Untuk apa kau ke sana?” Nyalang Rose menatap mata kelam Ben yang sedang terbakar amarah.
Apakah dia pikir hanya dirinya saja yang marah karena hal ini? Karena omongan dan ocehan tidak jelas orang-orang?
Rose juga. Rose juga merasakan kekesalan dan kemarahan itu. Hanya saja, Rose berusaha menahan diri. Dan berpikir jika meladeni mereka semua tidak ada gunanya. Lalu untuk apa Ben ke sana dan menguras tenaganya yang berharga?! Lalu… apakah dengan begitu, lantas mereka akan mendengarkan ucapan dan penjelasan Ben? Belum tentu, kan?!
Makanya Rose menjadi geram sekarang. Ditambah lagi, kondisinya Ben sedang dalam keadaan terluka. Rose makin emosi. Dan berpikir jika sebaiknya Ben beristirahat dan tak memedulikan anak buahnya yang sedang berbicara omong kosong di luar sana.
Nanti… jika mulut mereka sudah lelah, dengan sendirinya mereka pasti akan membubarkan diri.
“Tentu saja untuk berbicara pada mereka, jika kau bukanlah pengkhianat seperti yang mereka katakan! Aku tidak suka kau dihina dan difitnah seperti ini, Rose! Aku tidak terima!” Sambil berbicara begitu, Ben pun maju menuju pintu.
Siapa pun, tidak ada yang bisa menghalangi keinginanya ini!
“Rose!” seru Ben bingung dan heran, ketika kekasihnya itu malah berjalan mendahuluinya keluar pintu.
Bersambung…