Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Si raja iblis pencemburu



Kenyataannya adalah, Ben gagal kali ini! Pria eksentrik itu tidak bisa mengontrol ekspresi jeleknya sama sekali.


Begitu sampai di hadapan Baz, senyum lebar yang tadi susah payah ia bangun, mendadak runtuh, luntur, pudar menjadi senyum samar yang tipis-tipis. Dan dipaksakan.


Rose sampai menyenggol lengan pria itu untuk memperingatkan. Bahwa tidak sopan berperilaku seperti itu kepada seorang tamu.


Ya! Bagaimanapun juga, Baz Peterson adalah tamu mereka saat ini.


Jadi mereka harus menghargai kedatangannya, menjamunya bak seorang raja.


Lalu apa Ben mau?


Tentu saja tidak!


Ben tetap bertahan, keras kepala di sikap tak acuhnya, meski saat ini mereka sudah masuk ke dalam ruangan pribadinya. Relly tidak ikut, karena harus mengurus beberapa hal.


Tentu saja Rose tahu, mengapa wajah kekasihnya itu tidak dapat dikondisikan! Makanya sebisa mungkin, dia menjaga sikap ketika bertemu lagi dengan Baz.


Wanita itu tidak ingin, tuan seramnya, si raja iblis pencemburu itu marah. Lalu dia akan mendapatkan hukuman lagi.


Tahu sendiri, kan! Jika tuan seramnya itu suka sekali memberi hukuman kepadanya! Ada saja, alasan yang akan ia gunakan untuk menyuguhkan hukuman demi hukuman untuknya.


Sudah begitu saja, wajah Ben masih memasang ekspresi permusuhan pada Baz. Padahal, Baz sudah mau jauh-jauh datang ke sini, pasti ada sesuatu hal yang penting, kan!


Dua pria tangguh, kokoh dan kuat duduk berhadapan di set sofa ruangan itu. Sedang Rose sedang membuatkan minuman untuk keduanya.


Jika Ben sedikit menundukkan kepala dengan bola mata yang meruncing. Baz malah dengan santainya, merentangkan kedua tangan pada sandaran sofa, dengan kaki yang saling memangku.


Kepalanya meneleng ke kanan kiri, melihat, memperhatikan seisi ruangan yang pernah ia singgahi tempo hari.


“Tidak ada yang berubah, ya!” komentarnya dengan anggukan kecil. Baz alihkan pandangan matanya pada Ben.


Pria yang selalu mengenakan topi fedora itu, saat ini, sedang duduk tegak, sambil melipat tangan di depan dada.


“Ch!” Aura permusuhan yang Ben layangkan, membuatnya mendengus dan tawa kecil lolos dari mulutnya.


“Kau pernah ke sini?” Rose yang sedang berjalan ke arah mereka, tak sengaja mendengar penuturan Baz tadi. Antusias menyala di matanya.


Mulanya, Baz ingin menanggapi pertanyaan Rose. Dia pun jadi mengingat alasannya dulu, ketika untuk pertama kalinya datang ke sini. Baz jadi ingat mengenai balas dendamnya yang salah.


Pria itu jadi merasa agak berat untuk menjawab. Namun demi kesopanan, dia akan tetap melakukannya. Mulutnya yang sudah terbuka, jadi mengatup lagi, karena Ben sudah memotongnya dengan suara ketus.


“Apa yang akan kau lakukan dengan koper sebesar itu?” Dilirik Ben sebuah koper hitam, di sisi sofa yang Baz duduki. Matanya menatap sinis dengan dengus kasar dari hidungnya. Firasat Ben tidak enak!


“Menetap di sini!” jawab Baz santai. Pria itu menaikkan kedua alisnya sekilas. Ditambah, dengan senyum tak berdosa.


Baz melonggarkan kakinya yang melipat. Kemudian menggoyangkannya, sambil memperlebar senyuman.


Enteng sekali dia bicara! Memangnya siapa tuan rumah di sini? Dia baru datang? Lalu sudah memutuskan? Bahkan Ben sendiri, selaku tuan rumah, belum menawarinya sama sekali, kan?


Sungguh, wajah Baz yang seperti sekarang ini, seperti ingin sekali diberi hadiah, satu bogem mentah di wajahnya!


“Tenang, Ben!” gumam Rose seraya menghela napas.


Wanita berambut pirang itu baru saja meletakkan dua cangkir teh di atas meja. Ia segera mendudukkan diri di sisi Ben. Merapat, kemudian mengelus dadanya lembut dengan tangannya yang hangat. Berusaha menenangkan kekasihnya yang sudah menggeram.


“Aku sudah mendengar masalah yang sedang kalian hadapi dari Victor. Aku di sini untuk membantu kalian!” Baz langsung mengubah mimik wajahnya menjadi serius.


Pun dengan atmosfer yang ada di sana. Ikut berubah, bersamaan dengan berubahnya raut wajah kedua pria itu.


“Kakak?” Bahkan Rose juga merasa sedikit tegang.


Tap~!


Baz menurunkan kakinya yang memangku. Menarik punggungnya yang bersandar. Ia sekarang duduk tegak dengan kedua kaki yang menapak ke lantai. Kepalanya bahkan ia condongkan sedikit ke depan, untuk lebih menunjukkan keseriusannya.


“Benar! Setelah Relly menghubungi Victor, dia juga langsung menghubungiku. Dia sudah menjelaskan situasi kalian saat ini. Jangan lupa, jika aku masih memiliki koneksi dengan geng Naga Merah di sini, juga di negaraku. Aku akan membantu kalian!”


“Ch! Apa aku terlihat tidak mampu?” tawa penuh ironi itu terlepas. Ben sedikit merasa direndahkan harga dirinya.


“Ben!” Tentu saja Rose langsung protes dengan sikap Ben yang semakin kurang ajar.


Pria eksentrik itu hanya menipiskan bibir ketika memandang Rose sekilas. Kemudian membuang mukanya ke samping.


Rose tidak tahu jika dia sekarang ini sedang kesal. Dengan kedatangan orang itu saja dia sudah kesal. Ditambah, dengan niat yang dimilikinya, Ben makin kesal. Harga dirinya seperti sedang dijatuhkan.


Apakah orang itu menilai jika dirinya ini begitu tak berdaya saat ini? Hey! Dia masih bisa menangani masalah ini sendiri!


Jangan lupa juga, jika Ben tahu bagaimana perasaan Baz terhadap Rose! Ben tahu jika orang itu menyukai kekasihnya!


Jadi… mana mungkin dia membiarkan rivalnya berbagi jarak dengan target yang diinginkannya, kan?!


Tidak mungkin! Ben tidak akan membiarkannya!


Mungkin… lebih seperti, Ben tidak rela jika nantinya, Rose akan sering berdekatan dengan Baz. Ben tidak mau, ada setan di antara mereka berdua!


“Heh!” Diembuskan Rose napasnya dengan cepat, menanggapi sikap keras kepala kekasihnya itu. Bola matanya melirik tajam. Ingin sekali menceramahinya!


Tambah tidak enak hati, ketika ia melihat Baz yang tidak tersinggung sama sekali dengan sikap Ben. Pria di seberang mereka malah asyik menertawai kekasihnya.


Terpancinglah Ben, setelah mendengar kekehan kecil dari mulut Baz. Ia merasa terprovokasi untuk menanyakan poin utamanya.


“Kau benar-benar ingin membantu kami, atau sedang berusaha merebut kekasihku?” ketus Ben.


“Ha… ha…!” Kekehan berubah menjadi suara tawa yang lebih besar. Nyaring dan renyah, makin mengusik indera pendengaran Ben. Pria itu nampak makin kesal melihatinya.


“Terima kasih karena telah diingatkan! Sepertinya… sekarang aku mempunyai dua misi!” sahut Baz sambil terus tertawa.


Benar memang, jika dia pernah menyukai Rose! Bahkan hingga saat ini. Namun, Baz juga sadar diri. Dia tahu bagaimana dalam hubungan keduanya.


Seperti tak tergoyahkan. Bahkan jika badai yang menerjang sekalipun! Mereka akan tetap bersama, walau apapun yang terjadi. Baz tahu itu. Dia dapat menilainya.


Jadi… dimana letak celah untuk dirinya?! Orang aneh itu memang ada-ada saja! Rasanya, Ben tidak perlu mengkhawatirkan hal yang tidak perlu. Iya, kan?


Bibir Rose melengkung jauh. Bahunya naik turun dengan perasaan geli. Tidak menyangka, jika kekasihnya itu masih saja berpikiran dangkal seperti itu!


“Jadi kau meragukan aku, hem?!” Sekarang Rose melipat tangannya di depan. Menerkam Ben dengan tatapan matanya.


Ben melihati sekilas. Sadar bahwa kekasihnya akan marah, pria itu langsung merubah ekspresinya. Dirangkul bahu kekasihnya itu, merapatkan tubuh mereka sambil tersenyum manis terhadapnya.


“Jangan marah! Mana mungkin aku meragukan dirimu! Yang aku takutkan bukan kau, tapi… dia!” Mengacungkan telunjuknya, lurus ke depan, ke arah Baz dengan tatapan provokatif


Baz tergugu. Bahunya bergerak-gerak kecil, masih sopan dia untuk tidak tertawa lepas lagi. Pria ini memang lucu sekali!


“Aku tidak akan merebut dia darimu! Kecuali…”


“Kau berani?!” tatap Ben nyalang.


“Kecuali kau mati lebih dulu daripada aku! Setelah kau tidak ada, maka aku berhak untuk menjaganya!” sahut Baz seraya menyandarkan punggungnya lagi ke sandaran sofa.


“Jadi kau sedang menyumpahi aku sekarang?” erang Ben dengan kemarahannya yang semakin menjadi.


Tolong! Jangan uji kesabarannya! Rose meratap dalam hati.


Harusnya Baz juga tahu, jika kekasihnya itu hanya memiliki limit kesabaran yang sedikit. Dia bisa mengamuk kapan saja, saat sudah kesal dengan orang lain.


Apalagi pembahasan mereka menyangkut dirinya. Itu merupakan hal paling sensitif untuk Ben. Rose sangat tahu! Wanita itu khawatir, akan ada keributan setelah ini!


“Gunakan otakmu yang cerdas itu!” Dengan enteng pula dia menyahuti Ben yang sedikit lagi akan mengamuk.


“Hhh…!” Dengusan napas Ben terdengar makin kasar saat ia memajukan tubuhnya.


Orang ini benar-benar cari masalah!


Bersambung…


Tuan seram emang ga sabaran! Dengerin dulu bang Baz mau jelasin apa! Ck.. ck.. ck…


Jangan lupa dukung karya aku terus ya,, kasih like, komentar, sama vote kalian,,, biar aku makin semangat update nya… akhir bulan, aku emang lagi kejar setoran juga sih,, huhu