
Rose membelalakkan mata saat mendengar protes keras Relly.
Dia kebingungan dengan maksud asisten kekasihnya itu. Bahkan Ben pun ikut maju
menghampirinya, untuk bertanya langsung pada pria itu melalui tatapannya.
Ya! Mata Ben yang membola cukup besar, bisa diartikan
sebagai protes dan tindak tegas karena Relly berani membentak kekasihnya.
Memang, tatapan seram Ben padanya, sempat membuat Relly
gentar. Namun… memang ada satu hal lagi yang mesti dikonfirmasi. Agar semuanya
menjadi benar-benar adil. Terutama bagi Nona Rose sendiri.
Dipindahkan Relly pandangannya, dari Ben, ke Rose, lalu
perlahan ia berbalik, menghadap ke arah semua orang.
“Apakah hanya dia saja yang mendapatkan hukuman, Nona?”
Relly menoleh sebentar pada Rose, sambil tangannya mengacung, menunjuk orang
yang bersimpuh di sebelahnya.
“Mereka yang memfitnah Nona, menghina Nona dan terus
menyudutkan Nona, apakah mereka tidak mendapatkan hukuman?” tanya Relly dengan
nada miris. Acungan tangannya pun ia alihkan pada sekelompok orang yang tengah
berwajah pias.
Mati! Mereka mati sekarang! Kini giliran mereka! Semuanya
merutuk dalam hati masing-masing.
Riak di wajah Ben pun kembali tenang. Ia ikut mengalihkan
pandangan pada barisan anak buahnya, yang sejak awal kontra terhadap
kekasihnya.
Pandangannya berubah tajam, menyilet setiap jengkal tubuh
mereka dengan marah dan benci yang dia punya.
Pertanyaan Relly lantas membuat hati Rose berdenyut kembali.
Ia jadi mengingat sanubarinya yang terluka karena mereka. Lelahnya karena semua
masalah sedikit terlupakan, balas dengan kerlingan tajam di mata.
“Baiklah! Dia memang biang keladi, sumber dari masalah ini!
Tapi… bukan berarti mereka tidak bersalah sama sekali, kan! Mereka lebih hina,
mereka lebih bermasalah daripada semua yang mereka sebutkan pada Nona Rose!”
seru Relly seolah dia sendiri yang sakit hati.
Semua orang henyak dalam diam. Hanya menatap dan menunggu
Relly selesai dengan penampilan monolognya. Tak ada yang berani mengganggu,
meski itu adalah Rose sendiri.
Victor pun menyaksikan dengan tenang. Bersama dengan Bella
yang bibirnya mulai gemetar, menahan sedih. Sekarang, saat ini, mereka akan
mendengarkan lagi, seberapa besar adik kesayangan mereka terluka.
“Sebab… “ Mata Relly mengerling dengan segenap kesedihan di
sana. Ia menghirup napasnya dalam sebelum mulai berbicara lagi.
Rasanya, hatinya terluka.
Sejujurnya, ia bahkan malu untuk menghadapi Nona Rose secara
langsung. Yang bahkan, sudah diperlakukan sampai seperti ini, tapi masih tetap
mau untuk melindungi mereka semua dari kehancuran.
“Sebab… karena mulut kotor merekalah, Tuan Ben jadi hilang
kendali tadi malam. Hh… bahkan aku sempat membayangkan kehancuran kami dan
tempat ini,” ucapnya lagi. Ada rasa putus asa yang juga ditutupinya selama ini,
dibalik bibirnya yang selalu tersenyum.
“Apakah… apakah sampai detik ini kalian belum menyadari hal
ini?” teriak marah Relly pada mereka semua yang bersalah.
Tidak hanya mereka yang kontra terhadap Rose, tapi juga
anggota yang lain. Termasuk semua orang yang saat ini berdiri di atas panggung.
Hati mereka rasanya ikut terguncang oleh badai besar yang Relly cipatkan dengan
amarahnya.
Bahkan Ben sendiri sangat jarang… bahkan baru kali ini
melihat Relly yang begitu emosional. Pria bertopi koboi itu dapat melihat,
bagaimana terluka Relly dari matanya yang memerah.
“Saat isu itu makin merebak, saat nama Nona Rose makin
dipergunjingkan, apa yang kalian lakukan?”
Benar! Yang mereka lakukan hanya memperburuk keadaan, dengan
menambah bumbu dari satu gosip yang mereka dengar. Menghina Rose tanpa mengerem
satu kalimat pun, tidak peduli wanita itu akan terluka hatinya.
Dan yang lebih parahnya lagi… mereka tidak mencari bukti
sama sekali. Dan terus menerus menyalahkan dan menyudutkan wanita itu.
“Lalu…” Relly menurunkan intonasi suaranya, menjadi rendah
dan dalam.
“Ketika Tuan Ben mengamuk dan keadaan menjadi kacau… apa
yang kalian lakukan?” tanya pria itu lagi masih di nada rendah yang sama.
“Kalian hanya memikirkan diri kalian sendiri, kan? Berusaha
menyelamatkan diri masing-masing! Heh!” Berteriak sebentar, dan langsung menjatuhkan
nada bicaranya lagi. Pria itu bahkan tersenyum sinis.
“Apakah… di antara kalian para lelaki, ada yang berusaha
maju untuk menghentikan Tuan Ben?”
“Apakah ada di antara kalian para lelaki, yang mau berusaha
untuk meredakan kekacauan itu?”
Relly masih berkobar dengan api amarah di matanya.
Dan semua pertanyaan Relly, seperti sebuah senjata yang
memberondong mereka semua dengan tembakan yang membuat lara tak terkira.
Seperti jiwa raga mereka diburu habis-habisan.
Kali ini, pertanyaan yang Relly ajukan, tepat mengenai titik
fokus semua anggota. Hati mereka mendadak resah. Mereka menjadi malu setelah
mata mereka dicolok, dengan kenyataan yang mereka lupakan, mungkin juga ke
sampingkan.
Bahkan tanpa sadar, pandangan mata mereka jatuh pada sosok
wanita yang berdiri agung di atas panggung. Yang bibirnya mulai melengkung
sedih dan kelopak matanya sedang menampung aliran air mata.
Dan ketika pandangan mata mereka bersirobok dengannya,
mereka langsung menjatuhkan pandangan ke bawah. Rasa malu yang menekan tengkuk
mereka dengan kuat. Sampai mereka perlu untuk menundukkan kepala dalam-dalam.
Padahal Rose sudah berusaha tegar. Padahal dia sudah
berusaha untuk menjadi kuat. Tidak mau menampakkan wajah lemahnya di sini.
Wanita itu sudah mencoba menahan diri sebisa mungkin sejak semalam.
Akan tetapi… teriakan-teriakan berani Relly telah
meruntuhkan semua tembok pertahanan, yang sudah ia bangun kokoh seperti Tembok
Besar China. Mereka roboh dan bendungan air matanya jebol. Serta, kembalinya
desir menyakitkan menusuk-nusuk relung jiwanya.
Bagaimana pun juga Rose adalah wanita! Bagaimana pun juga
dia pernah memiliki masa lalu yang pahit! Sudah sangat bagus jika ia bisa
bertahan sampai saat ini! Sudah sangat bagus!
Rose tidak tahan! Lantas air matanya banjir dengan
semena-mena di wajah. Bahunya nampak naik turun dengan isak tangis yang
tertahan.
Hal itu tentu saja tak luput dari mata Ben. Pria itu
mendesah pelan di sisi Rose yang terus terisak. Hah!
Lalu ditarik lengan wanita itu dengan lembut, sampai ia
dapat mendekapnya dengan erat. Ben memeluknya, membelai dengan penuh rasa iba
dan kasih sayang, dari ujung kepala sampai ke punggungnya.
“Menangislah! Ada aku di sini!”
Pria itu memberikan usapan-usapan menenangkan di sepanjang
punggungnya. Tangan Ben yang hangat memberikan rasa aman dan nyaman. Kenyamanan
untuknya meluapkan dan menumpahkan semua rasa yang dia punya.
“Hk… hk… hk…!” Makin keraslah tangisan Rose di pelukannya.
Relly menoleh ke belakang, melihat wanita yang sudah
berjuang sejak kemarin malam, dengan tatapan sedih. Lalu dihadapkan ke depan
lagi kepalanya. Relly menarik napasnya panjang terlebih dahulu. Hah!
“Kalian yang menganggap tempat ini sebagai rumah hanya sibuk
memikirkan diri kalian sendiri. Tapi… Nona Rose yang baru datang ke sini, yang
berharap dianggap di sini, tapi nyatanya tidak, karena dialah kita semua bisa
selamat dan kerusakan yang ada juga menjadi minim,” jelas Relly mulai
menenangkan diri.
“Nona rela mengambil risiko tinggi, bertaruh nyawa untuk
menghentikan Tuan Ben. Tidak takut jika
dirinya bisa tertembak kapan saja, tapi Nona tetap berlari ke arah Tuan.”
“Tapi… tapi apa yang kalian lakukan?” Relly berhenti
sejenak, dipejamkan matanya erat.
Ada rasa getir dan malu yang menggerayangi jiwa pria itu,
karena dia pun sebenarnya bagian dari mereka semua yang menganggap markas ini
adalah rumah sendiri.
Mengingat itu semua, kejadian kemarin malam yang membuat
dirinya hampir menangis karena putus asa, tangis Rose makin kencang dan
memilukan, sampai di telinga semua orang.
Terlebih Ben! Tidak hanya mendengar, tapi turut merasakan
guncangan bahu Rose, dari sembilu tangisannya.
Dan dari semua penuturan Relly, Ben jadi merasa sangat
bersalah pada kekasihnya ini. Ternyata dia sudah menciptakan keadaan
membahayakan bagi Rose. Wanita yang ia janjikan keselamatannya.
Hati Ben pun turut terluka. Bukan orang lain, ternyata
dirinya sendiri yang sudah mengancam nyawa wanita yang sangat dicintainya.
“Maafkan aku, Rose! Sungguh, maafkan aku!” serunya lembut
sambil terus mengecupi kepala Rose yang masih terus menangis.
“Kalian malah seperti makhluk tidak tahu budi, tidak tahu
berterima kasih pada orang yang telah menyelamatkan kalian. Dan malah terus
menghina dan menuduhnya!” Relly
meneruskan. Mesti ia tuntaskan kalimatnya supaya mereka semua benar-benar
sadar!
“Kalian-“ Suara Relly tertahan oleh teriakan seseorang.
“Hentikan!”
Bersambung…