Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Penampilan monolog



Rose membelalakkan mata saat mendengar protes keras Relly.


Dia kebingungan dengan maksud asisten kekasihnya itu. Bahkan Ben pun ikut maju


menghampirinya, untuk bertanya langsung pada pria itu melalui tatapannya.


Ya! Mata Ben yang membola cukup besar, bisa diartikan


sebagai protes dan tindak tegas karena Relly berani membentak kekasihnya.


Memang, tatapan seram Ben padanya, sempat membuat Relly


gentar. Namun… memang ada satu hal lagi yang mesti dikonfirmasi. Agar semuanya


menjadi benar-benar adil. Terutama bagi Nona Rose sendiri.


Dipindahkan Relly pandangannya, dari Ben, ke Rose, lalu


perlahan ia berbalik, menghadap ke arah semua orang.


“Apakah hanya dia saja yang mendapatkan hukuman, Nona?”


Relly menoleh sebentar pada Rose, sambil tangannya mengacung, menunjuk orang


yang bersimpuh di sebelahnya.


“Mereka yang memfitnah Nona, menghina Nona dan terus


menyudutkan Nona, apakah mereka tidak mendapatkan hukuman?” tanya Relly dengan


nada miris. Acungan tangannya pun ia alihkan pada sekelompok orang yang tengah


berwajah pias.


Mati! Mereka mati sekarang! Kini giliran mereka! Semuanya


merutuk dalam hati masing-masing.


Riak di wajah Ben pun kembali tenang. Ia ikut mengalihkan


pandangan pada barisan anak buahnya, yang sejak awal kontra terhadap


kekasihnya.


Pandangannya berubah tajam, menyilet setiap jengkal tubuh


mereka dengan marah dan benci yang dia punya.


Pertanyaan Relly lantas membuat hati Rose berdenyut kembali.


Ia jadi mengingat sanubarinya yang terluka karena mereka. Lelahnya karena semua


masalah sedikit terlupakan, balas dengan kerlingan tajam di mata.


“Baiklah! Dia memang biang keladi, sumber dari masalah ini!


Tapi… bukan berarti mereka tidak bersalah sama sekali, kan! Mereka lebih hina,


mereka lebih bermasalah daripada semua yang mereka sebutkan pada Nona Rose!”


seru Relly seolah dia sendiri yang sakit hati.


Semua orang henyak dalam diam. Hanya menatap dan menunggu


Relly selesai dengan penampilan monolognya. Tak ada yang berani mengganggu,


meski itu adalah Rose sendiri.


Victor pun menyaksikan dengan tenang. Bersama dengan Bella


yang bibirnya mulai gemetar, menahan sedih. Sekarang, saat ini, mereka akan


mendengarkan lagi, seberapa besar adik kesayangan mereka terluka.


“Sebab… “ Mata Relly mengerling dengan segenap kesedihan di


sana. Ia menghirup napasnya dalam sebelum mulai berbicara lagi.


Rasanya, hatinya terluka.


Sejujurnya, ia bahkan malu untuk menghadapi Nona Rose secara


langsung. Yang bahkan, sudah diperlakukan sampai seperti ini, tapi masih tetap


mau untuk melindungi mereka semua dari kehancuran.


“Sebab… karena mulut kotor merekalah, Tuan Ben jadi hilang


kendali tadi malam. Hh… bahkan aku sempat membayangkan kehancuran kami dan


tempat ini,” ucapnya lagi. Ada rasa putus asa yang juga ditutupinya selama ini,


dibalik bibirnya yang selalu tersenyum.


“Apakah… apakah sampai detik ini kalian belum menyadari hal


ini?” teriak marah Relly pada mereka semua yang bersalah.


Tidak hanya mereka yang kontra terhadap Rose, tapi juga


anggota yang lain. Termasuk semua orang yang saat ini berdiri di atas panggung.


Hati mereka rasanya ikut terguncang oleh badai besar yang Relly cipatkan dengan


amarahnya.


Bahkan Ben sendiri sangat jarang… bahkan baru kali ini


melihat Relly yang begitu emosional. Pria bertopi koboi itu dapat melihat,


bagaimana terluka Relly dari matanya yang memerah.


“Saat isu itu makin merebak, saat nama Nona Rose makin


dipergunjingkan, apa yang kalian lakukan?”


Benar! Yang mereka lakukan hanya memperburuk keadaan, dengan


menambah bumbu dari satu gosip yang mereka dengar. Menghina Rose tanpa mengerem


satu kalimat pun, tidak peduli wanita itu akan terluka hatinya.


Dan yang lebih parahnya lagi… mereka tidak mencari bukti


sama sekali. Dan terus menerus menyalahkan dan menyudutkan wanita itu.


“Lalu…” Relly menurunkan intonasi suaranya, menjadi rendah


dan dalam.


“Ketika Tuan Ben mengamuk dan keadaan menjadi kacau… apa


yang kalian lakukan?” tanya pria itu lagi masih di nada rendah yang sama.


“Kalian hanya memikirkan diri kalian sendiri, kan? Berusaha


menyelamatkan diri masing-masing! Heh!” Berteriak sebentar, dan langsung menjatuhkan


nada bicaranya lagi. Pria itu bahkan tersenyum sinis.


“Apakah… di antara kalian para lelaki, ada yang berusaha


maju untuk menghentikan Tuan Ben?”


“Apakah ada di antara kalian para lelaki, yang mau berusaha


untuk meredakan kekacauan itu?”


Relly masih berkobar dengan api amarah di matanya.


Dan semua pertanyaan Relly, seperti sebuah senjata yang


memberondong mereka semua dengan tembakan yang membuat lara tak terkira.


Seperti jiwa raga mereka diburu habis-habisan.


Kali ini, pertanyaan yang Relly ajukan, tepat mengenai titik


fokus semua anggota. Hati mereka mendadak resah. Mereka menjadi malu setelah


mata mereka dicolok, dengan kenyataan yang mereka lupakan, mungkin juga ke


sampingkan.


Bahkan tanpa sadar, pandangan mata mereka jatuh pada sosok


wanita yang berdiri agung di atas panggung. Yang bibirnya mulai melengkung


sedih dan kelopak matanya sedang menampung aliran air mata.


Dan ketika pandangan mata mereka bersirobok dengannya,


mereka langsung menjatuhkan pandangan ke bawah. Rasa malu yang menekan tengkuk


mereka dengan kuat. Sampai mereka perlu untuk menundukkan kepala dalam-dalam.


Padahal Rose sudah berusaha tegar. Padahal dia sudah


berusaha untuk menjadi kuat. Tidak mau menampakkan wajah lemahnya di sini.


Wanita itu sudah mencoba menahan diri sebisa mungkin sejak semalam.


Akan tetapi… teriakan-teriakan berani Relly telah


meruntuhkan semua tembok pertahanan, yang sudah ia bangun kokoh seperti Tembok


Besar China. Mereka roboh dan bendungan air matanya jebol. Serta, kembalinya


desir menyakitkan menusuk-nusuk relung jiwanya.


Bagaimana pun juga Rose adalah wanita! Bagaimana pun juga


dia pernah memiliki masa lalu yang pahit! Sudah sangat bagus jika ia bisa


bertahan sampai saat ini! Sudah sangat bagus!


Rose tidak tahan! Lantas air matanya banjir dengan


semena-mena di wajah. Bahunya nampak naik turun dengan isak tangis yang


tertahan.


Hal itu tentu saja tak luput dari mata Ben. Pria itu


mendesah pelan di sisi Rose yang terus terisak. Hah!


Lalu ditarik lengan wanita itu dengan lembut, sampai ia


dapat mendekapnya dengan erat. Ben memeluknya, membelai dengan penuh rasa iba


dan kasih sayang, dari ujung kepala sampai ke punggungnya.


“Menangislah! Ada aku di sini!”


Pria itu memberikan usapan-usapan menenangkan di sepanjang


punggungnya. Tangan Ben yang hangat memberikan rasa aman dan nyaman. Kenyamanan


untuknya meluapkan dan menumpahkan semua rasa yang dia punya.


“Hk… hk… hk…!” Makin keraslah tangisan Rose di pelukannya.


Relly menoleh ke belakang, melihat wanita yang sudah


berjuang sejak kemarin malam, dengan tatapan sedih. Lalu dihadapkan ke depan


lagi kepalanya. Relly menarik napasnya panjang terlebih dahulu. Hah!


“Kalian yang menganggap tempat ini sebagai rumah hanya sibuk


memikirkan diri kalian sendiri. Tapi… Nona Rose yang baru datang ke sini, yang


berharap dianggap di sini, tapi nyatanya tidak, karena dialah kita semua bisa


selamat dan kerusakan yang ada juga menjadi minim,” jelas Relly mulai


menenangkan diri.


“Nona rela mengambil risiko tinggi, bertaruh nyawa untuk


menghentikan Tuan Ben.  Tidak takut jika


dirinya bisa tertembak kapan saja, tapi Nona tetap berlari ke arah Tuan.”


“Tapi… tapi apa yang kalian lakukan?” Relly berhenti


sejenak, dipejamkan matanya erat.


Ada rasa getir dan malu yang menggerayangi jiwa pria itu,


karena dia pun sebenarnya bagian dari mereka semua yang menganggap markas ini


adalah rumah sendiri.


Mengingat itu semua, kejadian kemarin malam yang membuat


dirinya hampir menangis karena putus asa, tangis Rose makin kencang dan


memilukan, sampai di telinga semua orang.


Terlebih Ben! Tidak hanya mendengar, tapi turut merasakan


guncangan bahu Rose, dari sembilu tangisannya.


Dan dari semua penuturan Relly, Ben jadi merasa sangat


bersalah pada kekasihnya ini. Ternyata dia sudah menciptakan keadaan


membahayakan bagi Rose. Wanita yang ia janjikan keselamatannya.


Hati Ben pun turut terluka. Bukan orang lain, ternyata


dirinya sendiri yang sudah mengancam nyawa wanita yang sangat dicintainya.


“Maafkan aku, Rose! Sungguh, maafkan aku!” serunya lembut


sambil terus mengecupi kepala Rose yang masih terus menangis.


“Kalian malah seperti makhluk tidak tahu budi, tidak tahu


berterima kasih pada orang yang telah menyelamatkan kalian. Dan malah terus


menghina dan menuduhnya!”  Relly


meneruskan. Mesti ia tuntaskan kalimatnya supaya mereka semua benar-benar


sadar!


“Kalian-“ Suara Relly tertahan oleh teriakan seseorang.


“Hentikan!”


Bersambung…