Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Setan di antara tiga orang



Relly, Anggie dan Zayn sedang melambaikan tangan mereka, pada sebuah mobil SUV berwarna hitam, yang tengah bergerak menjauh ke arah gerbang utama.


Benar! Ben, Rose dan Baz pada akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah Victor. Setelah Rose kemarin membuat keputusan, dengan berat hati.


Ben jelas perlu mendampingi Rose. Terlepas dari tugasnya di markas, ia mempercayakan hal itu kepada Relly. Pria eksentrik itu ingin tahu, manusia macam apa yang sudah berani meninggalkan bekas luka begitu dalam, di dalam dirinya.


Ben juga ingin menjaga dan melindungi Rose, dari kemungkinan orang-orang yang akan berbuat jahat lagi padanya. Terutama pada seseorang, yang mungkin masih memiliki niat untuk memilikinya.


Eric! Tentu saja, dia!


Sedang Baz merasa harus ikut, karena dia perlu bertemu dengan ayah dari Rose dan Victor. Setelah ayah mereka tiada, Baz menggantikan setiap posisi orang tua bagi Bella. Dan karena sekarang adiknya itu sudah menikah dengan Victor, berarti dia harus bertemu dengan besannya, secara formal.


Sekaligus, mempunyai alasan yang sama pula dengan Ben. Pria itu penasaran dengan sosok ibu dan saudara tiri Rose. Yang sebenarnya ia sendiri yang merancangnya, untuk membuat hidup Rose, menderita. Tapi itu dulu.


Sekarang dia sudah sadar. Juga sangat peduli terhadap Rose, karena perasaan suka yang dia miliki. Makanya dia ingin tahu, sosok-sosok itu.


Termasuk Eric! Siapa gerangan laki-laki itu.


Atas kehadirannya pula, Ben tidak menyukai perjalanan ini. Ia merasa ada pengganggu di antara dirinya dan juga Rose. Jika ada tiga orang bersama-sama, maka salah satu di antaranya adalah setan. Dan Baz adalah setannya, pengganggu di antara mereka berdua.


Dan untuk menyiksa pria itu, Ben memiliki rencana…


“Kalian benar-benar tidak menghargai keberadaanku di sini, ya?!” tegur Baz pada pasangan kekasih di depannya.


Pada Ben dan Rose yang duduk di kursi depan. Yang saling berpegangan tangan. Dan kadang sesekali Ben menciumi punggung tangan kekasihnya. Belum lagi dengan tatapan penuh cinta dari mata keduanya.


Sungguh pun, hal itu sangat memuakkan bagi Baz! Rasanya, di dunia ini hanya ada dirinya saja yang seorang diri! Hiks…


Pria dengan topi koboi itu memilih duduk di balik kemudi. Tentu saja, Rose harus duduk di sampingnya. Bersebelahan dengannya, jadi dia bisa memamerkan kemesraan mereka pada seseorang yang duduk di kursi penumpang.


“Ben!” seru Rose malu-malu kala kekasihnya itu mengulangi hal yang sama, untuk yang ke sekian kalinya. Padahal mereka baru saja, meninggalkan gerbang utama markas.


Wajah Rose yang memerah, makin menggemaskan di mata Ben. Makin ingin, ia menciumi tangan wanita itu. Bahkan jika bisa, ia ingin mencium yang lain. Jika bisa, ya?! Karena pasti kekasihnya itu akan melarangnya.


“Tck!” decak Baz lagi.


Lagi? Iya, lagi! Karena jika dihitung, sepertinya ia sudah sepuluh kali berdecak kesal, semenjak mereka memulai perjalanan.


Ben tidak tuli, Rose pun sama. Wanita itu merasa tidak enak hati pada Baz di belakang mereka. Jika bersama dengan Relly, mereka akan duduk di kursi penumpang.


Meski Rose tahu bahwa Relly tersiksa, namun paling tidak asisten kekasihnya itu masih bisa mengalihkan perhatian pada jalanan di depannya. Ia masih bisa fokus menyetir, dan tidak melihat kelakuan mereka.


Tidak! Bukan! Tapi kelakuan Ben yang selalu menggodanya.


Rose tidak tutup mata juga. Sebenarnya, dia dapat membaca rencana busuk Ben ini. Tapi dia bisa berbuat apa? Rose hanya malas berdebat saja dengan tuan seramnya itu.


Yang jelas, ia baru tidak akan tinggal diam, jika kelakuan Ben melebihi batas. Sebab… mereka, kan, sudah mempunyai kesepakatan! Jika hanya sebatas mencium tangan seperti ini, masih oke, lah!


***


Kembali pada tiga orang yang ditinggalkan,


Usai melepas Ben, Rose dan Baz, mereka mesti kembali ke tugas mereka masing-masing. Ketiganya berjalan ke arah dalam kembali.


Mereka melangkah berdampingan. Dan seperti biasa, Anggie selalu menempel erat pada lengan Zayn. Menggelayut manja seperti hewan peliharaan kepada majikannya.


Merasa diperhatikan, Anggie melirik tajam ke arah yang menatapnya.


Relly! Mau apa orang itu?! Netranya sedikit memicing curiga. Awas saja, jika orang itu sedang merencanakan sesuatu!


Dan di antara dua orang yang saling curi pandang, ada Zayn di tengah mereka. Yang sedang berwajah serius. Matanya menatap lurus ke depan dengan bola mata yang meruncing dan menyipit. Nampak, jika dia sedang memikirkan sesuatu.


Dilepaskan Zayn tangan Anggie yang dari lengannya. Perginya tiga orang itu, meniupkan angin segar untuknya. Tekanan yang ia dapat dari pihak sana, akhirnya mendapatkan sebuah solusi.


“Aku ingin ke toilet sebentar!” pamitnya pada Anggie. Dan hanya melirik Relly sekilas. Ia usahakan mimik wajahnya sebiasa mungkin. Agar asisten pemimpin mereka tidak semakin curiga.


“Oke! Aku menunggumu di ujung lorong,” jawab Anggie dengan senyuman. Senyum manis yang tentu membuat Relly muak.


Di samping mereka, pria itu berlagak seolah ingin muntah. Jengah dengan pasangan abnormal itu.


“Oke!” Zayn balas tersenyum kecil. Kemudian mulai berjalan dan tak lama ia berbelok, masuk ke dalam pintu dengan simbol wanita.


“Ch!” decih Relly seraya memutar bola matanya malas.


Penampilan dan gayanya saja yang seperti seorang lelaki. Pada dasarnya, kodratnya itu, kan, memang wanita! Kadang ia tak habis pikir, kenapa rekannya itu tidak menjadi wanita seutuhnya saja, sih?!


Padahal, wanita adalah makhluk paling indah di dunia ini. Tidak hanya indah, wanita juga sosok yang kuat, secara lahir dan batin. Dibandingkan dengan laki-laki. Relly memahami hal itu!


Andai saja, sebelum lahir dia bisa memilih, pasti dia akan memilih dilahirkan sebagai wanita saja. Agar dia bisa menikmati keindahan tubuhnya sendiri.


Hey! Sedang berpikir apa, sih, dia sebenarnya?!


Pria itu memalingkan wajahnya ke samping. Tersenyum sendiri pada hal aneh yang baru saja dipikirkannya.


“Dasar gila!” sindir Anggie dengan nada ketus.


Sontak Relly menoleh. Ahh! Dia baru menyadari jika saat ini mereka hanya tinggal berdua saja. Relly jadi memikirkan Zayn.


Pria itu jadi berspekulasi, karena tidak mungkin juga dia membuntuti Zayn, sampai masuk ke toilet perempuan! Maaf saja, ya, saat ini dia masih punya malu!


Pikirnya, mungkin saja saat ini, wanita maskulin itu sedang melaporkan sesuatu pada pihak sana.


Dia juga mesti melaporkan hal ini pada Tuan Ben. Agar pemimpinnya itu berhati-hati selama mereka berada di sana.


Mereka hanya perlu berwaspada kapan pun. Karena… entah rencana apa yang akan mereka jalankan setelah ini.


Melihat wajah orang bodoh itu tengah serius, maka Anggie memilih untuk melenggangkan kakinya lebih cepat. Enggan sekali rasanya, jika dia harus berlama-lama, berduaan dengannya saja!


Apalagi… mendadak dia jadi ingat… dengan taruhan yang mereka buat. Sebaiknya memang Anggie harus segera kabur dari orang ini!


Buru-buru dia berjalan. Setengah berlari mungkin. Yang jelas, jangan sampai Relly si bodoh itu menangkapnya!


Hap~!


“Nah…! Mau kemana kau?” Dan akhirnya, Relly berhasil menangkapnya.


Bersambung…


Nah loh… ketangkep kan! Kira-kira Anggie mau diapain ya sama Relly?