
Namun ternyata bukan. Itu adalah… suara berondongan tembakan
yang berasal dari ruangan pribadi Ben.
Semua orang menjadi panik. Ditambah dengan asal suara yang
bersumber dari dalam ruangan. Dentuman keras yang keluar berkali-kali itu,
meraung terus menerus sampai pintu ruangan itu berhasil dijebol dari arah
dalam.
Ben menendang pintu itu dengan kakinya. Satu tendangan keras
dan seonggok potongan pintu terlempar jauh ke luar. Pria bertopi koboi itu
menampakkan diri dalam wujud menyeramkan. Dengan mode monster yang jarang
sekali diperlihatkan pada semua orang.
Sebaris peluru utuh mengalung di lehernya. Sedang kedua
tangannya memegang senjata laras panjang dengan kuat dan kokohnya. Debu yang
berterbangan akibat rusaknya pintu itu,mengelilinginya dan membuat sosoknya
semakin dramatis dan menyeramkan.
Tadi, begitu Ben mendengar hinaan terakhir yang anak buahnya
itu ucapkan dengan mulut kotor dan biadab mereka. Ben tak bisa menahan diri
lagi. Kalimat itu sudah mengikis kesabarannya sampai habis tak tersisa.
Ben melesat dari posisinya berdiri. Beralih ke sudut ruangan
dimana deretan senjata api koleksinya bertakhta jumawa di dinding. Ben ambil
satu sepasang dengan lusinan pelurunya. Sudah terpikirkan rencana apa yang akan
dia jalankan.
‘Matilah kalian!’
Seperti yang Relly ucapkan dalam hati. Ben juga menggumamkan
hal ini dalam geram yang ia tahan.
Tap! Tap!
Sepatunya menapak dengan tegas ke lantai dengan cepat dan
tidak sabar. Dia berjalan ke arah pintu. Lalu berteriak di sana.
“Minggir! Lebih baik menyingkir dari depan pintu, jika masih
sayang dengan nyawa kalian!” teriak Ben sudah sangat emosional. Sudah tidak
bisa menahan diri lagi.
“Sekali lagi! Minggir, atau kalian akan mati di tanganku!”
Menggeram Ben dengan teriakannya. Kasar dan bertenaga.
Tahu jika anak buahnya banyak yang berjaga di depan pintu,
maka dia memerintahkan kepada mereka semua untuk menyingkir. Atau jika mereka
tidak menginginkan untuk hidup lagi.
Sudah tidak ada, sudah tidak ada yang mampu menahan dirinya
untuk memberikan pelajaran pada semua mulut kotor dan hina itu. Yang hina bukan
Rose, melainkan diri mereka sendiri yang sudah berani menuduh kekasihnya itu
tanpa alasan yang jelas.
Segera, setelah mendengar peringatan mematikan itu, anak
buahnya yang berbaris di depan pintu menyingkir menjadi dua bagian. Mereka
berdiri di sisi kanan dan sisi kiri pintu ruangan bos mereka.
Lalu terjadilah berondongan suara tembakan itu. Bak Rambo,
Ben nampak sangar dengan penampilannya saat ini. Semua anak buahnya memandang
ngeri pada dirinya.
“Ben!” seru Rose pelan. Masih dengan rasa tidak percayanya.
“Tuan!” Relly juga begitu, dia terperangah melihat wujud Ben
yang seperti ini. Rasanya sudah lama sekali dia tidak melihatnya. Mungkin Zayn
pun begitu.
Dulu, sudah lama sekali. Mungkin sudah bertahun-tahun yang
lalu terakhir kali Relly melihat hal ini. Waktu itu terjadi peperangan antar
geng yang disebabkan oleh perebutan wilayah kekuasaan. Secara teritori, memang
itu adalah wilayah Harimau Putih. Namun pihak musuh tetap mengakui bahwa itu
adalah milik mereka.
Tidak terima, Harimau Putih memberikan perlawanan. Sampai
akhirnya muncul tantangan untuk bertemu langsung di medan perang. Dan tempat
yang dipilih adalah wilayah yang mereka perebutkan.
Harimau Putih, bukan kelompok yang provokatif dan suka cari
ribut. Mereka akan menyerang jika diserang terlebih dahulu. Dan inilah mengapa
Harimau Putih menerima tantangan ini. Karena kelompok musuh dengan curangnya, sudah
membantai banyak anggota Harimau Putih yang tak memiliki persiapan.
Kala itu Ben belum menjadi ketua, dia belum menjabat. Hanya
saja Tuan Danu selalu mempercayakan perihal peperangan langsung seperti ini
padanya. Dengan sendirinya, tanpa perintah dari siapa pun, Ben menempatkan diri
di garis depan perlawanan.
Sakit hati karena rekannya banyak yang jatuh berguguran tanpa
tahu apa pun. Hal itu membangkitkan kemarahan Ben. Pria yang sejak dulu memakai
topi kebangsaannya itu, menjadi makhluk lain yang sangat menakutkan.
Seperti tampilannya saat ini, matanya seakan menyala. Dengan
menghindari serangan lawan. Saat itu Harimau Putih menang dalam pertempuran. Menyisakan
deru-deru kemarahan yang terlampiaskan.
Relly selesai mengenang saat Ben sudah berjalan, dan
mencapai langkahnya di pinggiran lapangan.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Ben kembali memberondong tembakan ke arah para anak buahnya
yang melakukan aksi demonstrasi. Menembak tanpa arah, tapi mengarah ke bawah.
Seperti tembakan tidak serius dan hanya dipergunakan untuk memberi peringatan
saja.
Anak buahnya kalang kabut di tengah lapangan. Saling memeluk
dan meringkuk, melindungi diri dari serangan dadakan itu. Ada juga yang berlari
tak tentu arah, sebab pandangan mereka mulai kabur. Disebabkan debu yang
berterbangan akibat begitu banyak peluru yang Ben tembakkan.
“Ben! Ben! Ben!” teriak Rose pada kekasihnya yang sudah
seperti orang kerasukan.
“Hentikan, Ben! Ku mohon, hentikan!” teriak Rose frustasi
dan semakin kencang.
Pria itu tidak mendengarnya sama sekali. Jadi dia harus
bagaimana?!
Meskipun dia juga kesal, dia marah, tapi dengan melakukan
hal ini, adalah tidak benar sama sekali.
Bagaimana pun juga, mereka juga korban. Mereka hanya
termakan hasutan seseorang. Tidak benar jika Ben sampai mengorbankan nyawa yang
tidak bersalah.
Rose sudah ingin maju menghampiri kekasihnya itu, tapi Relly
menahannya. Sambil merentangkan tangan Relly menggeleng lemah.
Akan sangat berbahaya jika sampai Nona Rose mendekati Tuan
Ben yang dalam minim kesadaran. Bisa saja nantinya Tuan Ben malah akan melukai
Nona Rose. Dan Relly tidak menginginkan hal itu. Tapi dia juga bingung harus
bagaimana.
“Relly, apa yang harus kita lakukan?” Sementara itu, Anggie
juga mendatanginya dengan wajah panik luar biasa.
Keadaannya makin kacau ketika Ben menembakkan pelurunya lagi
ke berbagai arah.
“Relly, Anggie! Kalian arahkan teman-teman kalian ke tempat
yang aman. Tempat yang tak terlihat oleh Ben saat ini!” Rose memberi perintah.
Tidak! Itu bukan wewenangnya. Hanya saja, di saat seperti
ini, siapa saja yang sudah memiliki ide di kepala, bisa mengutarakan pendapat
mereka. Karena rasanya… sangat sulit berpikir jernih dalam keadaan sulit
seperti ini.
“Baik!” Keduanya langsung menyahuti.
Terlalu banyak debu yang menutupi pandangan. Itu
menguntungkan karena mereka bisa bergerak dalam buramnya pandangan Ben saat
ini.
Dengan fleksibel dan efisien, keduanya bergerak mengamankan
rekan-rekan mereka. Meskipun tadi mereka itu mengesalkan, tapi mereka tetaplah
keluarga. Dan keluarga harus saling melindungi satu sama lain. Apa pun
kondisinya.
Rasanya Rose ingin menangis dengan keadaan yang kacau balau
begini. Namun dia tahu bahwa ini bukan saatnya.
Teriakan, jeritan, suara kepanikan semua orang memenuhi
otaknya. Sampai dia tidak dapat berpikir dengan benar. Kalang kabut suara
orang-orang yang mencoba melarikan diri guna melindungi diri mereka sendiri
membuat otaknya menjadi kacau. Sangat kacau.
Rose merunduk, memegangi kedua lututnya yang terasa lemas karena
tidak menemukan solusi.
Di antara semua kekacauan
itu, Rose berdiam diri sambil melihat ke bawah. Dia butuh tenang sesaat.
“Berpikir, Rose! Berpikir!” Dipejamkan Rose matanya dengan
erat. Tapi tak dapat menemukan satu hal pun.
Bola matanya yang abu bergulir, menatap pengeras suara yang
masih ia genggam. Dan itu adalah pemberian dari Ben, meski secara tidak
langsung.
Rose jadi terpikirkan sesuatu…
Bersambung…
Jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya
Semoga sukak