Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover
Ben kerasukan



Namun ternyata bukan. Itu adalah… suara berondongan tembakan


yang berasal dari ruangan pribadi Ben.


Semua orang menjadi panik. Ditambah dengan asal suara yang


bersumber dari dalam ruangan. Dentuman keras yang keluar berkali-kali itu,


meraung terus menerus sampai pintu ruangan itu berhasil dijebol dari arah


dalam.


Ben menendang pintu itu dengan kakinya. Satu tendangan keras


dan seonggok potongan pintu terlempar jauh ke luar. Pria bertopi koboi itu


menampakkan diri dalam wujud menyeramkan. Dengan mode monster yang jarang


sekali diperlihatkan pada semua orang.


Sebaris peluru utuh mengalung di lehernya. Sedang kedua


tangannya memegang senjata laras panjang dengan kuat dan kokohnya. Debu yang


berterbangan akibat rusaknya pintu itu,mengelilinginya dan membuat sosoknya


semakin dramatis dan menyeramkan.


Tadi, begitu Ben mendengar hinaan terakhir yang anak buahnya


itu ucapkan dengan mulut kotor dan biadab mereka. Ben tak bisa menahan diri


lagi. Kalimat itu sudah mengikis kesabarannya sampai habis tak tersisa.


Ben melesat dari posisinya berdiri. Beralih ke sudut ruangan


dimana deretan senjata api koleksinya bertakhta jumawa di dinding. Ben ambil


satu sepasang dengan lusinan pelurunya. Sudah terpikirkan rencana apa yang akan


dia jalankan.


‘Matilah kalian!’


Seperti yang Relly ucapkan dalam hati. Ben juga menggumamkan


hal ini dalam geram yang ia tahan.


Tap! Tap!


Sepatunya menapak dengan tegas ke lantai dengan cepat dan


tidak sabar. Dia berjalan ke arah pintu. Lalu berteriak di sana.


“Minggir! Lebih baik menyingkir dari depan pintu, jika masih


sayang dengan nyawa kalian!” teriak Ben sudah sangat emosional. Sudah tidak


bisa menahan diri lagi.


“Sekali lagi! Minggir, atau kalian akan mati di tanganku!”


Menggeram Ben dengan teriakannya. Kasar dan bertenaga.


Tahu jika anak buahnya banyak yang berjaga di depan pintu,


maka dia memerintahkan kepada mereka semua untuk menyingkir. Atau jika mereka


tidak menginginkan untuk hidup lagi.


Sudah tidak ada, sudah tidak ada yang mampu menahan dirinya


untuk memberikan pelajaran pada semua mulut kotor dan hina itu. Yang hina bukan


Rose, melainkan diri mereka sendiri yang sudah berani menuduh kekasihnya itu


tanpa alasan yang jelas.


Segera, setelah mendengar peringatan mematikan itu, anak


buahnya yang berbaris di depan pintu menyingkir menjadi dua bagian. Mereka


berdiri di sisi kanan dan sisi kiri pintu ruangan bos mereka.


Lalu terjadilah berondongan suara tembakan itu. Bak Rambo,


Ben nampak sangar dengan penampilannya saat ini. Semua anak buahnya memandang


ngeri pada dirinya.


“Ben!” seru Rose pelan. Masih dengan rasa tidak percayanya.


“Tuan!” Relly juga begitu, dia terperangah melihat wujud Ben


yang seperti ini. Rasanya sudah lama sekali dia tidak melihatnya. Mungkin Zayn


pun begitu.


Dulu, sudah lama sekali. Mungkin sudah bertahun-tahun yang


lalu terakhir kali Relly melihat hal ini. Waktu itu terjadi peperangan antar


geng yang disebabkan oleh perebutan wilayah kekuasaan. Secara teritori, memang


itu adalah wilayah Harimau Putih. Namun pihak musuh tetap mengakui bahwa itu


adalah milik mereka.


Tidak terima, Harimau Putih memberikan perlawanan. Sampai


akhirnya muncul tantangan untuk bertemu langsung di medan perang. Dan tempat


yang dipilih adalah wilayah yang mereka perebutkan.


Harimau Putih, bukan kelompok yang provokatif dan suka cari


ribut. Mereka akan menyerang jika diserang terlebih dahulu. Dan inilah mengapa


Harimau Putih menerima tantangan ini. Karena kelompok musuh dengan curangnya, sudah


membantai banyak anggota Harimau Putih yang tak memiliki persiapan.


Kala itu Ben belum menjadi ketua, dia belum menjabat. Hanya


saja Tuan Danu selalu mempercayakan perihal peperangan langsung seperti ini


padanya. Dengan sendirinya, tanpa perintah dari siapa pun, Ben menempatkan diri


di garis depan perlawanan.


Sakit hati karena rekannya banyak yang jatuh berguguran tanpa


tahu apa pun. Hal itu membangkitkan kemarahan Ben. Pria yang sejak dulu memakai


topi kebangsaannya itu, menjadi makhluk lain yang sangat menakutkan.


Seperti tampilannya saat ini, matanya seakan menyala. Dengan


menghindari serangan lawan. Saat itu Harimau Putih menang dalam pertempuran. Menyisakan


deru-deru kemarahan yang terlampiaskan.


Relly selesai mengenang saat Ben sudah berjalan, dan


mencapai langkahnya di pinggiran lapangan.


Dor! Dor! Dor! Dor!


Ben kembali memberondong tembakan ke arah para anak buahnya


yang melakukan aksi demonstrasi. Menembak tanpa arah, tapi mengarah ke bawah.


Seperti tembakan tidak serius dan hanya dipergunakan untuk memberi peringatan


saja.


Anak buahnya kalang kabut di tengah lapangan. Saling memeluk


dan meringkuk, melindungi diri dari serangan dadakan itu. Ada juga yang berlari


tak tentu arah, sebab pandangan mereka mulai kabur. Disebabkan debu yang


berterbangan akibat begitu banyak peluru yang Ben tembakkan.


“Ben! Ben! Ben!” teriak Rose pada kekasihnya yang sudah


seperti orang kerasukan.


“Hentikan, Ben! Ku mohon, hentikan!” teriak Rose frustasi


dan semakin kencang.


Pria itu tidak mendengarnya sama sekali. Jadi dia harus


bagaimana?!


Meskipun dia juga kesal, dia marah, tapi dengan melakukan


hal ini, adalah tidak benar sama sekali.


Bagaimana pun juga, mereka juga korban. Mereka hanya


termakan hasutan seseorang. Tidak benar jika Ben sampai mengorbankan nyawa yang


tidak bersalah.


Rose sudah ingin maju menghampiri kekasihnya itu, tapi Relly


menahannya. Sambil merentangkan tangan Relly menggeleng lemah.


Akan sangat berbahaya jika sampai Nona Rose mendekati Tuan


Ben yang dalam minim kesadaran. Bisa saja nantinya Tuan Ben malah akan melukai


Nona Rose. Dan Relly tidak menginginkan hal itu. Tapi dia juga bingung harus


bagaimana.


“Relly, apa yang harus kita lakukan?” Sementara itu, Anggie


juga mendatanginya dengan wajah panik luar biasa.


Keadaannya makin kacau ketika Ben menembakkan pelurunya lagi


ke berbagai arah.


“Relly, Anggie! Kalian arahkan teman-teman kalian ke tempat


yang aman. Tempat yang tak terlihat oleh Ben saat ini!” Rose memberi perintah.


Tidak! Itu bukan wewenangnya. Hanya saja, di saat seperti


ini, siapa saja yang sudah memiliki ide di kepala, bisa mengutarakan pendapat


mereka. Karena rasanya… sangat sulit berpikir jernih dalam keadaan sulit


seperti ini.


“Baik!” Keduanya langsung menyahuti.


Terlalu banyak debu yang menutupi pandangan. Itu


menguntungkan karena mereka bisa bergerak dalam buramnya pandangan Ben saat


ini.


Dengan fleksibel dan efisien, keduanya bergerak mengamankan


rekan-rekan mereka. Meskipun tadi mereka itu mengesalkan, tapi mereka tetaplah


keluarga. Dan keluarga harus saling melindungi satu sama lain. Apa pun


kondisinya.


Rasanya Rose ingin menangis dengan keadaan yang kacau balau


begini. Namun dia tahu bahwa ini bukan saatnya.


Teriakan, jeritan, suara kepanikan semua orang memenuhi


otaknya. Sampai dia tidak dapat berpikir dengan benar. Kalang kabut suara


orang-orang yang mencoba melarikan diri guna melindungi diri mereka sendiri


membuat otaknya menjadi kacau. Sangat kacau.


Rose merunduk, memegangi kedua lututnya yang terasa lemas karena


tidak menemukan solusi.


 Di antara semua kekacauan


itu, Rose berdiam diri sambil melihat ke bawah. Dia butuh tenang sesaat.


“Berpikir, Rose! Berpikir!” Dipejamkan Rose matanya dengan


erat. Tapi tak dapat menemukan satu hal pun.


Bola matanya yang abu bergulir, menatap pengeras suara yang


masih ia genggam. Dan itu adalah pemberian dari Ben, meski secara tidak


langsung.


Rose jadi terpikirkan sesuatu…


Bersambung…


Jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya


Semoga sukak