
“Kalau tidak mau, ya sudah!” Anggie beranjak berdiri sambil mengulum bibirnya, menahan senyum.
“Tunggu!” Rose langsung mencekal pergelangan kaki Anggie untuk menghentikan langkahnya.
Dan Anggie pun semakin kuat menahan diri supaya tidak kelepasan tertawa.
“Apa?” tanya wanita seksi itu dengan wajah polosnya.
Rose mendadak memiliki kekuatan lebih. Dia bangun dari kelelahannya, lalu menyambar gelas jus itu dari tangan Anggie. Wajah sangarnya seperti anak kecil yang sedang merebut mainan miliknya dari orang lain.
“Pelan-pelan! Tidak ada yang akan memintanya darimu!” Anggie terkekeh melihat Rose dengan cepat meneguk jus jeruk yang menyegarkan itu. Tak sampai satu menit, gelas itu pun kosong.
Satu gelas jus ia tanggalkan isinya dalam waktu singkat, kemudian, dengan langkah mantap, Rose berjalan menuju meja makanan.
Anggie pikir, dia akan meletakkan gelas bekas pakainya. Tapi ternyata, Rose meletakkan yang kosong dan mengambil gelas jus terakhir yang masih berada di sana. Mulut Anggie menganga. Rose kembali menghabiskan jus jeruk itu sampai tak tersisa.
Padahal Anggie pikir, gelas terakhir itu akan ia habiskan bersama Zayn nanti setelah Rose mulai kembali latihannya. Mulutnya pun mengecap rasa hampa.
“Sebenarnya kapan dia akan kembali?” tanya Rose setelah meletakkan gelas keduanya.
Wajah polosnya ia buat seakan tidak pernah berbuat salah apa-apa. Padahal sudah dua gelas penuh jus jeruk dia habiskan.
Wanita berambut pirang itu mengingat tentang kekasihnya kembali. Apa yang terjadi di sana? Apa pula yang sedang dikerjakannya sehingga tak kunjung pulang? Mungkinkah sesuatu terjadi padanya?
“Aku khawatir!” Rose menunduk lesu. Dimainkan ujung kakinya ke lantai semen lapangan itu.
Anggie perlu mengerjap beberapa kali dulu sebelum menjawab pertanyaan calon nyonya bos mereka. Diusaap lengan Rose sambil memberikan senyum yang menenangkan. “Jangan khawatir! Sebentar lagi tuan pasti akan kembali.”
“Ku harap begitu!” Rose tetap betah menundukkan kepalanya.
Eherm... Eherm...
Zayn datang, menyapa mereka berdua dengan suara dehemannya. Wajahnya terlihat tidak begitu baik.
“Kami tidak sedang melakukan apa pun! Jadi kau tidak perlu cemburu lalu kesal padaku!” Rose langsung mengantisipasi wajah jelek wanita maskulin itu, agar tidak salah paham padanya lagi.
Dan kini tangan Anggie sudah berlabuh pada lengan kekasihnya. Wanita seksi itu kembali bergelayut manja di sana. Entah sejak kapan dia berpindah tempat.
Rose heran, Anggie ini sebenarnya manusia atau kera?! Senang sekali bergelayutan pada tangan seseorang.
“Apakah ada kabar tentangnya?” Rose mengalihkan perhatiannya pada si pembawa informasi.
“Entah ini penting atau tidak bagimu, tapi... ini kabar penting untuk kami!” Zayn berkata dan hanya meliriknya sekilas.
Bibir Rose mencibir. Ketus sekali orang itu padanya!
“Penting atau tidak, kita belum bisa memutuskannya sebelum kau mengatakan apa pun!” Rose balik menatap sengit pada Zayn.
“Aku takut lama-lama kalian akan saling menyukai, jika terus bertengkar seperti ini!” Anggie menutup mulutnya sambil tertawa kecil. Lalu melanjutkan dengan kilat keseriusan di matanya, namun wajahnya tetap ramah. “Aku bisa cemburu nanti!”
“Heeeeyyyy!” Rose langsung bereaksi dengan keras. Teriakannya melengking tak terima dituduh sembarangan.
Dengan lelaki normal mungkin dia akan berpikir. Itu pun jika tampan dan gagahnya bisa melebihi tuan seramnya. Tapi ini, hey... dengan wanita! Apa kabar harga dirinya? Ya, ampun!! Tolong jangan lagi!
“Hey, Zayn! Tidak, tidak!” Rose segera meralat sambil melambaikan tangan. “Hey, Zayna! Dengar baik-baik! Aku tidak mungkin menyukaimu! Ingat itu!”
“Aku hanya menyukai Ben saja! Ha- nya Ben saja! Hanya Ben seorang!” tambahnya bersemangat. Lalu Diacungkan jari telunjuk Rose ke hadapan Anggie, dia berkata kepadanya. “Jadi tolong, jangan lagi berpikiran bahwa aku akan tertarik pada salah satu di antara kalian! Mengerti!”
“Aku masih normal!” Rose pun berbalik dan pergi.
Dalam diam, Zayn dan Anggie saling berpandangan. Lalu mereka dengan kompaknya mengangguk bersama lagi.
Sejak kapan mereka jadi patuh begini pada orang lain?! Apalagi Zayn, dia bisa marah kapan saja jika nama aslinya disebutkan secara sengaja! Memang cocok untuk menjadi nyonya bos mereka, pikir keduanya.
“Ayo latihan lagi! Kenapa kalian hanya diam?!”
Dari jarak beberapa langkah di depan mereka, Rose berseru sembari melambaikan tangan pada keduanya.
“Biasanya, kan, yang malas itu anak muridnya. Tapi ini kenapa yang malas malah pelatihnya, sih!” Rose menggerutu pelan sambil terus berjalan lagi.
“Apalagi yang harus aku lakukan setelah ini?” Wanita itu berteriak lagi ketika tak mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.
“Ah, ya! Tunggu sebentar!” Angge buru-buru mengambil daftar latihan Rose yang tertinggal di kursi santainya.
“Jadi hal penting apa yang kalian dapatkan?” tanya Rose ketika mereka berjalan beriringan.
“Seseorang menyamar sebagai tuan Ben dan Relly. Lalu mereka merampok senjata kami.” Zayn lalu menjelaskan.
“Merampok?” Rose mengulang dengan nada tercengang.
Dia juga sampai menghentikan langkahnya untuk memastikan apa yang dia dengar. Kepalanya menoleh 180 derajat ke belakang.
Bruk! Bruk!
Pemberhentian tiba-tiba itu pun membuat mereka bertiga bertabrakan karena yang di belakang tidak siap.
“Harusnya kau bilang dulu jika ingin berhenti!” Zayn protes sambil membantu Anggie yang hampir saja tersungkur ke lantai lapangan.
“Apa maksudnya dengan merampok? Bagaimana markas geng mafia terkenal seperti ini... “ Rose tak dapat meneruskan ucapannya saking dia merasa heran.
Rose tahu bagaimana terkenal dan besarnya geng mafia ini. Dan secara logika, pasti di setiap tempatnya memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Jadi bagaimana mungkin bisa sampai disusupi begini?! Belum lagi apa yang mereka lakukan! Merampok? Rose tak habis pikir.
“Maksudnya, mereka yang menyamar sebagai tuan Ben dan Relly mengambil begitu banyak senjata dari gudang dengan mengatakan jika mereka memiliki pesanan dalam jumlah besar ke Benua E.” Zayn dengan sabar menjelaskan.
“Jadi maksudnya mereka telah menipu kalian?!” Zayn mengangguk ringan menjawab rasa penasaran Rose.
“Bagaimana bisa?!”
“Siapa yang begitu berani?!” Dan baru kali ini Rose melihat wajah geram Anggie. Wanita seksi yang biasanya selalu berbicara dengan nada manja, sekarang berubah seperti seekor macan betina.
Zayn lalu menjelaskan apa saja yang baru saja dia ketahui. Tentang CCTV yang dirusak, juga tentang ditemukannya topeng sintetis yang mirip dengan wajah Ben dan Relly.
“Apakah tidak ada yang bisa kita bantu?” Rose merasa khawatir pun merasa tak berdaya.
“Tidak ada! Tuan pasti sedang menyelesaikan masalah ini di sana!” Zayn menggeleng.
“Mereka pasti bukan orang-orang biasa. Bisa sampai memasuki daerah kita begini pasti mereka punya keberanian dan kekuatan besar,” ucap Anggie yang kini masih berwajah serius. Zayn pun menganggukkan kepalanya setuju.
Sebenarnya Rose tidak begitu paham dengan dunia yang baru saja ia masuki ini. Namun sedikitnya ia mengerti jika yang berani mengusik geng mafia kekasihnya pasti memiliki nyali. Wanita itu nampak berpikir.
“Hey! Mungkinkah ada pengkhianat di dalam kelompok kalian?”
Bersambung...