
Pukul lima pagi, bersama mentari yang pelan tapi pasti
menyibak langit gelap sisa malam, markas Harimau Putih mulai rapih kembali.
Orang-orang yang bekerja juga mulai mentas dari tempat, setelah mendengarkan
pengumuman dari Relly.
Kini, saat ini, semua orang beramai-ramai, bergerak ke
tempat yang telah disebutkan. Padahal tubuh mereka pasti sudah sangat lelah.
Pasti sudah sangat penat akibat tidak tidur semalaman. Tapi rasa-rasanya,
selalu ada semangat yang membara dalam bola mata mereka.
Harus diakui, geng Harimau Putih memang mempunyai
solidaritas yang tinggi. Namun sayangnya… semua itu harus ternodai oleh satu
gosip yang belum pasti kejelasannya. Karena masalah yang datang bertubi-tubi,
mereka telan mentah-mentah rangkaian kalimat ambigu itu.
Satu kalimat yang membuat petakan bagi seluruh anggota pada
akhirnya. Karena tidak ada yang menyangka, jika keributan yang mereka buat,
bisa membangkitkan monster di dalam diri ketua kelompok mereka.
Ben mengamuk. Menyerang dan menghancurkan apa yang ada di
depan mata. Tidak peduli siapa, tak peduli apa, akan ia serang, akan ia anggap
sebagai musuh. Ditembakinya dengan membabi buta.
Baiklah, itu semua sudah berlalu dalam beberapa hitungan jam
yang lalu. Sekarang, di detik ini, yang tersisa hanya kesalahpahaman yang belum
terselesaikan. Dan mesti diluruskan sesegera mungkin. Agar masalah yang ada
tidak semakin berkembang.
Dua wanita cantik berjalan beriringan. Anggie dengan wajah
riangnya merangkul Rose, yang saat ini sudah bisa tersenyum. Tidak hilang
sepenuhnya, tegang dan khawatir yang dia miliki. Tapi paling tidak, sudah lebih
ringan beban di bahu.
Rose berterima kasih pada wanita ini. Sebab, berkat Anggie,
dia berhasil bangun dari semua keterpurukannya tadi. Dan berhasil memasang
topeng kuat dan anggun di wajahnya lagi. Karena, dia belum menjadi sehebat itu
untuk menanggung semua ini.
Rose masih butuh pengalaman dan latihan yang lebih banyak
untuk mencapai titik dimana, dia tak perlu mengenakan topeng seperti itu. Dan
hanya menampakkan wajahnya cantik dan
agungnya di hadapan semua orang.
Akan tetapi, di luar semua rasa bersyukurnya terhadap
Anggie, ada hal yang mesti dipertanyakan. Untuk memperjelas sesuatu yang masih
mengganjal di hati.
“Anggie!” panggilnya agak ragu.
“Ehm, ya!” Tapi wanita seski itu menjawabnya dengan tegas
dan lantang. Bersama senyuman yang membuat Rose makin ragu untuk mempertanyakan
hal ini. Rose takut Anggie akan tersinggung oleh sebab pertanyaan yang akan ia
ajukan.
“Tidak jadi!” Digelengkan Rose kepalanya sambil tersenyum
tipis.
“Katakan saja! Ada apa?” Senyum teduh Anggie menyapa
keberaniannya. Meneguhkan batin Rose untuk kembali pada niatnya.
“Aku takut kau tersinggung atau marah,” ujar Rose tak
menutupi.
“Tidak apa-apa! Katakan saja!” Tersenyum lagi dia. Dan
semakin membuat Rose tidak enak hati.
Tapi, jika tidak sekarang, kapan lagi? Ini adalah kesempatan
yang bagus. Pasalnya, dilihat dari wajah wanita seksi itu, nampaknya suasana
hati Anggie sedang baik.
“Begini….” Menarik napas panjang dulu. “Saat penyusup masuk
kemarin, apa yang sedang kau lakukan? Ekhm… maaf jika aku bertanya lagi!”
“Oh… ha… ha… ha! Tidak masalah sama sekali! Kau tidak perlu
cemas berlebihan seperti itu.” Mempererat rangkulannya pada bahu Rose. Dia
tersenyum makin lebar, supaya hari Rose makin tenang dan tidak merasa tidak
enak kepadanya lagi.
“Ekh….” Diembuskan Rose napasnya melalui mulutnya yang
terbuka kecil. Sungguh, dia tidak enak hati!
Karena, bagaimana pun juga, Anggie baru saja berbuat baik
padanya. Dan jika sekarang dia tiba-tiba menanyakan hal ini, takutnya Anggie
akan segera kecewa padanya. Sebab sudah menaruh curiga, terlebih lagi, seperti
tidak tahu berterima kasih.
“Kebetulan sekali, sebelum penyusup datang, aku sedang
sama sekali.
“Dia juga melakukannya?” tanya Rose tidak percaya. Dia
pikir, kan, Zayn itu… ah, tidak! Lebih baik dia lanjut mendengarkan.
“Tentu saja! Rose, dia masih seorang wanita, meskipun dia
tampan!” seru wanita seksi itu sangat antusias. Menjelaskan hal yang membuat
Rose kembali tertawa.
Jadi… secara tidak
langsung Anggie mengakui jika mereka adalah sama-sama wanita! Tapi kenapa masih
bersama?
Bukankah masih banyak laki-laki yang layak. Contohnya saja
Relly! Kasihan juga asisten kekasihnya itu. Di saat ada wanita cantik di
markasnya sendiri. Tapi haluannya malah melenceng! Entah sampai kapan pria itu
akan melajang?! Hh!
“Lalu?” lanjutnya bertanya. Rose ingin meluruskan fokus
pembicaraan mereka saat ini.
“Ya… seperti biasa, kami selalu ketiduran setiap kali sedang
memakai masker wajah.”
“Bagaimana bis- a?” Rose tak habis pikir, ada hal yang
seperti itu. Mereka, kan, hanya memakai masker, bukannya habis disuntik obat
penenang.
Anggie terkekeh sendiri melihat reaksi Rose itu. Reaksi
orang kebanyakan yang mendengarnya setiap kali bercerita mengenai hal ini.
Tidak ada yang menyangka, memang. Dan agak sedikit… aneh.
“Biasanya kami memakai masker di wajah sambil mendengarkan
musik menggunakan earphone. Menyetel musik agak favorit agak kencang. Dan
saking enaknya, kami bisa sampai ketiduran.”
“Tunggu… jangan berkomentar dulu!” Anggie menahan Rose yang
sudah mau membuka mulut. Dia belum selesai menjelaskan.
Tidak begitu tegas, tapi cukup untuk membuat Rose membungkam
mulutnya lagi.
‘Apa?’ Bertanyalah Rose akhirnya dalam hati.
“Itu juga salah satu cara bagi kami untuk merelaksasi diri.
Terlalu banyak pekerjaan dan latihan, membuat tubuh dan pikiran kami
membutuhkan waktu untuk dimanjakan.”
“Benar, kan?” tanyanya dengan wajah riang. Anggie mencoba
meminta persetujuan dari Rose mengenai kebiasaannya ini.
“Benar, sih!” Rose tidak mengelaknya sama sekali. Hanya
saja….
“Sejak kapan kalian melakukannya? Ekhm… maaf jika
kedengarannya aku seperti sedang menginterogasi, ya?!” Walau dia merasa tidak
enak hati, namun Rose tidak bisa mengelakkan hal ini. Mesti dipertanyakan, agar
semuanya makin jelas di matanya.
“Melakukan apa? Apa kau dan Tuan sudah melakukannya? ”
Anggie malah balik bertanya dengan mata melebar, seolah sedang menggoda wanita
itu.
“Kau!” Rose melotot.
Dan membuat Anggie tidak tahan untuk tidak tertawa. Dia
tergelak dengan puas melihat reaksi galak Rose. Lucu sekali!
“Jangan marah! Nanti kau cepat tua. Lalu Tuan Ben tidak akan
menyukaimu lagi, bagaimana?!” Ternyata tidak berhenti sampai di situ cara
Anggie menggoda.
Rose maju, mempercepat langkahnya karena kesal. Lalu dia
menyahut dari depan dengan ketus. “Itu tidak akan terjadi! Ben tetap akan
menyukai ku apa pun yang terjadi!”
“Iya… iya… aku percaya!” Masih belum puas dengan tawanya.
Lalu Rose mundur lagi. Dia, kan, belum selesai bertanya.
Rose belum mendapatkan secara keseluruhan petunjuk yang diinginkannya. Bukankah
dia juga harus membantu memecahkan masalah kekasihnya itu?!
Disamakan Rose langkahnya dengan langkah Anggie. Sambil
berjalan, dia memiringkan tubuhnya menghadap wanita seksi itu, sambil
mengerucutkan bibirnya ketika bertanya. Supaya Anggie tahu jika dia masih sebal
dengan pertanyaan menjurus itu.
“Jawab pertanyaanku! Sejak kapan kalian melakukannya?
Kebiasaan itu!”
Bersambung…